Perjalanan Sang Ketua

Perjalanan Sang Ketua
19. Episode 19


__ADS_3

Setelah pembicaraan mereka selesai, Lemian memutuskan untuk pulang.


"Sampai bertemu lagi Talitha" ucap Lemian.


"Baiklah, sampai bertemu" ucap Talitha.


Lemian lalu memasuki keretanya dan pergi dari sana.


Sementara itu di kerajaan tepatnya di istana pangeran Kafel, pria itu sedang berbicara dengan dua bawahannya.


"Tinggal sedikit lagi sebelum kita menjalankan aksi ini" ucap Kafel.


"Tuan Albern mengirimkan surat kepada anda" ucap Ciel.


"Berikan kepada ku" ucap Kafel.


Aron lalu menyerahkan surat yang di kirim oleh Raja Albern kepada Kafel, setelah itu Kafel membuka dan membaca isi dari surat tersebut.


Setelah selesai membaca surat itu Kafel tertawa.


"Kita akan melakukan pertemuan di tempat yang tertera di dalam surat ini dan kita akan bertemu orang kepercayaan dari paman Albern" ucap Kafel.


"Anda berencana akan keluar dari istana?" ucap Ciel.


"Benar, aku sudah tau apa yang akan ku lakukan" ucap Kafel.


"Raja pasti akan melarang jika aku keluar karena dia berpikir aku akan mempermalukan nama kerajaan jika aku keluar dari istana, namun aku akan keluar di tengah malam saat semua orang telah tertidur lelap dan akan kembali sebelum pagi" batin Kafel.


"Besok kita akan berjumpa dengan orang itu di sebuah rumah hiburan" ucap Kafel.


Setelah pembahasan dengan kedua bawahannya, Kafel diam-diam keluar dan menyelinap ke kediaman putra mahkota tanpa sepengetahuan siapa pun.

__ADS_1


Sesampainya di istana putra mahkota, Kafel melihat Celio sedang berbicara dengan seseorang di ruang kerjanya.


"Perdana menteri?" batin Kafel.


"Percaya pada ku, aku akan membantumu untuk segera naik ke tahta mu, putra mahkota" ucap Perdana menteri.


"Namun mengapa aku harus melakukan hal itu? Walaupun tanpa bantuan mu aku juga sudah pasti akan menjadi raja selanjutnya" ucap Putra Mahkota.


"Apa kau tidak khawatir jika pangeran Kafel merencanakan sesuatu untuk merebut posisi mu?" ucap perdana menteri.


"Hahaha, kau ini berbicara apa perdana menteri. Si bodoh itu tidak mungkin bisa merebut posisi ku sebagai penerus selanjutnya dan itu mustahil untuk terjadi, lihat saja kelakuannya setiap hari bahkan raja sendiri malu mengakui dirinya sebagai putranya, dia tetap berada di istana ini karena dahulu ibunya pernah menjadi kesayangan raja" ucap Putra Mahkota.


"Aku baru tahu bahwa ternyata kau lebih bodoh dari siapapun, putra mahkota" ucap perdana menteri.


"Hey, jaga ucapan mu! kau tidak pantas berbicara seperti itu dengan ku. Jika saja kau bukan saudara dari ibu ku, kau sudah aku lempar masuk ke dalam penjara" ucap Putra Mahkota.


"Aku harap kau bisa memikirkannya sebelum mengambil keputusan, aku sebagai paman mu hanya ingin mengingat kan ini kepada mu" ucap perdana menteri.


"Cih pasti ini perintah dari ibu bukan?" ucap Putra Mahkota.


"Kenapa kau sangat ingin aku membunuhnya dan menurut ku yang berpotensi merebut posisi ku hanya Royce ditambah dia sangat benci terhadap ku" ucap Putra Mahkota.


"Kau seharusnya tidak memperlakukan pangeran Royce seperti itu, dia itu saudara kandung mu dan terlihat dia sama sekali tidak tertarik dengan perebutan kekuasaan, jika kau memperlakukannya dengan baik dia pasti akan berada di pihak mu apalagi istrinya adalah putri dari panglima perang" ucap perdana menteri.


"Cih hanya seorang putri panglima, aku bisa saja menikahi putri-putri dari kerajaan lain untuk memperluas kekuasaan ku jika aku mau" ucap Putra Mahkota.


"Anak ini sangat angkuh" batin perdana menteri.


"Hanya itu yang ingin ku beritahu kan kepada mu, aku harap kau merubah keputusan mu, putra mahkota" ucap perdana menteri lalu berjalan keluar dari ruang kerja putra mahkota.


"Sepertinya aku harus mengawasi pergerakan perdana menteri, ada yang tidak beres dengannya, aku rasa dia mengetahui sesuatu" batin Kafel.

__ADS_1


Kafel lalu pergi dari istana putra mahkota dan mengikuti perdana menteri diam-diam.


Sementara itu di Istana utama milik Raja dan Ratu, tiba-tiba kondisi kesehatan Raja memburuk, tabib istana sudah beberapa kali datang dan mengecek kondisinya yang tak kian membaik.


"Bagaimana kondisi yang mulia Raja?" tanya Ratu.


"Seperti biasa yang mulia, kondisinya tubuhnya masih begitu lemah, hamba sudah menyiapkan obat-obatan untuk yang mulia Raja minum di meja" ucap tabib.


"Kau ini sama sekali tidak becus berkerja, apa jangan-jangan kau yang membuat kondisi yang mulia semakin memburuk! Aku pikir kau adalah tabib terbaik di kerajaan ini, ternyata kau sama saja dengan tabib lainnya" ucap Ratu.


"M-maafkan hamba yang mulia Ratu, hamba tidak becus mengobati yang mulia Raja" ucap tabib itu sambil bersujud di hadapan Ratu.


"Pengawal! Seret dia pergi dari sini" ucap Ratu.


Setelah itu ratu kemudian berjalan ke arah pintu dan menutup pintu tersebut dan kemudian berjalan ke arah tempat yang mulia Raja berbaring.


"Kau akan segera mati! Putra ku Celio yang akan segera menggantikan posisi mu dan kau tinggal menunggu waktu saja agar lenyap dari dunia ini. Kau akan bertemu dengan wanita ****** kesayangan mu" ucap Ratu.


"Dahulu aku begitu mencintaimu, namun kau terus menyakiti ku apalagi saat kau membawa wanita itu bersama mu hari-hari ku bagaikan di neraka melihat mu selalu menghabiskan waktu mu dengannya dan mengabaikan keberadaan ku sampai wanita itu mempunyai anak mu, aku semakin iri dengannya hingga aku berencana melenyapkan dia dan anaknya namun ternyata anak itu masih juga hidup tetapi dia menjadi orang yang tidak berguna" lanjutnya.


Tidak terasa bulir-bulir air jatuh dari wajah wanita itu. Namun, dia segera menyekanya dan menahan agar tangisannya itu tidak semakin jadi.


"Kau pikir selama ini aku tidak tahu! Walaupun kau selalu mengabaikan putra dari wanita itu, namun kau selalu diam-diam melindunginya bukan? kenapa waktu itu bukan dia saja yang menikah i putri panglima itu, kenapa kau malah menyuruh putra ku yang lain, kau itu sangat jahat! Kau yang membuat ku harus menjadi penjahat seperti ini" ucap Ratu.


"Namun itu semua sudah berlalu bukan? Sekarang aku hanya akan menunggu waktu kematian mu saja, aku tahu obat yang kau minum itu pasti sangat menyakitkan karena itu buka obat yang tabib berikan kepada mu, aku sudah menggantinya dengan racun itulah mengapa kondisi mu tidak kunjung membaik, selamat tinggal yang mulia Raja" lanjutnya.


Semua yang Ratu ucapkan ternyata terdengar oleh yang mulia Raja yang hanya pura-pura tertidur.


"Uhuk.. Uhuk.. t-ternyata ini adalah kau yang sebenarnya, Ratu" ucap yang mulia Raja.


"Oh ternyata kau mendengar kan semua yang ku ucapkan, bagaimana? Bukan kah itu semua adalah kenyataan nya, yang mulia Raja" ucap Ratu

__ADS_1


...****************...


Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa like, komen, dan vote.


__ADS_2