Pernikahanku Dengan CEO Bengis

Pernikahanku Dengan CEO Bengis
Episode 1-KDRT Yang Terus Berulang


__ADS_3

Di bawah guyuran hujan deras, Kaurin berdiri tanpa sedikit pun memedulikan kondisi basah kuyup dirinya sendiri. Sepasang mata sayunya, yang sebenarnya juga tengah menderaikan linangan kesedihan, sibuk menatap rumah berlantai empat yang sangat besar. Keputusan yang Kaurin ambil saat ini tentu saja bukan hal sederhana. Telah tersemat di benaknya, ia datang hanya untuk menemui Gerry—seorang CEO bengis yang sempat akan menikahi Kaurin, jika Kaurin tidak kabur di hari H pernikahan satu bulan yang lalu.


Ironisnya, saat ini Kaurin justru ingin kembali menemui mantan calon suaminya itu. Selain untuk memohon ampunan sekali lagi atas apa yang telah ia lakukan di hari pernikahan, Kaurin juga memiliki sebuah keinginan. Dan mungkin ia akan rela menggadaikan harga dirinya untuk terkabulnya keinginan tersebut. Sementara alasan di balik keputusannya tentu saja bukanlah alasan main-main yang menyangkut hanya dirinya, melainkan juga sosok yang amat ia cintai.


Sebab, di satu jam yang lalu ....


Jeritan dan tangisan menjadi kolaborasi dari sebuah pertunjukan yang sesungguhnya tak ingin lagi Kaurin saksikan. Namun pemandangan seburuk itu rasanya memang sudah menjadi suatu tradisi di dalam rumah besar milik Aland Sudarmaji, selaku ayahnya sendiri. Kekerasan dalam rumah tangga yang dilakukan Aland pada Rosaria—istrinya, bahkan tak jarang sampai melibatkan Kaurin, sebenarnya sudah berada di level terparah, layaknya yang terjadi sekarang.


Pria berusia lima puluh tujuh tahun itu terus saja menampar dan melempar barang apa pun pada Rosaria. Sebenarnya, selama ini tak jarang Kaurin membawa ibunya untuk kabur. Namun, tetapi nyatanya apa? Selalu gagal dan terus begitu hingga hari ini tiba!


Aland memang selalu bisa menemukan persembunyian Kaurin dan Rosaria. Latar belakang Aland yang memiliki koneksi dengan orang berkuasa, membuat Kaurin dan Rosaria tak mampu lagi untuk melawan. Di mana pada akhirnya, Rosaria menyerah untuk melarikan diri karena Aland malah mengancam akan menyiksa Kaurin sebagai ganti atas kehilangan dirinya.


Kekerasan yang terus berlanjut itu semakin menggila ketika Kaurin yang hendak dijodohkan dengan Gerry Loka Shakti, sang CEO bengis, malah ditolak habis-habisan oleh Kaurin. Bahkan di hari pernikahan yang sudah Aland tentukan, Kaurin malah kabur setelah tiga hari kemudian Aland berhasil dalam menemukan putrinya tersebut. Sayangnya, Gerry sudah telanjur geram hingga memutuskan membatalkan perjodohan. Dan lagi-lagi Rosaria dijadikan pelampiasan dari kemarahan sekaligus kekecewaan yang Aland rasakan. Rosaria dituding sebagai ibu yang tidak becus mendidik Kaurin oleh Aland, disertai segala kekerasan yang diberikan oleh pria itu.


"Tolong, ampun, hentikan, Mas! Hentikan!" ronta Rosaria, memohon ampun layaknya yang kerap ia katakan sebelum-sebelumnya.


"Berhenti apanya, Bodoh! Aku masih benar-benar marah sekarang! Bisa-bisanya kau mempermalukan diriku! Hei, Rosaria, seharusnya kau itu belajar menjadi istri yang baik layaknya istri Tuan Besar Ferdy. Cantik, sosialita, terpandang, dan cerdas! Suamimu ini akan menjadi pejabat, tapi kenapa kau masih saja bodoh, hah?!" sahut Aland yang masih kesal karena Rosaria yang ia bawa ke sebuah pesta perjamuan para konglomerat, malah datang terlambat. Bahkan tak hanya itu saja, lantaran penampilan Rosaria sungguh tak semodis penampilan para istri orang-orang kaya itu.

__ADS_1


"Maafkan aku, sungguh maafkan aku, to-tolong sudahi ini semuaaaa!"


Suara benda pecah yang kemungkinan terbuat dari kaca terdengar begitu keras, hingga membuat Kaurin yang menguping di luar kamar ayah ibunya sampai merinding. Posisi pintu kamar yang tidak tertutup dengan rapat, membuat Kaurin bisa mendengar segala pertengkaran panas mereka.


"Mengurus Kaurin saja kau tidak becus, Rosa! Istri dan ibu macam apa kau ini, hah?!" ucap Aland sembari menarik rambut sang istri dengan kasar. "Setelah CEO bocah itu membatalkan pernikahan, aku sudah gagal mendapatkan dukungan besar untuk jadi pejabat, Sialan! Sekarang kau malah mempermalukanku habis-habisan! Sungguh istri tak tahu diri! Seandainya waktu itu aku lebih memilih Luciana sebagai istriku, mungkin aku sudah berjaya!"


"Ampun ...." Lemas sudah Rosaria. Tak berdaya dirinya untuk berkata-kata. Bahkan sudah tebersit di pikirannya, mungkin saja malam ini adalah hari kematiannya. Namun ketika matanya melirik ke luar kamar, ia mendapati sepasang kaki jenjang yang begitu putih. Kaurin ada di sana. Anak tunggalnya itu kembali menyaksikan pertunjukan spektakuler yang begitu kejam, anak itu lagi-lagi harus turut menjadi korban. Sakit sekali hati Rosaria. Jauh lebih sakit daripada rasa yang ia terima dari tamparan serta pukulan tangan Aland, suaminya.


"Pergilah, Anakku," gumam Mona tanpa suara.


Di luar kamar tersebut, gadis bernama lengkap Kaurin Angelica Sudarmaji itu sudah tak sanggup lagi menahan keinginan untuk membunuh ayahnya di detik itu juga. Meski tanpa ekspresi, air matanya mengalir begitu deras. Kedua telapak tangannya mengepal erat. Pun dengan rasa sakit dan marahnya yang sudah saling berkolaborasi hingga menciptakan sebuah dendam teramat besar. Seharusnya, ayahnya yang tersiksa, bukan malah ibunya yang begitu baik dan selalu melindunginya. Namun bagaimana cara membunuh Aland, di saat Kaurin sendiri masih merasa sangat takut?


"Payah ... aku benar-benar payah," gumam Kaurin merasa terluka, pun juga merasa gagal melindungi sosok yang selalu mengayomi dirinya.


"Hei, gadis bodoh sepertimu beraninya menolak pernikahan yang sudah sukarela aku kabulkan. Andai ayahmu tak sampai mengemis macam tunawisma, aku juga enggan untuk menikahimu yang sok hebat itu, Dik! Bersyukurlah karena setidaknya aku masih bisa mengampunimu, dan tidak langsung menebas lehermu indahmu itu, Kaurin!"


Tebersit ucapan Gerry, sang CEO bengis, yang pernah marah karena merasa dipermalukan oleh Kaurin yang kabur di hari pernikahan. Dan tak hanya sekadar suaranya saja, sebab wajah pria yang rumornya adalah dalang di balik kematian sang ayah kandung tersebut, mendadak muncul sebagai sosok yang Kaurin pikirkan.

__ADS_1


"Aku ... harus membunuh Ayah! Gerry. Mungkin hanya dia yang bisa membantuku," gumam Kaurin, kemudian bergegas untuk meninggalkan tempatnya berpijak.


Sembari berderaian air mata, gadis berusia dua puluh dua tahun tersebut berjalan menyusuri para anak tangga, alih-alih memilih sebuah elevator kecil di dalam rumahnya. Mungkin rencana yang ia pikirkan saat ini memang terbilang gila, tetapi jika hanya itu caranya, sepertinya ia harus tetap melakukannya.


Membuat permohonan terhadap Gerry, agar pria yang dianggap sebagai killer tersebut untuk menghabisi Aland. Dan Kaurin akan membayar apa pun yang Gerry inginkan, sekalipun dirinya akan dijadikan sebagai budak selama seumur hidup! Sebab Kaurin sudah benar-benar muak, dan ia harus melindungi ibunya, sebelum ibunya benar-benar mati di tangan Aland.


Demikian sepotong kronologi yang terjadi satu jam lalu. Namun sekarang, setelah sampai di rumah Gerry, nyali Kaurin justru menciut. Dua puluh menit dirinya hanya diam dan berdiri di bawah guyuran hujan. Rasa ragu dan tak berani benar-benar membuat keputusannya terus tertunda. Namun untuk kembali pulang pun, Kaurin sungguh tak kuasa. Di rumah, sudah pasti dirinya hanya akan menemukan tubuh lemah ibunya. Itu sih jika ibunya masih hidup, kalau sudah tak sanggup bernapas karena kekejaman Aland, mungkin ....


"Tidak! Aku tidak akan membiarkan ibuku mati, sementara monster gila itu terus hidup!" ucap Kaurin menyangkal kemungkinan yang baru saja ia pikirkan. "Aku harus melakukannya. Lebih baik aku yang menerima kekejaman dari Gerry, daripada Ibu harus mati di tangan Ayah."


Kaurin menghela napas dalam-dalam. Berusaha untuk mengumpulkan segenap keberanian. Wajahnya yang begitu basah dan tampak ketakutan, sama sekali tidak ingin ia pedulikan. Ia harus membuat permohonan pada satu-satunya orang yang paling bisa melawan Aland, ayahnya. Dengan segala hal yang tentunya harus Kaurin korbankan demi menyelamatkan hidup ibunya.


Sementara itu, Gerry yang sudah mendapatkan laporan dari salah satu petugas keamanan bagian depan dari rumahnya, kini sibuk menghela napas. Latar keberadaannya saat ini adalah di balkon lantai ketiga dari rumah besarnya, dan membuatnya bisa mengawasi sosok Kaurin yang berdiri di bawah guyuran hujan sejak tadi.


Gerry menyeringai kemudian bergumam, "Gadis yang tangguh. Tapi apa yang membuatnya datang lagi ke hadapanku, setelah kabur dari acara pernikahan kami? Apa pun itu, pastinya akan sangat menarik, bukan?"


***

__ADS_1


__ADS_2