
...^°^°^°^°^°^°^...
...Happy Reading......
Sudah tiga hari berlalu sejak ibunya mendatangi saudagar kaya itu. Dan nasib Asih masih terasa abu - abu. Bahkan berulang kali dia bertanya kenapa dirinya yang harus ditawarkan kepada para saudagar itu.
Padahal sejak awal, Rinkalah yang berminat untuk menjadi menantu orang kaya. Asih hanya berharap bukan dirinya yang nantinya akan terpilih. Asih hanya tidak mau kalau harus menikah dengan orang yang tidak dia cintai. Terlebih lagi kepada orang yang tidak mencintainya.
Tak bisa dibayang akan seperti apa rumah tangganya nanti, kalau seandainya dia menikah atas nama paksaan. Asih yang haru selesai mencuci baju, kini mulai berjalan menuju kearah rumahnya.
Sepanjang perjalanan pulang, dirinya berpapasan dengan para tetangganya. Sapaan ramah terlontar dari bibir tetangganya yang dibalas hal serupa oleh Asih. Tak butuh waktu lama, hingga akhirnya Asih sampai di depan rumahnya. Namun dirinya dibuat terkejut dengan kehadiran ketiga orang yang amat terkenal di desa ini.
Mereka adalah si Lintah darat dan pengikutnya.
Salah satu dari mereka adalah si Harjanto. Si renternir yang memberi bunga mencekik bagi para nasabahnya. Banyak dari warga desa yang menjadi korban dan nyaris kehilangan seluruh harta benda mereka.
Dan untuk apa ketiga orang itu ada di depan rumahnya. Lebih tepatnya di depan pintu utama rumahnya. Belum sempat Asih melangkah, pandangan Harjanto tertuju kearahnya.
"Wah, calon adik ipar yang panh cantik sudah pulang ternyata." ucapnya dengan nada menggoda yang begitu ketara. Asih mengernyitkan dahinya begitu mendengar sapaan dari sang renternir itu.
Adik ipar?
Ada yang menganjal dibalik kata - katanya tadi. Terlebih pada kata adik ipar. Hei, dia hanya memiliki satu ibu dan satu kakak saat ini. Dan jangan bilang kalau si renternir itu berniat menjadi kakak iparnya a.k.a suami kakaknya itu.
"Ada keperluan apa sampai kalian beriga berada disini?" tanyanya sembari mendekat kearah mereka bertiga.
Sang renternir mengulas senyum tipis. "Dimana ibu dan kakakmu berada?" Bukannya menjawab apa yang Asih tanyakan, Harjanto malah balik bertanya padanya.
"Bukannya mereka ada dirumah? Sebelum pergi mencuci, aku melihat mereka masih ada dirumah." jawab Asih yang membuat Harjanto kembali mengulas senyum.
Harjanto mendekat satu langkah membuat Asih mundur satu langkah. Asih sendiri tahu bagaimana sifat si renternir ini. Selain tanpa belas kasih, dia juga kasar dan penggoda ulung. Bahkan saat ini dia sudah memiliki 3 istri dirumahnya.
"Sekarang coba kau panggil mereka dan suruh kesini. Sebelum ku hancurkan pintu rumahmu ini." ucapnya disertai ancaman yang tak main - main.
Asih segera mengetuk pintu rumahnya dan memanggil ibu serta kakaknya untuk membukakan pintu. Namun sama sekali tak ada sahutan dari dalam rumah. Lagipula pintu itu juga terkunci.
"Pintunya terkunci. Mungkin ibu dan kakakku sedang tidak berada di rumah." mendengar hal itu membuat Harjanto mendengus kesal. Sia - sia waktunya yang dia habiskan untuk menemui Werna dan Rinka.
__ADS_1
Harjanto bersidekap sembari menatap Asih dengan pandangan yang membuat Asih sendiri merasa risih. Terlebih pandangan itu terlihat seolah menelanjanginya. Belum lagi senyum misterius di bibir si renternir ini.
"Katakan pada ibumu untuk segera melunasi hutang - hutangnya. Dan ku beri waktu sampai tiga hari kedapan. Kalau tidak bayar juga, maka kalian bertiga akan menjadi istriku." Setelah mengatakan hal itu, Harjanto tertawa puas sembari meninggalkan Asih yang terpaku.
Apa maksudnya membayar hutang? Setahunya keluarganya tak pernah memiliki hutang dengan siapapun. Dan lagi, kenapa mereka bertiga harus menikah dengan renternir kejam ini.
°•°•°•°•°
Kekhawatiran yang Asih rasakan kini tak bisa di pendam lagi. Setelah bertanya mengenai hutang pada renternir, akhirnya Asih tahu kalau ibunya itu telah berhutang dengan nominal yang cukup banyak.
"Bagaimana caranya kita melunasi hutang sebanyak itu, Ma?" tanyanya menatap Werna yang duduk santai di sofa. Bagaimana bisa ibu dan kakaknya masih bersikap santai, padahal yang mereka hadapi ini si renternir itu.
Werna menatap jengah pada Asih yang nampak seperti orang pusing tujuh keliling. "Makanya kau bantu mikir buat ngelunasi hutang itu. Lagian aku berhutang untuk membiayai pengobatan Ayahmu."
Jawaban itu sontak membuat Asih semakin terkejut. Setahunya ketika ayahnya sakit, biaya rumah sakit tidak sebanyak itu. Dan kalau memang sebanyak itu, aset yang ayahnya miliki mampu untuk membayar biaya rumah sakit.
Tapi, kenapa sekarang ibunya itu malah bilang berhutang untuk pengobatan ayahnya. "Lalu uang sebanyak itu kita dapat darimana, Ma? 250 juta bukanlah uang yang sedikit."
Bagaimana caranya mereka mendapatkan uang sebanyak itu dalam waktu kurang dari 3 hari. Penghasilan Asih dari kerja di kebun tak cukup untuk membayar hutang itu. Belum lagi, ibu dan kakaknya juga tidak bekerja. Setelah ayahnya wafat, tanggungan biaya rumah dan keperluan pribadi mereka, Asih yang menanggungnya.
Dan sekarang, bagaimana mereka melunasi hutang sebanyak itu?
"Pokoknya mama nggak mau tahu, kamu harus cari cara buat ngelunasi semua hutang itu." Ucapan tajam itu membuat Asih terdiam di posisinya. Ibunya berlalu menuju ke kamarnya, meninggalkan Asih dengan berjuta pikiran di otaknya.
"Tuhan, apa yang harus aku lakukan?" gumamnya lirih.
°•°•°•°•°
Tiga hari berlalu dengan begitu cepat. Uang yang harus mereka bayarkan juga belum terkumpul. Namun kehadiran Harjanto dengan kedua pengawalnya itu membuat ketiganya bingung harus melakukan apa.
"Wah, wah, wah. Ternyata kedatanganku sudah di sambut dengan baik oleh kalian." ujarnya sambil tertawa yang mendatangkan kernyitan bagi ketiga orang disana.
Sebenarnya rencana awal Werna dan Rinka berniat kabur sama seperti sebelumnya. Namun mereka kalah cepat dengan Harjanto yang sudah mengetahui taktik dari mereka itu.
Dan apakah mereka sudah menemukan uang untuk membayar hutang? Tentu saja belum. Darimana mereka bisa mendapatkan uang 250 juta hanya dalam waktu 3 hari? Apalagi yang mencari uang hanya Asih sendiri, jadi tak mengherankan kan kalau nanti mereka akan mendapat kemarahan dari si harjanto.
"Dan uangnya sudah ada, kan?" Pertanyaan itu tak langsung mendapat jawaban dari ketiganya. Melihat keterdiaman mereka, membuat Harjanto mengulas senyum misterius.
__ADS_1
Harjanto mendekati posisi ketiganya yang berada di depan pintu. Hal itu tentu saja membuat ketiganya tak nyaman. "Kalian tentu tidak lupa mengenai sanksi, jika kalian tidak bisa membayar hutang itu, kan?"
Werna menelan salivanya berat. "Begini Pak Harja. Kami belum bisa membayarnya sekarang. Jadi kami mohon bapak beri kami kelonggaran waktu lagi." mohon Werna pada Harjanto.
"Tidak ada kelonggaran waktu. Kemarin sudah ku kasih waktu dan sekarang tidak ada alasan lagi minta kelonggaran waktu."
"Kalian berdua, cepat tangkap dia." suruhnya pada kedua pengawalnya itu untuk menangkap Rinka yang berada di berada di belakang Werna.
Keduanya langsung melakukan apa yang disuruh oleh tuannya itu. Rinka memberontak saat kedua pria bertubuh besar itu berniat menarik tangannya. Werna sekuat tenaga menghalangi keduanya membawa putrinya.
Asih juga ikut membantu menghalangi kedua orang itu saat akan membawa Rinka. Adegan tarik menarik itu hanya berlangsung sebentar, karena dengan kasar salah satu dari pengawal tadi, mendorong Werna dan Asih secara kasar.
"Ma, tolong! Aku nggak mau nikah sama dia, Ma!" Teriaknya saat dirinya berhasil di tarik paksa oleh keduanya. Bahkan Rinka sudah menangis karena tak mau menikah dengan Harjanto yang punya istri lebih dari 2 itu.
Werna segera menghampiri Harjanto. "Saya mohon kasih waktu sampai besok. Dan semua hutang itu akan aku bayar sepenuhnya." pinta Werna yang sama sekali tidak di gubris oleh Harjanto.
Sebenarnya Harjanto bisa saja mengabulkan permintaan Werna tadi. Sayangnya dia sudah lama berniat menikahi Rinka yang memang terkenal akan kecantikannya itu. Siapa yang tak tahu mengenai kecantikan Rinka yang bagai kembang desa itu. Sayangnya sikap angkuh dan arogannya itu yang menjadikannya dicap buruk oleh para warga.
Asih masih berusaha untuk menolong kakaknya itu. Dia bahkan memukul bahu pengawal yang menarik paksa tangan Rinka. "Jangan bawa kakakku!" teriaknya yang sama sekali tak digubris oleh si pengawal tadi.
Rinka mengulurkan tangannya kearah Asih seolah meminta pertolongannya agar tidak dibawa oleh pengawal pak Harjanto itu. Karena kesal dengan tingkah Asih, pengawal itu mendorong kasar tubuh Asih hingga tersungkur di tanah.
Rinka sudah menangis saat dirinya ditarik menjauh dari hadapan ibu dan adik tirinya itu. Tapi belum sempat pergi terlalu jauh. Kedatangan sebuah mobil mewah membuat keenam orang itu terdiam.
Rinka segera menyentak tangan pengawal itu, disaat mereka lengah karena menatap mobil yang kini berhenti di depan rumah mereka. Rinka yang berhasil lolos, segara berlari mendekat kearah ibunya.
Werna segara mendekap anaknya dan memberi jarak dengan pak Harjanto. Sedangkan si Harjanto sendiri tengah menatap bingung pada mobil yang terlihat mahal itu. Bahkan dirinya saja yang merupakan orang terkaya di desa ini, tak punya mobil semewah ini.
Dan dari dalam mobil keluarlah tiga orang dengan tampilan jas mewah. Namun yang paling mencolok adalah orang yang duduk di kursi belakang. Dan sepertinya dua orang lainnya itu adalah bodyguard. Kehadiran ketiga orang itu membuat raut di wajah Werna seketika berubah.
'Akhirnya dewa penolongnya datang juga', begitulah pikirnya.
Alis si pemilik mobil berkerut begitu melihat keadaan sekitar yang cukup berantakan. Tentu saja itu akibat kejadian tadi. Bahkan beberapa pot sampai pecah karena tersenggol dan jatuh saat adegan tarik menarik tadi.
"Tuan ini siapa?" tanya Harjanto karena menyadari kalau orang di hadapannya ini bukanlah orang sembarangan. Dalam artinya dia lebih kaya darinya. Itulah yang Harjanto pikirkan. Makanya dia tak bisa gegabah untuk mencari masalah dengan orang itu.
"Apakah aku punya urusan denganmu?" tanyanya yang mendatangkan gurat kekesalan dari wajah tua Harjanto.
__ADS_1
"Karena tuan ada disini dan sepertinya memiliki urusan dengan mereka bertiga. Maka tuan harus menunggu sampai saya menyelesaikan urusan saya dengan mereka." jawabnya dengan beberapa penekanan di kata - katanya tadi.
...°•°•°•°•°•°•°•°...