
Thalita lalu memasang kembali penutup wajahnya.
"Kalau begitu, saya dan pelayan saya pamit kepada yang mulia Raja dan yang mulia Ratu" ucap Talitha.
"Semoga yang mulia Ratu suka hadiah yang saya berikan" lanjutnya.
Talitha dan Mia lalu meninggalkan tempat itu.
Setelah kepergian Thalita, seluruh orang yang berada di dalam istana nampak membicarakan gadis itu.
"Aku tidak menyangka panglima mempunyai putri secantik itu, dia seperti jelmaan seorang dewi"
"Benar sekali, tapi sayang dia malah membuang putrinya itu, kalau aku menjadi dia, aku tidak akan menyia-nyiakan kesempatan emas itu"
"keluarga panglima benar-benar tidak dapat mengajarkan putri-putrinya itu tata krama yang baik"
"Saya cukup setuju dengan ucapan anda"
Keluarga panglima benar-benar di buat malu di istana oleh Talitha, kini gadis itu pergi dengan sangat bangga setelah melakukan itu.
"Ah apa yang telah aku lakukan? Aku menyia-nyiakan gadis secantik itu" batin Celio, Putra Mahkota.
"Seharusnya dahulu aku melihat gambar gadis itu, ah tidak boleh dibiarkan, aku harus merebut gadis itu kembali" lanjutnya.
"Y-yang mulia, tolong bantu Nesha berdiri" ucap Nesha dengan wajah memelasnya.
Putra Mahkota tiba-tiba kehilangan minat kepada Nesha setelah dia melihat Talitha.
"Cih sungguh gadis yang merepotkan" batin Celio, Putra Mahkota.
"Kau masih bisa berdiri sendiri, kenapa kau malah seenaknya memerintah diriku! siapa kau?!" ucap Celio, Putra Mahkota.
"Sial! Kenapa Putra Mahkota malah mempermalukan aku di hadapan semua orang" batin Nesha.
"Ah maafkan putri kami yang mulia, aku sungguh tidak mendidiknya dengan baik" ucap panglima dan istrinya.
Sementara di jalan menuju gerbang keluar istana, Thalita dan Mia tertawa bersama.
"Kau lihat itu, Mia? Ahaha gadis itu malah mempermalukan dirinya sendiri" ucap Talitha sambil tertawa di tengah ucapannya.
"Iya, Nona. Baru kali ini aku melihat Nona Nesha berperilaku seperti itu haha" ucap Mia.
"P-permisi?" ucap seseorang yang baru saja menghampiri kedua gadis itu.
"Eh siapa dia?" Tanya Talitha.
"Salam pangeran kedua" ucap Mia sambil membungkukkan badannya.
__ADS_1
"Oh dia seorang pangeran" ucap Talitha.
"A-adik maukah kau bermain dengan ku?" tanya orang itu sambil memainkan kedua jarinya.
"Dia adalah pangeran kedua, Nona. Dia memang terlihat sudah dewasa namun perilakunya seperti anak kecil" bisik Mia.
"Oh jadi anak ini penderita Sindrom Peter Pan, sungguh malang nasibnya padahal dia terlihat lebih tampan dari Putra Mahkota" batin Talitha.
"Maaf ya, aku tidak bisa bermain dengan mu, kami sedang ada urusan penting" ucap Talitha.
"A-aku mohon" ucap Pangeran kedua, Kafel. Dia memasang wajah memelas dihadapan Talitha.
"Ya ampun apa lagi ini, aku tidak dapat menahan serangan yang satu ini" batin Talitha meringis.
"Pangeran kedua! Anda di mana?" Teriak seseorang dari jauh.
"Aku mohon adik, mereka akan menangkap ku, tolong aku" ucap pangeran Kafel.
"Ah apa yang harus kita lakukan, Mia?" Tanya Thalita bingung harus berbuat apa.
"Aku juga tidak tahu, Nona" Mia juga ikut bingung melihat kelakuan pangeran yang seperti bocah di hadapan mereka itu.
"Pangeran, kau harus patuh ya mereka tidak akan melakukan sesuatu yang buruk kepada mu, percaya padaku! Lain kali jika kita bertemu aku akan bermain bersama mu, bagaimana?" ucap Talitha sambil mengusap kepala Kafel agar pria itu mau patuh kepadanya.
"Eum janji?" ucap Kafel.
"Yasudah ingat ya kau sudah berjanji kepada ku, kau tidak boleh melanggar janji mu, adik. Kalau begitu aku pergi dulu" ucap Kafel sambil melambaikan tangannya.
"Ah akhirnya dia pergi juga" ucap Talitha.
"Benar, pangeran itu sebenarnya sungguh bernasib malang, namun apakah kau benar-benar akan memenuhi janji mu, Nona?" Tanya Mia.
"Ah lupakan saja janji itu, Mia. Mungkin dia juga akan melupakannya" ucap Talitha.
Mereka lalu pergi.
"Kita akan bertemu lagi dan aku akan menagih janji mu itu, gadis nakal" batin Kafel.
"Pangeran! Anda dari mana saja? Para pelayan sibuk mencari anda" ucap kepala pelayan.
"Hehe Bibi, aku tadi bertemu sesuatu yang menarik loh" ucap pangeran kedua, Kafel.
"Sudah lah pangeran, ayo kita kembali ke perayaannya, kau tidak boleh berkeliaran sebelum acaranya benar-benar selesai " ucap kepala pelayan.
"Ah aku tidak suka di sana, tempat itu sangat membosankan bagiku" ucap pangeran kedua, Kafel.
"Iya-iya aku tahu, tapi apakah kau mau jika ayah mu memarahi mu lagi?" tanya kepala pelayan.
__ADS_1
"A-aku tidak mau bibi, jika ayah marah itu sungguh mengerikan" ucap pangeran kedua, Kafel.
"Yasudah, ayo kita kembali" ucap Kepala pelayan.
"Baiklah" ucap Kafel dengan raut wajah yang murung.
Sementara kini Talitha singgah di sebuah rumah makan karena mereka sama sekali belum makan apa-apa sedari pagi.
"Aku ingin memesan cumi pedas, sup ikan dan udang rebus dua porsi" ucap Talitha.
"Baik, Nona. Kami akan segera membuatkannya" ucap seorang pelayan.
"Duduklah, Mia. Kau terus berada di belakang ku, apa kau tidak lelah berdiri terus-menerus" ucap Talitha.
"Tidak apa-apa, Nona. Itu sudah menjadi tugas ku sebagai Pelayan mu" ucap Mia.
"Sekarang kita sudah bukan berada di kediaman panglima, Mia. Jadi kau tidak perlu memperlakukan ku seperti itu" ucap Talitha.
" Tetapi aku akan tetap mengikuti kemana pun anda berada, Nona. Aku sudah berjanji menghabiskan seumur hidup ku untuk menjadi pelayan anda, Nona" ucap Mia.
"Ah bagaimana bisa, kau juga harus memikirkan masa depan mu kau harus menikah dan memiliki anak-anak yang lucu" ucap Talitha.
Mia terharu mendengar ucapan Talitha hingga meneteskan air matanya.
"Aku beruntung mendapatkan majikan seperti mu, Nona" Ucap Mia.
"Sebenarnya aku yang beruntung bisa bertemu orang seperti mu, Mia" batin Talitha.
Makanan mereka pun di sajikan di atas meja, Talitha dan Mia pun makan bersama.
...----------------...
Kini beberapa hari telah berlalu setelah kejadian di istana saat perayaan ulang tahun yang mulia Ratu, orang-orang masih saja memperbincangkan masalah keluarga panglima perang.
"Ayah, sekarang keluarga kita memiliki reputasi yang jelek di istana, ini semua karena ulah kak Talitha" ucap Nesha.
"Sialan! Aku akan sulit untuk menikah dan menjadi Putri Mahkota karena Talitha gadis sialan itu, berani-beraninya dia mempermalukan ku di hadapan orang-orang" batin Nesha.
"Cukup, Nesha! Jangan pernah kau mengungkit nama anak itu lagi, aku benar-benar tidak sudi mempunyai anak seperti dia yang rela mempermalukan keluarganya sendiri " ucap panglima perang emosi.
"Sudah, ayah. Kau akan sakit jika marah-marah terus seperti ini" ucap kakak Nesha yang tidak lain adalah putra pertama panglima perang yaitu Danilo.
"Benar kata putra mu itu, sayang sebaiknya kau melanjutkan makan mu dan segera beristirahat, belakang ini kau terlihat sangat lesu" ucap istri panglima.
Jika kalian suka pada ceritanya jangan lupa di like, vote dan komen.
Salam dari Author:)
__ADS_1