Preman Manja

Preman Manja
21


__ADS_3

...Dahlah, met baca. Jan lupa vote dan komen😾...


.......


.......


JEJE melipat Sajadah setelah dia selesai sholat Dhuha, teman-temannya sudah menunggu di luar.


Mereka sudah sampai di kaki gunung, Jeje dan Gita menumpang sholat Dhuha sebentar. "Kak Gita udah selesai?." tanya Jeje pelan saat hendak keluar.


Pasalnya dia melihat seorang wanita yang masih mengenakan mukena tengah berdoa. Tak dijawab dan hanya mengangguk saja.


Jeje melanjutkan langkahnya keluar, dia duduk dikursi kayu dan memakai kaus kaki dan sepatu.


Tas nya dititipkan pada Xeno sebentar. "Jeje udah selesai?." Jeje mendongak, Gita datang dari arah kedai yang tak jauh dari tempat Jeje duduk.


Jeje diam, dia melirik singkat pada jendela yang langsung tembus ke ruang tempat dia sholat tadi. Wanita tadi masih ada, tapi hanya diam saja.


"Jeje." cowok itu tersentak dan beralih pada Gita yang baru keluar dari rumah tadi.


"Kak? Kok dari dalam?." tanya Jeje shock.


Gita meneleng pelan. "Kan kakak baru selesai sholat Je." jawab Gita kalem.


Jeje meneguk ludahnya kasar, dia gatau kalau setan di sekitar Gunung ini lebih jahil dari yang dia kira.


Gita menepuk kepala Jeje pelan. "Kamu dijahilin ya?." tanya nya lembut.


Jeje mengangguk kaku, dan tertawa kikuk. "Biasa itu kok, namanya juga di sekitar gunung. Kuylah buruan, mereka dah nungguin." ajak Gita.


Dia sudah pakai kaus kaki, tinggal pakai sepatu aja.


Jeje mempercepat kegiatannya lalu bangkit dari duduknya, sebelum pergi Jeje kembali melirik jendela tadi.


DEG!


Jantungnya berdegup cepat, dia cuma kaget. Soalnya perempuan yang dia lihat pakai mukena tadi wajah dan tangannya nemplok di kaca jendela.


Jelas, pucat mengerikan tengah menyeringai pada Jeje.


Gita yang sadar itu sontak mengusap wajah Jeje pelan. "Jeee." tegurnya lembut.


Jeje meneguk ludahnya kasar, dia menggenggam ujung baju training Gita dan berusaha bernapas normal, penunggu Gunung itu mengerikan.


"Udah tenang?." tanya Gita lagi. Kasian dia liat cowok ini, nampak ketakutan walau tak terlalu kentara diwajahnya.


Jeje mengangguk lalu melepas genggamannya. "Jangan kasih tau mereka kak, nanti pada takut." cicit Jeje.


"Iya, santai aja."


Keduanya berjalan mendekati rombongan mereka yang sudah selesai mendengarkan arahan.


Doni segera berlari kearah Gita dan merangkul lengannya. "Kok lama?." tanya nya dengan bibir yang mengerucut sebal.


Dia sudah menceritakan tentang pernikahannya pada teman-temannya, mereka cuma memberikan 1 respon.


"Oh, dah tebak."


Untung aja gak ada masalah.


"Aku buang air tadi sayang." jawab Gita.


Xeno, Adi dan Vino mau muntah liat adegan itu, tolong hargai jomblo ya kawan.


"Je, lo tadi?."


Jeje mengangguk saja, kemarin Diara juga dibuka mata batinnya sama kakek mereka, tapi beruntungnya dia bisa ditutup lagi.


Gak kayak Jeje yang kebuka permanen.


Diara menepuk bahu Jeje. "Tenang, ada gue kok." hibur Diara.


Diara, lo gatau kalau Arsa udah nahan cemburu ditempat.


.


.


Mereka mulai menanjak, ada beberapa rombongan tapi rombongan mereka jadi rombongan terakhir.


Masih jam 11 siang, masih terang dan belum ada ketakutan diwajah mereka. Xeno sendiri seakan lupa kejadian semalam.


Dia malah asik nge vlog bertiga sama Vino dan Adi. Biasalah.


"Halo guys, kami lagi menuju pos 1 nih, kalian lihatkan pemandangannya asri bangeet." Xeno menunjukan pepohonan dan semak belukar disekitarnya.


Apanya yang indah kak, itu pohon semua kak hahaha💕.


Ganteng, review saldonya dong👀


Kak! Review kak Jeje dong, si ganteng asal Madura ituu kaaaak.


Xeno mendecih pelan. "Jeje lagi gamauuu di videoin, udahan yaa vlognya babay!."


Selesai nge vlog, Xeno menggerutu sebal. "Masa mereka minta review saldo gue sih." curhat Xeno.


"Muka lo gak ganteng, mungkin saldo bisa jadi jalan terakhir alasan mereka suka sama lo." ceplos Jeje menohok.


Xeno mendelik kesal. "An-"


"Shuutt!! Di Gunung gaboleh ngomong kotor." tegur Gita.


Xeno meringis pelan, apalagi saat Vino menggeplak kepalanya. "Lo sih, mulut jahannam!." sentaknya kesal.


Posisinya tuh, Gita paling depan, di belakangnya Doni, lalu Adi, Vino, Xeno, Jeje, Arsa dan Diara.


Sepanjang jalan yang merocos hanya Xeno, terkadang berdebat dengan Adi dan Vino.


Sampai akhirnya mereka berhasil sampai ke pos 1 jam 2 siang.


"Je, sholat dulu." ingat Gita.

__ADS_1


Jeje mengangguk. "Aku gak kamu suruh?." ceritanya Doni cemburu karena Gita peduli banget sama Jeje daritadi.


Dari nanya keadaan, nyuruh istirahat dan segala macem. Ini posisinya Doni sebagai suami Gita merasa cemburu ya.


Gita terkekeh pelan. "Iya, kamu juga sholat sama Jeje sana." ujarnya lembut.


Doni mengulas senyum manis, dia mengecup pipi Gita lalu berlari pelan mengikuti Jeje.


"Kalian gak sholat?." tanya Gita pada Xeno, Vino, Arsa, Diara dan Adi.


Mereka sontak menggeleng. "Aku haid kak, tapi tinggal flek coklat kok, darahnya udah berhenti." jawab Diara cepat.


Gita mengangguk, lalu dia beralih pada yang laki-laki. "Kalian haid juga?." tanya Gita langsung.


Mereka menggeleng bersamaan. "Terus?."


Hanya cengiran yang mereka berikan.


"Lupa caranya sholat kak.." jawab Xeno malu.


Gita menggeleng pelan. "Pulang dari sini, minta ajarin Jeje cara sholat ya. Kalian masih muda, maut gak nunggu kalian tua jadi daripada kalian nyesel pas tua gak bisa sholat, mending selagi dikasih umur sama Allah kalian sholat." tegur Gita.


Dengan patuh mereka mengangguk.


"Baik kaaaak, makasih ya kak. Soalnya kalau di rumah, aku gak diperdulikan gitu, jadi mau sholat gak sholat ya gak ada yang ngingatin." cetus Adi pelan.


Gita mengelus rambut Adi pelan. "Mulai sekarang, perduli pada hidup kamu sendiri dan bekal kamu di akhirat nanti. Oke?."


Dengan semangat Adi mengangguk, dia merasa punya seorang kakak dari sosok Gita. "Makasih Kak." ujarnya senang.


Setelah makan beberapa perbekalan mereka, perjalanan dilanjut.


Jam sudah menujukan pukul 4 sore, matahari mulai terbenam dan perjalanan mulai terhalang cahaya.


Gelap, mulai gelap.


Perasaan Jeje udah mulai was-was, dia tak melihat hantu apapun selama mereka nanjak, hal aneh.


Tapi saat mereka melewati pos 2, Jeje sekilas melihat beberapa rombongan perempuan.


Dia tak mau perduli karena anggota rombongannya juga gak perduli.


"Kak Gita!." panggil Vino.


"Kenapa Vin?."


Vino menunjuk ke arah dalam hutan.


"Kok di Gunung ada pasar kak, mana rame banget lagi."


DEG!


DEG!


Semua yang dengar hanya terdiam, Gita berbalik dan memberikan senyum manisnya. "Vino, itu bukan pasar dek. Itu bukan pasar." jawabnya pelan.


Vino menaikan sebelah alisnya, dia kembali beralih pada pasar ghaib tadi dan yah...tak ada apapun selain hutan.


"Yah, udah lama gak nanjak jadi lupa kalau Gunung tuh seseram ini." gumam Vino.


Jam sudah menunjukan pukul 7 malam, mereka sudah sampai di pos 3. Gita, Jeje dan Doni melakukan sholat magrib sebentar.


Sementara yang lain istirahat.


"Lo semua tau gak?." celetuk Arsa tiba-tiba.


Semua menoleh. "Apa?." tanya Diara.


"Tadi, gue denger-"


"Jangan dilanjut, kalau kita belum pulang mending lo diam aja. Takutnya nanti dia ngikut." Vino membekap mulut Arsa agar tak dilanjut lagi.


Arsa hanya nyengir saat diperingati Vino. "Iya maaf." ujarnya.


Suasana gelap dan hening mereka rasa.


"Kak!."


"Main yuk kak!."


"Hihi, kakaaaak."


Mereka dengar, bahkan yang lagi sholat juga dengar kok. Tapi mereka hanya diam tak mau menanggapi karena ini masih di Gunung.


Sekilas, Xeno melihat seorang wanita yang seperti seorang pendaki berjalan dari arah mereka datang tadi.


"Hey! Kamu sendirian?." tanya Xeno langsung.


Gadis itu tersenyum tipis. "Iya nih, tadi kepisah sama rombongan." jawabnya lesu sembari duduk disebelah Xeno.


Gadis itu cantik, Xeno akui.


Mereka berkenalan dengan gadis tadi, dan setelah Gita, Jeje dan Doni selesai mereka melanjutkan pendakian mereka bersama gadis tadi.


Namanya Kinara, asal Medan.


"Kita berhitung dulu ya semua." pandu Gita dan mereka berhenti sejenak.


Mereka ada 9 ditambah Kinara jadi 10.


"Satu." Gita memulai.


"Dua,"


"Tiga,"


"Empat,"


"Lima,"


"Enam,"

__ADS_1


"Tujuh,"


"Delapan,"


"Sembilan,"


"Sepuluh."


"Oke-"


"Sebelas..."


Mereka diam, benar-benar terdiam saat itu juga.


Tak mau ambil takut, mereka kembali melanjutkan pendakian menuju pos terkakhir yaitu pos 4.


Disana nanti mereka membangun tenda, agar subuhnya mereka bisa liat sunrise di Puncak.


Kondisi lagi gak hujan, langit nampak jelas berbintang, jam sudah menunjukan pukul 10 malam.


Mereka membangun tenda dan membuat api unggun, lalu masak mie dan buat teh atau kopi, kalau Doni udah kelas susu lah.


Gita lagi mompa di dalam tenda dan Doni nungguin.


"Kinara, mau makan mie?." tawar Xeno lembut pada gadis cantik itu.


Kinara menerima mangkuk mie kuah pemberian Xeno dengan lembut.


"Makasih Xeno." ucapnya.


Xeno mengangguk pelan, dia suka melihat wajah teduh Kinara, sangat meneduhkan. Adi dan Vino hanya mupeng liat kedekatan Xeno.


Cowok itu lagi falling in love kayaknya.


"Kalau udah selesai, masuk ke tenda ya. Kita tidur." titah Gita sembari keluar dari Tenda.


Mereka mengangguk patuh, apapun yang Gita katakan akan mereka patuhi, karena bagi mereka Gita adalah panutan.


..........


Subuhnya, Xeno duluan bangun.


Dia keluar tenda dalam keadaan mata masih merem melek, dia melihat tas milik Kinara tergeletakan disamping tenda Xeno.


Tenda Kinara juga udah gak ada.


"Kinara?." Xeno mencari keberadaan Kinara, tapi dia tak menemukannya.


"Kinaraaaa." panggilnya lagi.


"Xeno aku disini!."


Xeno berjalan cepat mengikuti asal suara, berbekal senter ditangannya, Xeno mengikuti suara Kinara tapi dia malah masuk ke hutan lebih dalam.


"Kina-"


"XENO!! XENO BALIK KEMARI CEPAT!!." Xeno berbalik, Gita berlari kearahnya dan langsung menarik badannya.


Tubuh Gita gemetar hebat, dia membawa Xeno menuju tenda mereka lagi.


"XENO LO GILA!?." maki Vino sembari memeluk Xeno erat.


Dia takut kalau teman gilanya ini sampai kenapa-napa. "Kenapa sih?." tanya Xeno heran.


Teman-temannya nampak panik saat ini, bahkan matahari sudah mulai naik.


"Kamu hilang 2 jam Xeno, ya ampun kakak panik." ujar Gita lelah.


"Hah!? 2 jam!? Perasaan aku baru keluar 2 menit yang lalu kak. Aku nyari Kinara, dia gak ada." cetus Xeno.


Mereka nampak saling pandang.


"Kamu tau tadi kamu kemana? Itu jurang Xeno!." sentak Gita kesal.


Xeno menggeleng kuat, dia berlari menuju tempat dimana dia dengar suara Kinara tadi, diikuti teman-temannya yang lain.


"KINARAAAAAA, KAMU DIMANAAAA!!." teriaknya panik.


"XENO!!."


"KINARAAA!!."


"KINA-ARGGH!!."


"XENO!!."


Xeno terperosok sedikit ke jurang, dia meringis pelan saat merasa kakinya terkilir. "Aw, sa-" jantung Xeno berhenti berdetak.


Disebelahnya, ada sekujue tubuh manusia yang mulai membusuk, dan 1...pakaian yang dipakainya itu.


"K-kinara?." ujarnya terbata.


Shock, kecewa dan panik melandanya.


"XENO-ALLAHUAKBAR! KAK GITA! DISINI MAYAT KINARA KAK!."


"AMANKAN XENO, KAKAK BAKAL TURUN BUAT MANGGIL TIM SAR!."


Jujur, Xeno masih tak percaya.


Jika gadis yang membuatnya jatuh hati dengan mudahnya, adalah roh dari mayat ini.


Ah..hancur hati Xeno sekarang.


"Sebenarnya gue udah tau, cuma gamau bikin Xeno sedih." gumam Jeje pada Diara.


Diara menepuk bahu sepupunya itu.


"Gak papa." jawabnya lembut.


...Yah, akhirnya mereka gagal sampai Puncak, tapi tak apa karena ini pengalaman yang tak terduga sama sekali....

__ADS_1


...Bersambung😾...


...Btw, kisah Kinara ini aku ambil dari kisah nyata:)...


__ADS_2