
" Arleo" Panggil Gavin yang duduk dikursi kebesaranya.
" Iya Bos.." jwb Pemuda yang baru saja masuk
" Selidiki Keluarga Wibowo dengan lengkap." Printah Gavin yang langsung berdiri dari kursinya.
" Baik"
" Dan juga selidik Masalah yang menimpa wanita ku dulu maupun sekarang.." ucap Gavin yang hanya menampilkan wajah datarnya
" Baik."
" Tapi sebelumnya Bos, ada pertemuan dengan Tuan Verry ( Ketua dari white eagles) ." jelas Arleo
" Jam?"
" Sekitar jam 11 malam ." jwb Arleo
" ok." jwb Gavin yang langsung meninggalkan sang Asistenya didalam ruangannya.
" Kebiasaan.." Dumel Arleo yang langsung mengikutin langkah sang bossnya.
...ΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩΩ...
Dikediaman Wibowo
Plak
Satu Tamparan yang begitu keras mendarat dipipi Vero yang baru saja masuk kedalam rumah.
" Dasar anak kurang ajar.." Bentak pria parubaya, yang tak lain sang ayah Vero
" Sungguh kejutan yang tak terduga.." ucap Vero pelan sambil mengelus pipi nya yang memerah karena tamparan yang diberikan sang ayah.
" Maksud kamu apa ha!? Nampar adik kamu dan mempermalukan didepan semua orang .." Bentak Pak Herry yang masih mengatur Nafasnya.
" Karena dia pantas mendapatkan itu .." jwb Vero santai
" Kamu.." Tunjuk Pak Herry ke Vero yang berusah santai
" ingat Vero dia adik kamu, harus nya kamu jadi kakak melindungin sang adik bukannya memperlakukan kasar." ujar nya
" Atas hak apa aku harus melindungin dia?" tanya Vero Sinis kearah dua rubah didepannya.
" Vero jaga omongan kamu" peringatnya.
" Ayah tau kalo kamu masih belum terima dengan kehadiran mereka, tapi mereka keluarga kita meski Desi hanya jadi ibu sambung kamu dan Calista saudara tiri kamu mereka semua menyayangin kamu Ver .." ucap Pak Herry menatap sang putri sedu.
" Itu gak akan pernah terjadi Desi bukan bunda aku, bunda aku hanya bunda Dewi dan sampai kapanpun Bunda Dewi tetap bunda aku dan tidak ada yang bisa menggantikan termasuk rubah itu.." jelas Vero yang tak terima atas perkataan sang ayah
" Menyayangin itu hanya sebuah lelucon, Ayah gak pernah tau bagaimana tersisa nya Vero saat tidak ada Ayah.." jelas Vero yang menatap sang ayah
" Dan Ayah juga gak peduli gimana kehidupan Vero saat kehadiran mereka yang ayah pikirkan hanya uang dan uang.." Teriak Vero yang mengeluarkan unek-unek nya selama dia pendam
" Vero bertahan juga karena ayah, tapi apa yang Vero dapet ayah bahkan gak sepeduli dan seperhatian dulu saat bunda masih ada, ayah berubah ayah bukan Vero kenal dulu ayah yang penuh perhatian dan menyayangin." Lirih Vero yang langsung terduduk lemas dilantai.
__ADS_1
" Semenjak mereka datang ayah berubah, andai bunda masih hidup apakah ayah akan menjadi ayah yang Vero kenal dulu" tanya Vero yang menatapa sang ayah penuh harap.
" Tutup Mulut kamu Vero, bunda kamu sudah tiada jadi jangan pernah membahas hal gak penting tentang bunda kamu.." sentak nya
" hal gak penting? maksud ayah bunda bukan hal yang penting?" tanya Vero yang tak percaya dengan ucapan sang ayah.
" iya bahkan ayah sudah melupakan bunda kamu dari lama jadi jangan pernah kamu bahas tentang bunda kamu.." ucap Pak herry yang langsung mendapatakan tatapan kecewa Vero.
Sedangkan disisi lain Kedua itu wanita itu hanya tersenyum kemenangan.
" Iya bagi ayah bunda gak penting, tapi itu tidak dengan Vero bunda lebih penting dari segalanya bahkan Bunda lebih penting dari ayah." jelas Vero yang langsung berdiri dari duduk saat mendapatin tatapan ejek dari dua rubah sialan itu.
" Vero tau didalam hati ayah yang penting itu hanya pelakor yang merusak kebahagian keluraga kita..' ujar Vero yang menatap sinis kerah Saudara tiri dan ibu tirinya.
" jaga ucapan kamu vero.." bentak Pak Herry yang hendak melayangkan satu tamparan lagi karena halangan dari sang istri.
" Cukup mas, mas jangan nampar vero lagi.." ucap Bu Desi yang memcekal tangan pak herry yang hendak menapar vero.
" gw gak butuh atas pembelaan luh dan rasa simpati, dan juga hentikan ekting menjijikan itu dihadapan gw.." ujar Vero dingin
" Vero.." panggi Bu Desi
" jangan pernah sebut nama gw dari mulut busuk luh itu." jwb Vero yang menantap datar kearah bu desi
" Kakak kenapa bilang gitu sama ibu, Calista tau kalo ibu hanya ibu sambung jadi bisakah kakak menghargai kami." Bela Calista yang langsung menghampiri sang ibu. sedangakan Vero hanya menampilakan wajah datarnya.
" Cih hargai, gak pantes buat kalian.." ujar Vero sinis kearah Calista yang mengepalkan tangannya.
" Vero." bentak Pak Herry
" Hentikan ucapan kamu yang gak tidak-tidak itu sebelum ayah melakukan hal yang diluar nalar." gretak Pak herry yang hanya dibalas senyum sinis Vero
" Dan ayah juga mau kalian bisa akrab satu sama lain apa gak bisa." lanjutanya
" Akrab? oh itu takkan bisa apalagi harus akrab sama kedua rubah itu gw kaga sudi.." jwb Vero menatap ejek kearah Calista yang menahan marah.
Plakk
Satu tamparan lagi yang dilayangkan Pak Herry mengenai pipi Vero.
" Ck, sudah dua kali ayah menampar Vero hanya demi rubah tua itu." ujar Vero yang menggerakan lidahnya didalam
" Veroo.."
" Apa gak terima kalo dua orang tersayang ayah Vero rendahkan? gimana rasanya dua orang yang ayah anggap berharga vero injak²sakit bukan itu seperti vero rasakan saat bunda di rendahkan begitu saja apalagi bunda yang sudah tiada.." teriak Vero
" sakit yah , sakit tapi ayah gak pernah ngerasain yang vero rasain." lirihnya
" jangankan ayah ngerasain peduli aja gak, jadi jangan salahkan Vero menyebut mereka rubah atau ******.." lanjut Vero menatap sinis kearah ketiga manusia itu
" luhh.." tunjuk Calista yang sudah tak tahan dengan emosinya.
" Apa? mau berantem? ayok, gw kaga takut sama elu jangan kira selama gw diam gw takut maupun ngalah gak, gw diam cuma gak mau ngerusak semua rencana licik kalian yang ingin merampas harta ayah.." jelas Vero dengan gaya angkuhnya.
ya selama ini Vero tau kalo kedua rubah itu hanya mengincar harta ayahnya. ya dulu saat Vero membersihkan dapur Vero tanpa sengaja mendengar percakapan kedua rubah itu yang berencana mengambil ahli harta warisan Wibowo dan lebih parahnya lagi mereka juga berniat membunuh pak herry bukankan sungguh mengejutkan saat mendengar rencana itu tapi Vero tetap berusaha tenang seolah tidak tau apa².
__ADS_1
" Apa? kaget?" tanya Vero sinis
" Vero hentikan omong kosong mu itu apalagi menuduh yang tidak² ..' ujar Pak Herry yang menatap tajam kearah Vero
" Itu bukan menuduh tapi itu kenyataan"
" huu huu ini semua salah aku mas, andai dulu" Ucap Bu desi terpotong saat mendapatakn pelukan hangat yang diberikan suaminya.
ya emang salah mu cih batin Vero memutar bola mata malas
" Gak sayang ini bukan salah kamu, tenang aja mas bakal kasih pelajaraan buat anak pembangka ini.." jelas nya
" tapi mas.."
" kamu tenang aja."
" cih menjijikan.." dengus Vero yang jijik melihat bu desi yang menampilakan ekting murahanya.
gak sabar nunggu anak sialan ini enyah dari dunia ini batin bu desi yang menyunggingkan senyum kemenangannya
" Ayah gak perlu basa-basi lagi mulai saat ini kamu angkat kaki dari rumah ini." ucap Pak Herry yang menatap sang putrinya penuh kebencian dan kecewaan.
" dan juga jang pernah kamu memanggil saya ayah mulai hari ini maupun seterusnya karena saya gak punya anak pembangka seperti kamu." ujar Pak herry yang begitu menusuk dihati Vero. tapi sekuat tenaga Vero mempertahankan air mata nya yang akan keluar atas perkataan yang begitu menyakitan oleh ayahnya.
" No Problem Vero bakal terima semuanya tapi inget gak semuanya Vero terima atas perilaku kalian jadi tunggu tanggal permainnya." ujar Vero yang membuat ketiga manusia itu terpengangah atas ucapan yang bisa dibilang sebuah pringatan bagi ketiga manusia itu.
Setelah mengucapakan itu Vero pun langsung melenggang pergi menuju ke kamarnya untuk membereskan semua barang yang akan dia bawa untuk pergi.
Ini belum seberapa penderitaan luh ******, gw bakal inget atas perkataan luh yang merendahkan harga diri nyokap gw dan gw jadi tunggu pembalasaan gw batin Calista yang menatap punggung vero yang semula jauh.
" Maaf bunda, Vero udah ngelakuin kesalahan terbesar apalagi Vero gak bisa nempatin janji bunda yang menyuruh vero terus bedamping dengan ayah maaf vero masih belum siap bunda.." lirih Vero menatap kearah album yang dia pegang.
On Flashback
Sebelum kematiaan Bunda Vero.
" Vero" panggil Wanita setengah parubaya yang tiduran di kasur yang amat besar
" iya ." jwb Vero yang duduk di samping wanita setengah parubaya yang tak lain sang bunda
" Vero kecil bunda mau jaga janji bunda gak?" tanya Bunda Vero yang mengelus rambut coklat Vero kecil dengan sayang.
" janji apa bunda?" tanya balik Vero kecil.
" Bunda cuma mau bilang suatu saat kalo bunda gak ada , vero jangan benci ayah yah sebesar salah ayah dan sekesal ayah Vero gak boleh benci sama ayah apalagi ngelawan ayah meski suatu saat ayah bakal berubah..' jelas Bunda Vero dengan senyum tipisnya
" emm emang ayah bakal berubah bund?" tanya Vero yang memeluk tubuh sang bundanya dengan erat.
" belum mesti yang pasti pesan bunda, Vero gak boleh benci ayah meski ayah mempunyai kesalahan besar, apalagi ngelawan ayah oke.." ujar nya
" oke bunda Vero janji gak bakal benci ayah, apapun kesalahan yang diberikan ayah dan juga vero janji gak bakal ngelawan ayah."
" Karena Ayah bagaikan pahlawan yang melindingun Vero saat dalam bahaya.." lanjut Vero yang langsung mendapatkan cubitan gemas oleh bu dewi selaku bunda Vero.
Bunda harap kamu gak akan membenci ayah mu meski suatu saat kamu akan mengetahui fakta yang tersembunyi ini, dan bunda juga harap putri bunda selalu bahagia karena bunda akan tetap disamping kamu. batin Bu Dewi yang memeluk tubuh mungil putrinya dengan erat.
__ADS_1
bersambung