
Aku hendra,
Pria biasa saja yang didewasakan semesta, ditimang oleh alam dengan segala problemnya.
Jalanan dan tepian trotoar adalah tempat dimana aku mengais rejeki, bertugas sebagai juru parkir dari panas terik hingga penghujung hari, semua aku lakukan oleh sebab aku tinggalah hidup sebatang kara,
Orang tuaku telah berpulang sejak aku duduk dibangku SD kelas lima.
Tapi bukan itu yang akan aku ceritakan,
Toh itu empat tahun yang lalu sebelum aku di pekerjaanku yang sekarang, dimana kisah ini semua berawal, suasana lingkup kerja yang mengawali sebuah judul diatas lembaran buku baru yang masih tersampul rapi, lembaran kosong yang aku harap mampu menuliskan takdirku sendiri.
Pagi itu seperti biasa, aku dengan segala rutinitasku yang berjalan berulang, bertindak sebagai OB disebuah prostitusi yang berkedok SPA,
Tempat dimana para wanita menjajakan tubuhnya,
Mereka menyebut dirinya sebagai terapis,
Untuk sekedar menghibur diri dibalik kisah mereka yang begitu tragis, semua itu aku tahu karna sesekali mereka berkeluh kesah tentang ketersesatan hingga mengikuti arahan setan.
Jangan kemana mana dulu !
Aku masih ingin melanjutkan ceritaku,
Teguk dulu secangkir kopi hangat kalian sembari aku membukakan pintu ruko yang masih tertutup rapat,
Mari aku ajak kalian berkeliling menengok kedalam yang kebanyakan para pria hidung belang menyebut ini semua adalah surga beserta bidadari bidadarinya.
"Pagi mas" Sapa salah seorang kasirku sembari menepuk punggungku dengan keras berusaha mengagetkanku yang seketika sapu ditangan kananku reflek memukul kaki kirinya.
"Aduuhhh...santai dong" Bentaknya dengan bola mata yang melotot hampir keluar.
"Lgian lu, iseng banget pagi pagi udh bikin jantung gua hampir pindah ke sisi kiri"
Kataku sambil sedikit tertawa untuk mencairkan suasana.
Ia pun tak menggubris candaanku dan langsung melangkah ke meja kasir dengan kaki sedikit pincang karna pukulan sapu ku tadi,
"Jalan gak usah dipincang pincangin, lu kira......."
"Bodo amat" Bentaknya sekali lagi memotong pembicaraanku.
Dia memang perempuan yang sedikit liar,
Nada bicaranya pun terdengar kasar,
Kasir itu bernama Mayla, wanita berusia 22 tahun yang menurut klaim nya dia adalah salah satu bunga desa.
Tak lama aku bersih-bersih dilantai satu,
Segera aku bergegas menuju lantai dua untuk melanjutkan tugasku, ruangan OB ku berada dilantai dua, bersekat gibson coklat dibalik tangga yang warnanya telah pudar, ruanganya pun cukup untuk berbaring tanpa bisa meluruskan kaki.
Maklum, segala perlengkapan tempurku ada di berbagai sudut, berserakan tak tertata rapi.
Bahkan puluhan puntung rokok ikut andil menjadi desain interior disetiap sisi.
Tepat disamping kiri ruanganku yang terpisah oleh tangga, adalah ruang terapis yang berfungsi sebagai ruang tunggu sembari menanti tamu.
Jam masih menunjuk kan pukul 10.30 wib,
__ADS_1
Waktu operasional kerja disini adalah jam 11.00 sampai last order jam 21.00, terbagi dalam dua shift pagi dan siang.
Aku pun seusai bersih-bersih kerjaanku terbilang santai, paling hanya mengganti sprei yang habis terpakai.
Disini, ditempat pelarian para suami hidung belang,
Tak ada pagi,siang atau pun malam, suasana didalam terasa sama dibawah cahaya lampu remang.
Diruanganku yang tak begitu luas,aku bersandar pada tembok ber cat putih yang mulai mengelupas,
Meregang otot sembari menyeruput segelas teh panas.
Di sisi lain, terdengar riuh suara segerombolan perempuan yang entah apa yang mereka bicarakan,
Celoteh yang tidak jelas dan saling bersautan,
Waktu santaiku pun terusik oleh tawa dan teriakan mereka yang berada diruangan di sisi tangga sebelah kanan.
Ditengah obrolan yang bak kerumunan pasar itu terdengar suara lantang memanggilku
"Mass Hendra." Teriak salah satu Terapisku.
Aku pun yang memang telah gagal rebahan dan membangun mimpi, segera beranjak menghampiri.
"Iya mbak" Sahutku sambil berdiri ditengah pintu sembari mencari arah suara yang memanggilku.
Terlihat salah satu perempuan disudut ruangan menatapku manja,
Dengan bibir tipis berbalut lipstik merah merona ia pun berkata :
"Mas Hendra sibuk gak ? Beliin Viona makan dong"
"Gk usah belagak sok manis lu, gua enek liat mata genit lu, snii duitnya ! Maw beli makan apa?" Jawabku.
"Hahaha...warung ibu samping hari ini masak apa mas?"
Dia lanjut bertanya sambil menghampiriku dengan genit berniat merayu, aku sudah terbiasa akan hal itu,
Aku pun tak begitu menghiraukanya,
Yang terpenting bagiku adalah upah disetiap mereka menyuruhku berbelanja.
Itu juga merupakan penghasilan sampinganku disini,
Kebetulan mereka pun juga tahu diri.
Bahkan terkadang upah ku setiap harinya melebihi gaji bulanan ku.
Membuatku semakin betah bekerja disini,
Berada ditengah lingkup kerja bersama orang orang yang baik hati.
Tanpa menunggu lama aku langsung membelikan makan sesuai pesanan, ketika aku bergegas pergi dari ruangan...
"Lu gak minta duit ap sengaja mencuri perhatianku dengan cara membelikan sarapan?" Ucap Viona yang seketika menghentikan langkahku.
"Hahaha...gk usah kepedean lu, snii mana duitnya!"
Jawabku berbarengan dengan tangan kananku mengambil uang dari tangan kanan Viona.
__ADS_1
"Entar sampai sana fotoin ya mas masakanya apa aja"
Perintah Viona yang tak ku jawab dan aku langsung keluar dari ruangan.
Sesampaianya diwarung yang dimaksutkan, aku pun lngsung mengeluarkan HP android made in China yang untuk era saat ini terbilang ketinggalan jaman,
Dengan layar 5 inch yang sedikit retak di sisi atas bagian kanan.
Kucari Viona didaftar kontak HP ku, kutelpon via video call sesuai yang dia mau,
"Hallo mas,masak apa aja?" Tanya Viona dibalik sambungan telpon.
"Gua bukan koki, liat aja sendiri !" Jawabku sambil mengarahkan kamera diatas meja yang penuh sesak dengan makanan khas Jawa.
"Terserah mas aja lah mau beliin Viona apa, segitu banyaknya puyeng milihnya, yang pnting jangan yang manis manis ya mas"
Kata Viona sambil mengakhiri panggilan telpon dariku.
Setelah sekian lama menunggu antrian yang memang warung Bu yayuk tak pernah sepi setiap harinya,
Tiba giliranku memesan makanan yang sepenuhnya mempercayakan seleraku untuk memilih menu apa yang akan disantap Viona siang hari ini.
Tak lama sebungkus nasi rica ayam berbalut orek tempe pun telah bu yayuk siapkan,
"Terima kasih buk" Kataku kepada Bu yayuk yang masih sibuk menerima pesanan.
"Udah ini aja mas? Gak pake minum?" Tanya Bu yayuk.
"Enggak buk,kebetulan temenku jelmaan siluman ular,
Kalo makan langsung ditelen gak pake minum"
Jawabku tanpa tertawa seolah apa yang aku katakan adalah benar.
"Hahahaha...bisa aja kamu mas, ini mas, jadi semuanya dua belas ribu rupiah" Kata Bu yayuk sambil menyodorkan nasi yang terbungkus surat kabar bekas didalam kantung kresek hitam.
"Iya buk,terima kasih." Jawabku singkat sembari menenteng kantung kresek hitam dan berjalan pulang menuju kerjaanku.
Warung makan Bu yayuk hanya berjarak beberapa ruko dari tempatku bekerja, tidak butuh waktu lama untuk sampai bahkan hanya dengan berjalan kaki.
Tepat ketika aku berada didepan pintu yang terbuat dari kaca bersticker merah...
"Ndra ! Dari mana?" Sapa bossku dari dalam mobil dengan kaca pintu depan yang stengah terbuka.
"Ini boss, habis dari warung sebelah beliian makan buat Viona" Jawabku sambil melangkah membuka pintu.
Di dalam terlihat sudah ada beberapa tamu duduk di ruang tengah sembari mendengar G.R.O kami menjelaskan kelebihan dan daya tarik terapis kamis satu persatu,
Perlu diketahui bahwa G.R.O disini adalah germo yang hanya diperhalus kalimatnya saja.
Aku pun segera menaiki tangga ke lantai dua dimana Viona sedari tadi sudah menelponku berulang kali pertanda lapar diperutnya sudah tak terbendung.
"Beli dimana sih mas lama amat" Protes Viona sambil memanyunkan bibir yang menurutku malah lebih terlihat sexy.
"Bawel ahh..." Jawabku singkat kemudian beranjak pergi meninggalkan bungkusan nasi yang aku letak kan diatas lantai.
Itulah tadi penjelasan singkat tentang rutinitasku disiang hari dalam lingkup kerja.
Selebihnya akan aku jelaskan di "part dua".
__ADS_1
Dimana semua kisah ini bermula.