
Riko celingak-celinguk melihat kanan kirinya, keringat dingin menerobos menambah kadar kegugupannya, ia menggaruk-garuk tengkuknya yang tak gatal.
"Ya ampun mas Ijo, gimana ini? kan aku di suruh datang kesini bawa dua saksi, lakok aku lupa mas, jadi cuma bawa serta mas Ijo aja deh, mana udah mepet lagi waktunya, gimana nih mas? ada solusi nggak?" ungkap Riko seraya meminta saran Paijo.
"Lah kamu ini gimana sih Rik? kok bisa lupa gitu? tahu gitu kan istri ku tak ajak aja sekalian, kebetulan dia lagi nganggur di rumah, jadi bisa banget pasti bantu kamu jadi saksi." protes Paijo.
"Nah itu dia mas, ini kan masih ada waktu sekitar lima belas menitan, ayok kita jemput istri mas, rumah mas kan deket dari sini." akhirnya Riko mendapatkan secercah harapan yang hampir saja sirna.
"Beneran nih masih keburu?" tanya Paijo memastikan.
__ADS_1
"Iya mas ayo kita jemput istri mas Ijo sekarang!" pinta Riko seketika, mengurangi sedikit kepanikannya.
Paijo dan Riko balik arah mengendarai motor mereka masing-masing dengan kecepatan tinggi, agar secepat mungkin sampai tempat tujuan mereka. Sampailah mereka di sebuah hunian minimalis penuh tanaman hias di depan dan samping kanan kirinya, bahkan yang bergelantungan pun juga ada, rumah yang dindingnya masih separuh semen dan separuh bambu, meski sangat sederhana namun nampak begitu asri, karena banyaknya koleksi tanaman hias yang dimiliki Paijo.
"Yang kamu dimana? kamu nggak lagi sibuk kan yang?" teriak Paijo mencari keberadaan istrinya ketika memasuki rumahnya, meski teriak-teriak namun masih memanggil dengan panggilan sayang
"Ada apa sih yang kok teriak-teriak gitu? aku masih di kamar ganti baju, mau ke pasar di ajakin bu Mince yang." sahut istri Paijo.
Paijo baru satu tahun menikah, dan belum di karuniai momongan, mereka memutuskan untuk tinggal di perantauan, terpisah dari kedua orang tua mereka masing-masing. Sama seperti Riko yang hidup juga jauh dari orang tuanya, bedanya kalau Riko memang menjauhi kedua orangtuanya karena masalah yang terjadi di dalam keluarganya.
__ADS_1
*****
Sampailah kembali Riko, Paijo dan juga istri Paijo di rumah besar milik calon mertua Riko. Istri Paijo tampak terpesona dengan kemegahan rumah calon mertua orang yang sudah di anggap adik baginya, Paijo bolak-balik menyenggol bahu istrinya untuk menghentikan kegiatan memalukan istrinya yang terlihat jelas di matanya.
"Alhamdulillah akhirnya kamu datang juga menepati janji anak muda." calon mertua Riko menyambut kedatangan calon menantunya dengan begitu hangat, ini sangat di luar dugaan.
"Iya pak mana mungkin saya tidak datang." jawab Riko seketika menyalami calon mertuanya ala-ala anak berbakti, padahal kepada kedua orangtuanya ia tak pernah berlaku seperti itu, entah kenapa refleknya karena terlalu bahagia hingga bisa pas seperti itu.
"Kenalkan petugas KUA sekaligus penghulu ini adalah om nya Rika, namanya om Ahmad Baihaqi." Ayah Rika memperkenalkan adiknya pada Riko selaku penghulu, Riko pun menyebutkan namanya dan menyalaminya.
__ADS_1
Setelah sedikit basa basi sampailah Riko pada acara inti yang dinantikan, sebuah prosesi akad nikah antara dirinya dengan pujaan hatinya. Pernikahan yang dihadiri oleh segelintir orang saja, di ruangan tamu yang megah bak istana, berbeda dengan kamar kost Riko yang begitu sempit.
Riko mengedarkan pandangannya ke seluruh ruangan, ia tak menjumpai calon istrinya, namun ia tak berani bertanya, ia terlalu gugup dan hanya bisa menuruti segala petunjuk yang di komandokan oleh calon mertuanya. Riko begitu gemetar, keringat dingin membasahi tubuhnya ketika tangan kekar calon mertuanya menjabat tangannya. Nama lengkap calon istri juga ayah mertua yang barusaja Riko ketahuinya, harus ia ingat-ingat agar tak salah ucap nantinya.