
sabTu pagi disaat sang surya masih bermalas malasan menampak kan sinarnya, aku telah terjaga dari lelapku dan siap mengawali pagi dengan secangkir kopi panas tak lupa sebungkus rokok untuk mEnsuplai paru paru sebelum sarapan.
sejenak aku lupa akan lelah yang bakal aku lalui hari ini,
khayalku menerawang sembari menyeruput secangkir kopi.
yang ada dalam bayangku saat itu adalah sosok Lia yang tergambar samAr dilangit langit kosan.
perempuan itu telah sepenuhnya menyita perhatian,
memaksa mataku bekerja keras untuk memvisualisasi kan.
membayangkan seolah dia ada dihadapanku saat ini, dengan rambut yang masih acak acakan dan menyiapkanku sarapan roti, kemudian dia duduk disebelahku dengan sepasang mata yang masih terdapat belek disetiap sudutnya.
tapi jangan kira kondisi itu bakal mengurangi pesona kecantikanya, sebab cantiknya bersifat mutlak tanpa harus cuci muka.
namun rasanya masih terlalu singkat untuk ku sekedar
mengajaknya keluar hanya untuk sebatas menikmati malam.
iya...
memang benar apa kata kalian, aku pengecut !
aku tak mampu mengesampingkan rasa takut.
tapi itu semua karna aku cukup sadar diri, apalagi setelah mendengar pernyataan nya bahwa yang terpenting adalah materi.
terlalu lancang rasanya jika aku memendam harap untuk memiliki.
jam menunjuk kan pukul setengah sepuluh pagi, saatnya aku menyudahi lamunanku dan segera bergegas untuk mandi.
kemudian aku berangkat kerja dalam keadaan kamar kosan ku yang masih berantakan, bukanya tak sempat untuk membereskan, tapi aku yakin bagi kebanyakan pria hal ini begitu berat untuk dilakukan.
sesaat kemudian sampai lah aku didepan pintu gerbang yang masih terkunci rapat, sebab aku lah yang dipercayai untuk memegang kunci.
setelah pintu terbuka, aku segera mengerjakan tugasku untuk bersih bersih dari lantai satu sampai lantai tiga.
terdengar berat memang jika hanya dibayangkan,
tpi faktanya pekerjaan itu dapat rampung kurang dari satu jam.
sesaat kemudian Mayla si kasir datang dengan setelan blazer elegan bak pegawai kantoran.
"dateng jam berapa? udah santai santai aja lu."
tanya nya entah itu bersifat meledek atau memuji.
"udah beres semua lah." jawabku.
"gue liat liat semakin kesini makin deket aja lu sama si anak baru."
"Lia maksut kamu?"
"oOo...namanya Lia, tpi keren kok anak nya."
"sotoy lu."
"teemmpeelll teruss bosss... jangan beri kendor!"
ujarnya sembari duduk di depan meja kasir menatap komputer dengan keadaan meja yang masih berantakan.
"Gila aja luu gua naksir Lia, siapa gue siapa dia."
jawabku dengan pesimis.
"mending rapiin tu meja kasir, dari pada pagi pagi udah bikin gosip gak jelas."
kataku lagi tanpa memberi kesempatan dia untuk menjawab.
Aku takut dia tahu perasaanku yang sebenar nya sama Lia. dia ember mulutnya.
__ADS_1
Yang aku takut kan jika terdengar sampai ke telinga boss ku.
sebab awal aku kerja disini bos ku sudah mewanti wanti jangan sampai ada hubungan sesama rekan kerja.
Tapi bagaimana pun aturan itu tidak relevan di posisi ku saat ini, dimana gejolak cinta itu datang tanpa permisi.
aku tak terlalu ambil pusing aturan itu sekarang, biarkan semua terjawab oleh takdir yang telah tuhan tentukan.
Aku disini hanya menjalankan peran, sebagai aktor dalam drama yang tuhan skenario kan.
akan berakhir seperti apa, biarkan itu menjadi kejutan.
jam telah menunjuk kan pukul 11 siang,
satu persatu terapis mulai absen diatas mesin finger print yang telah disediakan.
sedang aku di ruang tamu hanya duduk terpaku menanti perempuan yang membuatku menunggu.
Aku tahu bahwa hari ini dia kebagian shift pagi dari layar komputer yang sedari tadi menyala.
"hehh...ngapain lu bengong kaya orang bloon?"
tanya Lia mengejutkan ku dengan kedatanganya yang tiba tiba.
"nungguin gua yaa lu? ayo temenin gua naik!"
perintah nya sembari menggandeng tanganku menuju tangga.
aku pun sedikit kekuk dan diam tanpa alasan bahwa kenapa aku jam segini masih di lantai dasar.
"beliin gua sarapan dong Ndra! lu udah makan belum? ni sekalian." perintahnya lagi sembari merogoh lembaran uang seratus ribuan dari saku hot pant nya.
pagi itu dia berpakaian tidak seperti biasanya, terlihat sedikit lebih sexy dengan bawahan hot pant warna biru yang pendek nya hampir memperlihatkan ************ yang putih mulus tanpa gores.
atasan yang dia kenakan pakaian tanpa lengan yang entah apa itu namanya, aku tidak begitu melek fashion.
yang jelas atasan warna putih ketat itu terlihat begitu kontras dengan celana hot pant yang kesan nya ingin menyombongkan bentuk tubuh bak barbie di dunia nyata.
setidak nya itu lah kesimpulan ku sementara.
"lu mau sarapan apa?" jawabku setelah beberapa saat bengong menatap pesona dari paras ayu sosok perempuan yang berdiri tepat didepanku.
"kenapa si lu dari tadi bengong mulu, mau gak ni, gue kantongin lagi lho duitnya."
"iyaaa bawelll, ndoro ayu mau disiapin sarapan apa?"
jawabku sambil mencubit pipinya yang merah merona oleh make up.
"ihhh... gak usah cubit cubit! bedak gua mahal."
jawabnya sembari mengelus elus pipinya yg barusan kucubit seolah tak rela bedak mahal nya luntur oleh tangan kotor ku.
"terserah mau beli apa, aku mah gak pernah pilih pilih soal makan, semuanya gua sikat."
"pantes badan lu kelilit lemak."
jawabku dengan di ikuti langkah kaki nya yang berjalan meninggal kan ku.
Tanpa berfikir panjang aku langsung menuju warung langgananku, disamping makanan nya murah, masakan nya pun memanjakan lidah.
terlihat aneka macam masakan jawa yang tersaji di dalam baskom dan tertata rapi di atas meja.
Aku hanya menunjuk nunjuk yang menurutku menggugah selera tanpa tahu nama nya.
"buk...nasi dua di bungkus ya, ini....ini...sama ayam goreng nya yang paha aja."
kataku sambil menunjuk nunjuk masakan yang aku maksut.
"minum nya apa mas?"
"gak usah buk, udah itu aja."
__ADS_1
jawabku sambil duduk menunggu bu yayuk menyiapkan pesanan ku.
"ini mas...jadi semua total nya dua puluh enam ribu."
kata bu yayuk menyodorkan nasi yang terbungkus daun pisang berlapis koran bekas.
"iya,makasih buk."
"tumben jam segini udah kesini mas, biasanya agak siangan"
"iya buk, ini kan sabtu, kalo siangan rame pasti, gak sempet keluar."
jawabku sembari mengambil pecahan uang kembalian.
sesampai nya aku di lantai dua ruang terapis,
terlihat Lia yang sibuk berdandan didepan kaca dengan alat make up berbagai macam jenis.
"Ni Lii makanan lu, taruh mana?"
"ya udah ayokk sarapan bareng, emang lu gak beli sekalian? katanya belum sarapan."
kata Lia yang kedua tanganya masih sibuk memegang alat make up.
"ya udah ayok." jawabku.
"ciiieeeee..."
sahut beberapa terapis berbarengan selayaknya paduan suara latihan vokal.
"apaan sii, gk usah pada bikin gosip! takut bos denger."
"ya elah emang kenapa? takut amat."
ujar salah satu terapis meledek ku.
aku pun tak begitu menggubris ocehan mereka dan segera pergi begitu saja.
"ihhh gak sabaran amat sihh, tungguin napa."
terdengar suara Lia yang ternyata mengikuti ku dari belakang sembari menenteng bungkusan nasi yang tadi memang hanya aku letak kan di samping kasur.
"males banget nungguin orang dandan, bisa bisa adzan maghrib gue baru bisa sarapan."
"ya sabarrr...orang tinggal pasang alis doang, jangan jangan lu baper ya sama omongan orang orang."
"PD amat lu? bukan nya begitu, gue cuma khawatir kalo bos ampe tahu, ribet."
"takut amat sii lu ! yg pnting kan gak ganggu pekerjaan, lgian kita juga gak ngapa ngapain."
"sebab gue udah merasa beruntung banget bisa kerja disini dari pekerjaan ku yang sebelum nya yang hanya juru parkir, jadi sebisa mungkin gue gak bakal bikin kecewa orang yang udah menaruh kepercayaan sama gue."
"emang apa salah nya juru parkir? bukan nya malah banyak ya penghasilanya, gue tahu itu juga dari temen aku yang parkir di mall."
"kalo masalah penghasilan sihh emang lumayan, tapi capek dan ribet nya itu lho Li yang bikin gue males."
"ribet apa nya siih, orang cuma jagain motor."
"Luu gak tahu sih gimana itu sistem jalanan berlaku,
siapa yang kuat dan punya andil dalam suatu organisasi mereka bakal merebut lahan lahan parkir yang mereka inginkan, dan pasti nya itu menyulut keributan."
"emang gitu aturan main nya?"
"iya lah...lu pikir gampang mertahanin lahan yang hampir tiap hari jadi rebutan orang."
"gue kira itu di kelola sama karang taruna sekitaran kampung situ."
kata Lia berpendapat dan masih penasaran dengan masa lalu ku yang menurut ku tidak begitu menarik untuk di ceritakan.
obrolan kami pun berlanjut sembari menyantap bungkusan nasi yang telah terbuka oleh tangan Lia.
__ADS_1