
"Jika saya sudah serius, maka apapun jalannya akan saya ambil demi mendapatkan apa yg saya ingin kan, termasuk kamu!”
~ Fakhri Akmal Naufal ~
.
.
.
• Happy reading •
Sinar matahari mulai nampak pagi ini, terlihat seorang wanita dengan khimar panjangnya sedang berjalan cukup cepat di sebuah pusat perbelanjaan, Kaki mungilnya tak berhenti melangkah begitu tangannya yang tak pernah berhenti memegang sebuah kardus besar yang akan dia letakkan di tempat yang seharusnya.
”Sya, Udah biar Vian aja nanti yang ngangkat, kmu gak cape?” Suara khas itu langsung menyambar telinga Syaqila, Dia spontan menoleh dan mendapati Nadia yang sibuk dengan sebuah kertas dan pena di tangannya.
”Nanggung Nad kalau harus nunggu si Vian, aku gak mau buang waktu. Kalau aku bisa ngerjain sendiri kenapa harus repotin orang,” Balas Syaqila dengan senyum yang tak pernah pudar di wajah cantik nya, Nadia hanya menghela napas pelan. Dia tahu bahwa Syaqila adalah tipikal orang yang sangat keras kepala, jadi untuk menyuruhnya berhenti dari hal apapun yang dia kerjakan sangatlah sulit.
”Terserah dah,” Syaqila tertawa kecil saat melihat teman kerjanya itu.
”Sya?”
”Apa?” Syaqila masih dengan aktifitasnya, sementara Nadia tampak berpikir sejenak.
”Fadil kayaknya ada rasa deh sama kamu, kamu gak punya rasa apa-apa gitu ama Fadil?” Tanya Nadia, Syaqila langsung menghentikan Aktifitasnya lalu menghela napas pelan sebelum akhirnya menghampiri Nadia.
”Nad, denger ya aku sama Fadil itu cuman teman dari kecil, jadi aku gak mau rusak persahabatan kami cuman gara-gara hal yang kayak gini,"Jeda sekian detik.” Lagian tipe Fadil bukan kayak aku. Aku sadar diri lah Nad, hehe,” Balas Syaqila dengan senyum tipis, Nadia mengangguk pelan. Dia tau bahwa Syaqila sekarang sedang menyembunyikan perasaan sukanya terhadap Fadil.
”Oke deh,” Nadia mencoba mengerti apa yang sedang coba dikatakan oleh Syaqila.
🕊🕊🕊
Syaqila melangkahkan kakinya setelah tadi keluar dari tempat kerjanya, rencananya dia akan langsung pulang untuk mengistirahatkan tubuhnya setelah seharian lelah dengan pekerjaan.
Syaqila kembali merasakan semilir angin yang sangat menyejukan, dia menutup sekejap matanya untuk menikmati suasana yang amat dia sukai ini, tapi tiba-tiba seseorang dari arah belakang yang langsung menepuk pundaknya membuatnya spontan menoleh.
”Safira?” Syaqila menatap Adik perempuannya itu dengan tatapan yang sulit di artikan.
”Kakak udah mau pulang ya?” tanya Safira, Syaqila mengangguk dengan posisi yang masih menatap heran kearah Adiknya.
”Kamu kok ada disini, kamu sama siapa?” Syaqila memperhatikan kiri-kanan dan benar saja dia melihat Putra yang berdiri di ujung jalan sambil menatap mereka berdua.
__ADS_1
”Ayo kak, cepat ada orang di rumah yang nyariin kakak!” Ucap Safira sambil menarik tangan Syaqila.
”Siapa Fira?”
”Nanti juga tau, ayo Kak,” Syaqila mengikuti Safira yang menarik tangannya dan berjalan dengan sangat cepat, membuat Syaqila hampir saja terjatuh.
”Fira, pelan-pelan nanti jatuh,” Teriak Syaqila namun tak di gubris oleh Safira.
Setelah beberapa saat mereka bertiga sampai di depan rumah, Syaqila mengamati dari sudut matanya, seperti nya ada seseorang di ruang tamu kentara sekali jika sang Abi kini tengah berbincang dengan orang itu.
”Di dalam siapa, Fira?” Tanya Syaqila sambil menatap Adik perempuannya itu.
Safira tidak lagi-lagi tidak mengubris dan langsung menarik tangan sang kakak, Syaqila Mulai curiga dengan tingkah dan kelakuan Safira, Ada apa sebenarnya?
”Nah, itu dia Syaqila,” Ucap Bakri, Syaqila langsung menatap tamu yang tadi berbincang dengan Abinya.
Seorang pria dengan tinggi badan 186 Centimeter dengan alis tebal serta bibir yang sedikit tebal dan berwarna pink.
”Hay Syaqila!” Sapa Pria itu, Syaqila melirik anggota keluarganya secara bergantian.
”Sya, kamu tolong buat teh ya. Untuk tamu kita,” Pinta Kadiya, Syaqila tersadar kemudian mengangguk dan segera berjalan kearah dapur untuk menyiapkan si tamu itu minuman, tapi satu pertanyaan mencuat di otak Syaqila, kenapa Safira menyuruhnya untuk pulang kalau cuman untuk menyajikan teh untuk tamu.
Selang beberapa saat teh untuk tamu kini telah rapi di atas talenan, Syaqila segera mengambilnya dan langsung berjalan kembali kearah ruang tengah rumahnya, namun saat di depan pintu samar-samar dia mendengar pembicaraan orang tadi dengan Abinya. Syaqila berinisiatif untuk mengintip melalui pintu yang hanya ditutupi oleh horden.
Syaqila masih setia di balik horden dengan tangan yang memegang teh untuk tamu itu.
"Maksud dengan kedatangan saya kesini ialah untuk melamar putri bapak yang bernama Syaqila Humaira!"ucap seorang pria dengan nada yang terbilang cukup lembut.
Brukk!!
Suara pecahan gelas kaca langsung menyambar telinga semua orang yang ada diruang tamu itu
seorang gadis yang tadinya ingin menyajikan teh itu diam bak patung setelah sebuah ucapan terlontar dari bibir pria yang tak dia kenali bahkan teh yang tadinya untuk tamu kini menyatu dengan pecahan gelas yang berserakan dilantai.
"sya?" Tanya seorang wanita paruh baya yang tak lain dan tak bukan adalah ibu dari Syaqila.
Syaqila langsung pergi meninggalkan semua orang yang ada diruang tamu dan berlari menujuh kamarnya, ibu nya yang melihat itupun memutuskan untuk menyusul sang putri dan menjelaskan semuanya.
"sebentar ya, ucap ibu syaqila dan langsung pergi kekamar Syaqila.
"sya?" Ucap Kadiyah saat sudah berada didalam kamar putri pertamanya ini.
__ADS_1
"Umi, Semua tadi itu gak bener kan Mi? Orang tadi itu cuman bercanda kan Mi? Dia siapa Mi," ucap Syaqila dengan mata yang berkaca-kaca.
"Sya kamu harus pergi keluar dulu, tentang kamu mau terima apa enggak itu semua ada ditangan kamu nak, ummi sama Abi gak maksa kamu," ucap Umi Syaqila .
"Tapi ymi dia siapa? Syaqila gak pernah ketemu sama orang tadi apa maksudnya dia Mi kenapa dia lamar syaqila dadakan gini," ucap syaqila dan dibarengi dengan air mata yang membasahi kedua pipinya.
"kak, Kakak udah ditungguin tu," ucap seorang pria yang baru berusia 17 tahun ya dialah Syaputra____adik dari Syaqila yang biasa dipanggil Putra oleh Syaqila dan keluarganya.
"Ummi.”
"Gak papa nak ayok, ucap ummi Syaqila dan langsung menggenggam tanganputrinya itu dan berjalan keluar untuk menemui orang tadi.
Syaqila tampak menatap orang yang baru saja melamarnya, tatapan Syaqila tajam tapi siyang ditatap hanya tersenyum seolah tidak perduli.
"Jadi bagaiman? Lamaran saya diterima?" Tanya pria itu lagi.
"Saya mau bertanya dulu," ucap Syaqila kemudian
"Silahkan mau bertanya apa?" Jawab orang itu. Sementara Abi Syaqila hanya diam tak mengubris seolah dia sangat mengenal orang yang baru saja melamar putrinya itu.
"Apa tujuan anda untuk melamar saya!!"
Perkataan Syaqila begitu menekan dan membuat Pria tadi spontan berdiri, begitu pun semua anggota keluarga Syaqila.
📕📕📕
Holla👋
Assalamualikum warahmatullah, Kembali lagi dengan saya, dan cerita yang sudah setengah abad gak saya Sapa😂🙏
Maapkeun diriku ini wahai man temen🙏
Sungguh diri ini sibuk dan ditambah lagi kemarin idenya menciut dan hilang ditengah jalan😢
Eetss tapi sekarang Alhamdulillah nya, idenya balik lagi dan bisa lah aku Up cerita ini lagi, tepuk tangan dong👏
So semoga suka ya, Dan aku bakal usahain buat up cerita ini kurang lebih setiap hari atau kalau gak palingan dua hari sekali karna aku gak pengen idenya hangus lagi karna kelamaan tersimpan😁
Jadi tolong beri aku semangat ya dengan cara Vote And Komen di setiap Babnya agar aku tambah semangat😋
Oke, See you Next part ya Guys😗
__ADS_1
Syukran🙏🌻