Pernikahanku Dengan CEO Bengis

Pernikahanku Dengan CEO Bengis
Episode 6-Untuk Memenuhi Syarat Dari Nenek


__ADS_3

Sejujurnya, Aland masih tidak setuju jika Rosaria harus pergi dari rumahnya, dan ikut bersama Kaurin di mansion mewah milik Gerry. Meski mereka telah berjanji akan tetap menjaga nama baik pernikahannya dengan Rosaria agar kehormatannya tetap aman, kekhawatiran Aland terhadap pengkhianatan Rosaria masih belum sepenuhnya pudar. Belum lagi, jika Kaurin malah tak memedulikan dirinya lagi setelah melanjutkan rencana pernikahan dengan Gerry, yang sebelumnya memang sempat gagal. Hanya saja, untuk saat ini segala kekhawatiran yang Aland rasakan tak bisa ia atasi selain pasrah, lantaran Gerry sudah memberikan ancaman tak main-main.


"Meski begitu, aku tidak mau dikendalikan oleh tuan muda sialan itu. Untuk sekarang, dia boleh saja menjadi sosok yang terkuat, tapi nanti, hal itu tidak akan aku biarkan. Dia pikir aku tak punya senjata untuk mengatasi pengkhianatannya nanti? Cih, tentu saja aku punya. Tapi jika situasi masih aman dan mereka tetap menjaga kehormatanku, aku tidak akan mengeluarkan senjata pamungkas itu. Setidaknya, aku harus bersabar sampai Gerry memberikan dukungan sepenuhnya agar aku bisa menjadi pejabat," gumam Aland yang kini tengah duduk di kursi kerjanya, di ruangan pimpinan perusahannya sendiri.


Tak berselang lama, seseorang sekretaris cantik muncul di ruangan tersebut. Geya, salah satu sekretaris Aland selain Irfan. Pesona Geya begitu luar biasa. Selain cantik wajahnya, tubuhnya yang bak gitar Spanyol memang menjadi daya tarik paling kuat. Tak hanya pria di luaran sana yang tertarik pada wanita tiga puluh satu tahun yang bernama lengkap Geya Afarah Ratri tersebut, Aland Sudarmaji selaku sang pimpinan pun sampai bertekuk lutut.


"Tuan Besar, selamat siang," ucap Geya sesaat setelah sampai di hadapan Aland. Ia merundukkan badan, sampai sepasang bagian tubuhnya yang menonjol terlihat.


Aland menatap wanita cantik nan seksi itu, kemudian menghela napas. Kendati Geya sudah menunjukkan senyuman paling cantik sekalipun, masih tak ada ucapan yang keluar dari mulut Aland dalam beberapa saat. Hingga akhirnya, Aland memutuskan untuk bangkit dari duduknya. Ia berjalan di atas lantai marmer putih yang mengkilap dengan wajah yang begitu datar.


Namun, datarnya ekspresi di wajah Aland nyatanya tak sejalan dengan hasrat dari dalam dirinya. Pria baya itu seketika menarik diri Geya. Serbuan kecupan ia taruh wajah cantik Geya, sementara Geya malah tertawa-tawa manja. Dan tentu saja, hal selanjutnya akan jauh lebih intim.


Perselingkuhan mereka memang sudah berlangsung sejak lama. Keindahan tubuh dan cantiknya wajah Geya, menjadi tolok ukur pertama yang membuat Aland mengkhianati Rosaria. Sementara uang, posisi, koneksi, dan segala barang branded yang Aland tawarkan membuat Geya tak segan untuk menjadi wanita simpanan.


***


"Nenek?" Gerry seketika bangkit dari duduknya ketika Mariana—sang nenek, mendadak muncul di ruang kerjanya tersebut. Detik berikutnya, Gerry membungkukkan badan, kemudian kembali berkata, "Selamat datang sekaligus selamat siang, Nenek."


Mariana menghentikan langkah di ruang tamu di ruangan tersebut. Ia memiliki kursi yang membuatnya akan terlihat bak seorang ratu. Tak ada kata yang ia lontarkan ketika Gerry masih berjalan mendekatinya sekarang. Belum lama ini pun ia mendengar tentang kabar pernikahan yang akan Gerry rencanakan. Kepala pengawal di rumah Gerry memang telah menjadi mata-matanya selama ini. Gerry pun mengetahui akan identitas mata-mata tersebut, tetapi Mariana juga tahu jika Gerry tidak akan berani memecat orang tersebut. Sehingga selama ini, Gerry memang lebih banyak diam, atau mungkin bergerak secara diam-diam.


"Nenek dengar, kau mau menikah. Dua Minggu lagi?" tanya Mariana ketika Gerry sudah duduk di salah satu sofa.

__ADS_1


Gerry menghela napas. "Ah rupanya si Jeff tua itu sudah mengatakannya pada Nenek, ya. Lalu kenapa? Menikah dengan cepat, juga tak masalah. Bukankah Nenek mengkhawatirkan penerus, jika aku sebagai pimpinan tak kunjung menikah? Ah, atau Nenek ingin menghentikanku agar Giovy bisa merampas posisiku?"


Mariana tersenyum tipis. "Akan lebih baik jika kau menyuguhkan secangkir teh terlebih dahulu untuk nenek tua ini, Gerry."


"Kurasa Nenek tak akan singgah lebih lama, jadi buat apa? Teh yang aku sajikan, hanya akan menjadi sia-sia seperti sebelumnya."


"Ah, kau tetap ketus dan dingin seperti biasanya ya, Nak?" Mariana terkekeh pelan. "Sebagai seorang calon suami bagi putri orang lain, seharusnya kau membenahi perangaimu terlebih dahulu. Menjadi seorang suami juga membutuhkan sikap yang hangat."


"Aku hanya menginginkan anak dari pernikahan itu, Nenek."


Kali ini Mariana menghela napas. Senyumnya menghilang. Perasaannya yang sebelumnya cukup tenang, kini berangsur gelisah. Cucu kandung keduanya sudah benar-benar berubah. Rumor bengis dan kejam sudah sepenuhnya menjadi fakta. Tak ada lagi Gerry yang murah senyum. Sejak kejadian saat itu, segalanya telah berbeda.


"Calon istrimu masih orang yang sama? Apa jaminan dia tak akan kabur lagi seperti hari H pernikahan kalian yang gagal?" tanya Mariana.


"Aku sudah menyekap ibunya dalam sangkar emasku," sahut Gerry. Detik berikutnya, ia justru menunjukkan seringai tajamnya. "Gadis itu tak akan bisa kabur, selama ibunya ada di tanganku."


Raut wajah Mariana semakin menunjukkan kegelisahan. "Apa harus sampai seperti itu, Gerry?"


"Gara-gara rumor itu, jarang ada wanita yang bersedia menikah denganku. Kalau pun ada, aku tak pernah cocok dengan mereka, Nenek. Tapi berbeda dengan gadis ini. Aku menyukainya."


"Menyukainya?" Dahi Mariana mengernyit.

__ADS_1


Gerry tersenyum sinis. "Karena dia akan lebih muda diatasi, dan tampaknya bisa membuatku tidak muda bosan. Dia adalah mainan yang akan memberikan kesenangan untukku. Dan dia juga yang akan membantuku mendapatkan keturunan untuk memenuhi syarat yang Nenek berikan, sekaligus untuk menghentikan ambisi Giovy yang gila sekaligus tak masuk akal tersebut. Setelahnya, Nenek harus menepati janji untuk sepenuhnya memberikan perusahaan ini padaku secara sepenuhnya. Karena mau bagaimanapun, aku yang lebih mampu mengelola dan menjaga perusahaan ini, Nenek."


Mariana terdiam. Namun lubuk hatinya menyetujui pengakuan Gerry. Giovy, cucu pertamanya sekaligus juga kakak kandung Gerry, sama sekali tidak kompeten. Selain kerap terlibat kekacauan atau kriminalitas, baik pertengkaran di bar, obat-obatan terlarang, sampai berkali-kali melakukan penggelapan dana, kemampuan Giovy dalam mengolah bisnis benar-benar nol besar.


Detik berikutnya, Mariana mengembuskan napasnya secara kasar. Kemudian berangsur bangkit dari duduknya. Sembari menatap Gerry, ia berkata, "Nenek punya satu syarat lain."


"Apa?" Gerry seketika bangkit. "Apa lagi yang Nenek inginkan? Kenapa terus mempersulit aku? Perusahaan ini akan hancur jika Nenek tetap bersikukuh untuk menyerahkannya pada si cucu pertama Nenek yang gila itu!"


"Jangan jadikan calon istrimu sebagai pabrik anak, Gerry. Dan perlakukan dia dengan baik. Jika dia mampu menarik minatmu akan seorang wanita, Nenek rasa, dia memang bukan wanita biasa. Jadi, setidaknya jangan pernah memperlakukannya dengan buruk."


"Cih." Gerry tersenyum sinis. "Orang yang selalu membela dan melindungi apa pun yang dilakukan oleh Penjahat itu, memangnya tahu apa tentang memperlakukan seorang manusia dengan baik? Aku rasa, aku jauh lebih paham akan hal itu daripada Nenek. Kebengisanku hanya untuk mereka yang sangat menggangguku, jadi, meski gadis itu adalah calon pabrik untuk anakku, aku bisa memperlakukannya dengan baik."


"Setidaknya, pegang ucapanmu, Gerry. Karena mau bagaimanapun, kau juga bukan manusia yang benar-benar bersih. Rumor yang beredar tentang dirimu, kini malah benar-benar ada pada dirimu, Nak." Mariana menelan saliva sembari terus menahan rasa jengkelnya. "Dan jika kau tidak mau memahami Nenek, setidaknya jangan sok tahu tentang Nenek."


Tanpa banyak kata lagi dan tanpa memberikan kesempatan pada Gerry untuk kembali menyahuti, Mariana bergegas keluar dari ruang pimpinan yang dulunya selalu dihuni oleh mendiang suaminya. Namun kini, cucu keduanya malah ada di sana sebagai raja. Sebagai sang penguasa dengan sekumpulan ego dan perangai yang buruk. Gerry Loka Shakti sudah berubah, itu poin yang sampai saat ini Mariana sesali.


Sepeninggalan sang nenek, Gerry kembali menjatuhkan tubuhnya di sofa. Helaan atau embusan napasnya terdengar saling bergiliran. Hidup sebagai seorang pimpinan yang hampir saja menang sebagai penguasa yang sah, nyatanya tak membuat Gerry bisa tersenyum lebar. Meski sebenarnya ia tak akan jatuh miskin jika tidak berada di posisinya saat ini, lantaran ia pun telah memiliki berbagai investasi, ia tetap tak mau mundur. Ada alasan besar yang membuatnya mengambil jalan tersebut, walaupun ia juga harus menuruti segala syarat yang sang nenek berikan.


Yah, semoga saja, Kaurin memang wanita yang subur. Sehingga anak yang Gerry inginkan untuk memenuhi syarat tersebut bisa segera hadir dan membuat segala keinginan Gerry menjadi sukses.


***

__ADS_1


__ADS_2