Pilihan Hati Rara

Pilihan Hati Rara
Bab 21


__ADS_3

"Ikut saya" Al menarik paksa tangan Rara untuk ikut bersamanya pergi menjauh dari semua orang.


Mau tak mau Rarapun mengikuti kemana Al membawanya, ternyata Al membawa Rara pergi ke dalam ruang tengah Ndalem yang di dalamnya tidak ada satu orangpun.


"Lepasin gue" Rara menghempaskan tangannya dari genggaman tangan Al.


"Kenapa kamu melakukan itu?" tanya Al dengan pandangan yang menatap ke bawah.


"Apa? Jadi lo nuduh gue yang udah ngambil uang itu?"


"Saya tidak menuduh, saya lihat dengan mata kepala saya sendiri kalau uang ini ada di antara lipatan-lipatan baju kamu Athara" bentak Al tepat di depan muka Rara, saat ini emosi Al sudah tak terkontrol.


Rara terdiam, kenapa ia seakan merasakan kesakitan yang luar bisa setelah di bentak Al? tak terasa matanya kini berkaca-kaca, bahkan Rara yang terkenal jarang sekali menangis, kini seperti sedang menahan tangis, "Bahkan semasa ayah gue masih ada pun dia gak pernah bentak gue.


Al mendongak, ia melihat mata gadis itu yang berkaca-kaca dan bibirnya yang bergetar, "Lupakan ayah kamu, ini bukan tentang ayah kamu tapi ini tentang saya dan kamu.


Mata Rara membulat, "Bahkan lo yang gue kenal orang yang baik-baik selama ini ternyata lo brengsek, lo jahat. Anak mana yang bisa ngelupain ayahnya sendiri sedangkan ayah bagi seorang anak perempuan adalah cinta pertamanya, dan lo seenaknya malah nyuruh-nyuruh gue buat lupain ayah gue sendiri, lo BRENGSEK" Rara tak kalah emosi, ia meluapkan semua amarahnya di depan Al dengan air mata yang sudah keluar.


Al kembali terdiam, ia mengingat-ingat kembali apakah perkataannya barusan memang salah?, "Ini tentang saya dan kamu bukan ayah kamu, paham?"


"Brengsekk"


"Untuk apa kamu mengambil semua uang untuk donasi panti asuhan?"


Rara memejamkan matanya lalu mengusap wajahnya, "Udah berapa kali gue bilang bukan gue yang udah ngambil uang itu, sumpah demi Allah gue gak ngambil uang itu"


"JANGAN MEMAINKAN SUMPAHNYA ALLAH ATHARA" nada suara Al semakin meninggi.


"Siapa yang lo bilang gue mainin sumpahnya Allah? Kalo gue salah gue juga gak mungkin mainin sumpahnya Allah, lagian buat apa gue ambil uang sebanyak itu? Gue tau gue emang miskin tapi gue juga gak pernah berani ngambil sesuatu yang bukan hak gue" Rara menghela nafasnya, "Gue bakalan cari bukti kalo emang gue gak salah, kalo buktinya udah ketemu entah itu gue bersalah atau enggak, ya terserah tapi yang jelas kalo buktinya udah ada gue mau keluar dari pesantren ini.


Al yang sedang memandang ke arah lain sontak terkejut dan langsung menatap wajah Rara, jujur ia memang sudah keterlaluan hari ini kepada Rara, namun ia juga tidak tahu harus berbuat apa, di sisi lain memang buktinya sudah seratus persen mengarah ke Rara, namun di sisi lain ia memang merasa bersalah kepada gadis itu.


Rara meninggalkan Al yang sesang mematung sendirian, ia sudah tak tahan lagi, berlama dengan Al membuat hatinya terasa sakit, ada sesak yang tak bisa di rasakan saat Al dengan begitu entengnya menuduh dirinya sebagai pelakunya.


Sampai di pintu depan Ndalem, Rara berpapasan dengan Haikal yang tengah menatapnya tajam, Rara tak bisa apa-apa dia juga menatap Haikal sekilas dengan raut wajah dingin, lalu kembali melanjutkan langkahnya.



"Rara" panggil Lila kepada Rara yang hanya diam memandang ke depan di taman belakang.

__ADS_1


Rara menoleh dan menatap wajah Lila sekilas, "hm"


"Kamu marah sama aku? Maaf Ra aku gak bermaksud mau nuduh kamu, tapi tadi itu semuanya mendesak aku dan aku gak bisa mengelak ataupun bohong. Maafin aku ya Ra pasti kamu marah sama aku" ucap Lila dengan penuh penyesalan.


"Hmm udah, ini bukan salah lo. Lagian emang bener, semua bukti sekarang mengarah ke gue dan gue juga gak bisa apa-apa."


"Ra, tapi aku percaya kalau kamu bukan pelakunya."


"Lo percaya sama gue?"


Lila mengangguk, "Tentu aja kenapa enggak? Aku yakin kamu gak ngambil apapun, pasti saat ini kamu lagi di jebak. Pokoknya aku akan bantu kamu buat kumpulin bukti kalau kamu gak bersalah."


Rara tersenyum tipis, "Bahkan dia aja gak percaya sama gue.


"Dia siapa?"


"Al, gue gak habis pikir, katanya Gus tapi nuduh orang tanpa adanya bukti terlebih dahulu" ucap Rara, "Makasih ya, di saat semua orang nuduh gue tapi lo salah satu orang yang masih percaya sama gue."


"Sama-sama, karena aku tau, seratus persen bukan kamu pelakunya" Lila memeluk Rara, untuk menguatkan gadis itu.


Rara melepas pelukannya lalu memudarkan senyumnya kembali, "Kenapa?" tanya Lila.


"Hmm" Putri tengah berpikir, "CCTV"


Jam 08.00 semua murid SMK Garuda sudah memasuki kelasnya masing-masing untuk memulai pembelajaran pada hari ini.


"Rara belum masuk" bisik Rani kepada Rio.


"Gak tau"


"Maaf pak saya telat" ucap Rara dari arah pintu, semua antensi kini mengarah ke arahnya.


"Tumben-tumbenan kamu telat, dari mana aja kamu" ucap pak Jarwo.


"Saya telat bangun tidur karena semalam....." Rara menjeda ucapannya, "Tadi saya. berangkat kesini jalan kaki, maaf pak"


"Ya sudah-Ya sudah, ayo duduk tapi jangan di ulangi lagi ya" saran pak Jarwo.


"Iya pak, saya permisi"

__ADS_1


Pak Jarwo mengerutkan keningnya, "Terlihat aneh anak itu, sejak kapan jadi kalem dan mengakui kesalahannya.


"Rara" Rani menyapa Rara dengan melambaikan tangannya, sedangkan Rara hanya tersenyum kecil.


"Lo kenapa semalan?" tanya Rio.


"Ada Problem dikit" jawab Rara.


"Oke anak-anak kita lanjut pelajarannya" ucap pak Jarwo, lalu semuanya pokus mengerjakan pelajaran yang di perintahkan pak Jarwo sampai jam pukul 09.30 mendatang.


Jam 09.30 bel istirahat sudah berbunyi, kali ini Rara beranjak terlebih dahulu dari duduknya dan langsung berjalan keluar kelas, Rio dan Rani yang melihatnya terlihat heran dengan sikap gadis itu yang tak biasanya.


"Lebih kalem dan agak pendiem gak sih?" tanya Rani kepada Rio,


"Heem, gak kaya biasanya" jawab Rio.


"Gue mau samperin dia, lo kekantin duluan" ucap Rani, ia berjalan perlahan mengikuti kemana Rara pergi. Ternyata gadis itu lebih memilih ke taman sekolah yang mungkin agak sepi.


"Udah paling bener, semuanya udah si setting sama dia" ucap Rara terlihat sedang menerima telepon.


<<...................>>


"Gue gak habis pikir kenapa dia ngelakuin itu sama gue? padahal gue gak ada ngusik dia sedikitpun selama di pesantren.


<<....................>>


"Apanya nunggu waktu yang tepat? Gak Lila, pulang sekolah nanti gue langsung mau kasih bukti itu kesemua orang kalo gue gak salah dan biar mereka tau kalo orang itu ternyata gak sebaik yang mereka pikir.


<<.....................>>


"Sorry tapi gue gak tahan, biar semuanya cepet clear dan gue juga biar cepet keluar dari pesantren. Gue muak ketemu Gus lo itu tiap hari, ya walaupun kalo gue keluar pesantren tetap aja bakal ketemu di kelas tapi seenggaknya gak tiap jam"


<<......................>>


"Oke, gue tutup dulu ya teleponnya"


"Ra" panggil Rara.


Rara terkejut mengelus dadanya karena tiba-tiba saja Rani memanggil dan memegang pundaknya, "Lo bisa gak sih kalo mau dateng kasih aba-aba dulu. Lo nguping?"

__ADS_1


"Hehe iya dikit, btw lo lagi ada masalah ya di pesantren?"


__ADS_2