
...Met baca, jan lupa vote dan komen...
.......
.......
DONI dan Gita sudah pulang dari pemakaman, rasanya masih tak percaya kalau Adi benar-benar sudah meninggal.
Gita meregangkan sedikit tubuhnya, dia mau mengatakan kabar baik ini pada Doni.
Sesampainya mereka di kamar, Gita langsung menarik tangan Doni dan menatapnya lekat.
Doni sendiri hanya diam. "Don-"
"Gita, kamu nyesel gak gagal nikah sama Adi?."
Senyum diwajah Gita luntur seketika, dia melepaskan genggaman tangan Doni dan menatapnya heran.
"Maksud kamu apa?." gumam Gita.
Doni menghela napas panjang lalu tersenyum nanar.
"Aku ngerasa jahat banget sama Adi, dia cinta banget sama kamu tapi aku permainkan hatinya. Pasti kamu juga ngerasa nyesalkan gagal nikah sama dia?." ucapan itu lancar sekali keluarnya.
Gita menatap Doni, dengan tatapan tidak percaya. "Bisa-bisanya kamu bahas soal itu, disaat Adi baru aja dimakamkan, dimana otak kamu Doni?." cerca Gita.
Doni tertawa kuat, pikirannya memang sudah mulai rusak, dia gatau lagi apa yang mau dia katakan dan apa yang mau dibahas.
"Bilang aja Gita, kamu nyesel kan batal nikah?." tanya nya diselingi senyum miring.
Gita menggeram emosi. "Tanah di kuburan Adi bahkan masih basah, tapi mulut sialan kamu udah bisa ngomong kayak gitu, gila kamu emang." Gita langsung masuk ke kamar mandi.
Dia tak mau ada pertengkaran dulu, janinnya masih terlalu rentan untuk keguguran.
Gita gamau usaha Doni untuk memiliki anak bersamanya runtuh.
Dihari saat mereka bermain setelah pulang dari rumah sakit, ternyata 3 minggu setelahnta Gita hamil.
Tapi masih terlalu muda dan rentan keguguran. Gita gaboleh emosi berlebihan, dia gamau semua rencananya membangun rumah tangga sejahtera bersama Doni hancur berantakan.
Sementara Doni hanya duduk termenung di pinggir kasur, dia mengusap kasar wajahnya dan menghela napas panjang.
"Aku harus segera membunuh Xeno, dan tentu saja Erdo bajingan itu." desis Doni dingin.
Dendam yang dulu memang ada untuk Erdo kini bertambah besar setiap saat.
Entah mau sampai kapan dendam ini akan tersimpan, yang jelas Doni gak akan membiarkan pembunuh sahabatnya hidup lebih lama lagi.
Dia harus meminta Vino, Jeje dan Arsa untuk bertemu.
Mereka harus menyusun rencana yang pas untuk Xeno.
Walau Jeje mengatakan bahwa Xeno dipaksa dan dia menyesal melakukannya, perbuatannya harus dipertanggung jawabkan.
Dia bahkan tega membunuh sahabatnya sendiri, dimana dia taruh otak dan hati nuraninya itu.
"Brengsek! Mati lo Erdo sialan!."
Rencana yang baik dan tersusun rapi, sudah disiapkan Doni saat ini.
...Seringai mengerikan terbentuk diwajahnya, dia gak sabar ingin bermain lagi dengan pistol dan pisau yang selama ini jarang dia sentuh....
.........
DONI berlutut di kaki Gita dan meminta maaf atas apa yang dia katakan 3 hari lalu, dia benar-benar menyesal.
"Mami maaf..Doni salah..maafin Doni.." lirihnya pilu.
Gita menghela napas panjang, bayinya tak mau Mami nya marah sama Papi, jadi Gita tak bisa marah terlalu lama sama Doni.
Perlahan Gita memeluk Doni erat.
"Jangan ulangi lagi." peringat Gita.
Doni mengangguk, dia dan teman-temannya akan menjalankan rencana mereka hari ini, firasat Doni tak terlalu baik jadi dia ingin memperbaiki hubungannya dengan Gita sebelum pergi.
"Mami, jagain baby ya. Papi sayang sama mami." bisik Doni lembut.
Gita mengangguk, dia pasti menjaga anak mereka, ini titipan dan ujian untuk mereka apakah mereka bisa menjaga titipan ini atau tidak.
Doni menangkup wajah Gita dan mencium bibirnya lembut, dia sangat mencintai istrinya, sampai kapanpun Gita adalah yang terbaik.
"Aku mencintaimu..hiks..aku sangat mencintaimu..sangat..hiks.." dia menangis disela ciuman mereka.
Hatinya sakita membayangkan setelah ini dia tak akan bertemu lagi dengan Gita.
Entah pikiran buruk darimana tapi dia hanya merasa takut.
Umur muda tak menjadi patokan ajal tak menjemput, sudah ada Adi yang jelas pergi walau dia masih berusia 22 tahun.
Rencana ini berbahaya, karena mereka harus berurusan dengan psykopat gila yang sudah membunuh banyak orang.
__ADS_1
........................................................................
Ke 4 nya pergi menuju pegunungan, mereka mengajak Xeno untuk bertemu dengan alibi ingin membicarakan hal ini baik-baik.
Dan mereka tau kalau Erdo pasti mengikuti Xeno karena takut semuanya terbongkar.
"Gue gak nyangka, harus berhadapan sama sahabat gue sendiri." gumam Arsa lelah, dia bersandar dikursi mobilnya dan menghela napas panjang.
Kenangan dulu terbayang dipikirannya, saat mereka SMA, bolos bersama, tertawa bersama, membuat keributan bersama.
Sekarang, Adi sudah meninggal, Xeno menjadi penyebabnya.
Terlalu, tiba-tiba.
Vino masih sering menangisi kepergian Adi, karena dia dan Adi yang paling dekat.
Masih sakit hatinya saat tau Adi pergi untuk selamanya.
"Jadi, kita harus membunuh Xeno?." tanya Jeje dengan intonasi dingin dan datarnya.
Doni diam, dia masih fokus mengendarai mobil menuju lokasi, Xeno sudah ada disana dan Erdo juga ada disana.
Hari ini semuanya selesai, mereka akan menyelesaikan semuanya hari ini.
Adi, maaf kalau gue gak bisa nepatin perkataan gue untuk gak benci Xeno, gue benci banget sama dia sekarang. Batin Doni menggeram.
Kenapa harus Xeno? Dia sudah terlalu banyak ditekan..batin Arsa.
Gue harus nyelesaikan semuanya, gue udah pamit sama Neta, semoga semuanya lancar, karena gue gak ngeliat penglihatan sama sekali, gue takut ini akan jadi kasus yang sama dengan kasus Adi. Batin Jeje.
Yah, dia tak mendapat penglihatan 3 hari belakangan ini, Jeje takut ini sama dengan Adi.
Jeje berdoa dalam hati, agar semua berjalan sesuai rencananya.
Mobil mereka sampai, mereka memilih ke pegunungan karena itu mengingatkan mereka pada kenangan dulu.
Saat mereka pergi ke Sinabung, Gunung juga menjadi trauma besar bagi Xeno, masalah Kinara dan Zero terus menghantuinya.
Setibanya mereka dipinggiran jalan yang lumayan luas namun tepat diujungnya jurang.
Ada tempat duduk dari kayu tersedia disana.
Doni memarkirkan mobilnya, mereka langsung turun dan berjalan mendekati Xeno yang duduk bersama Erdo disebelahnya.
Wajah Xeno pucat, air mata terus mengalir dari kedua matanya.
Dia capek, mentalnya terluka karena pamannya sendiri.
"Xeno, apa kabar?." tanya Jeje santai seperti biasanya.
Xeno hanya mengulas senyum tipis dan melirih. "Gue baik..batin gue yang gak baik.." semua yang mendengar itu terdiam.
Sementara Erdo menyilangkan kedua tangannya didada lalu berdiri.
"Jadi, kalian mau apa menemui keponakanku?." tanya Erdo pongah.
Doni mengepalkan kedua tangannya, sementara yang lain berusaha untuk tetap tenang.
"Untuk mengutuknya karena tega membunuh sahabatnya sendiri, keponakanmu gila, sama seperti pamannya." sarkas Doni mengejek.
Erdo mendengus. "Gita tak akan lama bersamamu, dia akan pergi. Kecelakaan merenggut nyawanya, percaya padaku." cetus Erdo santai.
Doni diam. "Percaya sama lo sama aja percaya sama satanis!" cerca Vino tiba-tiba, ini biang kerok yang buat pertemanan mereka hancur.
Erdo menggeram emosi, dia menunjukan sesuatu pada mereka semua.
"Aku sudah memasang bom di badan Xeno, jadi lebih baik kalian pergi kalau tidak mau mati." titah Erdo kek babi.
Kesel gue njir lah..
Mereka semua melotot tak percaya, Vino dan Arsa langsung berlari kearah Xeno dan membuka jaket yang dia pakai.
Benar, bom sudah dipasangkan ditubuhnya.
"Xeno, tenang. Gue bakalan berhentiin bomnya." gumam Arsa mencoba kepintarannya.
Dia meraih pisau kecil yang suka dia pakai untuk mengiris sesuatu, dia mencari kabel merah yang bisa menghentikan bom ini agar tidak meledak.
"Biarin aja, biar dia mati." ketus Doni marah.
"Lo gila! Dia sahabat kita!." maki Vino.
"DIA UDAH BUNUH ADI!!."
"DIA DIPAKSA!!."
"DIA BODOH KARENA MAU DIPAKSA SAMA ORANG GILA KAYAK ERDO!!."
"LO GATAU APA-APA DONI!!"
Doni diam saat Xeno berteriak padanya, Xeno menangis keras dan jatuh terduduk dilantai.
__ADS_1
"Lo gatau hidup gue udah hancur..hiks..kalau gue gak nurut..hiks...ERDO BAKALAN NYURUH ANAK BUAHNYA YANG PEREMPUAN BUAT MERKOSA GUE!! GUE CAPEK!! BADAN GUE SAKIT!! GUE CAPEK LO TAU!! GUE CAPEK!! GUE MAU MATI TAPI DIA GAPERNAH NGIZININ GUE MATI!! ARGGGHHH!!!."
Xeno menjerit histeris, dia trauma, kalau Xeno menolak perintah Erdo dia akan diperkosa lagi dan lagi.
Anggota perempuan Erdo yang Dominan akan memperkosanya menggunakan strap on besar atau dengan kata lain nunut buatan.
Dia capek, trauma dan takut.
Xeno capek, batinnya lelah, fisiknya tersiksa, orang tuanya baru meninggal 2 bulan yang lalu.
Dan Xeno malah harus terikat perintah Erdo karena dulu orang tuanya berhutang budi pada Erdo.
Semua terdiam, tak percaya dengan apa yang Xeno katakan.
"Gue capek..hiks..biarin gue mati..hiks..biarin gue mati..hiks..gue pengen ketemu kak Zero..hiks..gue pengen ketemu mama sama papa..hiks..gue gamau disini lagi gue gamau!! Huaaaaaaaaa.."
Sesak, isi hati Xeno membuat mereka tak percaya.
Erdo gila anjing babi sialan itu malah tertawa kuat dengan senangnya.
"Aduh-aduh, miris banget hidup kamu Xeno." ejek Erdo bajingan tai babi.
Doni menggeram emosi, dia hampir menembakan pistol ini ke kepala Erdo jika saja sebuah suara tak menghentikannya.
"ERDO SIALAN LO!!" mereka semua kaget, tiba-tiba sosok pria berusia 21 tahun yang berlumuran darah muncul didepan mereka semua.
Xeno mengerjab tak percaya. "Kak Zero.." lirihnya parau.
Zero, roh jahat yang sengaja Jeje bawa dan ajak kerja sama untuk menghabisi Erdo sekaligus menolong Xeno.
Zero menatap adiknya itu sendu.
"Maafin kakak, baru bisa muncul sekarang. Kakak sadar dendam kakak cuma 1, yaitu ngebunuh orang gila ini!!" lirih Zero pada Xeno.
Ctik.
"BERHASIL! GUE BERHASIL BERHENTIIN BOMNYA!" seru Arsa tak percaya, mereka langsung melepas ikatan ditangan Xeno dan membuang bomnya.
Vino memeluk Xeno erat dan menenangkannya agar berhenti menangis.
"Roh seperti dirimu bisa apa untuk menghukumku?." tanya Erdo remeh.
Heh, babi kau Erdo. Emosi aku.
Zero menyeringai, tak lama ratusan roh mengerikan muncul dan mengerubungi Erdo.
Roh-roh dari korban yang sudah dia bunuh, roh istrinya, roh anaknya yang juga dia bunuh, roh jahat yang menyerupai Adi.
"Adii!! Gue minta maaf Adiii!!..hiks..maafin gueee!!" melihat roh Adi membuat Xeno kembali merasa bersalah.
Adi yang dalam kondisi terakhirnya mati, hanya memandangi mereka dan tersenyum manis.
Ingatlah, itu bukan Adi.
Erdo mulai menjerit panik, dia menggeleng kuat saat roh-roh itu mulai mengganggu pendengarannya.
Zero tersenyum puas, dia memandang kearah Jeje dan yang lainnya.
"Dia tak akan mati, dia bakal gila dan berakhi mati mengenaskan. Tugas gue udah selesai, gue bakalan pergi. Dan Je, tolong jaga Neta karena gue yakin lo emang bisa jagain dia." ujar Zero panjang.
Jeje mengangguk patuh. Tentu saja dia akan menjaga kekasih hatinya itu.
Disinilah perpisahan kembali terjadi, Zero memeluk Xeno walau tak bisa, dia merasa bersalah pada adiknya ini.
"Maafin kakak..mayat kakak gak bakal ditemukan karena Erdo bajingan itu sudah mendapatkannya duluan dan membuangnya ke kandang buaya miliknya. Maafin kakak Xeno..maaf udah ninggalin kamu.."
Xeno menangis sejadi-jadinya, perasaanya tak karuan saat ini.
Semua tercampur jadi satu-
DOR!!
Hening, mereka terdiam saat tembakan itu terdengar, disusul dengan suara jatuhnya seseorang.
"DONI!!"
"HAHAHAHA MATI KAU SIALAN!!."
Jeje menggeram emosi dan mengambil pistol dibalik jaketnya, dia membalas tembakan Erdo.
DOR!
"ARGGH TANGANKU!!"
"MATI KAU ANJING!" maki Jeje emosi.
Walau dia sengaja menembakan ditangan, Erdo tak akan mati, dia akan menderita dengan peluru yang terus bersarang ditangannya.
...Hukuman dari Tuhan baru saja akan dimulai....
...Bersambungš¾...
__ADS_1