Petualangan Cinta Menujuh Halal

Petualangan Cinta Menujuh Halal
Pernyataan Fadil


__ADS_3

"Aku tidak tau, aku hanya mampu mengikuti jalan takdir sang illahi Rabbi, maka jika dia sudah berkata dialah yang akan menjadi imam dalam hidup ini, aku hanya harus bisa menerimanya dengan lapang dada,"


~ Syaqila Humaira ~


**• Happy Reading •**


Syaqila tampak berjalan pelan menuju kamar mandi untuk mengambil air wudhu, waktu menunjukan pukul 01:28 Syaqila berencana untuk menunaikan shalat tahajud, menceritakan semua masalah hidupnya pada sang khalik di sepertiga malam.


Setelah keluar dari kamar mandi Syaqila langsung mengambil perlengkapan shalat dari dalam Almari bewarna hijau miliknya. Setelah semua siap, Syaqila langsung memulai shalat dengan khusyuk, seiring hujan yang menyapa di tengah malam.


Syaqila menadahkan tangannya, meminta ampun atas segala dosanya dan meminta jawaban atas segala masalah hidup yang tengah dia hadapi saat ini, termasuk perkara khitbah dadakan yang terjadi sore tadi.


"Aamiin,"


Setelah mengaminkan doanya Syaqila melanjutkan nya dengan dzikir hingga waktu shubuh tiba.


🕊🕊🕊


Setelah melakukan shalat subuh tadi, Syaqila tengah kerepotan mengurus sang Adik Safira. Yang seperti biasa meminta bantuan Syaqila untuk mengikat rambutnya, namun tiba-tiba gawai milik Syaqila berdering wanita itu langsung beranjak untuk mengambil gawai yang terletak di atas nakas.


"Bentar ya Fir," Ucap Syaqila sebelum beranjak, setelah di depan nakas, dia mengambil gawainya dilihatnya nomor yang tidak memiliki nama, atau tidak ada di kontak Syaqila.


"Nomor baru," monolog Syaqila, dengan ragu dia mengangkat telpon dari nomor baru itu.


"Halo... Assalamualikum ini siapa ya?" Ucap Syaqila.


"Wa'alaikumsalam, hehe seharusnya yang salam saya bukan kamu ya,"


Syaqila mengamati suara dari penelpon itu, dia seperti pernah mendengarnya, "Kamu gak kenal saya? Baik lah saya Adrian orang yang melamarmu kemarin, apa sudah kenal?" Lanjut orang itu, mata Syaqila membuat sempurna, dari mana Adrian mendapatkan nomor nya? Setahunya dia tidak pernah memberikannya pada cowok itu.


"Siapa Kak?" Tanya Safira yang penasaran dengan perubahan sikap Syaqila.


Tanpa menjawab pertanyaan Safira, Syaqila langsung melanjutkan obrolan tiba-tiba nya dengan Adrian.


"Dari mana kamu dapat nomor saya?!" Nada bicara Syaqila terkesan dingin dan menekan, membuat Adrian tersenyum tipis dari sebrang sana.


"Santai saja lah kalau ngomong, saya dapat nomor kamu itu bukan urusan kamu, yang jelas saya akan sering menelpon kamu," Ucap Adrian, Syaqila melebarkan pupil matanya, rasanya tak habis pikir dengan cowok yang bernama Adrian ini.


"Gak jelas!" Setelah mengatakan itu, Syaqila langsung menutup telpon itu tanpa aba-aba. Membuat Adrian merasakan sesuatu, bukan marah tetapi rasa penasaran yang tiba-tiba hadir dalam hatinya.


"Galak, dan entah kenapa saya suka," Monolog Adrian, namun dia tersadar dan segera mengusap wajahnya kasar.

__ADS_1


Sementara itu, Syaqila tampak kesal dia meletakan Phonselnya dengan sedikit membanting membuat Safira kebingungan akan berubahan sikap sang kakak.


"Kak Sya, Kenapa?" Tanya Safira, Syaqila beristigfar dalam hati, entah kenapa dia sangat emosi bila berbicara dengan Adrian.


"Gakpapa kok Fir, yaudah yuk keluar pasti Putra udah nunggu," Setelah mengatakan itu, Syaqila langsung keluar kamar tanpa menunggu jawaban dari Safira.


"Kak Syaqila kenapa sih?"


***


Syaqila berjalan dengan tergesa, Safira yang di belakangnya masih heran dengan sikap sang kakak, bahkan Syaqila lupa mengambil phonselnya, tapi untung saja Safira langsung mengambilnya tadi dia akan memberikannya setelah ada di ruang tengah.


Namun baru beberapa saat gawai Syaqila berdering, Safira langsung mengecek siapa yang menelpon sang kakak, Tertera nama Mas Fadil disana Safira segera mengangkatnya dan memberikan pada Syaqila.


"Kak Sya, Mas Fadil," Ucap Safira, Syaqila menghentikan langkahnya dan mengambil gawai yang di berikan Safira.


"Kamu tunggu kakak ya," Safira mengangguk mengikuti instruksi Syaqila, lalu berjalan di luan untuk menemui Putra.


"Halo, Assalamualikum Mas Fadil, kenapa ya?"


"Wa'alaikumsalam, kamu kerja hari ini?" Tanya Fadil dari sebrang sana.


"Iya Mas, emang kenapa ya?" Kini giliran Syaqila yang menanyakan pertanyaan pada sahabat masa kecil nya ini.


"Hmm,"


"Harus mau ya Sya, saya mau bertanya perihal penting sama Kamu. Saya langsung kesana, Assalamualikum, " Tanpa aba-aba Fadil langsung menutup sambungan telpon dengan Syaqila.


"Wa'alaikumsalam, Mas," Hanya itu yang bisa di jawab oleh Syaqila. Dia kembali mengingat kejadian kemarin sore, apa Fadil ingin menanyakan tentang hal itu?


"Kak Sya!" Teriak Safira, Syaqila langsung tersadar dari lamunannya. Dan berjalan keruang tamu.


"Fira. Kamu bareng Putra aja ya, soalnya Mas Fadil bilang bakal jemput, gakpapa ya?"


"Iya Kak, gakpapa. Tu itu kayaknya Mas Fadil deh," Ucap Safira sambil melirik kearah luar rumah, benar saja sudah ada Fadil yang menunggu dengan mobilnya di luar sana.


"Yaudah aku pergi dulu ya, bilang sama Umi aku diluan gak sempat sarapan. Nanti aja di sana," Syaqila tersenyum tipis, Uminya sedang memasak di dapur dan Abinya tengah bekerja, seharusnya Syaqila membantu Uminya memasak hari ini. Namun Fadil sudah terlebih dulu datang.


"Iya Kak, nanti aku kasih tau Umi," Jawab Safira sambil mengecek tas miliknya, memeriksa apakah buku sekolahnya sudah lengkap atau tidak.


"Yaudah Kakak dilua ya, Assalamualikum, " Setelah mengatakan itu Syaqila langsung melesat menghampiri Fadil yang dari tadi menunggu.

__ADS_1


"Wa'alaikumsalam, Kak," Jawab Safira dan Putra dengan kompak.


Syaqila tampak tergesa setelah sampai di depan mobil sudah ada Fadil yang menunggunya di sana, Fadil dengan sigap membukakan pintu untuk Syaqila. Hal ini biasa di lakukan, setelah itu Fadil mulai melajukan kuda besi miliknya dengan kecepatan sedang.


Hening sesaat tidak bahan pembicaraan, sampai Fadil sendiri lah yang memulainya, "Sya, tadi kemarin ada yang datang kerumah kamu dan lamar kamu ya?" Tanya Fadil dengan nada dingin. Syaqila menoleh dan menatap wajah cowok itu, tidak biasanya Fadil berbicara dingin seperti tadi.


Dengan sedikit ragu Syaqila mulai bersuara, "Iya Mas. Tapi herannya aku sama sekali tidak mengenalnya," Jawab Syaqila dengan mata yang lurus kedepan.


"Trus, kamu jawab apa? Kamu terima?"


Syaqila berbalik menatap wajah Fadil "Belum kejawab Mas, dia kasih waktu seminggu. Dan sekarang aku bingung,"


"Kumohon jangan terima!" Syaqila melongo dengan perkataan Fadil barusan.


"Maksudnya Mas Fadil?"


Fadil tampak menggelengkan kepalanya pelan,"Gak ada maksud kok," Ucap Fadil cepat. Syaqila tampak curiga dengan perilaku Fadil.


"Mas Fadil gak jujur, ayo jujur Mas. Ada apa?"


"Gak ada apa-apa kok Sya," Alibi Fadil.


"Bohong, Mas Fadil kenapa? Jujur aja lah," Tanya Syaqila dengan wajah yang menatap curiga kearah Fadil.


"Gakpapa Sya,"


"Bohong, Hayoo Mas Fadil. Tadi maksudnya apa?"


"Sya, saya suka sama kamu, dan saya tidak terima kalau kamu nikah dengan orang lain!"


Mata Syaqila membulat sempurna. Apa yang barusan dia dengar nyata?


📕📕📕


Holla Assalamualikum😊


Maaf ya aku lambat update soalnya kemarin kondisi badan lagi kurang enak😅


Jadi baru sempat sekarang Updatenya, semoga masih suka ya sama cerita ini dan jangan lupa untuk selalu memberikan semangat agar aku dapat menyelesaikan novel ini segera😁


Kuyy tekan bintangnya buat Syaqila ya😆

__ADS_1


Syukran And See you next part😗


__ADS_2