
...Met baca, jan lupa vote dan komenš¾...
.......
.......
DONI meregangkan sedikit tubuhnya, jam sudah menunjukan pukul 5 sore dan Doni baru sampai ke rumahnya.
Pekerjaan menumpuk di Kantor membuat Doni melupakan satu hal penting di rumahnya.
"Assalamualaikum." salam Doni lesu begitu masuk ke dalam rumah.
Ada suara orang yang sedang tertawa di ruang santai, saat Doni melangkah semakin cepat dan dekat menuju ruangan itu.
Jantungnya serasa berhenti berdetak, dadanya nyeri seketika melihat pemandangan tersebut.
"Adi, lo mau apa kemari?." tanya Doni tak suka, terlebih Adi duduknya sangat amat rapat dengan Gita.
Adi memandang Doni dan memberikan senyum miringnya. "Kami lagi milih WO untuk Resepsi 3 hari lagi." jawab Adi santai.
Doni membeku, WO? Jadi mereka beneran akan menikah?.
"Kalian..beneran bakal nikah?." lirih Doni tak percaya, dia fikir mereka bercanda doang.
Adi dan Gita mengangguk yakin. "Tentu saja, bukannya ini semua atas permintaanmu?." sarkas Gita tak acuh.
Sakit sekali rasanya, ternyata pilihannya menikahkan Gita dengan Adi itu pilihan buruk.
Amat buruk, Doni gak sanggup menahan beban dan perih dihatinya kala mengetahui jika benar Gita akan menikahi Adi.
"B-baiklah, semoga pernikahan kalian lancar." getir Doni diselingin senyum nanarnya, dia berjalan cepat menuju lantai 2, dia mau tidur di kamar yang satu lagi aja.
Doni gamau tambah sakit hati dengan tidur di kamar bersama Gita.
"Hiks..sakitt.." Doni fikir rasa sedih itu akan hilang dalam beberapa jam dan hari.
Tak taunya, sampai berhari-hari rasa sesak itu tak kunjung lenyap. Malah semakin menjadi dan menyebar keseluruh tubuh Doni.
"Akhh..hiks..sakit Gita..hiks..sakit hiks.." rintihnya seraya mencengkram bagian bekas jahitannya dulu.
Doni belum sampai di kamar, dia berhenti melangkah dan terduduk sejenak, rasa nyeri terasa ditempat dimana ginjalnya dioperasi dulu.
Ini memang sering terjadi jika Doni stress dan keseringan menangis, dia jadi jarang makan dan memilih tak makan apapun seharian.
Doni sudah jarang minum susu, tak ada lagi Gita yang membuatkannya susu.
Doni merindukan semuanya, merindukan kelembutan Gita, merindukan Gita yang selalu memanjakannya.
Doni merindukan semuanya.
"Hiks..kangen Mami Gita..hiks..kangen mami Gita kangeeenn!!..hiks..KANGEN MAMI GITA!! ARGGHHH!!." Doni meraung sejadi-jadinya.
Dia terus meraung, tanpa sadar darah mengalir pelan dari hidungnya, kepalanya sakit.
Ahh..nampaknya asam lambungnya kumat.
Bruk!
Doni jatuh tak sadarkan diri disana.
..........
Jeje menghela napas pelan, dia lagi menjaga Doni yang masih belum sadar dari pingsannya.
Padahal sudah 17 jam Doni pingsan tapi dia tak kunjung membuka matanya.
Tak tau kah Doni, kalau Gita dan Adi akan segera melaksanakan Akad nikah di Rumah keluarga Gita saat ini.
"Cepet bangun Don, lo harus ngehentiin mereka." gumam Jeje gelisah.
Dia memang menjadikan Doni sebagai musuh, tapi melihat keadaan Doni yang seperti ini membuat Jeje prihatin.
"Eungh.."
Jeje tergerak, dia langsung mengguncang pelan bahu Doni, mereka tak di rumah sakit.
__ADS_1
Doni ada di rumahnya, Jeje menemukan Doni tak sadarkan diri didepan kamar lantai 2, Gita hanya meneleponnya dan memintanya untuk menjaga Doni.
Saat ini nampaknya akad nikah akan segera dimulai.
"Gita.." lirihan itu terdengar.
"Don! Bangun!"
"Gita mana?"
"Lagi mau akad sama Adi."
"APA!?"
HAYO LO DON, BOJOMU MAU KAWEN LAGI!
..........
JEJE mengendarai mobilnya ugal-ugalan, mereka harus segera sampai ke rumah Gita dan menghentikan pernikahan.
Vino yang ada di lokasi akad memberitahu Jeje kalau 15 menit lagi Ijab Qobul akan segera dilaksanakan.
Doni sudah gelisah bahkan sangat gelisah, dia menangis tapi berusaha tegar.
Dia harus menghentikan pernikahan itu, dia gak rela dimadu. Gita hanyalah miliknya, Doni akan berusaha sekuat yang dia bisa.
Mengusahakan kehamilan dan memiliki anak, Doni akan berobat, dia akan melakukan apa saja.
"CEPETAN JE!!." teriak Doni prustasi.
"SABAR NJER!."
Doni menggigit bibir bawahnya kuat, dia bahkan tak sadar, jika saat ini Doni membawa foto pernikahannya dengan Gita.
Resepsi pernikahan mereka 1 tahun lalu, saat Doni berusia 21 tahun.
Disana mereka terlihat bahagia dan serasi, Doni gak mau membayangkan Gita melakukan foto pernikahan lagi dengan pria lain.
"Ya Allah..semoga hamba belum terlambat.." bisik Doni berdoa.
Dia takut..dia sangat takut.
Jeje yang bilang. Dokter sempat datang ke rumah Doni guna memeriksa pria itu, dan yah ginjalnya bermasalah.
Doni jarang minum, jangan heran kenapa ginjal satu-satunya itu mulai betingkah.
Jeje menghentikan mobilnya tepat didepan pagar rumay orang tua Gita, dengan cepat Doni membuka pintu dan berlari masuk ke dalam rumah.
Dia mendengar wali bertanya apakah pernikahan itu sah atau tidak.
Dengan sekuat tenaga Doni berlari dan langsung berteriak.
"TIDAK SAH!! SAYA KEBERATAN!! PERNIKAHAN INI TIDAK SAH!." teriaknya keras.
Keringat mengucur diseluruh tubuh Doni, wajah pucatnya membuat semua prihatin. Gita yang sudah cantik mengenakan kebaya putih sontak berdiri.
Begitu juga dengan Adi, sementara Arsa, Diara, Xeno dan Vino turun mendekati Doni.
"Kenapa kamu keberatan?." tanya Gita dingin.
Dia nampak tak suka dengan keberadaan Doni, bukankah ini permintaan Doni? Lantas kenapa pria itu malah menolaknya.
Bukannya menjawab, Doni malah berlutut dan memeluk kaki Gita erat.
"AKU GAMAU DIMADUUU..hiks..HUAAAAAAA MAAFIN AKU UDAH NYURUH KAMU NIKAH LAGI MAAF..hiks..HUAAAAA JANGAN NIKAH LAGI MAMI JANGAAAAAAN!!..hiks..HUAAAAAAAAAAAAA!."
Semua hanya menggeleng pelan, orang tua Doni sebenarnya juga datang, mereka hadir sebagai perwakilan keluarga suami pertama.
Gita diam, dia melirik kearah Adi yang hanya terkekeh pelan. "Gak papa kak, kita emang gak jodoh." jawabnya santai.
Walau terlihat jelas kekecewaan dikedua manik indah Adi.
"Doni-"
"KITA BISA ADOPSI BAYIII..hiks..HUAAAAAAA KITA BISA PROGRES BAYI TABUNG KITA BISA COBA SEGALA HAL TAPI KUMOHON JANGAN NIKAH LAGIII HUAAAAAAAAAAAAAAA."
__ADS_1
Em, sedih sih dengernya.
Tapi kuping mereka pengang btw, ini Doni nangisnya kejer banget, kasihan mereka.
"Udah Don, bangun. Iya aku gajadi nikah."
Doni langsung mendongak, wajahnya kacau dengan air mata dan ingus.
"B-bener..hiks..beneran?." tanya nya gemetar.
Gita mengangguk pelan, walau dia masih kecewa karena beberapa lalu Doni memintanya menikah lagi, tapi ternyata pria itu tak rela dia menikah lagi.
Emang dasar bocah labil.
..........
Dan kalian tau akhirnya bagaimana? Doni sakit, ya benar sekali kawan.
Dia sakit dan tergeletak lemah dikamarnya, gabisa gerak sama sekali, badannya lemas tak terkira.
...Gita sampai harus memakaikannya pampers....
Tangisan terus terdengar dari arah kamar mereka, ini sudah 2 jam Doni terus menangis, alasannya karena Gita keluar sebentar guna ke dapur.
Tapi sebentarnya sampai 2 jam gak balik.
"MAMII GITAAAAA..hiks..MAMII GITAAAA POPOK DONI UDAH PENUUUHH HUAAAAAA..hiks..MAMI GITAAAAA!!!." histeris Doni.
Doni kalau sakit, badannya bener-bener lemas dan gabisa bangkit hanya untuk ke kamar mandi pun gabisa.
Gita masuk ke kamar perlahan dengan kolam besar yang bisa diisi angin, dia sengaja membawanya ke kamar.
Agar Doni bisa mandi di kolam itu.
"Bentar sayang, aku beresin ini dulu ya." ucap Gita lembut.
Doni sesenggukan, pacifier dibibirnya terus digigit dan dihisapnya. "Mami Gita jaat..hiks..ninggalin Doni sendiri..hiks..ada hantu Mamii..hiks.."
"Iya sayang, maaf ya."
Doni mengangguk, dia menyeka air matanya lalu merentangkan kedua tangannya. "Ndong..hiks.." pintanya manja.
Dan Gita, tak akan menolak tentu saja. "Ulu-ulu suami manja aku." gumam Gita sembari menggendong tubuh Doni perlahan.
Doni menyamankan diri diceruk leher Gita, dia tak membayangkan jika tadinya Adi menikahi Gita.
Maka Adi lah yang akan dimanja Gita terus.
"Hiks.."
"Kenapa sayang?."
"Takut.."
"Takut apa?."
"Takut mami pergi ninggalin Doni..hiks.."
Gita menepuk punggung suaminya pelan. "Gak bakal pergi kecuali kalau aku mati." jawab Gita lembut.
Doni menggeleng kuat.
"Hiks..huaaaaaaaaaaaaaa." kenapa harus membahas soal kematian? Doni benci membayangkan dirinya berdiri disebelah nisan bernamanya Gita.
Doni benci dengan ketakutannya, dia benci hal itu.
Jika suatu saat Gita pergi, Doni akan gila, yakin saja.
Doni. Akan. Gila.
Dan yang lebih parahnya, Doni akan bunuh diri guna menyusul Gita yang pergi mendahuluinya.
Karena bagi Doni, dia dan Gita harus mati dijam, detik, hari, tahun, bulan yang sama.
Doni tak mau membayangkan, 1 hari tanpa adanya Gita dihidupnya.
__ADS_1
...Doni tak sanggup....
...BERSAMBUNGš¾...