
kami masih lanjut mengobrol sembari menyantap bungkusan nasi yang tadi aku belikan di warung bu yayuk.
"emang kamu udah lama ya Ndra kerja disini?"
tanya Lia yang menghujaniku dengan pertanyaan seolah ingin mengenal pribadi ku lebih dalam.
"baru dua tahun tepat 3 bulan setelah ruko ini buka."
"oOo...tahun ini baru berjalan dua tahun ya?"
aku menjawab pertanyaan Lia dengan agukan kepala,
mulutku penuh dengan nasi yang belum sempat terkunyah.
"terus sebelum nya dimana?."
"bisa gak siihh wawancara nya entar aja habis makan? bawel banget."
denGan nada kesal aku menjawab dalam keadaan mulut yang tak henti henti nya mengunyah.
"iyaa dehh iyaa maaf..."
kami pun melanjutkan misi untuk mengisi energi dengan sebungkus nasi yang hampir habis.
"naAahhh...sekarang silahkan kalo lu mau menghujamku dengan berjuta pertanyaan."
kataku mempersilah kan nya untuk lanjut wawancara.
"bahasa lu bak pujangga amatir tau gk?"
"eitzz...maaf gua gak suka disamain sama pujangga yang pandai membual, gua pling gak bisa kalo suruh nge gombal."
"oOo...pantes ampe saat ini gak ada cewek yang mau deket sama lu, jadi cowok kaku amat."
"bodo amat." jawabku sedikit jengkel.
"terus....teruss.... lu sejak kapan memilih hidup dijalan?"
"itu bukan pilihan, tapi memang gak ada opsi lain saat itu."
"emang kamu berapa bersaudara?"
"gue anak ke lima dari lima bersaudara, tapi ke empat nya udah sibuk dengan keluarga nya masing masing."
"oOo...kakak lu udah mentas semua? kok lu masih gini gini aja." kata Lia lanjut bertanya dengan nada meledek.
"yaA oranG usia mereka emang udah sepatut nya berkeluarga, gue sama kakak gue yang nomer empat aja terpaut 15 tahun, kayaknya dulu bokap nyokap gue pas musim ujan niat nya cuma iseng, eee gak tau nya malah jadi gue."
"hahahahaha... gila lu ! terus kenapa dulu gak nebeng ortu aja dari pada harus di jalan, lu saat itu usia berapa sih emang?"
"kelas 5 SD bokap gue meninggal karna sakit, gak selang berapa lama tepat nya 4 tahun sepeninggal bokap, nyokap dipanggil di sisi tuhan karna komplikasi."
"upss...maaf Ndra gue gak tahu."
kata Lia sambil membungkam mulut nya sendiri.
__ADS_1
"santai aja lagi, gue malah lebih suka kok ada yang denGerin keluh kesah gue selama ini."
jawabku menenangkan Lia yang masih merasa gak enak.
"teruss...sekolah juga lu sendiri dong yang biayain?"
"saat masih ada nyokap pun gue udah mutusin berhenti sekolah di bangku SMP kelas 2, aku sempat dua kali gak naik kelas gara gara sering berurusan dengan pihak berwajib karna kenakalan ku sendiri, maka dari itu gue mutusin buat berhenti."
"terus gimana respon nyokap lu saat itu?"
"beliau gk bilang apa apa karna aku paham betul dari segi ekonomi beliau juga keberatan untuk membiayai ku sekolah,
aku pun gak bisa berbuat apa apa waktu itu, dan segala kebutuhan kita sehari hari terpaksa nyokap juga yang harus mencukupi."
kata ku menjelaskan dengan kedua mata ku yang mulai berkaca kaca, penyesalan selama ini adalah aku tak pernah sedikit pun membuat beliau tersenyum dan bangga akan prestasi atau pun sikap ku, yang ada aku selalu membuat nya kecewa dengan sering nya aku membuat masalah.
"kok suasana nya jadi mellow gini sihh, udah Ndra... maafin gue karna buat lu flash back ke masa lalu."
kata Lia sambil menyeka sudut mata ku yang mulai tak kuasa menahan tangis, dengan tisu yang iya ambil dari atas meja, dia berusaha menghalangi air mata yang perlahan membasahi pipi.
aku pun hanya tertunduk tanpa kata melihat perlakuan nya.
ingin rasanya aku memeluk erat dan bersimpuh pada pundak nya untuk sekedar membuat ku tenang.
tapi niat itu aku urungkan ketika tirai yang menggantikan peran pintu di ruanganku tiba tiba terbuka.
"muka lu kusut amat, lu apain Li temen gue?"
ternyata itu adalah Roy rekan kerjaku yang juga bertugas sebagai OB.
jawab Lia sekena nya dengan kedatangan Roy yang tiba tiba, apalagi saat itu tangan kiri nya dalam keadaan membelai rambutku dengan lembut sambil tangan kanan nya terus mengelus elus pipi ku.
sontak membuat Lia kaget dan seketika menjaga jarak dengan ku.
"santai aja lagi, gue malah seneng temen gue udah gak galau lagi." jawab roy yang masih berdiri di sela tirai yang setengah terbuka.
"emang galau kenapa mas?" tanya Lia.
"pergi lu anjing ! gk usah bacot yang enggak enggak lu."
bentak ku dengan jari telunjuk yang mengarah ke muka Roy.
"hahahahaha...tampang sangar tapi hati ambyar."
celetuk Roy sembari melangkah pergi.
Kami pun saling diam untuk beberapa saat,
tapi kemudian...
"Lia...! kerja, room E satu setengah jam ya."
ternyata itu suara dari papi yang memberi tahu kan bahwa Lia kedatangan tamu.
papi disini adalah istilah lain dari germo.
__ADS_1
"iya pi...bentar." jawab Lia sembari berdiri bersiap melayani tamu yang sudah menunggu didalam room.
tiba tiba ada perasaan kesal seolah ada sebilah pedang yang menghunus tepat di dada, aku tak mampu mendeskripsi kan perasaan itu, apa iya ini yang nama nya cemburu?
tapi atas dasar apa?
toh aku dari awal sudah tahu bahwa memang ini lah pekerjaan nya.
Satu setengah jam kemudian terlihat Lia keluar dari ruangan yang terhalang oleh pintu kaca sebagai pembatas antara ruang karyawan dan ruang pijat.
nampak Lia keluar dengan rambut acak acakan dan pakaian yang kusut seperti habis bangun tidur.
make up yang tadi nya merias wajah nya pun hilang menyisakan wajah natural tanpa bedak dan lipstik.
"Ndra udah, room E ya."
kata Lia yang berarti menyuruhku untuk segera mengganti sprei room E dengan sprei yang baru, ia melangkah keluar menenteng keranjang yang berisikan perlengkapan nya untuk memijat, aku pun hanya mengangguk dan segera berangkat.
"ada rokok gak lu?"
tanya Lia yang masih berdiri di dekat pintu.
"emang doyan lu gudang garam? itu aja tadi gue beli nya ngeteng."
jawabku yang masih membawa sprei kotor yang penuh dengan bercak putih sedikit berlendir.
"gue gak minta ***** ! ya udah ni buat lu beli rokok."
kata Lia sembari mencari uang lima puluh ribuan yang terselip ditengah tumpukan lembar uang seratus ribuan.
"kantongin dulu napa Li."
"bawel lu ahh... nii."
"udah gak usah li..."
jawabku sungkan melihat Lia yang berniat memberiku uang untuk sekedar beli rokok.
"ihhh...belagu banget lu nolak pemberian gue."
kata nya sambil menggerutu dan memasuk kan uang itu ke saku depan kemeja ku memaksa aku untuk menerimanya.
"bukanya gitu..... ya udah dehh iya, makasiih."
"nAahhh dari tadi kek, banyak basa basi lu."
"roman roman nya habis dapet tamu om om berduit ni."
"enggak Ndra...orang tamu nya aja masih muda, paling kisaran umur 28."
"ambil ekstra apa tadi Li?"
"full Ndra....tadi nya cuma mau ambil paket HJ, tapi lu kan tahu sendiri gimana kemolekan tubuh gue, pria mana sih yang kuat? haha..."
"ya...ya...ya... iya in aja dehh, dari pada uang rokok nya diminta lagi ntar."
__ADS_1
jawabku bergegas pergi menuruni tangga.