
Mau setinggi apapun, sebegis terlihat kejam, berwibawah atau sekalipun orang paling kaya dia tetaplah seorang anak yang akan lemah saat berhadapan dengan sang ibu.
Duduklah tuan itu di sofa ruang baca nyonya Lais yang biasanya dipanggil mama.
" Ma... Baik-baiklah padaku, aku anak mama satu-satunya bila mama menyiksaku dengan pukulan mama yang mematikan itu nanti aku bisa tewas ditempat " menatap mamanya dengan wajah kesal tapi dengan tatapan tersirat rasa sayang.
" Bukan kau yang tewas tapi aku, bila terus menghadapi anak sepertimu. Cepatlah menikah mamamu ini semakin tua " tuan itu bangkit menujuh belakang wanita tua itu lalu memijat pundahnya.
" Baiklah mam, aku akan menikah. Jagalah kesehatan mama jangan banyak pikiran " wanita itu langsung menoleh ke belakang mencari pembenaran akan kata-kataku.
" Benarkah pacarmu sudah mau menikah, Hanif itu "
"Matanya sangat bersinar belum pernah aku melihat matanya seperti ini saat aku membelikan tas terlangkah cuma ada 3 di dunia dia biasa saja sekarang cuma mendengarku akan menikah reaksinya sangat diluar dugaan " membatin
" Bukan Hanif tapi yang lain. Awalnya dia akan aku jadikan istri ke duaku tapi karena tidak sesuai rencana tidak papalah dia jadi istri pertamaku "berbicara dengan sombong dan terlihat muka tamak serta egoisnya.
Pukulan melayang jauh lebih keras kali ini bukan dengan tangan melainkan buku besar yang sengaja mendarat di lengan tuan itu.
" Brukkkk... "
" Auuu..." Suara histeris terdengar dari tuan itu.
" Ada apa sih ma, jangan memukul tanganku ini nanti siapa yang akan mencari uang kalau ada apa-apa dengan tangan hebat ini " menggosok pelan karena terasa sangat sakit saat akan disentuh.
" Hebat... Mempermaiankan perempuan kau sebut hebat " menatap anaknya tidak percaya.
" Sudahlah ma yang penting aku pastikan bulan depan aku pasti akan menikah, aku pergi masih banyak kerjaan yang harus aku kerjakan " mencium salah satu pipi wanita yang sudah memiliki banyak keriput dalam wajahnya.
Tuan itu langsung pergi dari kediaman keluarga Lais dan pergi menujuh kediamannya yang ada di Jakarta.
" Tuan... " sambuat Fras saat baru sampai di kediamannya yang cukup megah walaupun tidak semegah kediaman Lais.
" Bagaiamana sudah kau periksa " berjalan menuju ruang utama yaitu ruangan berjejer sofa nan empuk berbentuk lingkaran.
" Sudah tuan, ini informasinya. Benar tuan kalau yang Bernama Georia Pia itu gadis tuan yang kabur itu " meletakan satu map coklat.
__ADS_1
Tuan itu membuka yang pertama dia lihat adalah tiga foto. Dua foto perempuan dan satu foto laki-laki, yang jelas laki-laki tidak ada minat sedikitpun untuk si tuan muda.
Dilihat foto pertama gadis cantik berkulit susu, bibir tipis, body oke, rambut panjang lurus berwarna hitam dan terlihat cukup dewasa.
Tuan itu masih memandang foto gadis cantik itu tertulis disekitar fotonya dengan nama Adela sang anak kedua.
Tapi saat dia masih mengagumi kecantikan Adela sejenak terlintas di benak tuan itu bibir tebal yang manis dalam sekejab bisa langsung beralih perhatiannya foto ke gadis yang satu lagi.
Berkulit kuning langsat, rambut panjang ikal bergelombang bewarna Coklat tua, bermata Hazel ada sesuatu yang membuat tuan itu tersenyum saat melihat poni gadis itu yang menjilang ke atas seperti pohon kelapa.
" Hahaha... Apa-apaan dengan poni jelek ini, kenapa aku tidak sadar kalau dia memiliki poni ini " masih tertawa dengan keras.
Membangun perusahaan kecil. Adel kuliah di salah satu universitas ternama, Bram bekerja di salah satu kantor cabang kita dan Pia SMA sekolah di Jakarta ini.
" Fras... Sepertinya aku ada ide yang bagus untuk memberi pelajaran bagi si pembangkang itu " dia mengarahkan tanganya menandakan mendekat.
Sebagai sang karyawan dia selalu mematuhi perintah dia mendekat lalu mencondongkan tubuhmya ke arah tuannya.
" Ada apa tuan.... " Tuan itu membisikkan cukup panjang seketika raut muka Fras merasa mengerti dan tak percaya.
.
Tepat hari sabtu dimana kak Bram kerja, kak Adela sedang libur kuliah sedangkan Pia sekolah tapi akan pulang cepat.
Orang tuanya sedang menikmati libur sambil menonton tv.
" Tok... tok... " terdengar suara ketokan pintu, Adela dengan gesit ingin membuka pintu.
Saat dibuka dia terkejut ada beberapa orang yang memakai seragam coklat kontras membuat Adela sedikit gugup bukan karena dia merasa bersalah tapi melainkan dia takut kenapa sampai ada polisi kesini.
" Selama siang mbg benar ini di kediaman pak Suryo " dengan suara berat dan tegas dilontarkan polisi tersebut.
Hal yang membuat Adela tambah kaget saat nama ayahnya disebut.
" Iya, benar ini kediaman pak Suryo, memangnya ada apa pak? "
__ADS_1
" Kami datang ke sini untuk menangkap pak Suryo dan ini surat perintahnya " Adela langsung kaget dan seakan tidak percaya dia dengan cepat masuk kedalam dengan memanggil ayahnya dengan suara lantang.
" Ayah... " polisi ikut masuk tapi tidak masuk lebih jauh mengikuti Adela
" Ada apa sih Adel... " seru sang ibu
" Ayah... bu "
" Ayah kenapa ? " terlihat raut mimik wajah Adela takut, sedih dan terkejut.
" Kenapa ribut-ribut " sang ayah menunjukkan jatih dirihnya.
Tak lama pak polisi sudah ada dihadapan mereka dengan menunjukkan surat penangkapan.
" Kami akan menahan bapak Suryo dengan tuduhan perbuatan curang, bapak berhak menyewa pengacara atau tetap diam " memborgol tangan pak Suryo ke arah belakang.
" Pak suami saya bersih, tidak mungkin dia melakukan curang " Adela dan istrinya sudah menangis tersenduh-senduh.
" Lepaskan saya... Ini kesalahan, saya tidak pernah melakukan itu " pak Suryo berusaha memberontak karena dia tidak terima dituduh seperti itu.
Tapi semuanya percuma pak Suryo sudah dibawah ke kantor polisi kini di rumah hanya ada Adela dan sang istri yang masih terkulai lemas dilantai karena tiba-tiba mendapatkan kabar buruk ini.
Pintu masih terbuka lebar mereka belum bergerak dari tempat itu mereka merasa mungkin ini hanya mimpi tapi kenapa mimipi sangatlah panjang.
Suara tepakan kaki berjalan mendekat.
" Hahhaaaa.... " suara gelegar ada tepat didepan mereka. Sontak mereka mendongak sang istri langsung terlihat sangat pucat karena dia tau siap sosok itu.
" Dari awal aku sudah katakan jangan main-main bekerjasama denganku, tapi tua bangka itu menghianatiku " tuan itu pangsung duduk disoga.
" Siapa kau??? " Adela kini dengan suara lantang karena tidak suka dengan sifat songong dan tidak sopan dari itu.
Ibu menarik tangan anaknya dan memberi kode gelengan kepala Adela paham dan langsung diam.
" Tuan saya mohon bebaskan suami saya " dengan memohon
__ADS_1
" Dimana gadisku, aku yakin dia bukan yang disampingmu " melihat diseluruh sudut.