
Semua sudah terjadi, menyesalpun pasti sudah terlambat.
Beras telah menjadi bubur tidak bisa kembali lagi kini tinggal menjalaninya saja.
" Berapa yang kau minta " suara serak beratnya .
" 100 juta " singkat namun nilai nominalnya sangat fantastic.
Istri dari suami itu melongok ke arah suami seakan tidak percaya nominal yang disebut suaminya.
" Baiklah, ternyata anakmu cukup mahal harganya " mengambil cek dan menulis jumlah nominal yang telah disepakati.
Saat ingin memberikan ke pada suami itu tuan muda menatap tajam dengan nada mengancam.
" Kalau kau berani bermain - main padaku, kau akan tau apa akibatnya " mereka memandang ngeri pada laki - laki yang ada di hadapan mereka.
Mereka sama - sama diam, tuan muda melangkah mendekat pada gadis perempuan itu.
Membelai pipinya " sampai jumpa lagi gadis mungilku " lalu pergi keluar di ikuti sekertaris serta bodygardnya
.
.
Di kediaman gadis tampaklah suami istri sedang berdebat.
" Mas kamu tega sekali dengan anakmu Vlara " sahut sang istri, pipinya sudah penuh dengan pelu air mata.
Dia tidak bisa membayangkan anaknya harus melayani tuan muda kejam itu.
" Aku tidak punya pilihan, Adela sakit butuh uang operasi sedangkan Bram juga butuh uang kuliah " suami itu juga meneteskan air mata tidak berdaya.
Vlara adalah kesayang mereka, anak bungsu yang baik hati dan juga cerdas tapi sialnya dia lahir dalam keluarga yang tidak mampu.
" Tenanglah, aku akan mencari cara agar Vlara tidak menikah dengan dia. Tapi sekarang kita harus mengurus Adela dulu " merengguk kedua lengan dan berbicara dengan penuh penekanan agar sang istri percaya dan tidak terlalu khawatir.
Semua memang sejak dari awal terlihat tidak adil, uang yang dapat diri menjual jiwa anaknya ke tangan iblis itu bisa menyembuhkan Adela dan juga membiayai kuliah kakaknya Bram.
__ADS_1
Tidak sampai situ uang itu seakan membawah hoki usaha yang sedang berjalan dengan sangat lancar hingga ke untungan berkali - kali lipat dari modal.
Meskipun keuntungan berlipat ganda sang suami istri seakan tercekek oleh perasaan bersalah pada anaknya yang mulai tumbuh.
Kini sudah berlalu satu tahun, sang tuan muda bagaikan iblis itu tidak mencari - cari Vlara mungkin belum waktunya pasalnya baru umur 14 tahun.
" Adela, Vlara, kalian siap - siaplah cepat " tepat tengah malam mereka sudah mempersiapkannya. Sang suami sudah merencanakan dengan matang.
Raut muka dari pria yng terlihat gagah yang mampu mengayomi kami satu keluarga tidak ada pertanyaan yang terucap pada gadis - gadis cantik ini karena mereka sangat percaya pada sosok yang di panggil ayah.
Sang suami sudah menjual rumaha beserta tanah dan pabriknya. Dia sudah membeli rumah dan segala yang di butuhkan di luar kota jau dari tempatnya sekarang.
Alasannya cuma satu untuk kabur dari tuan muda kejam yang menjelma menjadi iblis di mata mereka padalah kalau tidak dipikirkan dia adalah iblis sekaligus malaikat karena kalau tidak ada dia mungkin Adela anak keduanya akan meninggal sedangkan sang kakak pertama akan putus kuliah.
Saat sampai ke rumah baru yang nuansanya lebih baik dari rumahnya yang dulu.
" Vlara... Yeeee... Rumah baru " teriak Adela bersorak bahagia dengan senyum lebar memperlihatkan gigi putih yang berjejer rata.
Adela adalah sosok gadis yang sangat cantik, kulit putih bersih, bibir tipis dan body golds apa lagi saat ini dia sudah duduk dibangku SMA tingkat 2 jadi sosoknya semakin lengkap indah tidak lagi terlihat seperti anak kecil.
Beda dengan adiknya yang terkesan manis dan masih lugu murni seperti anak SMP lainnya.
" Aku gak tau dek, tapi aku akan berusaha untuk menjaga kalian " memeluk istrinya. Dia tidak boleh lemah karena dia masih harus menguatkan istri dan anak-anaknya.
" Aku akan berjuang bersamamu mas " Mungkin wanita lemah tapi sadarlah selemah-lemahnya seorang wanita akan mampu menerjang pintu hati yang berhati batu.
Karena wanita lebih pandai mengendalikan perasaan dari pada mengendalikan senjata.
............................. ----------------
Berbeda pada posisi tuan muda yang mempunyai julukan iblis.
" Maaf tuan, keluarga nona Vlara tidak ada di tempat " seru sang sekertaris memberi laporan
" Apa..... " amarah tuan muda pecah dia membantung seluruh pernak-pernik perabotan yang ada di dekatnya.
" Tua bangka itu berani bermain - main padaku " menatap tajam ke arah depan .
__ADS_1
" Kalian semua temukan keluarga itu, aku tidak terima misi kalian gagal. Kalau mereka tidak ketemu jangan harap kalian akan kembali pada keluarga kalian dalam keadaan hidup " menatap tajam ke arah pengawalnya.
" Baik tuan " dengan serentak.
" Jadi bagaimana tuan, hari ini ada rapat, apakah saya tunda saja? " yang ada disamping
" Kau mau aku tambah rugi Fras " menatap Fras dengan jengkel seakan siap-siap melampiaskan amarahnya pada sang sekertaris.
Sang sekertaris langsung tanggap
" Baik saya akan mengurusnya tuan " memberi hormat lalu pergi menyingkir jauh dari sang tuan.
Fras, sang sekertaris bisa membaca gerak gerik tuannya jadi dia bisa mengatasinya dengan cepat. Fras sudah 6 tahun bekerja di perusahaan itu mala sebelum tuan mudanya yang menghendel perusahaan.
Sang tuan muda keluar dari kamarnya dengan berpakaian rapi, bersih menampilkan seorang pemimpin.
Kini emosinya sudah stabil bagaikan tidak terjadi apa-apa.
Itulah kelebihan sang tuan muda. Dia tidak ingin lemah didepan orang lain, sang tuan muda pasti tampil sempurna.
Banyak julukkannya sang mata elang, tuan muda kejam, direktur kutup dan banyak lagi. Dan tambah lagi tanpa sepengetahuannya keluarga Vlara menjulukinya sebagai Iblis.
" Direktur Taksa Killian Lais, lama tidak bertemu " ujar pria yang sudah cukup berumur tapi dari penampilan dan cara berbicara terlihat dia orang yang berpendidikan.
" Pak Samuel, senang bertemu denganmu juga " terukir sedikit senyuman, lebih tepatnya kilasan ukiran dibibir tidak bisa disebut senyuman pasalnya bila dilihat itu seperti ancaman.
Samuel itu adalah musuh tuan muda Taksa yang berada dalam satu perusahaan yang berpusat di jakarta.
Sedangkan sang tuan muda lebih sering ada di tempat zona nyamannya yaitu kota Malang.
Permasalahan kantor bukanlah hal yang susah untuk di tangani apalagi di tangan seorang tuan Taksa.
Tapi kali ini penat yang dirasakan semakin mengundang amarah pasalnya para pengawalnya belum memberi kabar tentang keberadaan sang gadis kecil.
" Aaahhh... Cari gadis kecil saja kalian tidak becus, cari sampai ketemu " marahnya memuncak hingga semua yang ada di dekatnya memilih menghindar dan langsung pergi mencari lagi.
" Fras... Cari ke setiap wilayah di Indonesia ini, bila tidak ketemu cari ke luar negeri aku mau dia, aku harus dapat dia " penuh nada penekanan di kalimat terakhir aku mau dia, aku harus dapat dia.
__ADS_1
" Baik tuan "