
Al terlihat mengepalkan tangannya, gigi pria itu saling merekat dan bergesek, urat lehernya terlihat menonjol, dan tatapan matanya penuh dengan kemarahan.
"Astaghfirullah"
"Gus itu...."
"Jangan bicara sama saya, tapi bicara dengan abah" potong Al lalu pergi.
"ITU SEMUA GAK BENER, SEMUANYA BOHONG"
"Itu CCTV loh Ustadzah, mana bisa ngelak" ucap Lila.
"Diam kamu" Ustadzah Aulia lalu pergi.
"SEMUANYA UDAH JELAS KAN, YANG NYURI UANG BUKAN GUE, TAPI GUE CUMA DI FITNAH. OKE THANKS BUAT BEBERAPA BULAN SAMA KALIAN, GUE HARAP KALIAN BISA BELAJAR KAYA DULU LAGI TANPA ADANYA GUE DI PESANTREN INI. MAKASIH" ucap Rara, ia turun dari Aula lalu pergi menuju kamarnya.
"Tapi Ra, boleh gak kalau kamu jangan pergi dari pesantren ini, maafin kita" teriak salah satu santri wati.
"Keputusan gue udah bulat" jawab Rara, "Ayo Lila, gue minta tolong bantuin beresin semua barang gue.
Lila mengangguk, "Iya"
Lila dan Rara berjalan menuju asrama tempat mereka tinggal, dengan telaten Lila membantu Rara untuk membereskan baju-baju yang Rara bawa kedalam koper berukuran sedang.
"Ini seriusan kamu mau pergi Ra?, Kalau gak ada kamu terus aku gimana di sini?" tanya Lila dengan raut wajah yang sedih.
"Mau gimana lagi, maafin gue ya Lila, sebenernya gue juga gak mau ninggalin tempat ini terlalu berat buat gue keluar apalagi gue udah ngerasain nyaman di sini. Tapi di sisi lain gue juga kangen sama dunia luar yang mungkin tiap sore, gue sama temen gue datengin.
Rara menatap Lila, wajah gadis itu terlihat murung, padahal Rara pikir dia akan senang jika dirinya pergi dari pesantren ini.
"Udah, masih banyak temen lo di sini, noh yang lain" Rara menunjuk temen sekamar mereka.
"Tapi jangan lupain aku, kalo kamu kangen tempat ini langsung kesini aja ya" ucap Putri
"Iya!! Makasih ya udah mau bantuin gue beresin ini semua.
"Sama-sama" mereka berdua perpelukan.
"Pak kiyai maaf, bukan maksud saya...."
"Apa tujuan kamu berbuat seperti itu Aulia? Semua ini sudah di luar batas, kamu keterlaluan" ucap Kiyai Zaid memotong pembicaraan ustadzah Aulia.
"Iya saya tau saya salah pak kiyai, saya minta maaf saya benar-benar khilaf" ucap Ustadzah Aulia dengan memelas.
__ADS_1
"Jangan meminta maaf kepada saya tapi meminta maaf kepada orang yang telah kamu fitnah, serta meminta maaf kepada Allah atas apa yang telah kamu lakukan.
"Iya kiyai, saya benar-benar menyesal atau perbuatan saya, saya mohon jangan pecat saya dari sini.
"Saya tidak akan memecat kamu atas apa yang telah terjadi dua hari ini, saya akan memberikan kamu kesempatan untuk tidak mengulangi lagi kesalahan kamu. Tapi bila kamu mengulanginya lagi, saya jamin kamu sudah tidak akan mencium bau pesantren ini lagi" tekan kiyai Zaid.
"Melakukan sesuatu yang sangat di luar batas, memalukan" ucap Haikal yang sedari tadi ada di antara Kiyai Zaid dan Ustadzah Aulia.
"Benar kata abah, kami masih memberikan ustadzah kesempatan tapi jika ustadzah mengulangi lagi, maka ustadzah harus menerima konsekuensinya. Perlakuan ustadzah Aulia sudah sangat di luar batas, dengan cara ustadzah Aulia memfitnah Rara seperti itu dan menjadikan semua orang memandang Rara buruk itu adalah salah besar" ucap Al yang baru saja datang.
Haikal yang mendengarnya memutar bola matanya merasa jengah dengan pembelaan Al untuk Rara, kenapa abangnya itu selalu bersikeras.
"Semoga kamu menyadari kesalahan kamu itu" ucap Kiyai Zaid sebelum pergi lalu di ikuti oleh Al.
"Gus Haikal" panggil ustadzah Aulia sambil berjalan mendekati Haikal.
Haikal menggeser tubuhnya, "Mohon jaga jarak. "
"Bukannya Gus Al juga membenci Rara? Kenapa Gus Al tidak berpihak sama saya untuk menyingkirkan anak itu? kenapa Gus Haikal tidak membela saya dan malah ikut menyalahkan saya.
Haikal tersenyum miring, "Ustadzah, saya memang membenci Rara tapi saya tidak akan melakukan hal semenjijikan itu untuk menyingkirkan Rara. Cara yang Ustadzah lakukan adalah cara yang sama sekali tidak masuk akal, dengan cara memfitnah Rara tapi jejak masih terlihat jelas di mana-mana. Ckk pakai otak sedikit" setelah mengucapkan kalimat akhir Haikal pun pergi dari hadapan Aulia.
"Athara" panggil Al ketika Rara sudah hampir keluar dari area pesantren dengan koper berukuran sedang yang ia bawa.
"Waalaikumussalam" jawab Lila dan Rara.
"Maaf, boleh kita bicara sebentar?" Al bertanya terlebih dahulu kepada Rara.
Rara menatap Lila, Lila yang tahu apa yang ada di pikiran Rara ia langsung mengangguk dan menyuruh Rara mencoba untuk bicara sebentar dengan Al, sebelum ia benar-benar pergi dari pesantren.
Rara mengangguk, "Oke.
"Saya permisi dulu Gus, Assalamualaikum"
"Ya, waalaikumussalam"
"Ra, saya minta maaf atas perlakuan saya yang tidak mengenakkan atas...."
"Udah gue maafin" ucap Rara, tanpa mendengarkan semua perkataan maaf Al.
Mata Al berbinar, "Kamu serius?"
"Iya"
__ADS_1
"Terima kasih banyak, sekali lagi saya minta maaf."
"Gue maafin lo, tapi lo jangan pernah ganggu kehidupan gue lagi. Setelah gue lepas dari sini gue harap lo gak usah nyapa-nyapa gue lagi, anggap aja kita gak pernah kenal sebelumnya."
Srekkkkk.
Bagai di gores pisau, hati Al terasa perih ketika mendengar Rara mengucapkan kalimat itu dengan tegasnya, bagaimana bisa ia berpura-pura untuk tidak mengenali Rara sedangkan hati dan matanya saja selalu tertuju pada gadis itu.
"Satu lagi, jangan pernah ganggu gue sama Rio, dia sahabat gue lo gak berhak ngatur-ngatur buat gue deket sama siapa aja.
,,,Tapi saya suami kamu, saya sepenuhnya berhak atas kamu, saya berhak mengatur dengan siapa saja kamu bergaul. Wallahi saya cemburu Ra, meskipun kamu bilang dia sahabat kamu,,,ucap Al dalam hati, ia menatap kepergian Rara dengan tatapan sendu.
"Hufttttt hahhhh" Rara menghela nafas saat sudah tiba di depan rumahnya, "Seger banget rasanya bisa hirup lagi udara seger di luar.
"Oh iya, kira-kira nenek lagi ngapain ya" gumam Rara dengan girang, ia sudah tak sabar memasuki rumah sederhana yang sudah beberapa tahun ini ia dan nek Rina tempati.
"Assalamualaikum nenek, Rara pulang"
"Nek, Rara pulang"
Sudah beberapa kali memanggil, Rara tak juga mendapatkan sautan dari neneknya, ia berinisiatif untuk mengecek kamar nenek nya saja untuk memastikan.
"Di dalam foto itu siapa yang di rumah sakit nek?" tanya Rara kepada nek Rina yang sedang mengamati sebuah kertas yang berisikan gambar di atasnya.
Dengan buru-buru nek Rina segera memasukkan kertas itu ke bawah kasurnya, ia begitu terkejut melihat Rara yang tiba-tiba saja ada di belakangnya.
"Kamu kapan kesini nak?" tanya nek Rina balik.
"Baru aja, aku pulang tapi aku panggil nenek gak nyaut-nyaut" jawab Rara.
"Maaf nenek gak denger.
"Gak papa, btw tadi itu foto siapa? Kaya lagi di rumah sakit gitu" tanya Rara lagi karena semakin penasaran.
"Eh i-itu bukan apa-apa itu cuma foto dari temen nenek kemarin kalo dia lagi sakit" jawab nek Rina.
"Bukan kayanya nek, masa temen nenek cowok mana masih muda lagi kaya seumuran aku" ucap Rara masih tak percaya.
"I-itu c-cucunya temen nenek, iya cucunya"
"Cucunya ya? Oh yaudah iya.
"Iya cucunya!!sebentar, Kenapa kamu pulang bukannya kamu....?
__ADS_1
"Cerintanya panjang.