
"Gue tau lo kesel, udah masuk kelas aja sana"
Dengan menuruti perintah Rio, Rara dan Rani memasuki kelasnya mereka, kebetulan bel masuk pun sebentar lagi akan berbunyi.
Beberapa jam lamanya belajar akhirnya bel istirahat berbunyi, seperti biasa semua murid SMK Garuda berhamburan untuk pergi kekantin.
Chat WhatsApp
Guru ngeselin:
09.50 [Istirahat kali ini saya ingin berbicara sama kamu, di taman belakang]
Me Ra:
09.51 [/Read]
Guru ngeselin
09.51 [Saya mohon sebentar saja]
09.51 [Athara, ini penting saya mohon]
09.51 [Tidak lama, saya janji sebentar saja]
09.52 [Ini penting]
09.52 [5 menit juga tidak apa, asalkan kamu mau mendengarkan pembicaraan penting saya]
Me Ra:
09.53 [waktu 5 menit gue terlalu berharga buat bicara sama orang kaya lo]
Guru ngeselin:
09.53 [Iya saya tau tapi saya mohon sebentar saja ya]
Me Ra:
09.54 [Oke gue otw]
"Guys kita kekntin yo" ajak Rani kepada Rio dan Rara.
"Gas lah" jawab Rio.
__ADS_1
"Sorry guys, kayanya gue gak ikut dulu ya" ucap Rara ada rasa sedikit tidak enak karena kesekian kalinya tidak bisa ikut mereka berdua ke kantin.
"Mau kemana?"
"Gue ada urusan, sorry ya."
"Oh oke-oke sans aja kali"
Rara sudah berada di taman belakang sekolah yang di maksud Al, taman itu adalah tempat aman yang sering kali Al dan Rara pakai untuk saling bertemu.
"Ini makan siang untuk kam....." Al menggantung kalimatnya saat melihat wajah Rara, penampilan baru gadis itu memang sangat memukai setiap orang, termasuk Al sendiri.
"I-ini serius kamu? Maa syaa Allah, cantik sekali" ucap Al memuji kecantikan Rara, "Sejak kapan kamu memakai jilbab?"
"Sejak tadi sekolah" jawab Rara masih jutek.
Senyum Al mengembang dengan sempurna, "Maa syaa Allah terima kasih karena kamu mau...."
"Gue berhijab bukan karena lo" jawab Rara tanpa mendengarkan perkataan Al sampai akhir.
Seketika itu senyum Al luntur, iya, ia tau ia memang terlalu kegeeran, "Iya saya tau, kamu berhijab karena Allah bukan?"
"Hmm" dehem Rara "To the point aja ada omongan penting apa yang lu mau omongin ke gue.
"Itu pembicara penting lo? Gak masuk akal."
"Lila sakit Ra, dia selalu bergumam memanggil kamu saat temannya mengompres dia" perjelasan Al membuat Rara terdiam.
"Setelah kepergian kamu, Lila tidak seceria dulu, Lila jarang makan, bahkan dia juga tidak semangat menghafal. Saat setoran hafalan sama saya, hafalannya amburadul. Kamu sadar Ra? kehadiran kamu memang sangat berarti buat dia."
"Abah, beliau juga rindu kamu. Kamu gak tau seberapa sayangnya abah sama kamu, sampai-sampai ketika tau kalau kamu pergi dari pesantren beliau juga merasa kehilangan" Rara terdiam berusaha meresapi setaip perjelasan dari Al, dia juga masih beradu dengan pikirannya, keputusan apa yang harus ia ambil selanjutnya.
"Saya tau saya dan semuanya salah karena menuduh kamu begitu saja tanpa melihat bukti yang jelas terlebih dahului, saya minta maaf, saya mohon kamu pertimbangkan lagi keputusan kamu ya?"
"Udah lima menit kan? Gue pergi dulu" ucap Rara, gadis itu saat ini terlihat bingung.
"Tunggu, ini makanan untuk kamu jangan lupa di makan. Untuk perkataan saya tadi saya mohon kamu pertimbangkan dengan baik ya," ucap Al menyerahkan kotak nasi kepada Rara.
"Ya makasi."
Di dalam kelas, Rara terus saja melamun memikirkan setiap perkataan Al, apa iya? Kehadirannya di pesantren memang sangat penting sehingga membuat Lila dan Kiyai Zaid sangat kehilangan ketika ia pergi?
"Woyyy"
__ADS_1
Rara yang sedang melamun tentu saja kaget dengan tiba-tiba ada yang mengagetkannya.
"Lagi ngapain lu? Bengong aja gue liat" ucap Rani.
"Makan" ucap Rara menunjuk kotak makanan yang di beri oleh Al tadi.
"Buat gue?" tanya Rani terlebih dahulu.
"Iya"
"Habis ketemu sama siapa? Muka lo jadi berubah gitu" tanya Rio.
"Gak ada"
"Ketemu pak Al kan lo?" Tebak Rio, sedari tadi ia memang sudah sangat curiga.
"Hah serius?" Rani yang sedang makan pun ikut menimbrung agar tidak ketinggalan info.
"Bentar doang.
"Ngomongin apa aja?"
"Abah sama Lila, dia nyuruh gw balik ke pesantren" jawab Rara.
"Apa?" Ucap Rani dan Rio barengan.
Jam sembilan malam, sehabis melaksanakan sholat isya dan sedikit membaca Al-Qur'an, Rara terus saja berpikir untuk keputusannya. Di sisi lain ia ingin kembali ke pesantren dan di sisi lain juga ia ingin tetap tinggal di rumah bersama neneknya.
"Arghhhh, sumpah pusing banget gue" jerit Rara mengacak rambutnya.
"Ini gue harus gimana, gue harus balik ke pesantren atau tetep di sini aja.......tapi gue betah di dua-duanya sih."
"Tau ah, bingung kan gue.
"Oh iya, gue tanya kabarnya Lila aja, kalo dia mendingan berarti gue gak harus balik ke sana kan ya?" Rara buru-buru mengambil ponselnya untuk menghubungi Lila, menanyakan bagaimana kabarnya.
Rara terdiam beberapa saat, ia baru saja menyadari sesuatu, "Aih bego banget sih lo Ra, Lila kan gak pegang hp, gob/*k"
"Aaaaa gue harus gimana dong"
"Masa iya gue harus sholat istikharah sih? Ya, tapi gue gak tau gimana.
"Gak tau dah, mending gw pikir-pikirnya pagi aja, sekarang mending tidur.
__ADS_1
"Good night my self.