
Kini hidupku jatuh pada lembaran kertas ini yang nantinya akan menjadi kunci pada sangkar emasku.
Datanglah sekertarisnya ke rumahku masih dengan tata krama dan kesopanan.
" Silakan pak " aku menyambutnya dengan senyum ramah merekah menunjukan sopan santun.
Aku tidak melihat tuan itu, syukurlah aku tidak bertemunya rasanya di intimidasi kalau langsung tatap muka itulah yang dipikirkan gadis manis itu.
" Tidak perlu repot-repot nona "
Sekertaris itu langsung memberikan beberapa tumpukan kertas diatas meja di hadapanku.
" Nona bisa membacanya dan memperaktekannya bila nanti sudah sah menjadi keluarga Lais " dan menaruh kopelan kecil yang berisi deretan nomor.
" Ini no saya bila sudah di tanda tangani hubungi saya. Saya akan mengambil surat itu nona "
Gadis itu sejenak melihat kertas-kertas itu beserta kopelan.
" Jika nona ada pertanyaan silakan tanyakan "
" Kapan ayahku bebas "
" Saat hari pernikahan nona " muka datar serius membuat suasana tambah tegang.
" Kapan hari pernikahan " terlihat jelas aku sangat ketakutan tapi tetap aku menatapnya dengan tajam ini adalah suatu senjata yang secara tidak langsung.
" Tepat dihari ulang tahun nona "
" Ahhh.... Kenapa harus di hari ulang tahunku " aku sangat sedih biasanya bila di umurku ini pacar yang akan memberi kejutan dan merayakan bersama teman-teman tapi lain denganku itu akan jadi hari pernikahanku.
Air mataku menetes tapi aku langsung dengan cepat menyekaknya tidak ingin orang asing ini melihat kelemahanku.
" Ada lagi nona yang mau ditanyakan "
" Aku masih bisa sekolah atau tidak "
" Maaf nona itu bukan wewenang saya, nona sendiri yang harus bernego pada tuan Taksa " gadis itu diam merenungi segala kemungkinan yang terjadi.
" Tidak mungkinkan aku akan berhenti sekolah, aku mau sekolah " Vlara membatin.
" Nona saya boleh bertanya " aku hanya membalas dengan anggukan
" Sampai mana pendidikan nona, apakah masih lama nona lulus? "
" Ini sudah semester genap sudah mulai les-les mungkin tiga bulan lagi akan UN "
" Baikalah nona saya akan sampaikan semua informasi, dan mengatakan ke inginan nona untuk sekolah pada tuan " aku mendengar penjelasan sekertaris itu membuat mataku berbinar-binar senang.
" Terimakasih pak "
" Saya permisi nona "
.
Di kediaman tuan itu sang sekertaris menghadap ingin melaporkan tugasnya yang sudah sesuai dengan perintah bosnya.
" Tuan Taksa... "
" Langsung katakan Fras " yang masih sibuk mengerjakan pekerjaannya.
" Saya sudah memberikan surat perjanjian, memberitahu hari pernikahan serta ayahnya akan bebas " terdiam untuk menunggu tanggapan dari bosnya tapi sepertinya bosnya sangat fokus hingga 25 menit berlalu.
" Ada lagi yang dikatakan gadis itu" sekarang pandangannya fokus memperhatikan sang sekertaris.
__ADS_1
" Nona ingin melanjutkan sekolahnya, beliau bertanya apakah di perbolehkan untuk sekolah "
" Cuma itu keinginannya ? Dia tidak ingin mahar tanah, uang atau apapun aku bisa memberikannya " berkata dengan penuh kesombongan.
" Tidak tuan, tidak ada permintaan nona yang lain "
" Walau bagaimanapun nona masih gadis yang polos tuan, umurnya saja masih 17 tahun " membatin Fras sekertarisnya.
" Iya sudah kau boleh pergi ".
.
Gadis itu membaca semua perjanjian yang terterah pada kertas itu.
SURAT PERJANJIAN
Pihak I
Nama : Taksa Killian Lais
Pekerjaan : xxx
Alamat : xxxxx
Umur : xxxxx
Mengajukan surat perjanjian ini kepada pihak II
Nama : Vlara Autika
Pekerjaan : xxxx
Alamat : xxxx
Perjanjian sebagai berikut.
Pihak II harus tinggal di kediaman pihak I setelah resmi menjadi pasangan suami istri.
Pihak II tidak diperbolehkan kabur, pergi tanpa seizin pihak I.
Pihak II tidak di izinkan meminta cerai, hanya pihak I yang boleh menceraikan pihak II.
Pihak II harus menaati perintah Pihak I karena perintah itu mutlak.
Bila pihak I salah akan kembali ke peraturan no 4.
Pihak I akan menfasilitasi semua kebutuhan pihak II.
Tertanda tangan kedua belah pihak
Taksa Killian Lais
Vlara Autika
Vlara membaca itu air matanya tetes demi tetes mengalir deras.
" Ini sangat nyata, aku ingin ini hanya mimpi. Bangun Vlara ini mimpi terlalu buruk. Umurku masih muda kini aku harus berpisah pada kakak, abang dan juga orang tuaku " membatin.
Vlara hanya bisa bercurhat dengan bantal papan dan guling yang setia menemani tidurnya tapi sebentar lagi batal ini saja akan meninggalkannya yang akan sendiri kesepian.
__ADS_1
Chatan dengan sang sekertaris.
" Selamat malam pak, maaf mengganggu aku sudah selesai membaca dan menandatanganinya "
Tidak cukup lama sekertaris itu membalasnya.
" Baik nona, saya akan kesana besok "
" Jam berapa? Besok aku sekolah "
" Kalau begitu jam berapa nona pulang agar saya bisa mengatur jadwal "
" Jam 2 siang saja bisa pak? "
" Saya usahakan "
" Makasih pak, selamat malam "
" Iya nona, selamat malam "
Sedangkan sekertaris itu baru saja merebahkan diri karena capek dengan pekerjaan yang sangat banyak untuk membantu tuannya.
Kini dapat chatan seperti itu.
" Ahhhh.... Uhhhh... " menghempaskan nafas panjang.
" Aku harus mengatur jadwal yang tadinya sudah rapi tersusun, sudahlah " membatin Fras sekertarisnya kembali terlelap.
.
Pagi yang cerah terlihat dari sinar mentari menari ceria dari warna jingga terang itu.
Sekertaris sudah ada di pintu kamar tuan menunggu jam tangan menunjukkan jam 5:50 untuk membangunkan tuannya.
" Tok... Tok... " sekertaris mengetok pintu kamar pribadi tuan.
" Masuk " saat sekertaris itu memasuki kamar tuannya dia sangat terkejut karena tuannya sudah dalam keadaan rapi plus gagah.
Biasanya jam segini dia masih di kamar maka karena itu tugas Fras sang sekertaris sangat di butuhkan.
" Fras... Batalkan metting yang gak terlalu penting, majukan skejul aku ingin pulang kantor lebih cepat " masih berkaca ke benda minor yang memantulkan bayangan dirinya sendiri.
" Baik tuan "
" Akhirnya ini sesuai perintah tuan jadi tidak terlalu keteteran mengatur waktu " sekertaris Fras membatin
" Bagaimana sudah di tanda tangani perjanjian itu "
" Sudah tuan nanti sore saya akan mengambilnya dari nona Vlara "
" Aku juga ikut kami akan feeting gaun pernikahan. Oh iya bagaimana persiapan pernihannya "
" Sudah 70 % tuan. Tempat, makanan, tinggal foto Periweding, gaun pernikahan "
" Kau sudah siapkan setelah urusan gaun pengantin aku langsung kesana "
" Sudah tuan, oh iya tuan apakah perlu saya yang mencari cincinnya " dengan kata-kata ragu.
Sang sekertari tau ini pernikahan ini bukan didasari dengan rasa cinta ataupun sayang. Jadi sekertarisnya takut tuannya lupa kalau menikah membutuhkan cincin sebagai tanda terikatnya suatu hubungan yang sakral yaitu pernikahan.
" Aku tau, kau kira aku **** sampai masalah sesepeleh itu aku tidak tau, aku yang akan mengurus " dengan wajah kesal melihat sekilas sekertarisnya yang hanya 3 tahun lebih tua darinya.
" Inilah yang aku takut kalau aku memberi tanggapan, tuan sangatlah sensitif untung hanya beberapa orang saja yang tau " meninggalkan ruangan dan turun ke bawah menunggu di bawah.
__ADS_1
- Happy Reading -