
Meski Kaurin tampak kedinginan, Gerry yang duduk di kursi sofa mewah bagai seorang raja, sama sekali belum berkenan untuk menawarkan pakaian ganti untuk wanita muda itu. Sejak lima menit setelah ia mengizinkan Kaurin untuk masuk pun, tak ada satu pun kata-kata sambutan hangat yang rela ia berikan. Herannya, Kaurin yang saat ini menyandang status sebagai seorang tamu malah hanya diam saja, selain sibuk menggigil karena rasa dingin. Hal yang jauh lebih gila juga terjadi, saat Gerry malah sengaja mengatur suhu ruang tamunya sampai serendah mungkin.
Kaurin menggigit bibir bagian bawahnya. Diam-diam, ia terus merutuk kasar pada sosok mantan calon suaminya tersebut. Pria itu benar-benar seperti rumor yang sudah lama terdengar. Gerry, si CEO muda yang kejam dan tak berhati nurani. Sang ayah pun kabarnya sampai meninggal karena kebengisan seorang Gerry Loka Shakti.
Awalnya Kaurin enggan memercayai rumor tersebut, tetapi sejak ia menatap Gerry di pertemuan pertamanya sebagai calon mempelai hingga saat ini, ia malah menaruh percaya pada kabar buruk mengenai pria tersebut.
"Apa kau akan terus diam seperti itu, Adik Kecil?" Suara Gerry akhirnya terdengar. Cukup parau dan begitu dingin. Tatapan matanya pun tetap tajam. Ia layaknya sang raja hutan yang siap menerkam. Walau bersikap begitu tenang, ekspresinya sungguh mampu membuat Kaurin merasa tercengkeram.
Gemetar tubuh Kaurin, pun dengan bibir pucatnya yang tak lagi ia gigit lantaran sudah terlalu sakit. Perlahan ia menurunkan kedua tangannya yang sejak tadi sibuk memeluk diri sendiri. Sepintas, muncul keinginan untuk bersimpuh, tetapi Kaurin malah ragu dan pada akhirnya tetap berdiri kaku.
"Hei, Dik, di sini bukan tempat untuk berteduh. Cepat katakan apa maksud dari kedatanganmu. Kau masih ingat, betapa aku membenci orang pengecut yang lari di hari H pernikahan, bukan? Seharusnya, kau tidak datang dengan tidak tahu malu begini," ucap Gerry lagi. Detik berikutnya, ia menghela napas. Sudah merasa cukup bosan dengan kegemingan Kaurin. Dan sesungguhnya, ia juga masih tak menyangka jika anak itu akan hadir di kediamannya malam-malam begini.
Kaurin mencoba berdeham dengan maksud hati untuk memperbaiki pita suaranya. Lalu, dengan bibirnya yang masih gemetar, ia lantas berkata, "Bu-bukankah kau masih ingin membungkam mulutku? Dan membiarkan aku mati kedinginan se-sebelum aku me-mengatakan maksud dan tujuanku padamu?" ucapnya.
"Jadi, maksudmu aku harus memelukmu, agar kau tidak mati kedinginan dan bisa mengatakan dengan jelas maksud serta tujuanmu begitu, Adik Kecil?" Gerry mulai menunjukkan seringainya. "Ah, haruskah aku berdiri dan lantas melakukannya sekarang?"
Tersudut, Kaurin mengerjap-ngerjapkan matanya. "Tidak, terima kasih. A-aku hanya heran, bagaimana bisa kau bersikap setenang itu ketika melihat seseorang yang hampir mati karena kedinginan."
"Oh, kau butuh belas kasihan dariku? Menginginkan pertolongan agar kau tak kedinginan lagi?"
"Ugh ... sialan ...."
Gerry terkekeh. "Jangan mengumpat padaku, Adik Kecil. Aku kan hanya bertanya, mengapa harus marah se-demikian rupa?"
"Aku tidak marah!"
"Ironisnya, tamuku ini malah lebih galak, padahal sudah pasti kau yang ingin mengemis sesuatu padaku."
Gerry beranjak bangkit dari duduknya. Detik berikutnya, ia berjalan ke arah Kaurin sembari mengibaskan jaket berbulunya yang sangat tebal. Dan benar, ia memang bermaksud untuk memamerkan pakaian super hangat pada Kaurin yang sebentar lagi akan sekarat karena kedinginan. Terlebih lagi, ketika suhu ruangan masih belum ia atur ke suhu yang lebih manusiawi untuk wanita muda tersebut.
Sesampainya di hadapan Kaurin, Gerry kembali memberikan tatapan. Ia mengamati wajah hingga tubuh Kaurin yang basah kuyup. Gadis itu juga sampai reflek menutupi badan bagian depan dengan menggunakan kedua telapak tangan kurusnya. Kaurin sungguh tidak mau jika Gerry mencuri pandang pada bagian yang tak semestinya menjadi tontonan, kendati ia tahu apakah kesuciannya akan tetap aman setelah ia melontarkan sebuah keinginan.
Gerry menghela napas, kemudian berangsur mengulurkan tangannya. Ia menarik dagu Kaurin secara paksa. Kaurin hampir saja mengelak, sayangnya gerakan Gerry jauh lebih cepat dan kasar.
__ADS_1
Di mata Gerry, wajah pucat Kaurin tetap cantik. Sepasang netra yang indah dengan hiasan lentiknya bulu mata, hidungnya yang mancung, serta bibir bervolume yang pucat pun masih tetap menggiurkan. Kaurin, gadis bak boneka nan cantik jelita. Sosok wanita sepuluh tahun lebih muda yang seharusnya sudah menjadi istrinya sejak satu bulan yang lalu itu, tak hentinya membuat Gerry terkesima.
"Le-lepaskan aku!" ucap Kaurin ketika tak lagi mampu menahan perasaan tak nyaman dari tatapan mata Gerry.
"Kenapa? Kau merasa tidak nyaman?" tebak Gerry yang tepat sasaran. "Bukankah kau sudah mengetahui konsekuensinya setelah memutuskan untuk berteduh di rumah ini, Adik Kecil?"
Kaurin terdiam dan berangsur menundukkan kepala. Dan tentu saja apa yang Gerry katakan memanglah sesuai kenyataan. Kaurin mengetahui segala konsekuensi atas sikapnya sekarang. Termasuk ketika ia mungkin akan dihina dan diremehkan, atau paling parahnya bisa dilecehkan juga. Namun entah mengapa, harga dirinya yang masih sedikit tersisa membuat Kaurin sungguh tidak mau jika ia dipandang sebagai seorang pengemis. Yang juga membuatnya tak mampu untuk berkata-kata manis.
Rasa gamang dan sikap penuh kegengsian yang tertera jelas pada diri Kaurin tentunya sudah Gerry ketahui sejak tadi. Wanita muda yang pernah nekat kabur di hari H pernikahan tersebut memang bukan tipikal gadis manja, lemah, sekaligus penakut. Jika dulu Gerry berkenan untuk menyetujui pengajuan permohonan perjodohan dari Aland, karena ia memang membutuhkan seorang istri, dan hanya Kaurin saja yang bisa ia nikahi, kini ketertarikan Gerry pada Kaurin sepertinya akan disertai alasan yang jauh berbeda.
Sosok Kaurin yang tangguh tampaknya cocok dengan kepribadian Gerry, sekaligus segala hal berbahaya yang nantinya mungkin akan menimpa status istri dari pria tersebut. Namun menarik Kaurin untuk dijadikan sebagai seorang istri setelah sempat gagal, masih menjadi tugas yang perlu Gerry pikirkan. Bagaimana dirinya akan menaklukkan wanita muda yang super keras kepala tersebut? Haruskah dengan cara kasar seperti yang selalu ia lakukan pada orang-orang yang tak berpihak padanya?
"Apa yang kau inginkan? Katakan sesegera mungkin, jika kau memang tidak ingin mati kedinginan, Kaurin," ucap Gerry tak lagi banyak basi-basi.
Kaurin melebarkan matanya. Gerry yang menyebut namanya sejelas itu sungguh membuatnya cukup terkejut. Setidaknya ia tidak terlihat sebagai seorang anak kecil yang kerap Gerry panggil dengan sebutan 'Adik Kecil', dan entah mengapa hal itu membuatnya cukup ... yah, sedikit lebih lega.
Lalu, dengan bibir dan lidah yang masih gemetar karena semakin lama memang semakin dingin, Kaurin berkata, "Kudengar, kau rela melakukan hal keji pada siapa pun yang mengganggumu, atau bahkan pada mereka yang hanya sekadar tidak berada di pihakmu. Dan kudengar juga, kau pernah melakukan akuisisi secara paksa atas sebuah perusahaan manufaktur, dan menjadikannya sebagai salah satu anak dari Golden Lhoka Group. Kemudian ... kau ... kabarnya kaulah penyebab kematian ayah kandungmu, kau juga telah mengusir kakak kandungmu demi menguasai Golden Lhoka, bukan?"
Gerry menatap kedua manik mata Kaurin ketika wanita itu mulai berkenan untuk mendongak padanya. Dan sesaat setelah menghela napas, Gerry lantas berkata, "Apa yang kau inginkan? Bisakah kau segera mengatakannya, Kaurin? Karena aku yakin, sebentar lagi kau akan segera tumbang."
Dahi Gerry berkerut tipis. Namun ia tetap menjaga agar wajahnya tak bereaksi secara berlebihan. Bahkan tak lama setelah itu, ia berangsur melukiskan sebuah seringai di bibirnya.
"Katakan, siapa yang kau bunuh, Dik?" titah Gerry sembari mencondongkan wajahnya ke arah Kaurin.
Kaurin menelan saliva dengan susah-payah. "A-aland Sudarmaji."
"Waaaah!" Niat untuk menahan reaksi berlebihan nyatanya tak bisa Gerry lakukan, lantaran jawaban Kaurin sungguh membuatnya terkesima. "Ayahmu? Kenapa? Kau ingin dijual lagi? Lalu setelah kabur di hari pernikahan kita, jangan-jangan kau dijual pada seorang Pak Tua, ya?"
"Tidak."
Kaurin menghela napas, menahan rasa sesak yang mulai menyiksanya. Rasa dingin juga belum berakhir, bahkan semakin parah saja. Setelan blouse dan celana jeans hitam yang ia kenakan juga belum kering sama sekali. Wajar saja, karena suhu di ruang tamu yang luas itu nyatanya malah lebih tak manusiawi. Sementara di luar, hujan masih belum berhenti.
"A-aku ingin menyelamatkan ibuku, meski aku tidak tahu apakah ibuku masih hidup atau sudah mati saat ini. A-aku ingin membunuh Ayah. Dan a-aku membutuhkan bantuanmu," ucap Kaurin.
__ADS_1
Gerry melangkah maju. Menghampiri Kaurin yang kian pucat. Detik berikutnya, ia melebarkan jaket musim dinginnya yang berbulu tersebut. Sebuah pakaian yang seharusnya hanya ia kenakan di negara bersalju itu, ia jadikan sebagai alat untuk mendekap tubuh Kaurin, bahkan termasuk kedua tangannya yang kekar.
Kaurin begitu terkejut atas sikap Gerry, tetapi ia tidak kuasa untuk melawan. Tubuhnya sudah terlalu lemas dan ia hampir tak sadarkan diri. Kehangatan ringan yang Gerry berikan nyatanya memang mampu membuat Kaurin tetap sadar.
"Membunuh ayahmu bukan sesuatu yang mudah. Meski aku lebih berkuasa darinya, dia tetap orang yang terpandang. Tapi bukan berarti aku tak bisa melakukannya, hanya saja, apa yang akan kau bayarkan padaku setelah aku melakukannya, Kaurin?" tanya Gerry memastikan.
Kaurin menelan saliva dengan susah-payah. "A-apa pun yang kau mau. Bahkan, aku berkenan jika aku harus menjadi pelayanmu tanpa bayaran selama seumur hidup."
"Aku bukan orang yang enggan membayar jasa orang lain, Dik. Aku tidak semiskin itu sampai tak mau membayar gaji pelayan."
"Ka-kalau begitu aku, a-aku ... ah, aku tidak tahu. Tapi aku sangat membutuhkan bantuanmu."
Gerry menyeringai, lalu mempererat dekapannya di tubuh Kaurin. "Cukup mengejutkan, seorang gadis mungil yang sempat kabur dari pernikahan, kini malah datang untuk mengemis bantuan pada mantan calon suamimu. Haha. Sejak awal aku memang tahu, kau adalah wanita yang tak biasa, Kaurin. Kau ini kerap nekat dan begitu berani ya?"
Kaurin terdiam.
"Biar aku beri saran, Kaurin, daripada membunuh ayahmu yang sama kejamnya dengan aku itu, bukankah lebih baik menyiksanya dalam keadaan hidup-hidup? Dia ingin sekali menjadi seorang pejabat. Akan lebih bagus, jika dia diberi harapan tinggi, lalu dijatuhkan sebelum dia mencapai puncak tertinggi. Biarkan dia hancur sendiri, dan aku atau kau tak perlu menodai tangan dengan darahnya."
Mata Kaurin yang sayu seketika melebar. Saran yang ia dengar sungguh ide yang bagus. Sekaligus penuturan yang membuktikan bahwa Gerry memang bukan orang baik. Gerry, si CEO bengis yang tak akan segan-segan menghancurkan seseorang yang dikehendakinya dengan cara tak manusiawi. Ya, contohnya ketika pria itu memperlakukan Kaurin yang sedang kedinginan dengan cara membiarkan Kaurin semakin menggigil tanpa mau mengatur suhu ruangan menjadi lebih stabil.
"Lalu bagaimana dengan ibuku?" tanya Kaurin.
Gerry menyeringai. "Tentu saja aku akan memberikan rumah lain dan pengamanan ekstra untuk ibumu," jawabnya.
"Jika kau benar-benar akan membantuku, lantas apa yang harus aku lakukan untukmu? Kau sudah teramat kaya, dan sudah pasti kau tak akan membutuhkan uangku yang tak seberapa."
Gerry terdiam cukup lama. Namun sama sekali tidak mau melepaskan dekapannya dari tubuh Kaurin.
Hingga beberapa detik kemudian, Gerry kembali berkata, "Sejujurnya, selain ingin menyiksa ayahmu hidup-hidup, keputusanku mengenai rencana untuk tidak langsung membunuhnya adalah agar kau tidak kabur, Kaurin. Mengingat kau ini gadis super nekat yang bisa kabur kapan saja layaknya di hari pernikahan kita."
"Maafkan aku, Gerry."
"Haaa ... akhirnya kau menyebut namaku juga ya, Dik? Hmm ... bagaimana jika kita kembali melanjutkan pernikahan kita yang sempat batal tersebut, Kaurin? Dan ...." Gerry mendekatkan bibirnya di telinga Kaurin. "Berikan seorang anak untukku."
__ADS_1
Kaurin mendengar syarat dari Gerry. Namun ia sudah tidak sanggup menahan rasa lemas yang sejak tadi menyerang tubuhnya. Sebelum sempat memberikan jawaban, Kaurin jatuh pingsan di dalam dekapan sang CEO Bengis.
***