
...[ * * * ]...
Pemberitahuan yang baru saja disampaikan oleh pak lurah, membuat banyak warga merasa kecewa. Sebab mereka yang telah hadir untuk bisa bertemu dengan para saudagar kaya itu pun harus ditunda.
Pak lurah mengatakan kalau tamunya itu butuh istirahat dan nanti malam baru bisa bertemu. Namun yang bisa bertemu dengan para saudagar itu hanya lah orang - orang yang ingin mencalonkan diri ataupun anak gadis mereka saja.
Hampir semua warga tentu saja di buat kecewa, namun itu hanya sesaat bagaimanapun juga acaranya tetap akan dilaksanakan, hanya saja berubah jam acaranya saja.
Sudah sejak tadi Rinka mengomel lantaran tidak jadi bertemu dengan orang kaya itu. Padahal dia sudah capek dandan dan panas - panasan seperti ini. Werna juga kesal, namun tak separah anaknya itu.
"Kamu bisa diam nggak sih. Mama pusing dengerin ocehan kamu itu." ujar Werna yang tak tahan mendengar betapa berisiknya anaknya ini.
Rinka semakin kesal lantaran di omelin ibunya. Padahal suasana hatinya sedang kesal saat ini. Dengan berjalan lebih cepat dari sebelumnya, Rinka sudah meninggalkan ibunya di belakangnya.
Werna mendengus kesal karena di tinggal begitu saja. Namun dia tak mengejar Rinka, karena posisinya juga sudah lumayan jauh. Lagian Werna juga tahu kalau ananya itu akan pulang kerumah. Panas - panas gini, mana mau Rinka keluyuran di luar rumah.
[ * * * ]
Malam pun tiba, Werna dan Rinka tqmpak antusias berbanding terbalik dengan raut wajah mereka tadi siang. Bahkan keduanya sudah siap untuk berangkat menunju keaula yang berada di samping rumah pak lpelan, ,
"Ma, cepetan dong. Nanti kita keduluan sama yang lain. Aku nggak mau telat ya cuma karena nungguin mama!" teriak Rinka dari teras rumah. Sedangkan yang di teriaki baru saja keluar dari kamar mandi.
"Sabar sedikit bisa, kan?" dengus Werna begitu tiba di depan Rinka.
Tatapan Werna tertuju pada Asih yang memang ada di teras rumah. Sebenarnya dia lagi nungguin mama dan kakaknya itu bersiap. Tapi sejak petang tadi, keduanya terus saja mendebatkan hal yang sepele.
"Jaga rumah baik - baik. Awas kalau kamu berani keluyuran dan malah pergi ke aula desa. Aku pastikan tidak akan ada jatah makanan untuk besok siang."
__ADS_1
Ancaman itu tentu saja bukan hal yang mengenakan untuk Asih. Mendapat anggukan pelan dari Asih, membuat Werna tersenyum sinis. Kemudian dia berjalan kearah Rinka yang sudah sejak tadi misuh - misuh.
Asih menatap kepergian keduanya dengan perasaan lega. Setelahnya masuk kedalam rumah dan mulai mengunci pintu. "Akhirnya bisa santai juga." gumammya begitu mendudukan diri si sofa depan Tv.
Beberapa Jam setelahnya, Asih yang sedang menikmati siaran Tv itu pun dibuat kaget, begitu mendengar gedoran di pintu depan. Segera saja dia berjalan untuk membukakan pintu itu.
Ceklek
"Lama banget sih!" omel orang yang tadi mengedor pintu dengan tidak sabaran. Asih tentu saja kaget, sebab orang yang tak lain adalah Rinka, berteriak didepan wajahnya.
"Maaf, Kak." ucap Asih yang malah membuat Rinka semakin kesal.
"Maaf, maaf! Bisamu cuma maaf - maaf aja. Minggir aku mau masuk."
Belum sempat Asih untuk minggir, kakaknya itu lebih dulu menabrak bahunya membuatnya sedikit oleng dan hampir menabrak pintu. Untung saja Asih masih bisa mengatur keseimbangannya. Baru saja bernapas lega, bahunya lagi - lagi di tabrak, kali ini oleh ibunya sendiri.
Werna melangkah tergesa menghampiri Rinka yang berniat untuk masuk kedalam kamar. Cekalan dirasakan oleh Rinka begitu dirinya berniat untuk masuk kedalam kamarnya.
"Apalagi sih, Ma? Mama masihmau maksain aku untuk nikah sama anak saudagar itu?!"
"Kamu dengerin mama dulu dong." Rinka membalikan posisi, sehingga kini berhadapan dengan mamanya itu. "Mama mau aku nikah sama orang cacat begitu? Mama tega ngeliat aku harus ngurusin orang seperti itu seumur hidupku?!" bentaknya marah.
Dalam hati Werna, tentu saja dia tidak mau melihat anaknya sengsara. Namun hanya dengan cara inilah, mereka berdua bisa kaya secara instan. "Coba kamu pikirin lagi, hanya ini cara satu - satunya agar kita bisa cepat kaya."
Raut di wajah Rinka semakin menggelap begitu mendengar perkataan mamanya itu. "Jadi mama lebih memilih aku hidup sengsara dengan orang cacat, daripada kebahagianku sendiri, begitu?!"
Werna menggeleng cepat, "Bukan begitu, Nak. Mama cuma mau kamu dapat orang kaya, supaya bisa nyenengin kamu. Lagian bukannya kamu sering bilang kalau mau nikah sama orang kaya, biar bisa beli banyak hal."
__ADS_1
Sejujurnya Rinka mengakui kalau dirinya ingin menikah dengan orang kaya. Tapi dia tak mau kalau orang kaya yang ingin dia nikahi itu cacat. Dia juga mencari yang sempurna untuk mengimbangi kecantikan itu.
"Pokoknya aku nggak mau, Ma. Kalau mama tetap memaksa, kenapa nggak mama saja yang nikah sama anak saudagar itu."
Setelah mengatakan hal itu, Rinka langsung melepaskan cekalan mamanya di tangannya dan masuk kedalam kamarnya.
Brakk!!
Suara gebrakan itu tentu saja mengagetkan Werna yang berada di depan pintu anak gadisnya itu. Napas Werna terdengar masih memburu. Dia tak tahu harus membujuk anaknya itu dengan cara apa.
Lagipula sayang kalau melewatkan kesempatan seperti ini. Jarang - jarang di desanya ini kedatangan orang kaya, apalagi tujuannya untuk mencari mantu. Namun Werna sendiri juga nggak rela kalau Rinka menikah dengan orang yang memiliki kekurangan.
Mengingat kejadian tadi, banyak para ibu yang menolak untuk menikahkan anak gadis mereka, setelah diberitahukan mengenai fakta dari anak saudagar itu yang ternyata memiliki kekurangan.
Namun ada beberapa ibu - ibu yang masih menatap disana, salah satunya adalah si Werna dan Rinka. Tentu saja Rinka tidak mau mendapatkan suami yang catat. Makanya dia pergi begitu saja meninggalkan aula tersebut.
Werna tentu saja mengejar Rinka yang meninggalkannya begitu saja. Dan di sepanjang jalan, keduanya terus berdebat dan tak ada yang mau mengalah. Bahkan banyak warga yang melihat perdebatan keduanya.
Asih yang masih di posisinya itu tak tahu harus berbuat apa. Sangat jarang dia melihat ibu dan kakaknya itu bertengkar seperti ini. Jangankan bertengkar, melihat ibunya memarahi Rinka saja, Asih jarang meihatnya. Ibunya itu terlalu memanjakan Rinka, bahkan Rinka tak pernah disuruh beberes rumahnya olehnya.
Merasa kehadiran seseorang selain dirinya, membuat Werna menatap tajam kearah Asih yang masih berada di balik pintu. "Kau ngapain masih disitu, huh?! Cepat selesaikan pekerjaanmu!"
Asih terlonjak kaget begitu mendengar teriakan dari ibunya itu. Buru - buru dia menutup dan mengunci pintu. Dia tak mau menjadi sasaran kemarahan ibunya itu. Lebih baik dia menurut, daripada kena marah dan hukuman dari ibunya ini.
Werna segera menuju ke kamarnya dan tak lupa dia mengebrak pintu kamarnya untuk melampiasakan kemarahannya saat ini.
...[ * * * ]...
__ADS_1
...Terimakasih...