
hari demi hari berlalu berjalan seperti biasanya,
yang membedakan adalah hadirnya sosok penyemangat.
gadis pengumbar syahwat berhati malaikat.
kami sering menghabiskan waktu hanya untuk membahas hal hal yang tak jelas.
dia pun juga lebih sering nongkrong di ruanganku,
mungkin karna akhir akhir ini banyak terapis baru.
"lu kalo pulang naik apaan sih lii?"
tanyaku spontan karna melihat Lia tiba tiba berdiri dibalik tirai pembatas ruangan.
hari ini dia kebagian shift siang.
"go car lah kaya orang susah aja, gua tu alergi sama asap knalpot."
jawabnya dengan nada centil berlagak bak kaum sosialita.
"songong amat lu, emangnya gak ada yang bertugas buat jemput?" tanyaku.
"siapa?, sopir pribadi?, gila aja lu gua pake sopir pribadi."
jawabnya sambil melangkah masuk dan duduk disebelahku yang hanya beralaskan karpet tipis.
"gak usah belaga **** lu, cowo lu lah." kataku.
"hahahahaha....enggak!" jawabnya singkat.
"terus lu kalo malem di kosan sama siapa?" tanyaku.
"sendiri lah, cowo bisanya cuma bikin ribet, lagian gue juga sering B.O di hotel, jadi jarang pulang kos."
jawabnya santai sambil menyalakan rokok sampoerna mild yang dari tadi terselip di sela jari lentiknya.
"gak ada ahklak lu emang." kataku.
"pacaran palingan juga ujung ujungnya cuma minta ng*w* kan? enak aja pada mau gratisan, mending gua bandrol harga, sini duit lu, dan terserah gua mau lu apain."
jawabnya tanpa sedikitpun merasa dosa.
"tapi apa iya selamanya lu bakalan kaya gini?" tanyaku.
__ADS_1
"untuk sementara ini belum ada kepikiran selain nyari duit buat nyukupin kebutuhan gua sendiri, toh pria rata rata sama, yang ditonjolin cuma nafsunya." jawabnya.
"eitzzz... jangan kau sama ratakan penilaianmu!, buktinya gua bukan tipe cowok seperti itu." kataku membela kaum adam yang baru saja direndahkan.
"haha...sumpeh lu gak ***** liat gue? to**t gua masih kenceng lho Ndra, udah 3 hari gak di isep ni."
ujarnya menggodaku sembari membuka kancing bajunya yang seketika memperlihatkan buah dada nya yang tertutup BH warna ungu bermotif bunga.
"asghtafirullah." kataku sembari membuang muka.
walau sudut mataku masih berusaha meliriknya.
"anjing, gk usah sok polos lu *******! gua tetekin pingsan lu!." katanya tak terima dengan sikap ku yang sok jual mahal sembari kedua tanganya menjabak rambutku dan menjejalkan muka ku tepat ditengah belahan dada yang terbuka itu.
"hehhh anjing jangan gitu aahhhh, gak isa napas ni gua."
ucapku sambil berusaha berontak.
"san*e kan lu? tu ti**t lu tu dikondisi in, hahahaha."
katanya sambil tertawa puas karna telah berhasil menggodaku.
"untung baru kenal, terapis lama udah gua telanjangin lu disini." kataku menggerutu sambil membetulkan posisi burungku yang seolah mendesak ingin keluar.
"iihhhh...lu gak pake celana dalem ya ndra? anjing stress lu." katanya dengan kedua mata yang mengarah memandangi kejantananku yang memang terlihat jelas menyembul keluar.
"hahahahaha...ti**t kecil aja belagu lu Ndra, gua juga ogah,
gak kerasa." jawabnya.
"bukan ti**t gua yang kekecilan, tapi m*ki lu yang kegedean."
kataku membela diri.
"*bacot lu sembarangan, gua rutin perawatan tiap bulan,
m*ki janda ala perawan*." jawabnya.
"emang lu udah janda ya Li?." tanyaku memastikan.
"iya kenapa? itu juga hal terbesar dalam hidup gue yang paling aku sesalkan, terbujuk rayuan cowok sialan,
jika bukan karna kedua orang tuaku yang mendesak ku untuk segera menikah, gua juga ogah, lu tau sendiri kan omongan orang kampung kaya gimana kalo udah lihat cewek kesana kemari sama cowok tapi gak nikah nikah."
jawabnya menjelaskan dengan nada kesal.
__ADS_1
"maaf... bukanya niat gue mau ngungkit masa lalu lu."
kataku gak enak hati.
"gak papa santai aja, gue juga cuma sekedar sharing,
elu sendiri gimana?, udah ada calon apa udah berkeluarga?."
tanya dia sambil bertingkah genit kemudian rebahan dengan posisi kepalanya berbantal paha kananku.
"cewek mana sih Li yang mau gua pacarin? penghasilan pas pas an, tinggal cuma di kosan, gaya hidup brandalan."
jawabku menjelaskan.
"tapi kalo gua liat elu juga gak jelek jelek amat, elu tu manis tau."
pujinya yang membuatku seketika salah tingkah.
"cewek jaman sekarang tampang nomer belakangan,
yang terpenting bagi mereka adalah gaya hidup yang menurut mereka terbilang mapan, gak usah jauh jauh dechh... elu sendiri gimana? masih milih milih tamu kan yang sekiranya menurut lu bisa lu manfaatin." kataku.
"ya jangan di samain sama gue lah, kalo gue kan udah jelas misi gue nyari duit, ***** sambil pura pura menikmati,
padahal mahhh boro boro, gue terangsang aja enggak."
ujarnya.
"hahaha... tapi pernah gak lu ngrasain orga**e sama tamu?"
tanyaku penasaran.
"eehhhh.... pernah... ni gue critain ya, anjingg ti*" t nya enak banget Ndraa, baru sekali itu gua ngalamin ******* sama tamu, dia orang kalimantan dan baru pertama kali itu sama aku, Hottt banget mainya, me*ki gua dijilatin ampe paha paha gua dilahapnya habis........" katanya menjelaskan dengan pasang raut wajah nakal.
belum selesai dia bercerita.
"udah...udah...udah.... anjing kenapa gue jadi berimajinasi yang enggak enggak, mulut lu sampah emang, gak ada aturan aturanya kalo ngomong." kataku menyudahi penjelasanya yang perlahan membuatku horny.
Waktu terasa berjalan lambat ketika aku bercengkrama saling canda denganya.
walau usia perkenalan kita yang terbilang belum lama.
namun dia begitu pandai mencairkan suasana.
seolah kita adalah dua sahabat yang sudah lama saling kenal.
__ADS_1
sikapnya begitu supel dengan gayanya yang nakal.