Perjodohan Antar Pewaris

Perjodohan Antar Pewaris
Tamparan Aeri


__ADS_3

"Mau kemana, Ye?" Tanya Yuna yang menarik tangan kekasihnya.


Ye Joon, pria tampan yang sedang terbaring dengan tenang di atas ranjang dengan pakaian yang masih lengkap bersama Yuna yang tidur di sampingnya spontan beranjak berdiri.


"Aku harus pulang!" Kata Ye Joon mencoba menarik tangannya tapi tak berhasil.


"Apa maksudmu? Kau bilang ingin menginap disini tapi kenapa sekarang pulang?" Tanya Yuna dengan amarah yang mulai terpancing.


Perempuan itu akhirnya ikut beranjak dari ranjang. Dia menatap ke arah kekasihnya yang bergerak kesana kemari merapikan pakaiannya


"Appa menelfonku, Yuna!" Seru Ye Joon dengan marah. "Aku harus pulang!"


"Nggak!"


"Yuna!" Bentak Ye Joon yang membuat Yuna tak takut.


Perempuan itu mendekati kekasihnya. Dia berdiri tepat di hadapan Ye Joon. Sepasang kekasih itu saling menatap dengan amarah yang berkobar.


"Kau harus disini!"


"Aku harus pulang," Kata Ye Joon berusaha mengatakan itu dengan lembut.


Ah Ye Joon tak lupa akan satu hal. Yuna sama dengannya. Mudah emosi dan egois. Keras kepala dengan apa yang diinginkan. Apa yang menjadi haknya, apa yang menjadi miliknya. Siapapun tak bisa mengusiknya.


"Kau harus tetap disini, Ye. Kau sudah berjanji padaku dan sekarang… " Jeda Yuna dengan nafas yang naik turun.


Wajah wanita itu memerah. Antara marah, kesal dan kecewa bercampur menjadi satu. Ya, Yuna benar-benar marah pada kekasihnya.


Ye Joon selalu seperti ini ketika memilih posisi di antara dirinya dan ayahnya.


"Yuna jangan seperti anak kecil!" Kata Ye Joon lalu segera meraih tas kerjanya dan berjalan ke arah pintu masuk.


Yuna mengepalkan kedua tangannya. Dia benar-benar mulai hilang kendali. Wanita itu akhirnya menyusul langkah kaki Ye Joon sampai pria itu hampir mencapai pintu keluar.


"Jika kau terus keluar dari ruangan ini. Maka!" Ancam Yuna yang membuat langkah kaki Ye Joon terganti.


Pria itu sama-sama menunggu. Tubuhnya menegang karena takut dengan apa yang akan dilakukan oleh wanitanya itu. Dia tak mau hubungan mereka hancur.


Ye Joon ingin kembali ke masa hubungan mereka yang tenang dan tak pernah bertengkar. Namun, n sekarang, setiap pertemuan mereka. Setiap waktu yang dilakukan keduanya. Pasti akan ada masalah yang terjadi di antara mereka.


"Lebih baik kita hidup sendiri-sendiri!" Lanjut Yuna yang membuat Ye Joon berbalik.

__ADS_1


Pria itu menatap kekasihnya tak percaya. Ye Joon benar-benar tak yakin dan berusaha memutar kembali ingatan tentang wanitanya yang mengatakan akan hal itu.


"Sayang!" Rayu Ye Joon lalu segera berjalan mendekat.


Dia segera meraih tangan Yuna. Menggenggam tangan itu dengan perlahan sampai akhirnya tatapan keduanya saling menatap satu dengan yang lain.


"Kumohon, Sayang. Izinkan aku pulang, aku akan menyelesaikan semuanya dengan cepat. Agar kita bisa segera bersama!"


"Kamu serius?" Tanya Yuna dengan pandangan penuh harap.


Ye Joon mengangguk. Dia menangkup kedua sisi wajah kekasihnya dengan pelan hingga tatapan mata mereka saling beradu pandang.


"Serius," Kata Ye Joon dengan serius. "Izinkan aku pulang ya, Sayang?"


Yuna seakan terhipnotis. Kepalanya mengangguk dengan wajah yang benar-benar menaruh harapan pada kekasihnya.


"Aku akan memegang janjimu, Sayang. Kamu harus benar-benar segera meninggalkannya. Janji?"


Ye Joon menatap ke arah jari Yuna yang ditunjukkan padanya. Jari kelingking yang menandakan ikatan janji jika dia melingkarkan disana.


"Janji?" Ulang Yuna yang membuat Ye Joon akhirnya mengangkat tangannya dan melingkarkan jari kelingkingnya ke jari kelingking Yuna.


"Janji. Aku akan segera menyelesaikan semuanya dan mengembalikan wanita itu pada orang tuanya!"


"Darimana saja kamu, Ye?" Tanya Joon Wi ayah Ye Joon saat pria itu baru saja masuk ke dalam rumah.


Ye Joon dengan wajah santainya lekas berjalan ke arah sofa. Dia duduk di hadapan ayahnya dengan wajah yang tak terusik apapun. Padahal dia tau, tatapan ayahnya sangat amat mengerikan.


"Aku sedang ada urusan, Appa."


"Urusan dengan wanita murahan itu lagi?" Seru Joon Wo yang membuat Ye Joon mendongakkan kepalanya.


"Yuna adalah wanita baik-baik, Appa. Dia bukan wanita yang seperti Appa katakan!"


Ye Joon mengatakan itu dengan emosi yang mulai terpancing. Wajahnya memerah karena dia sangat amat tak terima dengan celaan appanya.


Entah apa yang telah Yuna perbuat. Entah apa yang wanita itu lakukan sampai akhirnya saat pertemuan mereka saja. Appanya tak pernah merestui.


"Wanita baik-baik tak akan kerja di bar!"


"Dia hanya seorang DJ!" Balas Ye Joon tak mau kalah.

__ADS_1


Joon Wo terkekeh. Dia menatap anaknya dengan pandangan meremehkan.


"Cinta boleh, Nak. Tapi kau terlalu bodoh dengan arti cinta itu."


Joon Wo beranjak berdiri. Dia berjalan mendekati putranya dengan pelan.


"Jangan pernah menyesal jika suatu saat nanti. Cinta yang kau agungkan akan menjadi petaka untukmu," Kata Joon Wo dengan menatap anaknya tajam dan meremas pundaknya.


"Selagi ada sosok yang baik di sampingmu sekarang, selagi ada sosok yang mungkin belum kau kenal dan cinta. Lebih baik simpan sosok itu yang sekarang halal untukmu daripada wanita yang liar di luaran sana!"


Setelah mengatakan itu. Joon Wo perlahan berjalan keluar dari rumah itu. Pria itu benar-benar pergi dan membuat Ae ri yang baru saja selesai membuat minuman tentu terkejut.


"Dimana, Appa?" Tanya Ae ri pelan sambil meletakkan nampan berisi air itu di atas meja.


Suara perempuan itu. Suara Ae ri yang lembut membuat Ye Joon menoleh. Dia menatap tajam ke arah perempuan itu dan segera berjalan ke arahnya dengan nafas yang naik turun.


Entah kenapa dia yakin wanita yang menjadi istrinya itu mengadu pada appanya. Dia yakin appanya menelfon dirinya karena ulah wanita itu. Wanita yang benar-benar membuatnya gila.


Wanita yang datang di kehidupannya dan membuat hubungannya kacau. Pernikahan yang menjadi impian Ye Joon. Pernikahan yang Yee Joon inginkan dengan Yuna harus sirna karena keberadaan Ae Ri.


"Apa yang sudah kau katakan pada Appa, hah?" Seru Ye Joon dengan marah.


Pria itu menarik pergelangan tangan Ae ri. Mencengkram tangan wanita itu dengan kuat.


"Katakan padaku! Mulutmu ini pasti mengadu yang tidak-tidak, bukan?"


Ae ri membalas tatapan Ye Joon dengan tajam. Dia melotot kan matanya dengan galak.


"Jangan fitnah!" Seru Ae ri tak mau kalah. "Aku tak pernah mengadu hal remeh seperti ini. Bahkan aku juga tak tahu jika Appa akan datang kemari!"


"Alesan!" Seru Ye Joon yang semakin kuat mencengkram tangan Ae ri dan menatap wanita itu tajam. "Kau memang wanita bermuka lugu dan polos. Tapi aku yakin, hati dan pikiranmu itu licik!"


Plak.


Ae ri yang sudah kesal menampar wajah Ye Joon. Tangan kanan gadis itu yang bebas tentu lekas melayang dengan kuat.


Hal itu tentu membuat pipi Ye Joon panas dan dia yakin memerah karena bekas tamparan itu.


"Apa yang kau lakukan?"


"Aku melakukan hal yang benar!" Seru Ae ri dengan tajam. "Lain kali jangan pernah memfitnahku jika kau tak mau ku tampar lagi!"

__ADS_1


~Bersambung


__ADS_2