
Pagi ini Riko tengah bersiap untuk mengambil surat kabar yang akan di antar ke rumah-rumah pelanggan, tanpa sengaja dia melihat seorang wanita cantik memasuki tempat kerjanya, wanita cantik itu berjalan mendekat ke arahnya lalu menyapa.
"Permisi kak." sapa wanita cantik itu, Riko salah tingkah.
"Iya, ada yang bisa saya bantu?" balas Riko berusaha sebiasa mungkin.
"Kak, saya ingin berlangganan surat kabar yang setiap hari bisa langsung di antar ke rumah, alamatnya disini kak, bisa?" wanita cantik itu menyerahkan kartu nama keluarganya pada Riko.
"Bisa banget." jawab Riko berbinar.
"Per bulan nya berapa ya kak? aku bayar sekarang kah!" tanya wanita cantik itu mengira Riko adalah pegawai bagian administrasinya.
"Langsung saja ke admin di sebelah sana! tugasku adalah mengantar koran ke rumah-rumah pelanggan." jelas Riko tentang posisinya sembari menunjuk ke arah temannya yang bertugas di bagian administrasi sesungguhnya.
"Oke kak terimakasih, kakak ini mau berangkat antar koran ya? semangat ya kak!" kata wanita cantik itu menyemangati Riko, membuatnya salah tingkah karena perhatiannya.
"Siap, makasih ya." hanya kata itu yang bisa keluar dari mulutnya, dia gugup.
Pagi ini Riko mengantar koran penuh dengan binar bahagia tampak diwajah tampannya, di sepanjang jalan Riko mengingat kembali pertemuan singkatnya dengan wanita cantik yang tadi di jumpainya. Menurutnya wanita cantik itu adalah sosok wanita yang ideal untuk di jadikan kekasih, selain karena dia cantik, dia juga sangat sopan dan perhatian. Baru kali ini ada wanita yang mau menyemangatinya, meskipun tahu dirinya hanyalah seorang pengantar koran, menumbuhkan benih-benih cinta di hatinya seketika, cinta pada pandangan pertama.
__ADS_1
Keesokan harinya Riko meminta tambahan jatah antar, tentunya meminta tambahan hanya ke satu alamat saja, tepatnya ke alamat wanita yang seharian kemarin telah memenuhi pikirannya, memintanya pada teman di bagian administrasi.
"Vin aku minta tambah jatah antar dong!" pinta Riko.
"Tumben amat Rik, lagi kurang uang kamu." tanya Vina penasaran.
"Ada deh, mau tahu aja kamu, sini biar aku pilih sendiri alamatnya!" pinta Riko seraya mengambil buku besar yang ada dihadapan Vina.
Setelah beberapa lama, Riko mulai kebingungan mencari nama wanita yang di inginkannya.
"Udah belum? siniin gih bukunya!" pinta Vina yang kesal menunggu Riko yang dari tadi mencari sesuatu namun tak kunjung ketemu.
"Nyari alamat siapa sih kamu?" Tanya Vina makin kesal dengan tingkah Riko sembari menarik paksa bukunya.
"Hehe itu loh, alamat cewek yang kemarin deposit pas aku mau berangkat antar koran." jawab Riko sembari menggaruk-garuk kepalanya.
"Ooooo,,, bilang dong dari tadi, kamu naksir cewek itu ya?"
"Apaan sih, udah siniin cepet!"
__ADS_1
"Kalian jodoh tuh kayaknya, nih liat, nama kalian sama an, Rika dan Riko, cieeeee."
Riko yang baru mengetahui bahwa nama mereka bagaikan saudara kembar, hanya berbeda huruf a dan o untuk membedakan jenis kelamin mereka, membuatnya senyum-senyum sendiri sembari menyalin nomer ponsel yang tertera di biodata arsip tempatnya bekerja.
"Makasih ya Vin, inget masukin dia di daftar jatah antaran aku ya!" peringat Riko sekali lagi.
"Iya bawel, sebenernya ini tuh kan jatahnya si Ijo, kok jadi kamu yang antar, nggak searah loh sama rute antaran kamu." gerutu Vina.
"Udah deh bisa di atur, nanti aku bilang ke Paijo langsung, dia pasti nggak keberatan." jawab Riko.
"Dasar pemaksa." gerutu Vina lagi.
"Apa kamu bilang?" tanya Riko memperjelas pernyataan yang samar terdengar di telinganya.
"Nggak bilang apa-apa, Riko itu ganteng, baik hati, pengertian, rajin menabung, dll, puas."
"Dll nya apaan?
"Dan suka banget maksa hahaha." ledek Vina kemudian berlari menjauhi rekan kerjanya, hingga terjadilah acara kejar-kejaran antara Riko dan Vina, membuat suasana yang semula tenang kini menjadi riuh dan gaduh.
__ADS_1