
Sepuluh menit berlalu, tetapi kebrutalan Aland pada Rosaria sama sekali belum kelar. Verbal dan fisik, pria itu terus menyerang istrinya tanpa ampun. Padahal sisa siksaan di tubuh Rosaria tadi malam belum membaik sama sekali. Namun, si Brutal Aland sungguh tak mau memahami. Nuraninya seolah sudah benar-benar mati. Keinginannya untuk mendapatkan dukungan sempurna dengan menjual anaknya sebagai istri kedua konglomerat menjanjikan, sudah tak dapat diganggu-gugat. Kaurin yang hilang membuat Aland tak bisa menurunkan kadar kemarahan, dan Rosaria tetap menjadi samsak tinju favoritnya. Oh! Kejam!
"Ayah! Hentikaaan!" Yang ditunggu-tunggu pun datang. Kaurin menjerit dari balik pintu kamar yang masih terbuka lebar. Sejak mendapat kabar dari salah satu pelayan rumahnya, mengenai keadaan ayah dan ibunya, ia langsung berlari cepat. Ia meninggalkan Gerry yang datang bersamanya, sekaligus sebagai sosok yang berkenan untuk mengantarnya pulang. Yah, tentunya setelah kesepakatan pernikahan telah dibuat dengan beberapa syarat dari satu sama lain.
"Anak edan kau, Kaurin!" Sesaat setelah menatap Kaurin, Aland berkata demikian. Ia meninggalkan Rosaria yang terkapar dan sudah berjalan ke arah Kaurin. Sudah pasti, ia ingin memberikan satu pukulan keras di tubuh sang putri sebagai salah satu bentuk hukuman yang ia kehendaki.
"Ayah yang gila!" Kaurin memberikan jawaban menohok. Wajahnya sudah basah kuyup oleh air mata yang berderaian. Ia pun sudah memasuki kamar ibunya dengan kegeraman yang jauh lebih besar, melebihi ketakutan yang ia rasakan terhadap ancaman kekerasan yang mungkin akan Aland berikan.
"Kauriiiin! Pergilah, Nak! Jangan pulang!" ucap Rosaria sekuat tenaga, berharap agar suara paraunya tetap didengar oleh sang putri.
Aland sudah siap mengangkat tangan yang hendak ia jatuhkan di pipi putrinya itu. Kaurin memang pantas untuk dihukum, begitu pikirnya sekarang. Hingga tak lama kemudian, tangan kekar dan kasar milik Aland mulai mengayun pada wajah cantik Kaurin.
"Jangan sakiti gadis itu, Pak Aland," ucap seseorang. Yang adalah Gerry. Sosok pria tampan dan calon menantu Aland di satu bulan yang lalu. Gerry berjalan dengan tenang, setenang suara yang baru saja keluar dari bibirnya. Senyumannya yang tipis tampak terlukis. Sosok tenang yang sebenarnya malah membuat Aland kaget bukan kepalang.
Mata Aland masih terbelalak. Namun mulutnya lantas berkata gelagapan, "Tu-tuan Ge-Gerry?"
Langkah Gerry terhenti tepat di samping Kaurin. Detik berikutnya, ia dan wanita muda itu saling menukar tatapan. Senyuman Gerry tak pudar, tetapi Kaurin enggan untuk memberikan balasan serupa. Calon istrinya itu tetap bungkam dan membiarkan air mata terus berderaian. Kemudian, Gerry melirik ke belakang tubuh Aland. Pemandangan tak nyaman membuatnya berdecak sembari menggeleng-gelengkan kepala. Ibu mertuanya sangat babak belur. Rupanya, kekerasan yang Aland lakukan memang sudah terlalu brutal.
Meski menyandang status sebagai CEO bengis sekalipun, nyatanya Gerry paling tidak bisa menyakiti wanita lemah. Baginya, bertindak kasar pada makhluk lemah, hanyalah tindakan pengecut ataupun pecundang. Dan Aland lebih rendah daripada pengecut mana pun.
__ADS_1
"Aku sama sekali tidak habis pikir dengan tindakan Anda, Pak Tua, sungguh di luar dugaan," ucap Gerry sarkastik. Detik berikutnya, ia menarik pundak Kaurin. "Tapi aku rasa ini terakhirnya kau melakukan hal sebrutal itu, Pak Tua. Sebab aku, sebagai calon suami Kaurin sekaligus anak mantu Nyonya Rosaria tidak akan membiarkan kau bertindak semaunya pada mereka."
"A-apa?" ucap Aland, pun Rosaria dengan suara lebih pelan.
"Calon suami Kaurin? A-anda?" lanjut Aland mempertanyakan. "Bu-bukankah Anda sudah tidak mau dengan Kaurin, lantaran anak itu pernah kabur?"
"Sekarang situasinya sudah berbeda, Pak Tua. Kami akan menikah." Gerry tersenyum. "Dan aku akan mendukungmu secara sepenuhnya, sebagai calon pejabat daerah. Benar, 'kan, Kaurin?"
"Kaurin?" Rosaria mencoba bangkit. Ia lalu berjalan dengan sempoyongan. Ia menangis dan berharap agar Kaurin mengatakan tidak untuk ucapan Gerry. Meski Gerry masih tergolong muda, tetapi rumor mengenai Gerry yang sama gilanya dengan Aland, sungguh membuat Rosaria tak setuju jika putrinya menikah dengan pria muda itu.
Kaurin menunduk, menghindari tatapan mata sang ibu. Kedua telapak tangannya saling bertaut. "Iya, Ayah, Ibu. Kami sepakat akan menikah satu minggu lagi."
"Waaaah!" Aland begitu takjub.
Rasa senang tak dapat Aland tepis dari dalam hatinya. Rezeki nomplok sudah di depan mata. Setidaknya, upayanya untuk menjadikan Kaurin sebagai istri kedua seorang pria tak jadi nyata. Dan meski Gerry yang jauh lebih muda darinya memang cenderung lancang sekaligus kurang ajar, lantaran tak punya tata krama, tak apa. Posisi Gerry sebagai penguasa segala bisnis, pastinya bisa membantu Aland untuk mencapai tujuan.
"Tapi, ada syaratnya. Ibu harus ikut denganku, Ayah!" tegas Kaurin sesaat setelah mengangkat kepalanya. "Aku tidak peduli urusan Ayah dengan Gerry, tapi setelah aku menikah nanti, selain menjadi istri Gerry, aku juga ingin melindungi ibu dari monster seperti Ayah!"
"Lakukan saja, Kaurin. Tapi Ayah juga punya syarat. Kau juga harus, tidak, tapi termasuk Tuan Gerry, kalian harus menjaga nama baik pernikahan Ayah dan ibu kalian," sahut Aland.
__ADS_1
Gerry menyeringai. "Aku harap Pak Tua tidak terlalu lancang, sampai berani mengajukan syarat padaku dan calon istriku," ucapnya.
Aland menelan saliva dengan susah-payah. Ia terdiam dan memilih untuk tidak menyahut. Namun ia tahu, Gerry juga tak akan segegabah itu untuk menolak syarat yang ia ajukan. Gerry membutuhkan seorang istri, dan Kaurin satu-satunya wanita yang mungkin mau menikah dengan Gerry yang dipenuhi oleh banyak rumor. Dan mau tidak mau, Gerry pasti akan mematuhi syarat dari Aland, agar tidak kehilangan sang calon mempelai untuk kedua kalinya.
Aland menundukkan kepala, kemudian menyeringai. Sempurna, batinnya.
Di sisi lain, Kaurin lebih memilih untuk tidak mendebat ucapan ayahnya lagi. Soal ayahnya, biarlah Gerry yang mengurus. Ia harus menghadapi ibunya sendiri. Memberikan penjelasan dan persetujuan agar semuanya bisa berjalan lancar. Dan supaya ibunya juga lekas aman. Tak peduli pendidikan yang harus Kaurin tinggalkan, masa mudanya yang akan berakhir, dan segala bahaya yang nantinya akan mengintai, Kaurin sudah benar-benar memantapkan keputusan. Ia yang tidak mampu melawan ayahnya, siap menjadi istri Gerry dengan segala risiko yang akan ia terima nantinya.
"Ayo, Ibu, kita ke kamar Kaurin dulu," ucap Kaurin sembari membantu Rosaria untuk berjalan.
"Kaurin ...? Bagaimana bisa?" tanya Rosaria, memohon penjelasan.
Kaurin menelan saliva. "Aku akan menjelaskan semuanya."
"Nyonya tenang saja, aku akan memperlakukan Kaurin dengan baik kok. Aku tidak akan sekejam Pak Tua ini, meski yang orang tahu aku ini memang bengis sekali hehe," celetuk Gerry dengan santai.
Rosaria melirik ke arah Gerry. Ah, bagaimana ia bisa memercayai Gerry yang sama sekali tidak menunjukkan keseriusan tersebut? Terlihat sekali jika Gerry memang hanya ingin bermain-main saja. Rosaria benar-benar tidak menerima rencana pernikahan yang malah akan berlanjut, setelah sebelumnya sukses Kaurin batalkan sendiri. Namun di sisi lain, tampaknya keputusan yang Kaurin ambil memang sudah tidak dapat diganggu-gugat sama sekali.
***
__ADS_1