Pernikahanku Dengan CEO Bengis

Pernikahanku Dengan CEO Bengis
Episode 3-Persetujuan Pernikahan Serta Syarat Gila yang Gerry Berikan


__ADS_3

Perlahan, sepasang mata Kaurin yang terpejam selama kurang lebih tiga jam itu mulai terbuka. Helaan dan embusan napasnya mengiringi kesadaran yang berangsur kembali. Pemandangan langit-langit ruangan yang indah, tetapi begitu asing, membuat Kaurin tak ingin berlama-lama untuk melebarkan kelopak netranya.


"Ini ...?" ucap Kaurin masih cukup bingung. Namun ia kemudian teringat tentang pertemuannya dengan Gerry belum lama ini.


Kaurin menelan saliva dengan susah-payah. Detik berikutnya ia memastikan kondisi tubuhnya. Dan apa yang terjadi? Pakaian basahnya telah diganti. Sebuah jubah mandi telah menutupi tubuhnya, ditambah selimut yang hangat dan tebal. Tercenung, Kaurin mencoba mengingat-ingat segala kejadian sebelum dirinya jatuh pingsan.


"Berikan anak untukku ...." Ucapan Gerry kembali terngiang di telinga Kaurin, dan membuatnya tak hanya sekadar melebarkan mata tetapi juga rahangnya.


"Tidak mungkin!" gumam Kaurin lalu cepat-cepat membangunkan diri. Ia memastikan lagi bahwa malam ini hanya sekadar mimpi. Namun cubitan yang ia berikan pada lengan tangan kanannya sungguh terasa sakit. Ini sebuah kenyataan. Gerry sudah ....


"Apa yang kau pikirkan sampai menjerit seperti itu, Kaurin?" Suara parau yang dingin terdengar di telinga Kaurin. Bersamaan dengan itu, sang pemilik suara tengah berjalan ke arah Kaurin sembari menenteng sebuah gelas berisikan kopi hitam legam.


Kaurin menatap nanar ke arah Gerry yang telah berganti pakaian. Bukan lagi jaket berbulu tebal yang menutupi tubuh kekarnya, melainkan kimono mewah dengan tali ikat di bagian pinggang. Bagian dada bidang pria itu sampai terekspos dan membuat Kaurin semakin overthinking.


Cepat, Kaurin menutupi tubuhnya dengan selimut. "A-apa yang telah kau lakukan padaku?!" tanyanya tegas dan keras, kendati begitu, ia benar-benar ketakutan. Sampai tak terasa sebulir air mata jatuh menodai pipi kirinya. "Apa yang kau lakukan padaku?!" Ia mengulangi pertanyaaan itu.


Gerry melongo. Namun ia segera menyadari hal yang mungkin telah Kaurin pikirkan. Menarik, begitu batinnya. Kemudian ia mendekati ranjang mewahnya yang masih disinggahi oleh si Nona Muda yang luar biasa tersebut.


Gerry menekankan telapak tangannya di atas ranjang bagian tepi, sementara tubuhnya agak membungkuk. Kepala sekaligus wajahnya condong ke arah Kaurin yang kembali gemetaran. Wanita muda itu tampaknya masih ingin menjaga kehormatan atau mungkin sekadar harga diri, kendati sudah memiliki suatu keinginan. Gadis super nekat yang masih memiliki sisi rapuh dan gengsi. Sungguh menarik!


"Menurutmu, apa yang telah aku lakukan, Kaurin?" Alih-alih memberikan jawaban yang jelas, Gerry justru bermain tarik ulur. Detik berikutnya, ia menyeringai jahil. "Bukankah kau sudah mengatakan akan membayar bantuanku dengan apa pun, tapi kenapa sekarang kau cemas dan tampak menyesal?"


Kaurin menelan saliva dengan susah-payah. "Ki-kita belum membuat kesepakatan dengan sah!" sahutnya.


"Hmm ...."


Gerry berangsur mengulurkan tangannya untuk membersihkan air mata Kaurin. Namun wanita cantik itu langsung membuang muka. Tak ingin kalah, Gerry menarik paksa dagu Kaurin, dan ia langsung menuntaskan rencana untuk menghapus buliran bening dari netra sayu wanita muda itu.


"Sudah aku katakan, aku menginginkan anak darimu sebagai sesuatu yang harus kau bayarkan," ucap Gerry.


Kaurin serasa sesak napas. "K-kau ... ugh, kau bahkan belum membantuku sama sekali! Tapi kenapa kau sudah berbuat hal itu padaku, hah?! Memangnya apa jaminan kau akan tetap membantuku, setelah melakukannya padaku, hah?!"

__ADS_1


"Hmm? Memangnya aku melakukan apa, Adik Kecil?" Gerry terkekeh.


Kebas, Kaurin terdiam cukup lama.


"Sepertinya pun tak ada rumor selain rumor bahwa aku seorang yang bengis, sekaligus seorang pembunuh. Kau ...." Gerry mencengkeram dagu Kaurin agak kasar. "Memangnya kau pernah mendengar kabar jika aku pernah melecehkan seseorang, termasuk juga seseorang yang sedang tertidur pulas? Tidak pernah, 'kan?"


Kaurin menepis tangan Gerry dari dagunya. "A-apa memang selucu itu dalam mempermainkanku?"


"Ah, aku tidak mempermainkanmu. Aku hanya ingin sekadar memastikan seberapa seriusnya kau, Kaurin. Tapi, ternyata kau masih penuh rasa takut dan gengsi ya." Gerry berangsur menarik tubuhnya dari hadapan Kaurin. Ia berdiri sembari melipat kedua tangannya ke depan. Wajah tampannya yang tadi terlihat sedang meremehkan Kaurin, kini tampak lebih sangar. "Bagaimana aku bisa memberikan bantuan pada anak labil sepertimu, Adik Kecil. Dan sekarang aku kembalikan padamu, apa jaminan kau tidak akan kabur atau mengkhianati kesepakatan setelah aku membantumu."


Kaurin kembali menelan saliva. Ia menundukkan kepala untuk menghindari kebengisan tatapan sang CEO yang memimpin banyak sekali bisnis menjanjikan di negara ini. "Bu-bukankah kau tidak akan membunuh ayahku agar aku tidak kabur? Kau memutuskan untuk menyiksanya saja, bukan? I-itu artinya kau bisa berbalik membantunya jika aku berkhianat."


"Ah, benar juga." Kini Gerry berkenan untuk tertawa. "Rupanya daya ingatmu jauh lebih kuat daripada otakku. Tapi, kau belum menjawab keinginanku untuk melanjutkan pernikahan kita yang batal, dan segera memberikan anak untukku, bukan? Kau keburu tidur, atau memang hanya ingin kabur."


Jengkel, Kuarin mendongak, berusaha untuk menghadapi mata tajam milik Gerry lagi. "Sialan! Aku pingsan, bukan tidur! Dan aku hanya kabur sekali! Selama ini aku selalu menghadapi segala situasi kok! Aku tidak se-pengecut itu, Tuan Besar!"


"Oh benarkah?" Gerry mendekati wajah Kaurin lagi. "Tapi kudengar kau dan ibumu berkali-kali kabur dari ayahmu, tapi selalu gagal."


Gerry terdiam setelah mendengar jawaban dari Kaurin. Sosok anak yang sungguh berbakti pada sang ibu, tetapi malah berencana untuk menyingkirkan sang ayah. Tentunya, Gerry mengerti perasaan Kaurin. Ada sesuatu yang membuatnya serasa senasib dengan wanita muda itu.


Sesaat setelah menghela napas, Gerry berkata, "Kau harus menuruti ucapanku. Pernikahan kita akan menjadi langkah pertama untuk menyelamatkan Rosaria, ibumu itu."


Mata Kaurin mengerjap-ngerjap. Ia juga tengah menggigiti bibir bagian bawah. Sementara matanya sibuk mengamati kamar yang super luas tersebut, jauh lebih luas daripada kamar di kediaman orang tuanya. Kamar itu ibarat kamar hotel presidential yang sangat lengkap. Ruang tamu, toilet, balkon, ruang kerja, dan pernak-pernik mewah lainnya ada di dalamnya.


Meski Kaurin terlahir sebagai seorang nona muda dari keluarga kaya, ia tetap takjub pada kekayaan Gerry yang tampaknya sudah tak terhingga. Level yang dimiliki oleh Gerry memang di atas rata-rata, sebagai seorang pengusaha nomor satu di negara ini. Bisnis yang Gerry jalankan tidak hanya pada satu bidang saja. Meski bengis, nyatanya pria itu selalu pintar dalam mengolah bisnis.


Dan jika Kaurin setuju untuk melanjutkan pernikahan yang pernah gagal, tentunya ia akan menyandang sebagai nyonya besar Loka Shakti. Ibarat seorang ratu di dinasti Loka Shakti yang akan disegani banyak orang, terutama para konglomerat lainnya. Namun di sisi lain, Kaurin juga menyadari. Status sebagai istri Gerry bukan sebuah posis yang membuatnya tetap aman, mengingat rumor gila mengenai Gerry. Tidak hanya harus menghadapi kebengisan Gerry setiap hari, tetapi Kaurin juga harus siap menjadi target para pembenci Gerry yang tentunya tak sedikit.


Gerry, daripada dianggap sebagai seorang pengusaha, sepertinya dia lebih pantas disebut sebagai seorang mafia. Tapi, aku tidak punya pilihan lain, batin Kaurin lalu menelan saliva.


Tak sabar menunggu kegemingan Kaurin, Gerry mengambil sikap duduk di tepian ranjang itu. Ia terus mengembuskan napasnya secara kasar agar Kaurin segera sadar dari lamunan. Meski masih bersikap lunak, mata Gerry masih enggan untuk menurunkan kadar ketajaman. Dan ketajaman matanya yang terus memberikan tatapan itulah yang pada akhirnya membuat Kaurin agar salah tingkah.

__ADS_1


"Berhenti melihatku, seolah aku ini adalah mangsa yang enak!" ucap Kaurin.


Gerry tersenyum tipis. "Kenyataannya memang begitu. Kau adalah mangsa yang tampak lezat, Kaurin. Asal kau tahu saja, aku sudah berusaha menahan diri untuk tidak menyerangmu sejak tadi. Kalau aku sampai lepas kendali, aku rasa aku sudah melakukan ritual untuk mendapatkan anak darimu," sahutnya.


"Hentikan!"


"Jawablah, Kaurin. Aku sudah tidak sabar lagi untuk menunggu keputusan darimu."


Kaurin menatap Gerry, ragu sebentar, kemudian berkata, "Ba-baiklah. Mari lanjutkan pernikahan itu."


"Bagus!" sahut Gerry antusias. "Itu artinya kau juga harus merelakan masa mudamu, Kaurin. Tinggalkan pendidikan yang sedang kau jalani sekarang. Dan kau harus sepenuhnya tinggal bersamaku setelah menikah, dan yang paling penting, jangan pernah berpikir untuk kabur lagi. Aku akan memastikan terlebih dahulu pengesahkan atas pernikahan kita, lalu menggelar acara pernikahan yang super mewah."


"A-aku setuju dengan semua ucapanmu, tapi pendidikan? Aku tidak bisa melakukannya! Aku masih seorang mahasiswa, dan aku tidak mau putus di jalan setelah apa yang aku lalui, bahkan sampai melawan Ayah hanya demi bisa sekolah lagi! Jangan melarangku unt—"


Gerry menutup mulut Kaurin menggunakan tangannya. "Turuti saja jika kau memang tidak mau kehilangan ibuku, Kaurin. Masalah pendidikan, kau masih bisa mendapatkan banyak ilmu dariku. Dan lagi, bukankah sudah cukup untuk menjadi Nyonya Loka Shakti daripada sok berjuang menjadi mahasiswa yang belum tentu akan mendapat pekerjaan?"


"Ta-tapi—"


"Kaurin, kau tidak bisa merusak syarat ini."


"Aku bahkan tak banyak memberikan syarat untukmu, Gerry!"


"Ah, akhirnya namaku bisa kau sebut lagi. Senang sekali mendengarnya." Gerry menyerangai. "Tapi, keputusanku sudah tidak dapat diganggu gugat. Jika kau menolak dan membatalkan kesepakatan ini, mungkin aku akan berbalik arah untuk membantu ayahmu."


Kesal, Kaurin benar-benar dipermainkan. "Gila! Kau benar-benar bengis!"


"Seharusnya kau tidak harus sekaget itu, jika telah memilih untuk memercayai rumor tentangku, Nona Muda."


Gemetar kembali menyerang tubuh Kaurin. Namun kali ini bukan karena rasa dingin, melainkan karena sedang marah besar. Sayangnya, semarah apa pun dirinya, ia tidak bisa melakukan apa-apa. Gerry-lah yang berkuasa. Pria itu bahkan sampai berani mendekap tubuh gemetar Kaurin lagi. Dan kali ini tak hanya sekadar dekapan, karena Gerry juga sampai membubuhkan kecupan di beberapa bagian wajah Kuarin. Sialnya, Kaurin malah tak berdaya. Powerless sampai membuatnya benar-benar lemas di pelukan sang CEO bengis.


***

__ADS_1


__ADS_2