PERNIKAHAN MISTERIUS

PERNIKAHAN MISTERIUS
BAB 7


__ADS_3

"Ayo, Istriku. Kita pulang!"


"Tunggu, Nak Riko!" reflek Riko menoleh suara yang kini mencegahnya.


"Iya, Pi. Kenapa?" pertama kalinya Riko mencoba memanggil Bambang dengan sebutan Papi, meski masih sedikit kaku.


"Bukan saat ini juga kamu bisa langsung mengajak istrimu ikut pulang bersamamu." Riko bertanya-tanya dalam hatinya. Apa maksud perkataan Papi mertuanya, beberapa menit yang lalu membolehkan. Saat benar dilakukan justru di cegah.


"Setelah surat-surat pernikahan kalian selesai di urus, dan juga setelah resepsi pernikahannya selesai di gelar. Baru saat itu kamu boleh membawa putri kesayangan Papi tinggal bersamamu. Hari ini hanya formalitas saja, Papi juga tidak mungkin melepas putri Papi satu-satunya dengan cara seperti ini. Acara hari ini hanya untuk membuktikan keseriusanmu pada Rika, dan Papi sudah membuktikannya hari ini. Kamu lolos ujian Papi. Tunggulah sebentar lagi, Rika akan menjadi milikmu seutuhnya."


Bagaimana bisa Riko berfikir dirinya benar-benar akan membawa istrinya pulang saat ini juga. Sungguh ia tak bisa menebak apa yang telah direncanakan Papi mertuanya, hanya bisa kebingungan sendiri dengan spontanitas laki-laki tambun berkumis tebal itu.


"Maafin Riko, Pi."


"Enggak apa-apa, Nak Riko. Papi juga yang salah, tak menjelaskan rencana Papi secara rinci padamu." terangnya sembari mengelus punggung menantunya, menyalurkan ketenangan. Seketika kegugupan yang masih menyelimuti diri Riko, perlahan menguar pelan.

__ADS_1


Sebelum Riko meninggalkan kediaman istrinya, Papi mertuanya memberikan kesempatan menantunya untuk berbincang dengan putrinya di taman belakang.


"Istriku. Aku boleh tahu perasaan kamu saat ini seperti apa enggak?" tanya Riko menatap lekat wajah cantik istrinya, tanpa berkedip sedikitpun.


Dada Riko berdesir hebat, jantungnya saat ini berpacu dengan begitu cepat. Sama halnya Rika, pipinya pun memerah mendapati dirinya di tatap seintens itu oleh laki-laki yang barusaja sah menjadi suaminya.


"Aku sangat menyukaimu, Kak." jawabnya malu-malu, membuat Riko gemas. Andai saja dirinya tak sedang berada di taman belakang rumah mertuanya, entah adegan romantis apa yang akan dilakukannya saat ini.


"Hanya suka?" tanya Riko menggoda.


"Sayang juga, Kak." masih malu-malu.


"Emmm... Rika cinta sama kak Riko."


"Kok bisa secepat itu? kita kan baru kenal." pura-pura meragukan. Dasar Riko memang iseng.

__ADS_1


"Sebenarnya. Rika sudah lama memperhatikan Kak Riko." masih menjelaskan perasaannya dengan malu-malu.


"Masa sih? Kok aku enggak tahu? Kapan?" tanya Riko penasaran akhirnya.


"Saat Kak Riko mengantar koran di rumah Om Ahmad, Rika kan sering menginap di rumahnya kalau Papi sedang dinas ke luar kota." pipi Rika semakin merah menahan malu.


"Wah ternyata istriku yang cantik ini, diam-diam udah jatuh cinta duluan ya sama aku. Senangnya."


Rika hanya menunduk malu, sedang Riko tak sedikitpun melepaskan tatapannya. Riko memberanikan diri menyentuh janggut istrinya, bermaksud untuk menegakkan posisi istrinya yang terus menunduk. Menghalangi Riko untuk memandangi wajah cantik bidadari halalnya ini.


"Ehemmm..." Bambang sengaja mengganggu dua anak muda yang sedang di mabuk cinta dalam ikatan halal itu, ia sengaja berdeham untuk membuyarkan aktivitas keduanya.


"Eh, Papi. Maafkan Riko, Pi. Benar-benar tidak ada maksud apa-apa." seketika kegugupan menghampiri.


"Lanjutkan saja! Papi cuma lewat aja kok." goda Bambang membuat kedua pasangan halal itu semakin malu.

__ADS_1


Bambang melenggang pergi begitu saja meninggalkan putri dan menantunya dengan cekikikan. Merasa puas bisa mencandai keduanya, jadi teringat masa-masa indah di awal pernikahan bersama almarhumah istrinya.


Bambang punya banyak rencana yang masih belum di sampaikan pada Riko. Ia yakin pilihannya untuk menikahkan putrinya seperti ini adalah pilihan yang tepat. Ia tahu betul putrinya sangat menyukai laki-laki yang beberapa saat yang lalu menerima peralihan tanggung jawab atas putrinya.


__ADS_2