
"Wihh apaan nih"
Rani dan Rara langsung membuang muka ketika melihat orang yang berbicara kepada mereka, "Mau ngapain lo.
"Temen lo yang seharusnya ngapain, mau caper ya sama pak Al, acara pake hijab segala.
"Heh jamet, lo pikir dengan pake hijab kaya gitu tujuannya mau caper sama pak Al? Enggak ya bodoh" balas Rani tak terima, sedangkan Rara hanya diam tak merespon.
"Iyalah, apa lagi coba kalau bukan mau caper sama pak Al, nanti dengan dia pake hijab kaya gitu bisa bikin pak Al kelepek-kelepek kali. Helloww selera pak Al tinggi kali, gak mungkin seleranya kaya lo, gadis barbar yang gak tau malu" maki Jessica.
Merasa kesal, Rara langsung berdiri tepat di depan Jessica. "Lo suka sama pak Al?" Rara tertawaan sinis, "Lo bilang gue bukan selera dia? Terus lo? Gue juga gak yakin kalo pak Al mau sama lo yang hobinya ngepost foto pake baju *** di sosial media."
"Kurang aja lo" Jessica mengambil satu cup air yang di pegang oleh temannya.
Byurrrr!
Saat Jessica menyiramkannya kepada Rara, Rara menutup wajahnya dengan tangannya sendiri. Namun, air itu sama sekali tak mengenai wajahnya.
Rara membuka mata perlahan, betapa terkejutnya ia melihat rambut beserta seragam Rio yang sudah basah. Wajah lelaki itu menghadap wajah Rara dengan tangan yang di tahan ke tembok.
"Ada gue" bisik Rio lalu menghadap ke arah Jessica.
"Ran, gue...."
"Udah gak papa" jawab Rani tersenyum.
"Hidup lo bisa gak, gak usah ganggu orang lain hm?" tanya Rio dengan nada yang dingin sertra ekspresi yang datar.
"Gue tu gak ada urusan ya sama lo, jadi lo gak usah ikut campur deh. Oh atau lo mau jadi pahlawan kesiangan gitu?"
"Gue cuma gak suka kalau lo rundung setiap siswa maupun siswi di sekolah ini, ngerti"
"Oh gak bisa, anak-anak belagu di sini emang pantes kok di gituin, apalagi temen lo itu. Udah belagu, caper, sok cantik lagi.
"HEH LO NGACA DONG, YANG KAYA GITU TU ELO BUKAN TEMEN GUE" bentak Rani tak terima, rasanya saat ini ingin sekali ia menjambak rambuk Jessica. Namun sayangnya aksinya itu di tahan oleh Rio.
"Tenangin diri lo, manusia kaya gitu jangan terlalu di ladenin nanti juga cape sendiri."
"Tapi gue..."
__ADS_1
"Gue tau lo kesel, udah masuk kelas aja sana."
Dengan menuruti perintah Rio, Rara dan Rani memasuki kelasnya mereka, kebetulan bel masuk pun sebentar lagi akan berbunyi.
Beberapa jam lamanya belajar akhirnya bel istirahat berbunyi, seperti biasa semua murid SMK Garuda berhamburan untuk pergi kekantin.
Chat Whatspa
Guru ngeselin:
09.50 [Istirahat kali ini saya ingin berbicara sama kamu, di taman belakang]
Me Ra:
09.51 [/Read]
Guru ngeselin
09.51 [Saya mohon sebentar saja]
09.51 [Athara, ini penting saya mohon]
09.52 [Ini penting]
09.52 [5 menit juga tidak apa, asalkan kamu mau mendengarkan pembicaraan penting saya]
Me Ra:
09.53 [waktu 5 menit gue terlalu berharga buat bicara sama orang kaya lo]
Guru ngeselin:
09.53 [Iya saya tau tapi saya mohon sebentar saja ya]
Me Ra:
09.54 [Oke gue otw]
"Guys kita kekntin yo" ajak Rani kepada Rio dan Rara.
__ADS_1
"Gas lah" jawab Rio.
"Sorry guys, kayanya gue gak ikut dulu ya" ucap Rara ada rasa sedikit tidak enak karena kesekian kalinya tidak bisa ikut mereka berdua ke kantin.
"Mau kemana?"
"Gue ada urusan, sorry ya."
"Oh oke-oke sans aja kali.
Rara sudah berada di taman belakang sekolah yang di maksud Al, taman itu adalah tempat aman yang seringkali Al dan Rara pakai untuk saling bertemu.
"Ini makan siang untuk kam....." Al menggantung kalimatnya saat melihat wajah Rara, penampilan baru gadis itu memang sangat memukai setiap orang, termasuk Al sendiri.
"I-ini serius kamu? Maa syaa Allah, cantik sekali" ucap Al memuji kecantikan Rara, "Sejak kapan kamu memakai jilbab?"
"Sejak tadi sekolah" jawab Rara masih jutek.
Senyum Al mengembang dengan sempurna, "Maa syaa Allah terima kasih karena kamu mau...."
"Gue berhijab bukan karena lo" jawab Rara tanpa mendengarkan perkataan Al sampai akhir.
Seketika itu senyum Al luntur, iya, ia tau ia memang terlalu kegeeran, "Iya saya tau, kamu berhijab karena Allah bukan?"
"Hmm" dehem Rara "To the point aja ada omongan penting apa yang lu mau omongin ke gue.
"Kamu mau, kan? Kembali tinggal di pesantren."
"Itu pembicara penting lo? Gak masuk akal.
"Lila sakit Ra, dia selalu bergumam memanggil kamu saat temannya mengompres dia" perjelasan Al membuat Rara terdiam.
"Setelah kepergian kamu, Lila tidak seceria dulu, Lila jarang makan, bahkan dia juga tidak semangat menghafal. Saat setoran hafalan sama saya, hafalannya amburadul. Kamu sadar Ra? kehadiran kamu memang sangat berarti buat dia."
"Abah, beliau juga rindu kamu. Kamu gak tau seberapa sayangnya abah sama kamu, sampai-sampai ketika tau kalau kamu pergi dari pesantren beliau juga merasa kehilangan" Rara terdiam berusaha meresapi setaip perjelasan dari Al, dia juga masih beradu dengan pikirannya, keputusan apa yang harus ia ambil selanjutnya.
"Saya tau saya dan semuanya salah karena menuduh kamu begitu saja tanpa melihat bukti yang jelas terlebih dahului, saya minta maaf, saya mohon kamu pertimbangkan lagi keputusan kamu ya?"
"Udah lima menit kan? Gue pergi dulu" ucap Rara, gadis itu saat ini terlihat bingung.
__ADS_1
"Tunggu, ini makanan untuk kamu jangan lupa di makan.