
...[ * * * ]...
Kabar burung yang sempat membuat para ibu sibuk mempersiapkan anak gadis mereka, ternyata bukanlah kabar burung. Sebab kedatangan sebuah mobil mewah, tentu menjadi jawaban atas kebenaran kabar yang ada. Dan kini para ibu tadi semakin dibuat heboh hanya karena kedatangan 2 mobil mewah ke desa mereka.
Lihat saja persiapan yang tengah dilakukan oleh Werna yang sibuk mempersiapkan putrinya agar bisa tampil sempurna di depan keluarga saudagar itu. Bahkan sejak tadi, Werna dan Rinka sibuk mengomel daripada mempersiapkan diri mereka. Dan lihat saja, Asihlah yang menjadi getah dari kehebohan ibu dan kakak tirinya itu.
"Cepat kamu ambilin sepatu milik Rinka di kamarnya itu." suruh Werna pada Asih yang padahal baru saja dari kamar Rinka. Dalam hati, Asih mencoba bersabar atas sikap ibunya itu.
Dia cuma tak habis pikir, kenapa ibunya itu tak sekalian menyuruhnya mengambil ini dan itu. Jadi dia tak harus bolak - balik kekamar ibu atau kakaknya itu, hanya untuk mengambil barang yang keduanya butuhkan.
Setelah mengambil apa yang diperintahkan oleh Werna tadi, kini Asih mencoba untuk duduk di kursi. Baru saja dia duduk, kakaknya sudah kembali mrnyuruhnya untuk kesekian kalinya. "Ambilin tasku dikamarku dong.".
Ingin rasanya membantah apa yang kakaknya suruh itu. Tapi Asih tak mau mencari ribut dengan sang kakak. Bisa - bisa dia tak dapat jatah makan hari ini. Setelah mengambil tas milik kakaknya itu, Asih kemudian menyerahkannya pada Rinka.
"Kau sudah siap, Ka?" Pertanyaan itu diangguki oleh Rinka. "Sudah, Ma. Kita tinggal berangkat saja. Cepetan, Ma nanti kita keduluan sama yang lain." Rinka berjalan lebih dulu, meninggalkan ibunya dan Asih tentunya.
Baru saja Asih akan ikut keluar, tapi tangannya lebih dulu di tahan oleh Werna. "Mau kemana kau?" Asih segera menjawabnya, "Aku mau ikut ibu sama kak Rinka." Mata Werna melotot mendengar ucapan itu.
"Memangnya siapa yang mau ngajakin kamu? Kau tak usah pergi kemana - mana. Jagain rumah dan jangan berani - berani keluar dari rumah sampai aku dan Rinka pulang." Dengan berat hati Asih pun menganggukan kepalanya.
Werna tersenyum sinis kearah Asih. "Kalau kau melanggar apa yang aku perintahkan. Maka siap - siap kau nggak dapat jatah makan nanti malam." Setelah memberikan ancaman seperti itu, Werna pun berlalu dari hadapan Asih.
Asih pun sebenarnya tak masalah kalau tidak diajak ke rumahnya pak lurah, untuk melihat si saudagar kaya itu. Toh lebih baik dia dirumah saja, lebih enak dan pasti tak akan desak - desakan hanya untuk melihat orang yang katanya ingin mencari mantu dari desanya ini.
__ADS_1
[ * * * ]
Disisi lain, kedatangan dua mobil mewah itu tadi begitu menarik perhatian orang - orang. Bahkan tak jarang terdengar decakan kagum dari para warga yang belum pernah sekalipun melihat mobil seperti itu. Dan mereka yakin harga mobil ini pasti lebih mahal dari harga jual sawah ataupun rumah mereka.
Rumah pak lurah yang sebenarnya adalah rumah dinas, tentu saja memiliki halaman yang cukup luas. Bahkan beberapa waktu lalu telah digunakan untuk acara pernikahan putrinya itu. Dan kini area halaman itu sudah diisi oleh para warga yang penasaran dengan rupa si saudagar kaya itu.
Suasana sekitar juga lumayan ramai, bahkan lebih di dominasi oleh para ibu - ibu yang memang sengaja hadir disana untuk jodoh untuk anak gadis mereka. Sebelum seramai sekarang, ada beberapa ibu yang tak sengaja melihat langsung rupa dari para saudagar kaya itu.
Jelas saja mereka ternganga dengan tampilan kelima orang itu. Lebih tepatnya sih kepada 2 orang yang terlihat mengenakan pakaian mewah dan tentu saja mahal. Dan 3 lain merupakan bawahan dari dua orang tadi. Dilihat dari pakaian ketiganya, mungkin merek adalaah supir ataupun bodyguard dari dua orang tadi.
Pak lurah sengaja menyiapkan hidangan mewah untuk para tamunya itu. Sebenarnya dia tak begitu mengenal siapa kedua saudagar kaya itu. Tapi rumor yang dia dengar, kalau keduanya itu memang benar - benar kaya. Bahkan memiliki perusahan besar di kota.
Dan dilihat dari tampilan serta kendaraan yang mereka gunakan, tentu saja sudah menunjukan status sosial yang dimiliki oleh para tamunya ini. Hal seperti ini tak akan pak lurah sia - siakan. Sebab sebelumnya dia sudah diberitahukan perihal komisi yang akan dia dapatkan, kalau saudagar itu jadi mengambil calon mantu dari desanya ini.
"Silahkan dinikmati makanannya. Semoga Anda berdua bisa menikmati makanan ini." ucap pak lurah sambil mempersilahkan tamunya itu untuk makan. Mengingat saat ini sudah memasuki jam makan siang.
Selain itu juga untuk menarik minat kedua tamunya agar bisa memberikan sesuatu yang lebih dari hal yang telah mereka janjikan. Setelah selesai makan, pak lurah yang bernama Edi itupun mengiring tamunya ke ruang aula yang memang dibuat khusus disamping rumahnya itu.
"Jadi maksud kedatangan Anda berdua kesini itu adalah untuk mencari gadis yang nantinya akan dinikahkan dengan anak kalian?" Kedua tamu itu mengangguk.
"Ya, kurang lebihnya seperti itu. Tapi ada beberapa hal yang kami minta sebagai syarat, sebelum kami memilih gadis mana yang cocok untuk kami ambil." Alis pak Edi terangkat. "Syarat?" ulangnya dengan nada bingung.
Keduanya mengangguk sambil saling melempar senyum. "Memangnya apa syaratnya?" Salah seorang dari keduanya pun kini menatap pak Edi dengan pandangan lurus.
__ADS_1
"Tidak begitu susah. Kami hanya minta kalau gadis yang akan kami pilih itu harus putus hubungan dengan keluarganya yang ada disini." ucap orang bernama Bima itu sambil tersenyum dalam.
Kernyitan tadi berganti menjadi keterkejutan pak Edi. Dia tak menyangka akan syarat yang diajukan oleh kedua tamunya ini. Bukankah kalau seperti itu malah terkesan seperti memperjual belikan. Mengetahui raut keterkejutan dari wajah pak Edi membuat Bima langsung mengeluarkan suaranya.
"Kami berdua bukannya ingin memutuskan hubungan kekeluargaan dengan orangtua gadis itu. Melainkan setelah menikah nanti, gadis itu akan kami bawa keluar negeri."
Penjelasan yang baru saja dikatakan oleh Bima malah membuat Pak Edi semakin menatap tak percaya kepadanya. "Jadi maksudd Bapak, gadis dari desa ini akan dibawa keluar negeri? Untuk apa dibawa kesana?"
Bima menatap Edi yang nampaknya mulai mencurigainya. Terlihat dari raut wajahnya yang kini menatapnya penuh selidik. Buru - buru dia menjelaskan maksud dari kata - katanya itu. "Begini, Pak Edi. Anak kami ini tinggal di luar negeri. Jadi secara otomatis, gadis itu akan ikut kemanapun anak kami tinggal."
"Nah, Bapak tahu sendiri kan kalau disini belum sepenuhnya terakses jaringan internet. Akan sangat sulit bagi keluarga gadis itu untuk menghubungi anak mereka. Dan kami juga tak bisa memastikan apakah anak kami ini akan pulang ke tanah air atau tidak."
Raut yang sebelumnya di penuhi oleh rasa curigapun, mulai berangsur kembali normal. Dan seperti pak Edi mulai percaya akan perkataan Bima barusan. "Ooh, begitu rupanya. Kalau masalah itu, biar nanti saya tanyakam pada orangtua para gadis disini mengenai hal tadi."
Bima dan istrinya yang bermana Mitha pun saling pandang. Diam - diam mereka mulai mengulas senyum manis yang memiliki arti tersendiri bagi keduanya.
"Jadi sekiranya kapan Bapak dan Ibu ingin melihat para gadis disini?" Ucapan itu membuat Mitha segera menjawabnya.
"Nanti malam saja. Tapi sebelum itu, bisakah Anda membuat pengumuman agar para warga itu pulang ke rumah masing - masing. Kami berdua juga butuh privasi dan ketenangan selama berada disini."
Pak Edi hanya bisa tersenyum kikuk atas apa yang diucapkan oleh Mitha itu. Dia menyadari kalau sikap warganya terlalu antusias atas kedatangan Pak Bima dan istrinya itu. Tak heran sih, siapa juga yang akan melewatkan kesempatan emas untuk berbesan dengan orang kaya.
Pasti jawabannya tidak ada. Kita realistis saja, semua orang juga butuh uang. Tak mungkin mereka menyia - nyiakan kesempatan jadi orang kaya secara instan.
__ADS_1
...[ * * * ]...
...Senang bisa menyapa kalian lagi ;-)...