
Rumah yang megah disertai penuh dengan penjaga diseluruh sudut.
Rumah pemuda yang terkenal jahat serta bermata elang, siapa yang berani berurusan padanya pasti tidak akan dibiarkan lolos.
Tapi anehnya masih banyak orang yang bertumpuh pada harapan yang mematihkan itu.
Hari menunjukkan jam 4 sore, warna jingga dilangit terbentang dengan indah namun tak seindah pasangan suami istri beserta anak perempuan yang terlihat lugu dan murni.
Sepasang suami istri itu sudah berlutut mengarah sofa yang sudah ada sosok laki - laki muda yang lebih dominan.
Dia duduk santai yang sedang memainkan ponselnya tidak melirik pasangan itu yang sudah memelas setengah jam lamanya.
" Tuan... bantulah kami. Kami mohon tuan " berlutut telapak tangannya disatukan seakan memohon.
Sosok perempuan terlihat cantik, lugu seperti anak kecil mungkin karena umurnya 13 tahun jadi dia sedikit mengerti tapi hanya diam.
Tapi sepasang mata indah bak mata Hazel terus memandang sang tuan muda, hingga tatapan mata meraka bertemu.
Perempuan ini tidaklah takuk terus menatapnya hingga sang tuan mudah beralih perhatiannya yang tadinya menatap ponsel sekarang menatap perempuan itu.
" Siapa nama anakmu itu ? " meletakan ponsel ke atas meja.
Pemuda itu menatap pekat perempuan itu tangannya menggenggam tangannya yang lain seakan berpikir sesuatu.
" Siapa tuan? " Ucap perempuan berlutut yang umurnya jauh lebih tua dari sang tuan muda.
" Anakmu? Siapa lagi? " nada bicaranya terdengar sedikit kesal.
" Maaf tuan saya mempunyai tiga anak. Apakah tuan mau tau semua nama anak saya "
" Untuk apa aku mengetahui nama anak - anakmu itu. Aku hanya ingin tau yang ada di belakangmu, gadis kecil itu "
Sontak membuat suami istri dengan serentak melihat anaknya yang masih terbilang sangat bocah.
Suami istri ini saja terpaksa membawah anak bungksunya karena tidak ada yang menjaga kalau di rumah.
Sekarang kakak perempuannya sakit sedang dirawat di rumah sakit sedangkan kakak laki - lakinya masih kuliah di luar kota.
" Namanya Vlara Autika tuan "
Tatapan tuan muda itu masih tajam ke sosok gadis kecil itu.
Senyumnya terukir disalah satu sisi bibirnya bukan manis yang terlihat melainkan mengerikan is creppy.
__ADS_1
" Vlara Autika " mengulang nama itu dengan nada suara berat.
Diam sejenak sepasang suami istri hanya diam tidak mengerti apa yang di pikirkan oleh tuan muda ini.
Tuan muda tidak lagi memandang gadis itu sekarang tatapannya sangat tajam terlihat tatapan begis yang memperlihatkan dia adalah sang pengusaha yang sangat berbahaya.
" Apa yang kalian inginkan? " suara itu terdengar datar tidak ada nada yang melantun.
" Kami ingin pinjam uang tuan " seru suami yang berlutut itu
" Kenapa kau tidak binjam ke bank? "
Meminjam pada tuan muda ini tidaklah muda pasalnya dia adalah orang yang sangat pintar. Dia terbilang sangat egois, tidak akan memberi bila nantinya dia tidak akan mendapatkan sesuatu yang lebih besar.
" Kami tidak memiliki jaminan tuan " ucap sepasang suami istri.
Sang istri yang berlutut itu mulai menitihkan air mata.
" Aku tidak suka ada acara air mata disini " ucap tuan muda dengan nada sombong serta tersirat tatapan marah.
Sang wanita pasangan suami istri itu langsung menyekak air matanya serta menutup mulutnya rapat - rapat agar tidak melesat suara tangisannya.
" Jangan memarahi ibuku tuan muda " tutur kata sopan tapi nada suara penuh dengan keberanian.
Pembisnis itu masihlah sangat muda, umurnya saja masih 24 tahun tapi cara menjalankan bisnisnya seperti sudah berumur tiga puluhan keatas.
Ibu sang anak langsung menutup mulut anaknya.
Anak yang mulanya pemalu kenapa sekarang terbilang sangat lancang, ibunya hanya menatap tajam mengisyaratkan untuk diam.
Perempuan itu diam tapi tatapannya tetap tajam ke arah tuan muda seakan tidak mau kalah.
" Tapi kalian tau kan kalau aku ingin keuntungan dengan meminjamkannya pada kalian " tidak mempedulikan kata - kata gadis itu.
" Iya kami akan membayarnya tuan " seru sang suami yang mulai terlihat cahaya terang di hadapannya.
" Dengan apa? Kalian saja tidak ada apa - apa? " sorot mata itu menatap meraka dengan tatapan penuh penghinaan
" Setelah usah kami berhasil saya akan bayar 2 kali lipat pada tuan " suami dari dua perempuan yang disampingnya berkata dengan percaya diri.
" Aku sudah kaya. Aku tidak menginginkan itu, tapi aku tertarik pada sesuatu yang hanya kau yang punya "
Sepasang suami isteri itu saling menatap satu sama lain. Mereka tidak mengerti karena keluarga mereka tidak mempunyai tanah, ladang, berlian ataupun harta berharga lainnya.
__ADS_1
" Aku ingin mata hazel itu,, ohh... Siapa namanya aku lupa "
Sekertarisnya mengatakan dengan pelan di dekat telinganya
" Vlara Autika " terlihat dari gerak mulut sang sekertari yang mengejakan nama itu
" Lara.... Aku ingin dia jadi istriku "
Setelah tuan muda itu selesai mengucapkan kalimat itu sepasang suami istri langsung terngangak tidak percaya.
" Hah..... " hanya kata ambigu yang penuh arti itu yang terucap.
" Iya itu yang aku inginkan "
" Maaf tuan muda, Vlara masihlah kecil. Negara kita tidak memperbolehkan perempuan menikah bila usianya belum sampai 17 tahun " ucap laki - laki itu takut serta gunda
" Siapa yang akan mengatakan akan menikahinya sekarang, aku kan menunggu sampai dia berumur 17 tahun. Bagaimana? " tuan muda beranjak dari tempat sofa karena pertanyaannya tidak kunjung mendapat jawabbannya.
Saat ingin melangkah sang suami mengatakan sesuatu yang mampu membuat sang tuan muda berhenti sepenuhnya dari langkahnya.
" Baik tuan muda saya setujuh "
Bukan hanya tuan muda itu yang terkejut dengan kata - kata sang suami tapi sang istri juga sangat terkejut sampai tatapan matanya yang menatap sang suami seakan akan keluar.
Sedangkan gadis itu tidak mengerti setaunya kalau menikah akan ada pesta besar disana akan banyak makanan, berpakaian bagus serta akan banyak teman yang datang.
" Baiklah, kita percepat saja. Kau taukan apa kerjaanmu " menatap sekertarisnya dengan tajam. Sebagai sekertaris yang sudah cukup lama dia paham apa kode - kode yang di berikan bosnya ini.
Sekertarisnya langsung mengotak-atik leptonya dengan cepat.
Tidak membutuhkan waktu yang lama sudah ada selebar kertas yang isinya suatu perjanjian.
Sang tuan muda memberikan kertas yang ia rasa cocok dengan tujuannya sejak awal ke sang suami yang memohon itu.
" Itu surat perjanjian, aku tidak pernah percaya dengan kata - kata, aku lebih percaya dengan cara itu tinggal kau bumbuhi dengan stempel tanda tanganmu kau dan diriku "
Mereka sama - sama saling menanda tangan.
Tuan mudah mengambil kertas itu lalu menyerahkan ke sekertarisnya pasalnya ini baginya adalah aset.
Dia tidak mau rugi barang sepeserpun.
Jangan lupa like, komen dan vote dong.
__ADS_1
Dan maafkan typo berserakan dimana - mana.