
[ * * * ]
Setelah selesai mencuci baju di sungai, tangan Asih sudah di tarik paksa oleh ibunya itu. Tentu saja Asih meronta untuk di lepaskan. Namun cekalan itu sama sekali tidak mengendur, malahan semakin kuat dirasakan oleh Asih.
"Ma, kita mau kemana? Tolong lepasin tangan Asih, Ma." pinta Asih yang sama sekali tak di gubris oleh Werna. Bahkan Werna semakin menarik keras tangan Asih begitu menyadari matahari mulai meninggi.
Dia tak ingin terlambat untuk menemui para saudagar itu. Dan kabar yang dia dapatkan adalah para saudagar itu akan pulang ke kota hari ini. Lebih tepatnya siang ini, maka dari itulah Werna tak ingin kesempatan emas ini terbuang sia - sia.
"Bisa cepat sedikit nggak sih? Kamu tuh jangan lelet jadi orang, ya!"
Asih pun tak lagi berontak begitu mendapati mendapat bentakan dari ibunya ini. Keduanya terus berjalan, hingga langkah keduanya terhenti karena keberadaan dua ibu - ibu yang menegur tindakan kasar Werna itu.
"Bu Werna jangan kasar - kasar sama anak. Nggak baik, Bu." nasihat salah satu dari keduanya. Werna menatap datar pada kedua ibu tadi.
"Memangnya ada urusan apa kalian, kalau saya kasar sama Asih, huh?" sentakanya yang membuat kedua ibu tadi mundur kebelakang. "Kan kami berniat baik untuk nasehatin Bu Werna, supaya bersikap baik sama Asih."
Werna mendengus keras begitu mendengar ucapan mereka. "Kalian jangan berlagak baik, ya. Pakai acara nasehatin saya. Saya nggak butuh itu. Urus saja urusan kalian sendiri. Jangan berani ikut campur dalam urusan keluarga saya!"
Setelah mengatakan hal itu, Werna kembali menarik paksa Asih meninggalkan kedua ibu - ibu tadi yang kini sibuk membicarakannya.
"Kenapa sih sikapnya Bu Werna semena - mena begitu sama Asih. Kalau sama si Rinka saja baiknya nggak ketulungan."
"Jelaslah, Bu. Lah wong Rinka kan anak kandungnya. Tentu saja diperlakukan baik, beda sama Asih yang hanya anak tirinya." ucapnya yang disetujui oleh keduanya.
Hampir semua warga tahu bagaimana kejamnya perlakukan Werna terhadap Asih. Bahkan julukan ibu tiri kejam tersemat dalam nama Werna itu sendiri. Beberapa kali tetua di desa ini menasehati Werna supaya bersikap adil dan baik pada anak - anaknya.
Tapi bukannya menerima nasihat itu, Werna malah marah - marah dan memganggap mereka terlalu ikut campur dalam keluarganya. Bahkan waktu itu, Werna mengancam akan melaporkan mereka ke polisi.
__ADS_1
Para warga tentu saja takut kalau harus berurusan dengan pihak berwajib. Makanya mereka tak lagi secara terang - terangan menegur kelakukan Werna itu. Terlebih lagi, Werna dan Rinka sebenarnya bukan warga asli desa ini.
Serta dulu kedudukan ayahnya Asih terbilang cukup tinggi. Banyak warga merasa kasihan terhadap Asih yang harus menerima nasib di tinggal oleh kedua orangtua kandungnya itu.
Dan kini malah tinggal bersama ibu dan kakak tiri yang bersikap seenaknya dan semena - mena kepadanya. Sungguh malang sekali nasib Asih.
Asih masih dalam posisinya tadi, ditambah lagi sekarang ibunya itu tengah misuh - misuh akibat kejadian tadi. Langkah keduanya terhenti kala di depan mereka ada sebuah mobil mewah. Senyum di bibir Werna mengembang begitu melihat mobil itu.
Dirinya langsung menghadang agar mobil itu bisa berhenti. Asih menatap kaget atas aksi yang dilakukan oleh ibunya itu. Ditambah lagi, Werna sama sekali tidak melepaskan cekalan tangannya. Sehingga membuat mereka berdua berdiri di tengah jalan.
Srett
Suara decitan ban mobil dengan jalan terdengar begitu memekakkan telinga. Bahkan hampir saja keduanya tertabrak kalau seandainya sopir tak ambil tindakan melakukan pengereman.
Jantung keduanya berdetak dengan cepat, namun itu tak melunturkan niatan Werna untuk menghentikan mobil ini. Nampak di dalam mobil sang pemilik mobil tengah memarahi sang sopir yang dinilai tidak becus dalam menyetir.
Keduanya menatap dua orang yang masih berdiri di depan mobil mereka. "Mau apa mereka berdiri disitu?" ucap Mitha yang merasa terganggu akan keberadaan Werna dan Asih di depan mobilnya.
"Coba kau tanya mereka maunya apa? Kalau nggak penting, suruh saja mereka pergi." Ucap Bima yang di angguki oleh si supir tadi.
Werna semakin merekahkan senyum begitu melihat pintu mobil mulai terbuka. Walaupun yang keluar adalah si sopir, Werna masih tetap mempertahankan senyumannya.
"Ada urusan apa kalian berdua, sampai mrmghalangi jalan seperti ini?"
Werna berjalan mendekat kearah supir tadi. "Aku ingin bertemu dengan majikanmu. Ada hal yang ingin aku ajukan kepadanya." Si sopir tadi mengernyit mendengar ucapan Werna itu.
"Majikan saya itu sibuk. Sebaiknya kalian berdua menyingkir dari hadapan saya." Nada bicara supir tadi terdenger tegas. Tapi bukan Werna namanya kalau nggak bisa dapatkan apa yang dia mau.
__ADS_1
"Pokoknya aku mau bertemu dengan majikanmu itu. Ini menyangkut perihal calon menantu saudagar itu."
Mendengar apa yang ingin Werna bicarakan, membuat alis Bima dan Mitha terangkat sebelah. Keduanya saling pandang, sebelum keduanya memilih untuk keluar dari dalam mobil.
"Apa yang ingin kau bicarakan?" Pertanyaan itu datang dari Bima yang baru saja membuka pintu belakang mobil. Werna yang melihat keberadaan kedua saudagar kaya itu pun, mulai berjalan mendekat.
Namun saat ini, Werna sudah melepaskan cekalan di tangan Asih. Asihpun kini bisa bernapas lega. Walaupun begitu, warna merah akibat cekalan tadi tercetak jelas di kulitnya. Diusapnya pelan bekas itu guna mengurangi rasa perih di tangannya.
"Jadi kau setuju menikahkan putrimu dengan putraku?" Werna langsung menganggukkan kepalanya. "Iya. Tapi Sebelumnya itu Anda berdua harus menepati janji Anda kemarin perihal komisi untuk saya sebagai ibu dari calon menantu Anda ini."
Senyum sinis hadir di wajah Mitha saat mendengar ucapan Werna itu. "Kau tenang saja, semuanya pasti akan kami tepati." balasnya acuh.
Werna dengan yakin menanyakan perihal pernikahan yang bahkan belum disetujui oleh Mitha dan Bima. "Jadi kapan pernikahan bisa dilakukan?"
"Kenapa kau terkesan tidak sabaran? Bahkan kami berdua belum memutuskan untuk memilih anakmu itu atau tidak."
Werna agak malu lantaran terkesan tidak sabaran untuk menikahkan Asih dengan anak saudagar ini. Padahal belum tentu Asih terpilih untuk menjadi calon menantu mereka.
"Kami berdua tidak bisa memutuskan sekarang. Tentu kau tahu, kan? Kalau bukan hanya kamu yang ikut mendaftarkan anak gadismu itu. Jadi kami berdua perlu menyeleksi terlebih dahulu."
Raut wajah Werna sedikit berubah. Tadinya nampak begitu antusias, kini terlihat sedikit muram. "Jadi kapan keputusan anda berdua itu akan di umumkan?"
Bima dan Mitha nampak saling pandang. Sebelum Mitha menjawabnya, dia sejenak menatap kearah Asih dengan pandangan menilai. "Dua minggu lagi. Kalau anakmu terpilih, maka sehari setelahnya anakmu akan kami bawa ke kota."
Perkataan itu tentu saja membuat Asih terkejut. Dia sama sekali tidak mengira kalau dirinya akan dijadikan tumbal oleh ibunya sendiri. Pantas saja sejak tadi perasaan Asih tidak enak. Ini toh alasannya kenapa sejak pagi tadi dia begitu resah.
...☺...
__ADS_1
...Selamat berjumpa kembali......