PERNIKAHAN MISTERIUS

PERNIKAHAN MISTERIUS
BAB 2


__ADS_3

"Eh kakak, terima kasih ya sudah di antar." sapa wanita yang di sukai Riko, mengambil koran yang ada di meja teras rumahnya.


"Pagi Rika." sapa Riko sok akrab, dia sengaja meletakkan koran di depan rumah Rika setelah melihat wanita yang di sapanya ini keluar rumah.


"Wah kakak sudah tahu namaku, kok bisa? kita kan belum pernah kenalan." tanya Rika penasaran.


"Sekarang aja kenalannya, kenalin nama aku Riko." diulurkan tangannya ke arah Rika.


"Ya ampun nama kita kok mirip ya kak, senang bisa berkenalan dengan kakak." jawab Rika ramah membalas uluran tangan Riko.


"Sepertinya kita jodoh." canda Riko dengan harapan bisa menjadi kenyataan.


"Ah kakak bisa saja." Rika tertawa mendengar celetukan Riko yang menurutnya lucu.

__ADS_1


Tanpa di duga keluarlah laki-laki bertubuh tambun dan berkumis tebal dari dalam rumah Rika.


"Rika kamu ngobrol sama siapa? katanya tadi mau jalan-jalan di taman." tegur laki-laki yang baru saja muncul di antara mereka.


"Oh ini kakak pengantar koran pi, ya sudah aku ke taman dulu ya, sampai ketemu lagi kak Riko, pergi dulu ya pi." pamit Rika meninggalkan Riko berdua saja bersama laki-laki yang merupakan ayah dari wanita yang disukainya.


Sesaat setelah kepergian Rika, ayah Rika langsung mengintrogasi laki-laki dihadapannya yang masih tak beranjak dari memandangi putrinya yang berjalan menjauh.


"Kamu suka ya sama putriku?" tanya ayah Rika tanpa basa-basi, langsung pada inti membuat Riko seketika gelagapan.


"Wah berani juga kamu, saya salut sama kamu, kapan kamu akan menikahi anak saya." ayah Rika kembali menanyakan sesuatu yang sangat mengejutkan Riko, lebih dari sebelumnya.


"Menikah om?" tanya Riko terbata.

__ADS_1


"Lantas kalau tidak menikah dengan putriku kamu hendak apa? pacaran? jangan harap saya akan mengijinkan, kalau kamu tidak berani menikahi putriku, pergi yang jauh, jangan tampakkan wajahmu di hadapanku lagi." tegas ayah Rika membuat Riko makin kebingungan, baru saja bertemu untuk kedua kalinya sudah di minta untuk menikahi putrinya.


"Saya akan menikahi Rika secepatnya om, setelah saya punya cukup uang untuk biaya pernikahan kami." jawab Riko yang menurutnya paling tepat, tak mau kehilangan kesempatan dan bisa mengulur waktu.


"Saya acungi jempol nyalimu anak muda, hari ini kamu punya uang berapa? coba periksa dompetmu!" pinta ayah Riko yang lagi-lagi membuatnya kebingungan namun tetap patuh untuk memeriksa isi dompetnya.


"Hanya seratus ribu om, tapi Minggu depan saya gajian om." jawab Riko malu-malu.


"Baik besok kamu datang kesini lagi! bawa dua orang untuk menjadi saksi, berpakaian yang rapi, kita langsungkan acara pernikahan, dan jadikan uangmu itu sebagai mahar untuk menikahi putriku." pinta ayah Rika tanpa di duga namun penuh keseriusan, tak menyiratkan kebohongan sedikitpun apalagi candaan.


Riko terbengong-bengong, tak percaya dengan apa yang barusaja di dengarnya, seolah kata jodoh yang diucapkannya penuh harap dalam balutan candaan itu terkabul seketika. Hanya bermodal uang seratus ribu penunggu dompet seorang bujang lapuk pengantar koran, bisa meminang wanita cantik impian yang sangat didambakan, putri orang kaya pula. Riko menganggukkan kepala dengan mencubit-cubit pahanya masih tak percaya.


"Anggukanmu aku anggap sebagai tanda persetujuanmu, aku tunggu kedatanganmu besok di sini, di jam sama dengan hari ini, kalau kamu tidak datang jangan harap bisa melihat putriku lagi." ancam ayah Rika menambah keseriusan dalam setiap ucapan yang terdengar tak masuk akal di benak Riko.

__ADS_1


"Baik om, saya akan datang." hanya kata itu yang bisa keluar dari mulut Riko dari keterkejutannya.


Di sepanjang jalan Riko hanya berfikir, apakah ini mimpi atau nyata, sepertinya itu hanya bisa di jawab oleh hari esok, hari ini hanyalah akan menjadi halusinasi indah yang menghiasi harinya.


__ADS_2