Pernikahanku Dengan CEO Bengis

Pernikahanku Dengan CEO Bengis
Episode 7-Fitting Pakaian Pengantin


__ADS_3

Agenda fitting pakaian pengantin, sialnya, agenda ini tetap tak bisa Kaurin hindari di siang hari ini. Padahal ia sudah berencana untuk menggelar perpisahan sekaligus memberikan undangan pernikahan dengan teman-teman sekampusnya, tetapi Gerry malah membuat rencana tersebut menjadi gagal total. Memang benar, tanpa ke kampus pun mungkin Kaurin masih bisa menemui ketiga teman karibnya, tetapi di lain sisi, ia juga tak yakin dengan kemungkinan tersebut. Hal itu karena ketika Kaurin harus menjadi Nyonya Loka Shakti alias istri Gerry, Kaurin harus serba manut pada calon suaminya tersebut. Dan bisa saja, Gerry melarangnya keluar dari rumah setelah menikah nanti.


Sembari cemberut, Kaurin menatap kaca persegi panjang di hadapannya di dalam ruang ganti tersebut. Gaun yang ia kenakan saat ini sudah gaun kelima, gaun yang sangat cantik sama seperti sebelum-sebelumnya, dan mungkin hanya beda model saja. Namun sampai saat ini, tak ada satu pun model yang Gerry suka, sehingga membuat Kaurin harus bolak-balik ke ruang ganti.


"Mafia sialan itu, ck, andai aku terlahir di keluarga harmonis, pastinya aku tidak perlu menjual diriku seperti ini. Sialan!" gerutu Kaurin yang sudah benar-benar kesal. "Mamaaa, aku lelah!"


Rasanya mau menangis. Namun jika satu air mata saja jatuh, sudah pasti Gerry akan tertawa terbahak-bahak. Dan Kaurin tidak mau hal itu sampai terjadi. Meski harga dirinya sudah tercoreng setelah ia mengemis bantuan, untuk saat ini ia tetap tidak mau lagi mempermalukan dirinya. Gerry tak boleh meremehkan dirinya lebih dari sebelumnya.


"Hei! Kaurin!" seru Gerry yang mendadak muncul dari balik tirai ruang ganti.


Seketika itu juga, Kaurin sampai berjingkat karena kaget bukan kepalang. Padahal para petugas butik yang sebelumnya telah membantunya berganti pakaian sudah ia pinta untuk keluar duluan, tetapi mengapa ia sampai lupa meminta mereka untuk melarang Gerry memasuki ruang ganti tersebut?


"Hei, sudah gila ya?! Aku belum selesai!" omel Kaurin sesaat setelah menoleh ke arah Gerry yang sudah kurang ajar.


"Apanya yang belum selesai? Bahkan kau sudah memegang buket bunga. Mau menipuku? Seharusnya kau belajar dulu. Selain itu, untuk apa terlalu lama berada di dalam ruangan ini, setelah para petugas kau usir keluar, hah?! Bisa tidak sih, lebih menghemat waktu dan lekas keluar?" ucap Gerry yang tak kalah emosi. Mau bagaimana lagi, hari libur ini tetap bukan hari santai. Setelah agenda fitting kali ini pun, ia memiliki jadwal lain. Bukan perihal pekerjaan melainkan rencana untuk mempertemukan Kaurin dengan neneknya.


"Jangan banyak membantah, keluar sekarang!" bentak Gerry galak.


Kaurin mendengkus kesal. "Iya, iya! Hiiiih! Aku ganti pakaian dulu, toh, kau juga tidak akan menyukai gaun ini, 'kan?"


Gerry terdiam, kemudian mengamati Kaurin dari ujung kepala hingga kaki wanita itu. Ia menelan saliva dengan susah-payah. Gaun jenis backless dress yang membuat punggung Kaurin terekspos.


Kenapa aku merasa panas begini? Punggung kurus itu, tidak mungkin membuatku sampai harus deg-degan begini, bukan? Batin Gerry yang kemudian menelan saliva lagi.


"Tidak! Pakai gaun yang pertama saja! Itu jauh lebih jelek!" ucap Gerry lebih tegas.


Kaurin membelalakkan mata tak percaya. "Waaah! Pria gila! Mafia gila!" teriaknya kesal. "Kalau pada akhirnya akan memintaku memakai gaun pertama, kenapa harus sampai membuatku susah-payah begini, hah? Ini gaun kelima dan harus aku pakai dengan segala keribetan lho, Tuan CEO Biadab!"

__ADS_1


"Sudah kubilang, jangan membantah, Kaurin! Kau harus ingat kesepakatan kita, Adik Kecil. Kau harus menuruti semua ucapanku, tanpa terkecuali! Kalau tidak—"


"Ya, ya, ya! Pergi sana! Aku mau ganti pakaian!"


Tiba-tiba, seringai licik terlukis di bibir Gerry. Ide konyolnya mendadak muncul setelah harga dirinya terasa tercoreng lantaran Kaurin terus berkata keras padanya. Bagaimana jika ia mempermainkan nona muda—si tukang kabur itu? Bukankah akan menarik?


Detik berikutnya, Gerry justru memasukkan seluruh tubuhnya ke dalam ruang ganti itu. Ia menutup tirai tanpa memedulikan keterkejutan yang dirasakan oleh Kaurin.


"Hei, apa yang kau lakukan? Kau bilang aku harus cepat keluar, tapi kenapa kau malah masuk? A-apa yang akan kau lakukan?" Panik, Kaurin mempertanyakan.


Gerry menyeringai. Dan tanpa banyak basa-basi, ia mendorong tubuh Kaurin, hingga punggung Kaurin terjebak di antara dinding dan dirinya. Gemetar menyerang nyaris seluruh tubuh wanita muda yang cantik itu. Seolah-olah Kaurin memang belum pernah melakukan sesuatu yang merujuk pada kegiatan dewasa.


"Ka-kau, kau tidak berniat untuk melecehkan aku, 'kan?" ucap Kaurin dengan suara bergetar.


Gerry mendekati wajah Kaurin. "Bukankah untuk membuat seorang anak, kita harus ada sentuhan fisik dulu, Nona?" tanyanya.


Dengan kasar, Kaurin menendang betis Gerry, sampai pria itu tersentak hingga seketika mundur menjauhi dirinya. Dan tentunya, Gerry yang mendapat serangan mendadak harus meringis kesakitan. Tulang kering bagian betis memang akan terasa sangat sakit jika ditendang secara brutal. Bahkan meski dirinya dianggap sebagai CEO bengis sekalipun, Gerry tetaplah manusia yang akan meringis ketika ditendang sekeras itu.


"Kaurin!" bentak Gerry, ketika dirinya sendiri masih belum bisa berdiri secara benar. "Kau mau main-main denganku ya?"


Kaurin menelan saliva dengan susah-payah. Ketakutan yang sebelumnya merujuk pada kemungkinan adanya pelecehan, kini lebih mengarah pada kemarahan Gerry. Ia khawatir jika Gerry membatalkan kesepakatan pernikahan dan malah berbelok membantu Aland.


"Ma-maaf, lagi pula, ke-kenapa kau berbuat semesum itu? Aku kan kaget! Me-meski aku sudah menjual diriku untuk kau jadikan sebagai seorang istri, aku ini bukan wanita murahan tahu! Aku bahkan belum pernah berciuman!" ucap Kaurin sembari mengusap tengkuk belakangnya. Karena selain takut, nyatanya ia juga sangat malu ketika harus mengakui betapa cupunya dirinya.


Meski seharusnya kehormatan yang selalu Kaurin jaga adalah nilai utama bagi seorang wanita, Kaurin yakin kondisi dirinya yang nol pengalaman dalam percintaan adalah sebuah kenyataan konyol yang wajib untuk Gerry tertawakan.


Gerry terkejut, tentu saja. Memangnya mana ada anak gadis orang kaya masih begitu polos soal asmara? Bukankah seharusnya Kaurin kerap berada di klub malam, lalu clubbing hingga fajar tiba? Namun, otak Gerry juga tak sebodoh itu untuk memercayai anggapannya sendiri. Ia langsung teringat akan reaksi dan semua ucapan Kaurin ketika gadis itu habis pingsan. Kaurin sudah pasti berkata jujur.

__ADS_1


Lagi pula, hidup di bawah tekanan Aland yang kejam, yang juga selalu berusaha untuk mengendalikan Kaurin, akan menjadi alasan masuk akal mengapa Kaurin terbilang cupu dan tidak seperti gadis kaya lainnya. Well, tentunya tak semua gadis kaya kerap melakukan party panas di diskotik. Namun gaya hidup sebagian besar dari mereka, apalagi di kota begini, tentunya tak akan jauh-jauh dari kemerlap malam, bukan? Dan untungnya, Kaurin berada di pihak gadis kaya yang hidup dengan menjaga harga diri.


"Cepatlah! Nenek sudah menunggu kita!" ucap Gerry yang akhirnya memutuskan untuk mengalah saja.


Dahi Kaurin mengernyit. "Nenek?" tanyanya bingung.


"Tak usah banyak tanya, lakukan saja hal yang seharusnya kau lakukan sekarang, Kaurin. Tanpa aku jawab pun, nantinya kau akan tahu sendiri."


"Iya, Tuan Besar."


"Ck." Gerry menatap Kaurin dengan kesal. "Tak bisakah kau menyebut nama calon suamimu ini, hah?"


"Tidak mau!"


"Setelah menjadi pengemis, sekarang kau kembali bersikap kurang ajar ya?"


"Sudahlah, keluar dulu sana. Katanya aku harus melakukan hal yang seharusnya aku lakukan, 'kan?"


"Ya! Lakukan dengan cepat. Satu menit harus kelar."


"Kau gila? Kau pikir gaun ini—"


Gerry menyeringai dan segera keluar, lalu menutup tirai sekasar mungkin. Ia kemudian duduk di salah satu sofa yang tersaji di sana. Tak lagi memikirkan tentang sikap Kaurin yang sudah kembali ke mode awal, kini benak Gerry mulai memikirkan tentang Mariana. Tentu saja, di makan siang nanti tak hanya sekadar ada Mariana saja, melainkan orang yang paling ia benci akan turut nimbrung di acara makan siang tersebut.


"Aku yakin, dia akan menargetkan Kaurin setelah aku memperkenalkan Kaurin secara resmi sebagai calon istriku. Nenek ... kenapa masih saja berbaik hati padanya?" gumam Gerry kemudian menghela napas dalam-dalam.


Dan tak berselang lama, akhirnya Kaurin muncul dengan ekspresi di wajah yang konsisten murung.

__ADS_1


***


__ADS_2