
Rara terkejut mengelus dadanya karena tiba-tiba saja Rani memanggil dan memegang pundaknya, "Lo bisa gak sih kalo mau dateng kasih aba-aba dulu. Lo nguping?"
"Hehe iya dikit, btw lo lagi ada masalah ya di pesantren?"
"Iya, biasalah" jawab Rara.
"Ada yang gak suka atau benci sama lo? Siapa, ayo bilang ke gue bisa-bisanya dia gak suka sama sahabat gue" ucap Rani dengan geram.
"Gak ada, mungkin cuma salah paham biasa aja"
"Lo gak mau cerita ya? Gue sahabat lo dari kecil walau kita beda umur.
"Bukan gitu, tapi gue gak mau aja lu tau dan terlibat" ucap Rara.
"Tapi gue gak papa dan gue mau tau" kekeh Rani.
"Hufttt" Rara menghela nafas, "Oke gue cerita, jadi sekarang ini ceritanya gue lagi di fitnah sama salah satu orang di pesantren, gue di fitnah ngambil uang donasi buat panti asuhan, uangnya gak dikit sekitar lima ratus jutaan. Gue gak tau apa-apa, gue gak ngambil uang itu sama sekali, tapi gak tau kenapa amplop uang itu bisa ada di antara lipatan baju-baju gue" Rara menjelaskan.
"Anj* emang, siapa yang udah berani fitnah lo kaya gitu? Gak ngotak ya tu orang. Terus sekarang apa yang lo lakuin, gue denger tadi pas lo teleponan kayanya udah tau orang yang ngefitnah lo?"
"Iya, gue sama salah satu temen sekamar gue di pesantren udah nemuin bukti lewat CCTV yang mungkin lupa dia rusakin pas ngambil uang itu dan naro uang itu di lemari baju gue" jawab Rara.
"Siapa?"
"Di dalem CCTV membuktikan bahwa pelakunya itu salah satu Ustadzah kepercayaan Kiyai Zaid ayah Al dan termasuk kepercayaan Al nya sendiri" ucap Rara.
"Anj, ada modelan Ustadzah begitu? Gue gak habis pikir, katanya Ustadzah tapi....."
"Manusia, kadang kita juga gak bisa nebak hatinya kaya gimana. Menilai manusia juga jangan asal dari penampilannya doang tapi hatinya juga perlu, belum tentu yang berpakaian sopan dan tertutup hatinya baik dan begitupun sebaliknya, belum tentu yang berpakaiannya kurang sopan, terbuka dan keliatannya nakal hatinya juga nakal" potong Rara.
Rani memangut, "Iya juga sih, nice lo banyak berubah setelah masuk pesantren, agak kalem and pendiem sekarang, kata-katanya juga bijak kaya banyak memotivasi orang termasuk gue.
"Biasa aja, bahkan gue masih gini-gini aja, bahasa gue masih gak sopan, aurat belum di tutup.
"Tapi asli banyak yang berubah" ucap Rani merasa kagum.
"Do'ain semoga cepet dapet hidayah dari Allah supaya gue bisa lebih baik" titip Rara.
"Syapp" jawab Rani, "Eh btw kenapa bisa pak Al gak percaya sama lo? harusnya dia juga gak nuduh orang sembarangan dong" lanjutnya.
"Semua buktinya jelas, apalagi pas uang itu ada di lipatan baju gue. Ya mau gimana lagi" jawab Rara.
"Ya, tapi kan....."
__ADS_1
"Udah, pulang sekolah nanti gue mau kasih bukti CCTV nya biar semua orang bisa liat dan kalo gue udah ngasih bukti CCTV itu gue bakal keluar dari pesantren. Kita bisa jalan-jalan lagi ke Mall, seneng kan lo?" Rara menggoda Rani dengan menggigit bibir bawahnya serta menaik turunkan alisnya.
"Aaaa sumpah demi apapun gue seneng, gue tunggu lo keluar dari pesantren.
Jam 14.30 bel pulang sudah berbunyi, hal itu membuat semua murid SMK Garuda berbondong-bondong untuk pulang kerumah mereka masing-masing.
"Woi Ra, gak pulang lo?" tanya Rani kepada Rara yang hanya diam di depan kelasnya.
"Lagi nungguin siapa lo?" tanya Rio juga.
"Gak ada, kalian aja duluan, gue masih ada urusan yang harus di urus" jawab Rara.
Rio dan Rani mengangguk paham, lagi pula mereka tidak ingin terlalu ikut campur dalam urusan masalah Rara, "Oke, kita duluan ya" ucap Rio.
"Dadah Rara, semoga berhasil" Rani menyemangati sedangkan Rara hanya tersenyum.
Setelah melihat kedua sahabatnya pergi dari hadapannya, Rara kembali terpokus kepada salah satu kelas, ketika melihat orang yang ia cari keluar, Rara langsung menghampirinya.
"Gue pulang bareng lo, ada urusan!" Ucap Rara lalu menarik tangan Al untuk masuk kedalam mobil yang Al bawa.
Di parkiran tepat di depan mobil yang Al bawa, Rara melepas tangan Al dengan sedikit kasar. Pria itu memasang sedikit wajah dingin kepada Rara, bisa di tebak raut muka Al saat ini tidak seperti raut muka biasanya yang sering di tunjukkan kepada Rara.
"Masuk dan setir mobilnya" perintah Rara, Al pun hanya menurut saja.
Al menghela nafas mendengar pertanyaan Rara, "Bukannya saya tidak percaya sama kamu, tapi saya........."
"Emang bener gak percaya" Rara memotong ucapan Al "Iyakan?" lanjutnya.
"Ra...."
"Gue keluar pesantren ya sore ini juga? Kalo udah nyampe pesantren gue beres-beres baju dulu."
Degg!!
Perkataan Rara mampu membuat Al diam, seakan mengetahui gadis itu akan jauh darinya adalah hal paling terberat.
Al menganggukkan kepalanya dengan pelan, antara iya dan tidak, dua kalimat itu sangat sulit di ucapkan.
Lumayan lama di perjalanan akhirnya mobil yang Al kendarai sudah sampai di area pekarangan pesantren, antara heran dan kaget melihat Gus-nya pulang dengan Rara sudah bisa di tebak bisikan santriwati dan santriwan sudah Al dan Rara denger.
"Makasih" ucap Rara lalu pergi ke kamarnya.
Lila panggil Rara.
__ADS_1
"Iya Ra?"
"Semuanya udah di siapin?"
"Sudah Ra, semuanya sudah saya siapin di aula" jawba Lila.
"Makasih ya" "iya sama sama"
"Gue minta tolong lagi kumpulin semuanya di aula, termasuk dalangnya" ucap Rara.
Lila menurut, ia dan teman sekamarnya mengumpulkan semua santri di aula untuk melihat tayangan yang akan Rara nyalakan.
Beberapa orang sepertinya terlihat malas untuk melihat namun juga penasaran, "Gak jelas banget Rara, kalau udah salah ya salah pake segala ngumpulin anak-anak lagi" bisik salah satu santriwati.
"Udah liat aja barang kali penting"
"GUE MOHON WAKTUNYA KALIAN SEBENTAR BUAT NONTON INI, GUE BAKAL KASIH KALIAN BUKTI KALO GUE GAK SALAH KARENA GUE CUMA DI FITNAH OLEH SALAH SATU ORANG KEHORMATAN KALIAN, GUE JANJI KALO GUE UDAH NUNJUKIN SEMUA INI, GUE BAKAL KELUAR DARI PESANTREN INI SUPAYA KALIAN BISA BELAJAR DENGAN TENANG TANPA ADANYA GANGUAN DARI GUE" ucap Rara di atas aula dengan mikrofon yang ada di tangannya.
"Salah ya salah aja, gak usah pake mau nunjukin bukti segala, pastinya juga bukti palsu" ucap Ustadzah Aulia.
"Kenapa kaya yakin kalau Rara bersalah?" Sahut Al yang mendengar ucapan Ustadzah Aulia.
"Eh Gus" ucapnya gelagapan, "Y-ya m-maksud saya kan s-sudah jelas kalau buktinya ada di Rara semua" lanjutnya.
"Liat saja" sahut Al.
"GUE MAU NUNJUKIN BUKTINYA TERSERAH LO SEMUA MAU PERCAYA SAMA GUE ATAU ENGGAK, TAPI INI BUKTI GUE AMBIL DARI CCTV RUANGAN GUS Al SAMA CCTV ASRAMA GUE" lanjut Rara.
"Hah? CCTV? Mampus, kenapa aku lupa sih kalau di setiap sudut asrama maupun ruangan pribadi Gus Al terpasang CCTV" gumam orang itu.
Semua rekaman CCTV mulai di nyalakan dan di tunjukkan kepada semua mata yang melihat, semuanya terlihat pokus melihat layar lebar yang ada di depannya, terkecuali satu orang yang mungkin merasa jadi dalangnya terlihat panik.
"Loh loh, itukan..."
"Gak habis fikir kenapa bisa dia ngelakuin itu?"
"Wah ternyata yang kita liat itu salah, ternyata bukan Rara pelakunya melainkan Rara cuma bahan jebakan doang.
"Kok bisa sih yang kita anggap baik jadi seperti ini?"
"Ini masalahnya apa? Apa Rara ngeganggu dia sampai-sampai dia berani ngelakuin ini?" Bisik para santri.
Al terlihat mengepalkan tangannya, gigi pria itu saling merekat dan bergesek, urat lehernya terlihat menonjol, dan tatapan matanya penuh dengan kemarahan.
__ADS_1
"Astaghfirullah"