Pernikahan Buatan

Pernikahan Buatan
[ 2 ] Setelah Acara Kenduri


__ADS_3

...••• Happy Reading •••...


Acara kenduri yang digelar kemarin malam tentu saja menjadi pembicaraan heboh bagi warga kampung yang juga ikut hadir dalam acara itu. Bahkan beberapa warga juga memuji masakan yang ada disana, lantaran rasanya yang sangat enak dan tentu saja mahal harganya.


Namun selain itu juga para warga, khususnya ibu - ibu mulai membicarakan kabar burung yang tersiar dari acara kenduri kemarin. Katanya akan ada saudara kaya raya yang ingin mencarikan istri untuk anaknya.


Mendengar hal itu tentu saja membuat hati para ibu yang memiliki anak gadis, bersorak gembira. Mereka tentu saja merasa senang kalau ada saudagar kaya yang ingin mencari mantu di desa mereka ini. Bahkan kabar itu sudah menjadi buah bibir yang menghebohkan di desa ini.


Tak terkecuali dengan Werna yang merasa antusias atas kehadiran berita itu. Sejak pulang dari kenduri kemarin malam, Werna sudah mengatur siasat agar putrinya bisa menikah dengan saudagar kaya itu, apapun halangannya nanti.


Bahkan Werna sudah sibuk mempersiapkan pakaian terbaik untuk putrinya, agar bisa dilirik oleh anak saudagar itu. "Ma!" panggil Rinka dari luar kamar mamanya itu. Werna yang mendengar ucapan itu pun mulai menyahut.


"Iya, Mama didalam. Kau masuk saja." Rinka pun mulai membuka pintu kamar mamanya dan mendapati mamanya tengah mengobrak - abrik lemari pakaiannya.


Jelas saja Rinka merasa bingung atas tindakan mamanya itu. "Mama ngapain bongkar isi lemari? Nyariin apa?" tanyanya karena penasaran akan kelakuan mamanya itu.


"Lagi nyariin baju yang cocok buat kamu." Werna tak mengalihkan pandangannya dari baju - baju yang bertebaran diatas ranjangnya itu. Fokusnya masih terarah pada baju yang mana kiranya bisa membuat anaknya terlihat semakin cantik.


Merasa diabaikan oleh mamanya sendiri, membuat Rinka mendengus sebal. "Mama tuh sebenarnya nyari apa sih? Segala baju di berantakin kayak gini. Nanti siapa yang mau beresin." Sungguh kondisi kamar mamanya itu jauh dari kesan rapi.


Bagaimana bisa dikatakan rapi kalau seluruh baju yang tadinya ada di dalam lemari, kini berpindah tempat menjadi bertebaran memenuhi ranjang dan lantai di kamar Werna itu. Werna sendiri ikutan mendengus sebab anaknya ini bukannya membantunya malah merecokinya.

__ADS_1


Merna berbalik badan menghadap kearah Rinka yang berada diambang pintu. "Mama lagi nyariin baju yang cocok buat kamu pakai. Biar nanti anak saudagar kaya itu jadi melirikmu."


Mendengar apa yang mamanya katakan malah membuat Rinka tersenyum sinis. "Kalau nyari buat aku. Kenapa malah dilemari Mama? Kenapa bukan dilemari saja?"


Seakan tersadar sesuatu, Werna lantas membeku sebentar. Diamnya itu adalah Werna tengah merutuki kebodohannya karena tak memikirkan sampai sana. "Astaga. Kenapa Mama nggak kepikiran. Lagian kenapa kamu nggak ngomong daritadi sih." sebal Werna sambil melayangkan tatapan kesal kearah anaknya itu.


Sedangkan Rinka tak menanggapi kekesalan ibunya padanya itu. Dirinya malah melimpir keluar dari kamar ibunya itu. Kali ini Werna juga ikut keluar dari kamarnya sendiri. Namun Rinka menghentikan langkah mamanya itu.


"Mama ngapain ngikutin aku?" Bukannya menjawab, Werna malah menduluhi Rinka dan masuk kedalam kamar anaknya itu. Lagi - lagi Rinka mendengus melihat kelakukan ibunya yang bahkan tak menjawab pertanyaannya itu.


Barusaja akan berbalik menuju ruang santai, namun suara seperti tubrukan terdengar dari kamarnya. Segera saja Rinka mengecek keadaan kamarnya itu. Matanya membola melihat pakaiannya sudah berhamburan keseluruh ranjangnya.


"Ma, kenapa lemarikua diberantakin?!" jerit Rinka yang tak terima lemarinya diacak - acak oleh mamanya itu. Rinka tahu mamanya akan mencarikan pakaian untuknya. Namun apa harus sampai mengacak - acak lemarinya seperti ini.


Werna menghela napas kesal begitu tak mendapati baju yang sekiranya akan cocok dipakai Rinka untuk bertemu dengan anak saudagar itu. Werna pun berdiri dari posisinya dan berjalan keluar. Rinka kembali dibuat melongo atas tindakan mamanya itu.


"Terus yang beresin semua ini siapa, Ma? Sungguh dia tak akan mau merapikan pakaiannya yang sudah diacak - acak oleh mamanya sendiri. Werna menatap putrinya dengan alis yang terangkat sebelah.


"Kan gampang, tinggal suruh Asih buat ngeberesin. Gitu aja repot." ucap Werna sambil berlalu dari hadapan Rinka menuju ke ruang santai. Rinka masih memperhatikan mamanya yang kini malah asyik - asyiknya nonton TV sambil nyemilin kue miliknya itu.


"Itu punyaku, Ma. Jangan dihabiskan." Werna tak menanggapi ucapan anaknya itu. Lagian kue ini bikinan Asih yang memang sengaja dia suruh untuk membuatnya. Kalau ditanya uang bahannya dari siapa? Tentu saja jawabannya adalah uang Asih sendiri. Mana mau Werna mengeluarkan uang untuk kebutuhan rumah tangganya itu.

__ADS_1


[ * * * ]


Disisi lain seorang pemuda tengah duduk dengan pikiran kacau balau. Pandangannya terarah lurus kedepan. Namun siapa yang tahu kalau sebenarnya dia tak benar - benar menatap kesana. Raut wajahnya tak menunjukan emosi yang berarti. Namun jauh di lubuk hatinya, dia begitu banyak menyimpan emosi.


Tiba - tiba suara pintu kamarnya terdengar yang mana menandakan tengah dibuka oleh seseorang. Pemuda tadi sama sekali tidak menoleh. Dia hanya tetap pada posisinya tadi, namun tidak dengar pendengarannya yang kian mempertajam dengan sendirinya.


"Nak, kau sudah siap untuk lusa nanti?" Pertanyaan itu datang dari orang yang masuk kedalam kamar si pemuda tadi. Tak ada jawaban yang pemuda itu berikan, tentunya membuat orang tabg bertanya tadi pun menghela napas sabar.


Tangannya terangkat menuju ke bahu si pemuda tadi. Tapi baru lima detik, telapak tangannya itu sudah di tepis oleh si pemuda tadi. "Jangan berani - beraninya kau menyentuhku." ujarnya dengan nada dingin.


Suasana kamar seketika langsung berubah setelah si pemilik kamar mengatakan hal itu. Orang tadipun bisa merasakan ketidaksukaan si pemuda atas tindakannya tadi. Atau bahkan keberadaannya disini juga sangat tidak diinginkan oleh si pemuda itu.


"Baiklah. Tapi siapkan dirimu untuk lusa nanti. Untuk semuanya sudah aku urus. Tinggal nantinya bagaimana dirimu yang akan memilihnya." Si pemuda hanya memberi deheman yang mengisyaratkan mengiyakan ucapan orang itu.


"Kalau tidak ada lagi. Kau bisa pergi dari sini." ucap pemuda itu dengan nada datar. Orang tadipun pamit undur diri. Dengan langkah lebar, dia berjalan menuju kearah pintu. Sebelum menutup pintu itu, orang tadi pun berbalik menatap punggung pemuda itu.


Memamg posisi pemuda itu membelakangi pintu, sebab pemuda itu menghadap kearah jendela balkon. Sebuah senyum misterius hadir di wajah orang itu. "Selamat malam, tuan muda yang sebentar lagi tak akan jadi tuan muda." gumamnya pelan dan nyaris tak terdengar oleh siapapun.


Mendengar suara pintu kamarnya yang telah tertutup membuat pemuda tadi mengulas sebuah senyuman. Namun bukan sejenis senyuman manis, melainkan sebuah senyuman yang mengandung banyak makna.


"Bermimpilah sepuasmu, karena itu tak akan pernah terjadi." ucapnya di sertai seringaian kecil di sudut bibirnya.

__ADS_1


...[ * * * ]...


...Terimakasih sudah berkunjung kesini :-)...


__ADS_2