
Sesaat kemudian setelah aku keluar dari ruangan terapis, sepasang telingaku mendengar derap langkah yang sedikit tergesa, suara hentakan kaki itu menaiki tangga, kuperhatikan dari ujung tangga untuk sekedar memastikan itu langkah kaki siapa.
Ternyata seorang gadis yang masih begitu asing bagiku,
"siapa perempuan ini" Gumamku dalam hati.
Wajah sepolos itu tak mungkin kerja disini,
Bahkan jika aku boleh menebak, usianya masih kisaran 19-20 tahunan.
Dengan postur tubuh yang tak begitu tinggi namun berisi,berbalut kaos tanpa lengan dengan bawahan rok mini, dia berjalan mendekatiku hingga sepasang mata kami saling beradu, seolah itu adalah sapaan dikala lisan mendadak bisu.
Sorot matanya begitu tajam dengan soft lens berwarna biru, warna yang begitu kontras jika dipadukan dengan raut mukanya yang putih bak susu.
"Permisi mas, ruang terapis sebelah mana ya?"
Tanya perempuan itu padaku yang masih sibuk memberi penilaian, memuji keindahan yang baru kali ini aku temukan,
Jika berbicara soal cantik, disini adalah gudangnya,
Namun entah mengapa yang ini beda.
Seolah otak ku memberi tempat khusus untuk menyimpan bayangnya...
"Mas....hallo...ruang terapis sebelah mana ya?"
Tanya dia lagi yang kali ini dengan nada yang sedikit keras di ikuti dengan tangan kananya yang menepuk pundak ku.
"Ehh...emMzz...iya mbak, kenapa?"
Jawabku salah tingkah yang mungkin lebih nampak seperti orang yang habis di gendam.
"Ihh..mas nya..ihh orang ditanyain dari tadi juga,
ruang terapis sebelah mana mass...ya ampuunnn."
Jawab dia mengulang pertanyaan yang dari tadi dia tanyakan.
"OoO.. itu mbak, tinggal belok kanan aja, entar ada lorong yang ditutup tirai warna coklat, langsung masuk aja, mau nyari siapa mbak?"
__ADS_1
Tanyaku tanpa sedikitpun rasa curiga bahwa dia adalah terapis baru ditempatku bekerja,
Sebab tak mungkin rasanya perempuan yang dianugerahi raut wajah sepolos itu sampai hati menjual diri.
"Aku terapis baru disini mas, baru hari ini mulai masuk kerja."
Jawabnya enteng seolah aku rela melihatnya dijamah oleh pria pria hidung belang.
Gak tau kenapa, saat ini rasanya ingin sekali menyeretnya pulang dan berkata bahwa ini bukan tempat yang baik buat kamu mencari rejeki !
Namun aku tak mau dibilang sok suci dan yang palling
Ngerti.
Dan akhirnya aku hanya bisa menatap nya penuh iba,
Bisa bisanya gadis semuda itu memilih jalan hidup sebagai pramuria.
"Kesini ngelamar sendiri atau ada yang bawa mbak?"
Tanyaku agar aku segera menyudahi lamunan yang bukan bukan.
"Minggu lalu dapet info dari temen yang satu kosan sama aku mas,ya udh kemarin aku langsung dateng kesini, eeee....gak taunya hari ini langsung disuruh masuk kerja"
"Emang sebelumnya kerja dimana?" Tanyaku lagi.
"Jadi operator mas di pabrik textile" Jawabnya.
"Berarti belum ada pengalaman mijit dong" Tanyaku sembari meraih tangan kananya yg lembut dengan semerbak parfum khas perempuan malam,
Kemudian aku mempersilahkah dia duduk dulu diruangan OB ku.
"Makanya itu hari ini aku suruh masuk buat training dulu katanya"
Dia menjawab sambil mencari posisi duduk yang nyaman meski tanpa alas dan camilan.
"Tapi gak keberatan kan jika kita ngobrol ngobrol dulu disini, maaf lho ya bukanya aku mau lancang."
Kataku khawatir jika dia mengira bahwa aku sedang berusaha menggodanya.
__ADS_1
"Santai aja lagi mass, gua mah orang nya gk ribet"
Jawabnya yang seketika membuatku lega.
"OoO iya...kita belum saling kenal lho, aku Hendra"
Ucapku memperkenalkan diri.
"Lha mas nya mau namaku yang mana? Disini kan nama harus disamarkan tho mas kalo aku gak salah"
Kata perempuan itu yang tak sedikit pun dari kalimatnya menjawab pertanyaanku.
"Terserah mau kamu kasih yang mana, yang penting bisa memudahkanku untuk bertegur sapa"
Jawabku sedikit merayu.
"Aku Erlya Putri mas" Jawabnya singkat namun mampu mengobati rasa penasaranku.
"Ya udah salam kenal ya, kalo butuh apa apa panggil aku aja gak usah sungkan,itu udh bagian dari tugasku disini."
Kemudian aku berdiri dan meraih tangan kanan Lia untuk sekedar membantunya beranjak dari duduk nya.
Aku pun mengantarkanya di ruangan yang tadi dia tanyakan.
"Nii kenalin mith, terapis baru, gak usah usil lu"
"Usil apaan siih, pling cuma gua tanyain apa gaya kesukaanya, hahaha"
Kata mitha melempar candaan untuk memecah suasana yang seketika hening dengan kedatangan Lia.
"Masuk aja kak sini ! ,gak usah didengerin tu omongan Mitha, dia orangnya emang sangean"
Sahut salah satu terapis menambah suasana kembali mencair dan saling melempar candaan.
Lia telah resmi bergabung dalam kenikmatan penuh dosa, mengais rejeki dari perbuatan Zina.
Aku bisa apa ?
__ADS_1
Kenal dia pun baru saja.
Bersambung