
"Tuan ini siapa?" tanya Harjanto karena menyadari kalau orang di hadapannya ini bukanlah orang sembarangan. Dalam artinya dia lebih kaya darinya. Itulah yang Harjanto pikirkan. Makanya dia tak bisa gegabah untuk mencari masalah dengan orang itu.
"Apakah aku punya urusan denganmu?" tanyanya yang mendatangkan gurat kekesalan dari wajah tua Harjanto.
"Karena tuan ada disini dan sepertinya memiliki urusan dengan mereka bertiga. Maka tuan harus menunggu sampai saya menyelesaikan urusan saya dengan mereka." jawabnya dengan beberapa penekanan di kata - katanya tadi.
#####
Sejak kedatangan tamu yang mampu membuat Harjanto tidak berkutik itupun mendatangkan senyum kemenangan di wajah Werna. Terlebih lagi tamunya itu juga bersedia melunasi semua hutangnya pada si Lintah darat itu.
Dan Werna mengucapkan banyak terimakasih karena tamunya itu datang tepat waktu. Namun kedatangan tamu yang tak lain adalah si saudagar kaya itu, malah membuat perasaan Asih menjadi was - was.
Apalagi si saudagar itu dengan mudahnya mau membayarkan hutang keluarganya. Bahkan tanpa pikir panjang terlebih dahulu. Umumnya seseorang tak semudah memberikan uang dalam jumlah yang tidak sedikit itu. Dan pasti akan ada imbal balik dibalik semuanya.
"Aku telah melunasi hutang kalian. Dan sebagai imbalannya, aku minta segera kalian tanda tangani ini seperti yang sudah kita sepakati sebelumnya." ucapnya dengan menyodorkan sebuah map pada Werna, selaku pembuat kesepakatan.
Werna mengambil map itu dan membaca sekilas isi yang berada di kertas map itu. Senyumannya perlahan terangkat semakin lebar, kala membaca keuntungan yang akan dia dapatkan nantinya.
Matanya semakin berbinar kala matanya menemui rangkaian huruf yang bertuliskan 'Memperoleh keuntungan awal sebesar 500 juta rupiah. Dan tunjangan sebesar 500 juta rupiah selama masa kontrak berlaku. Dengan catatan pihak kedua menyepakati perjanjian yang tertulis di atas.'
"Dimana aku harus tanda tangan?" tanyanya tak sabar yang membuat si saudagar itu tersenyum sinis tanpa di ketahui. "Di atas namamu pada pihak kedua itu."
Tanpa membaca kelanjutannya, Werna segera membubuhkan tanda tangannya di atas kertas perjanjian itu. Setelahnya dia mengembalikan kertas itu kepada si Bima selaku pihak pertama. Tanpa memeriksanya lagi, Bima menyuruh anak buahnya untuk memberikan uang di dalam koper.
"Itu uang sesuai dengan perjanjian yang ada. Dan sudah terpotong sebanyak 250 juta untuk melunasi hutang kalian tadi."
Baik Werna ataupun Rinka tak mempermasalahkan hal itu. Sebab yang ada di pikiran mereka saat ini adalah bagaimana cara mereka menghabiskan uang sebanyak itu. Bahkan keduanya tak sabar membelanjakan uang itu.
Sedangkan Asih menatap kedua keluarganya dengan pandangan sendu. Di depan matanya sendiri, dia melihat ibu dan kakak tirinya tega menukarnya dengan uang. Apakah tak ada perasaan sedih dan terpaksa di wajah mereka karena telah menukar dia dengan uang di dalam koper itu.
"Aku tak punya banyak waktu, jadi hari ini dia akan ikut aku ke kota. Dan kalian tidak lagi punya urusan dengan dia lagi."
__ADS_1
Werna mengangguk sembari tersenyum lebar. Dalam hati, Bima terkekeh melihat tindakan keduanya yang sama sekali tak memperdulikan nasib anak dan adik tirinya mereka itu. Tatapan Bima tertuju pada Asih yang masih menatap sendu kearah keduanya itu.
Bima membuka suaranya lagi. "Siapa namamu tadi?" Asih yang merasa di tatap akhirnya menoleh kearah sumber suara. Seakan tahu kalau pria di depannya ini bertanya padanya, Asih pun menjawabnya pelan. "Asih."
"Oke, Asih. Segera ikut aku dan mulai hari ini kau akan tinggal di kota." ucapnya tenang.
Asih meremat tangannya gugup. Dirinya tentu saja takut, bagaimana kelanjutan nasibnya di kota sana. Dia takut kalau nantinya tak ada yang mau menerimanya. Apalagi pernikahan yang akan dia jalani itu adalah pernikahan kontrak dan tentunya tanpa rasa di dalamnya.
"Bisakah aku menyiapkan barang - barangku dulu?" tanyanya pelan.
Bima mengangguk, "Bawa yang penting saja. Dan tak perlu banyak membawa pakaian, karena semuanya sudah disiapkan." Asih hanya mengangguk sembari berlalu menuju ke kamarnya.
Tak butuh waktu lama, karena barang yang akan dia bawa memang sedikit. Lagipula dia tak memiliki banyak pakaian, karena memang jarang membelinya. Setelahnya dia kembali keruang tamu.
Bima bangkit dari duduknya dan melangkah keluar dari rumah ini. Asih menatap ibu dan kakaknya yang kini sibuk menatap uang di dalam koper itu. "Ma, Kak. Asih pamit dulu. Kalian jaga diri baik - baik, ya."
Werna sejenak menghentikan kegiatannya tadi. "Iya, ya. Dan selama disana kau jangan banyak membantah. Turuti apa yang di bilang oleh pak Bima. Kalau sampai pak Bima dan keluarganya menuntut atas kontrak itu, aku tak akan mengampunimu."
Asih hanya bisa mengiyakan perkataan ibunya itu. Saat akan menyalami tangan ibunya itu, Werna dengan cepat menepisnya. "Sudahlah, sana pergi. Nggak usah pakai acara salim - salim segala."
"Kau hati - hatilah disana. Saat kau menikah nanti, kami akan datang kepernikahanmu." ucap Werna yang sudah berada di ambang pintu bersama Rinka.
Anggukan kecil yang Asih berikan kepada keluarganya itu. Setelah itu dia masuk kedalam mobil yang akan membawanya ke kota, bertemu dan tinggal dengan keluarga barunya itu.
Selama perjalanan berlangsung, Asih hanya memfokuskan pandangannya kearah keluar jendela. Tak ada percakapan apapun di dalam mobil itu. Bima sendiri masih sibuk berkutat dengan tab di tangannya.
Sejujurnya Asih cukup berterimakasih karena Bima tak mengajaknya bicara. Lagipula dia sendiri bingung harus membahas apa dengan orang di sebelahnya itu.
Tak terasa mobil yang Asih naiki itu sudah sampai di depan kediaman yang terlihat mewah. Namun Asih belum bisa melihatnya, karena masih terlelap dalam tidurnya itu. Satu tepukan dirasakan oleh Asih, membuatnya perlahan mengerjapkan matanya.
"Bangun, kita sudah sampai." Sejenak Asih menatap pemandangan di luar jendela dan matanya melebar melihat rumah yang sangat besar dengan halaman depan yang begitu luas.
__ADS_1
"Ingat, selama disini. Kau tak boleh melanggar perjanjian yang sudah di buat. Kalau sampai itu terjadi, maka siap - siap ibumu akan masuk penjara. Dan kau serta kakakmu tidak akan pernah hidup dengan tenang."
Ancaman itu membuat Asih bergidik ngeri dan hanya bisa mengiyakan saja. Dirinya juga tak memiliki kuasa untuk menolak perkataan Bima. Terlebih saat ini hidupnya sudah terikat kontrak dan yang bisa dia lakukan adalah menurut dan patuh.
Setelah memberikan peringatan itu, Bima keluar dari mobil itu diikuti oleh Asih yang kini seakan terhipnotis dengan apa yang dia lihat itu. Rumah yang berpuluh kali lipat dari rumahnya sendiri. Rumah dengan desain tiga lantai yang membuat siapapun terkesima begitu melihatnya.
Begitu menginjakan kaki di dalam rumah itu, mata Asih kembali menjelajah dengan binar kagum di balik matanya itu. Selain besar dan mewah, rumah ini juga sangat bersih dan wangi. Bahkan pelayan dirumah ini juga sangat banyak.
Buktinya sekarang mereka sudah disambut oleh sekumpulan orang berpakaian rapi dan seragam yang Asih tebak kalau mereka itu adalah pelayan disini. Asih sedikit gugup dan tidak percaya diri, terlebih saat mengetahui kalau pakaian yang dia kenakan saat ini tak ada bandingannya dengan pakaian pelayan dirumah ini.
"Antar dia kekamarnya dan jelaskan detail rumah ini padanya." ucap Bima yang di turuti oleh kepala pelayan disana. "Kau ikuti kepala pelayan. Dan dengarkan perkataannya baik - baik. Tiga hari dari sekarang, pernikahan baru akan digelar."
Asih mengangguk sembari mengiyakan perkataan itu. Bima yang melihat balasan dari Asih, lalu berlalu menuju ke kamarnya di lantai 2. Para pelayan tadi mulai membubarkan diri dan tinggallah Asih dan sang kepala pelayan.
"Mari saya antar nona. Dan biar saya yang bawakan tasnya." Asih menolak dengan halus begitu tasnya ingin dibawakan. Bukannya apa, dia hanya merasa masih sanggup membawa sendiri tasnya ini. Lagian dia juga merasa tak enak, karena kepala pelayan lebih tua darinya.
Sang kepala pelayan tersenyum lembut saat menyadari kalau nona barunya ini tidak bersikap seenak dan semaunya saja. Mereka berdua mulai berjalan menuju kelantai tiga dimana kamar yang nantinya akan dihuni oleh Asih selama tinggal disini.
Selama perjalanan menuju lantai 3, sang kepala pelayan yang bernama Bi Gayatri mulai menjelaskan setiap detail ruangan yang mereka lewati. Asih sendiri masih setia mendengarkan tiap perkataan dari Bi Gayatri ini.
"Nah ini kamar yang akan nona gunakan. Sedangkan kamar diujung saja merupakan kamar tuan muda." ujarnya sambil menunjuk ke sebuah kamar yang berada di jarak satu kamar disamping kamar Asih.
Asih memperhatikan kamar yang menghadap kearah lorong yang dia pijak saat ini. "Tuan muda?" Bi Gayatri mengangguk. "Iya, calon suami anda." Asih pun hanya mengangguk.
Bi Gayatri membuka kamar di depan mereka. "Silahkan masuk nona." Asih mengalihkan tatapan menuju kearah kamar yang akan dia tempati itu. Tatapan kagum kembali hadir dimata Asih. Kamarnya ini bahkan berkali lipat lebih besar dan tentu saja dengan fasilitas yang sangat jauh berbeda bila di bandingkan dengan di rumahnya itu.
Bi Gayatri mulai menjelaskan mengenai detail yang ada di dalam kamar ini. Mulai dari bagaimana cara menyeting AC, menyalakan air di dalam kamar mandi yang sudah di sertai bathup dan lagi memberitahu dimana letak lemari pakaian yang sudah berada di walk on clothes.
Asih kembali di buat terpesona dengan banyaknya pakaian yang ada di kamarnya ini. Bahkan tanpa menyetuhnya pun, Asih yakin pakaian itu bukanlah barang murah. Setelah melihat - lihat keadaan kamarnya. Bi Gayatri mulai pamit, namun sebelum itu, Bi Gayatri juga memberitahukan pada Asih bawa nanti malam, Asih akan bertemu dengan tuan muda.
"Nanti saat jam makan malam, saya akan mengantar nona untuk bertemu dengan tuan muda. Sesuai apa yang sudah di perintahkan oleh Tuan Bima."
__ADS_1
Setelah mengatakan hal itu, barulah Bi Gayatri berlalu dari kamarnya. Helaan napas datang dari celah bibir Asih. Pandangannya yang semula berbinar berubah menjadi kosong. Seakan binar tadi langsung tergantikan dengan tatapan sendu yang sejak tadi di tahannya itu.
...°•°•°•°•°•°•°•°...