
Disebuah desa yang jauh dari perkotaan tentunya memiliki ciri khasnya tersendiri. Mengingat akan namanya, sebuah desa identik dengan suasana asri dan jauh dari bisingnya suara dari aktivitas masyarakatnya.
Namun sepertinya suasana tenang itu tidak tergambarkan di sebuah rumah yang cukup besar bila di bandingkan dengan rumah - rumah di sekitarnya. Buktinya dari luarpun akan terdengar suara lantang yang di layangkan oleh si pemilik rumah.
"Asih! Cepat kesini!" seruan itu tentu saja membuat orang yang di panggilnya itu berjalan terburu - buru untuk menghampiri ibunya.
"Ada apa, Bu?" ujarnya begitu sampai di depan ibunya yang kini melibat tangan sebatas dada. Tatapan wanita itu terlihat marah sambil menatap salah satu anaknya itu.
Brukk
"Bukannya aku sudah menyuruhmu untuk mencuci bajuku. Kenapa sampai tengah hari ini belum kau cuci juga!" marahnya sambil melemparkan setumpukan baju kearah anaknya itu.
Gadis yang di lempar baju oleh ibunya itu hanya bisa menunduk sambil memunguti baju - baju yang jatuh di depannya. "Pokoknya aku mau nanti sore baju itu harus sudah kering dan rapi. Kau tahu sendiri kan kalau nanti malam aku dan putriku akan pergi ke kenduri."
Gadis bernama lengkap Lembayung asih itupun hanya bisa mengangguk. Dirinya tak berani membantah apa yang ibunya itu perintahkan kepadanya. Sebab dia tak mau kalau harus mendapatkan pukulan rotan dari ibunya ini.
Bahkan memar pukulan kemarin saja belum hilang sepenuhnya. Dan Asih tidak berniat untuk menambahnya lagi. "Baik, Bu." jawab Asih yang masih menundukan kepala.
Merna menatap kearah anak tirinya itu dengan senyum miring. "Awas saja kalau nanti bajuku itu tidak siap. Kau tanggung akibatnya." Setelah mengatakan hal itu, Merna pun berlalu pergi. Bahkan dirinya dengan kasar menabrak bahu Asih.
Asih sedikit meringis akibat ulah ibu tirinya itu. Namun dia tak membalas apa - apa. Bukannya dia takut, tapi dirinya hanya bersikap menghormati status Merna yang adalah ibunya. Walaupun hubungan keduanya tak lebih dari ibu tiri dan anak tirinya.
Sembari menghela napas sabar, Asih mulai berlalu menuju ke sungai yang tak jauh dari rumahnya. Mungkin sekitar 10 menitan untuk sampai kesungai tersebut. Di desa ini memang sudah terbiasa memanfaatkan air sungai untuk kebutuhan sehari - hari.
Ditambah lagi air sungai ini masih sangat bersih, sebab belum tercemari oleh limbah apapun. Warga sekitar sering memanfaatkannya untuk mandi, mencuci baju, mengaliri sawah dan masih banyak lagi.
__ADS_1
Sesampainya di sungai, suasana cukup ramai karena anak - anak sedang bermain air di sungai itu. Tak lupa juga keberadaan beberapa ibu - ibu yang juga tengah mencuci baju mereka. Asih berjalan hati - hati sambil memperhatikan pijakannya.
Memang batu - batu yang dekat aliran air biasanya cenderung licin akibat di tumpangi oleh lumut. Makanya Asih fokus memilah pijakan yang tepat agar tidak kepeleset.
"Nyuwun sewu, Bu. (Permisi, Bu.)." ucapnya yang saat itu melewati beberapa ibu - ibu yang sedang mencuci baju. Ucapan itu di balas ramah oleh para ibu tadi. "Andengeren yah mene nembe teko, Sih. (Nggak biasanya jam segini baru datang, Sih)." ucap salah satu ibu - ibu sambil menatap kearah Asih.
Asih tersenyum pelan, "Nggeh, Bu. Wau kula nembe rampung masak. (Iya, Bu. Tadi saya baru selesai masak.). " Jawaban Asih tadi diangguki oleh ibu - ibu disana.
Setelah berbincang sebentar, Asih memilih tempat disisi kiri dari ibu - ibu tadi. Memang inilah spot atau tempat yang sering Asih gunakan untuk mencuci baju. Sebab batu yang di gunakan untuk alas cuci memang sedikit datar. Ya, walaupun tak selebar yang telah di gunakan oleh ibu - ibu tadi.
Asih mulai menyelesaikan pekerjaannya tadi. Sesekali dia akan menjawab pertanyaan dari ibu - ibu tadi. Hingga kini para ibu itu mulai membahas tentang acara kenduri miliki pak lurah. Salah satu anaknya pak lurah akan merayakan pernikahan besok.
Namun pak lurah sudah menyiapkan acara yang meriah untuk nanti malam dan esok hari tentunya. Dan itulah alasan kenapa Asih harus cepat - cepat menyelesaikan pekerjaannya ini. Dia tak mau kena marah ibunya lagi.
"Krungu - krungu, mengko bengi dayohe pak lurah akeh sing teko." ucap salah satu ibu - ibu itu. (Denger - denger, nanti malam tamunya pak lurah banyak yang datang).
(Iya, Bu. Lah ini katanya pak lurah sudah menyembelih 5 kambing. Belum lagi ayamnya yang banyak banget).
Kelima ibu - ibu yang ada disana terus mengobrol sembari menyelesaikan cucian mereka. Sebenarnya hari biasanya akan lebih banyak lagi ibu - ibu yang mencuci baju di sungai. Mungkin karena tadi pagi hujan sampai jam 10, ibu - ibu jadi agak malas pergi kesungai.
[ * * * ]
Untung saja baju yang Asih cuci tidak sebanyak biasanya. Makanya dia cepat menyelesaikan pekerjaanya itu. Dan kini dia sudah selesai menjemur baju. Dalam hati, Asih mengucap syukur karena langit sangat mendukung untuk cuciannya cepat kering.
Sembari menunggu, Asih mulai berjalan kebelakang rumah untuk mengecek tanamannya. Senyum bahagia terulas di bibir Asih begitu melihat kalau tanamannya mulai berbuah. Ada beberapa jenis tanaman yang Asih sengaja tanam di belakang rumahnya ini.
__ADS_1
Mulai dari cabai, tomat, bawang merah, bawang putih, selada, Singkong, Ketela, Kangkung dan bayam. Sebenarnya luas area belakang rumahnya itu tak lebih dari 3 meter. Namun tanahnya begitu subur, sehingga jenis - jenis tanaman bisa hidup disana.
Asih memang sangat mengemari dunia flora. Sayangnya dia belum bisa menanam bunga, karena selain mahal baginya juga jarak tempuh untuk membelinya lumayan jauh. Makanya hanya inilah yang bisa dia tanam.
Diamatinya tumbuhan cabai dan tomat yang berbuah cukup banyak. Kalau seperti ini kan dia bisa menjualnya. Itung - itung menambah uang belanja keperluan rumah. Apalagi ibunya itu jarang memberinya uang belanja.
[ * * * ]
"Asih, mana bajuku!" teriakan itu berasal dari ruang tv. Asih yang berada di belakang pun langsung menyahut. "Ada di atas meja riasmu." ucapnya dengan agak berteriak.
Sebenarnya Asih bukan orang yang suka meninggikan nadq bicaranya. Berhubung saat ini dia tengah mencuci peralatan makan, makanya dia berteriak menyahuti ucapan kakanya itu. Rinka yang tengah asyik menonton Tv pun berseru kembali.
"Cepat ambilin! Bajunya sekarang mau aku pakai." Rinka kembali berteriak sembari matanya menatap serius kearah Tv yang menayangkan acara gosip favoritnya.
Asih menghela napas panjang. Dia mulai membilas tangannya dengan air agar bersih dari busa sabun pencuci piring. Dirinya melangkah menuju ke kamar sang kakak yang padahal hanya berjarak 5 langkah dari ruang tv. Padahal kalau jarak kamar kakaknya ke belakang membutuhkan 10 langkah.
"Ini, Kak." Asih menyodorkan baju itu kepada kakaknya. Namun Rinka masih belum menerima sodoran Asih tadi. Dirinya terlalu fokus pada apa yang dka tonton itu. Asih yang tak ingin membuang Waktupun segera menaruh baju itu keatas meja.
Setelahnya dia berlalu dari sana untuk menyelesaikan tugas mencuci peralatan makan. Lagipula kakaknya itu pasti akan marah, kalau sampai dia menginterupsi kegitan menonton acara kesukaan kakaknya itu.
...[ * * * ]...
...Terimakasih sudah berkunjung kesini....
...Berikan dukungan kalian disini, ya....
__ADS_1
...[ * * * ]...