
Waktu yang menurutku di nantikan oleh semua pekerja pun tiba, saat nya mengakhiri rutinitas hari ini dengan suasanan malam minggu yang menggebu,
lama tak kurasa kan gejolak jiwa yang membara,
ketika cinta dan rindu menghujam relung nya.
aku begitu bersemangat untuk segera menuntaskan tugasku hari ini, meninggalkan kesibukan ruko dengan pintu yang terkunci.
"jangan turun dulu Ndra ! tungguin gue."
pinta Lia dari dalam room yang masih sibuk merapikan isi tas nya.
"iya buruan."
"udah... ayo anterin gue ganti baju dulu."
kata Lia sembari menuruni tangga tak peduli kedua tanganku yang kerepotan membawa peralatan kerja.
"bantuin napa Li ! nylonong aja kaya gak ada dosa."
"hahaha... kirain bisa, ngobrol doOng makanya !"
jawab Lia sambil meraih lap pel dan sapu yang berada di tangan kanan ku.
"sini aku bawain." kata Lia.
"iya makasih, kamu turun duluan aja, aku tak matiin lampu,
taruh aja dibawah tangga sapu sama pel nya."
"buruan !"
"iya cerewet..." jawabku menggerutu.
Setelah semua selesai dan pintu gerbang depan aku pastikan telah terkunci.
aku bergegas mengambil motor matic hitam ber merek scoopy, itu motor Mitha yang sedari maghrib tadi kunci nya telah diberikan kepadaku.
"pake helm gak ?" tanyaku sembari menawarkan helm yang entah punya siapa, aku asal ambil aja dirak tempat helm di dalam tempat kerjaku tadi.
"helm siapa lu tawar tawarin ke gue ? entar ada kutu nya lagi."
"sumpah songong banget ni anak... udah untung ada yang mau minjemin, masih aja rewell."
"hahahah.... ya udah ayo buruan, sini helm nya !"
sahut Lia sambil melangkah duduk di jok motor berwarna coklat tua.
"ke kosan aku dulu lho Ndra !"
kata Lia mengingatkan.
"kosan lu aja mana gue gak tahu."
"udah lurus aja, entar gang ketiga setelah lampu merah belok kiri."
"kos melati ya Li ?"
"kok lu tahu ?"
"dulu anak anak juga banyak yang kos disitu, tapi sekarang udah pada keluar."
"oOo..." jawab Lia memonyongkon bibir yang terlihat dari spion motor sebelah kiri.
"belok Ndra, maw kemana lu ?"
"oO iya, kirain masih gang depan nya lagi hahaha..."
"kata nya tahu..."
"orang udah lama gak kesini, ya lupa lah, masih ada yang lebih penting untuk gue ingat."
tanpa menjawab ocehanku Lia segera masuk membuka gerbang depan ber cat biru dengan bangunan lantai tiga di dalam nya.
"masuk dulu Ndra, motor nya masukin aja dulu."
perintah Lia sembari membuka kan pintu gerbang.
"duuhhhh.... ngalamat nunggu lama ni.."
kataku mengernyitkan dahi dan menepuk jidat.
"enggak... gue cuma ganti baju doang kok."
"terus gue lu suruh boncengin orang yang jarang mandi gitu ? gue balik aja Li." kataku sambil menutup hidung.
"hahaha... ya udah gue mandi bentar, awas lu kalo cerewet nungguin gue kelamaan."
"malam masih panjang tuan putri... tak akan habis jika hanya sekedar menunggumu merias diri."
"ayoOkk masuk dulu, kamar gue di lantai dua."
kata Lia beriring aku yang mengikuti nya dari belakang.
kamar nomer 12B, terlihat pintu yang tertutup tirai merah muda bermotif hello kitty itu masih tergembok.
beberapa saat setelah Lia membuka gembok kecil yang mengunci pintu, terlihat dari luar kondisi kamar yang ber tembok putih tertempel poster poster tokoh musik yang melegenda.
seperti jimmy hendrik, kurt cobain, sid vicious, bob marley, dan the beatles yang ditata sedemikian rupa sehingga terlihat epik.
"masuk Ndra, ngapain lu bengong di depan pintu."
"selera musik lu boleh juga..."
"oOo poster poster itu ? kebetulan gue suka musik musik keras bernuansa classic."
"kalo band Indonesia ?"
tanyaku sambil melangkah masuk dan duduk di pinggir sudut kasur yang ber sprei motif bunga dengan bad cover tebal warna jingga.
"band Indonesia banyak lah, power metal, power slave, boomerang, jamrud, pas band... pokok nya jebolan log selebour gue banyak yang suka."
"wuiisssss... bisa semalaman nii kita ngobrolin ini, keren juga ternyata selera musik lu, udah kamu buruan mandi dulu, keburu malem dingin lho, gak baik buat badan lu."
"iya..." jawab Lia sembari menenteng handuk dan bergegas menuju kamar mandi yang berletak tak jauh dari ruang TV.
aku pun menunggu nya sambil sesekali berkeliling untuk room tour ala youtuber youtuber masa kini,
__ADS_1
mulai dari koleksi boneka yang berukuran mini hingga yang berukuran segede sapi, semua tertata rapi disetiap sisi.
belum lagi boneka boneka berukuran sedang yang berada diatas kasur, saling berhubungan seolah semuanya telah di atur.
"brRraakkk...."
suara pintu kamar mandi yang terbuka menimbulkan bunyi karna beradu pada tembok penyekat antara kamar mandi dan dapur.
terlihat Lia keluar hanya berbalut handuk dan rambut yang basah di kucir pada bagian atas nya.
seketika posisi duduk ku terasa tak nyaman, ada sesuatu dibalik celana yang mulai menegang, membuat jeans biru yang aku kenakan terasa sesak.
Lia hanya tersenyum tipis menatap ku.
"lu kenapa Ndra ? kok duduk nya aneh gitu."
"buruan ganti sana ! brengsek lu emang, sengaja lu ya mancing mancing gue ?"
kata ku sambil berusaha membuang muka.
"iidiihhhh... PD amat lu, lu mau ? bayar...!"
jawab nya tanpa sedikit pun merasa bersalah karna membuatku salah tingkah.
"bacot lu, buruan ganti baju ! udah hampir jam 10 lho."
"bentar mau ngeringin rambut dulu, yang nyuruh gue buat mandi kan juga elu, jadi pleaseee... sabar."
"terserah apa kata lu aja dehh, yang penting buruan pake tu pakaian, dari pada gue khilaf ni."
"ahhh....perkosa aku masss....perkosa aku."
kata Lia menggeliatkan tubuhnya bergoyang menggodaku dengan hanya berbalut handuk.
"udah gilak lu emang, malah jijik gue liat nya."
"hahahahaha... maka nya jangan sangean jadi orang."
"gimana gue gak ***** orang lu nya aja kaya gitu."
"madep sana lu, awas lu kalo ngintip, enak aja lu liatin kemolekan tubuh gue yang sexy ini secara gratis, bayar !"
kata Lia yang berdiri diatas lemari dan sibuk memilih pakaian.
aku pun menuruti perintah nya dengan posisi duduk yang membelakangi nya.
"udah belum ?"
"heeehhhh ! jangan hadep sini dulu."
bentak Lia.
beberapa menit kemudian...
"liat gue dehh Ndra, gue cocok gak sih pake baju ini ?"
tanya Lia sambil memutarkan tubuhnya ala penari Balet yang dimaksud kan agar aku dapat menilai penampilan nya dari setiap sisi.
"baguss kok." jawabku singkat.
"serius Ndra ?? terlalu berlebihan gak siihh gue, gue gak punya baju lagi ni, baju baju gue semuanya gak pantes di pake di temPat umum."
"seriuss, keren kok, kaya wanita karir pekerja kantoran."
"ihhh... ngeledek ya lu Ndra ? gue ganti aja dehh."
"apaan siihhh... mau jalan aja ribet banget lu, belum tentu juga ada orang yang merhatiin."
"eehhh...jangan salah ya, entar kalo ketahuan follower follower gue tensin lah, hahahaha..."
"cuci muka lagi sana lu ! halu lu masih kebawa tu."
"ya udah gini aja lah."
"ya gitu aja lah, emang mau lu apain lagi ?"
kami berdua pun meninggalkan kamar tak lupa Lia menggebok pintu nya lagi dengan gembok kecil warna kuning.
"pake digembok segala apa nya yang mau di maling coba,
orang kamar isi nya cuma boneka gitu."
"bukan masalah harta, gue lebih takut daleman gue yang di curi buat media pelet."
"hahahahaha... yang ada orang nyesel melet lu, makan nya banyak, labil."
"labil bapak luu, sok tahu banget luu."
tempat pertama yang kami kunjungi adalah ngarsopuro dan taman mangkunegaran yang setengah jadi.
"ini kok kaya bangunan keraton sih Ndra ?"
"iya, pura Mangkunegaran, dibangun sejak 1757, penguasa pertama nya Raden Mas Said berjuluk mangkunegara 1."
"Tapi kok gue baru denger ini ya Ndra ?"
"karna meskipun berstatus otonom yang sama dengan tiga kerajaan pecahan mataram lain nya, pemerintah kerajaan mangkunegara tidak memiliki otoritas yang sama tinggi,
penguasanya tidak berhak bergelar sunan ataupun sultan tetapi pangeran adipati arya."
Lia hanya memandangku dengan antusias tanpa sedikit pun menyela penjelasanku.
"baru kali ini Ndra gue ketemu sama cowok se usia kamu yang masih peduli akan sejarah."
"Sebab kalau bukan kita siapa lagi ? jangan sampai sejarah itu lambat laun menjadi legenda dan berangsur hanya menjadi sebuah mitos."
Lia masih saja melihatku dengan tatapan kagum.
"Lanjutin Ndra ! gue pengen denger lebih banyak lagi sejarah dari kota ini."
"gue mah cuma berdasar referensi dari buku Li, terkadang beda sumber beda pula cerita, tapi benang merah nya hampir sama."
"habis ini kemana lagi Ndra kita ?"
Tanya Lia sembari menikmati bakso bakar yang kita beli di pedagang sekitaran taman.
"gak haus lu dari tadi makan gak minum ? padahal pedes banget lho tu bakso bakar nya."
__ADS_1
"aAhhh cemen lu gini aja di bilang pedes."
"gue orang nya gak terlalu doyan pedes Li."
"ya udah jalan lagi yuk !"
ajak Lia meraih tanganku menuntunku menyusuri taman kota yang gemerlap oleh lampu merkuri.
rumput yang terlihat baru masih menghijau mewarnai sisi trotoar, aku berjalan dengan kondisi jantung yang terus berdebar, entah bagaimana dengan Lia, yang aku lihat raut wajah nya biasa biasa saja.
seolah menganggapku hanya sebatas pemandu wisata.
Kami pun berboncengan dibawah langit malam dengan sedikit bintang, cuaca memang terlihat mendung, tapi semoga saja tak turun hujan.
"eehhh Ndra gue denger denger alun alun kidul kalo malem rame ya ?"
"iya, tempat itu kalo malem di sulap menjadi pasar rakyat dengan beraneka jajanan, tapi jam 10 tutup, udah menjadi kebijakan dari pihak keraton untuk mensterilkan tempat kurang dari jam 11."
"sayang banget ya Ndra kita tadi keluar nya kemaleman,
entar dehh kapan kapan aja."
"emang lu gak malu ya Li jalan sama gue ?"
"udah dehh Ndra... gak usah mulai drama."
jawab nya seiring aku menepikan motor di pinggiran taman balai kota dekat pasar gedhe.
kami mencari tempat duduk dibawah rimbun nya pohon beringin yang berhias patung beberapa tokoh pewayangan.
"bukan nya gue berniat membuat suasana jadi gak asyik Li,
tapi menurutku aku udah terlalu lancang mengiyakan apa yang seharus nya tak pantas aku iya kan."
"Lu ngomong apa siihh Ndra ? gue makin gak ngerti."
"Lupain aja Li... gue cuma pengen mastiin lu gak malu jalan sama gue."
"yaa kenapa harus malu coba ? aneh."
Kami pun masih di bangku yang sama dengan pemandangan di depan nya adalah tugu jam di tengah persimpangan pasar gedhe.
"lu mau minum apa Li ?"
"terserah Ndra, es jeruk juga boleh , tapi gula nya dikit aja."
aku pun beranjak dari bangku taman dan menghampiri angkringan yang tak jauh dari tempat kami duduk.
"pak es teh satu es jeruk nya satu gula nya dikit."
"siiap mas, mau di gelas apa di plastik ?"
tanya pedagang itu sambil sibuk mengaduk segelas teh yang ku pesan.
"gelas aja pak, saya cuma duduk di belakang situ kok pak."
"oOo ya udah mas nanti bapak aja yang anterin."
"sekalian minta tolong bakarin ini ya pak !"
kataku sambil menyodorkan piring yang telah penuh dengan aneka gorengan dan beberapa tusuk sate,
mulai dari sate usus, sate brutu dan sate keong.
aku gak tahu Lia suka yang mana, tapi menurutku jarang jarang perempuan seperti Lia jajan di angkringan.
"lama amat Ndra, pesen apa aja ?"
"bentar lagi juga di anter sama bapak nya, kamu emang tadi udah makan ?"
"udah tadi siang bareng sama kamu."
"seharian ini baru makan itu ?????"
tanyaku keheranan.
"berniat bunuh diri lu ya ?" sahutku lagi.
"gue jarang makan nasi Ndra, palingan cuma ngemil, itu pun kalo pas gue pengen."
"Diet ya lu ? biar apa ? badan lu juga gak gendut gendut amat, malahan gue gak suka liat cewek yang body nya terlalu ramping."
"enggak Ndra, gue gak diet... Hendra kalo mau makan makan dulu aja."
aku tahu betul bahwa dia bukan nya gak mau makan,
tapi lebih tepat nya dia tak berselera dengan makanan yang aku pilihkan dan enggan untuk menolak nya.
tapi mau bagaimana lagi ? uangku hanya cukup untuk menikmati hidangan kelas pinggiran.
"Ehh Ndra nge bir yuk ! sini BAR yang ada live musik nya yang asyik mana Ndra ? kita gila gila an aja disitu."
"Lu makan aja dulu ! baru lu pikirin tu agenda mabuk, gue gak mau repot gotong gotong lu."
"eehhhh...sembarangan... ngeremehin gue lu ya ?"
"bukan nya ngeremehin, tapi kasian ama badan lu kalo belum makan udah di suplai miras."
"ya udah dehh ayo makan disana aja sekalian Ndra."
"lu kenapa orang nya gak betahan siihh kalo diajak duduk,
pantat lu bisulan apa gimana kok perasaan dari tadi pengen nya muterrrr mulu..."
"udah dehh gak usah bawell, ayok buruan cuUssss."
"iya bentar gue habisin makanan nya dulu."
"ihhh.... lama lu Ndra."
"sayang ****** kalo dibuang."
"keburu malem lho Ndra, ni udah jam 12 lebih lho."
"tutup nya jam 3 jadi lu tenang aja."
Kami pun kemudian bergegas menuju tempat yang Lia maksut, sebuah BAR di tengah kota dengan segala hingar bingar alunan musik DJ di dalamnya.
__ADS_1