
...Met baca, jan lupa vote dan komenš¾...
.......
.......
2 HARI mereka libur karena Gita sakit dan tak tau juga kenapa mereka harus ikut libur. Tapi gak apalah karena itu anggap aja libur sekolah.
Dan hari ini mereka lupa kalau harus nge print buku paket untuk dijadiin latihan soal.
"Gue mulu sih yang kalah." keluh Adi saat dia kalah hompipah, mereka menentukan kacung yang harus ke fotocopi pakai hompipah.
Vino merangkul bahu Adi dan menangkannya. "Tenang, gue ikut kok." ujarnya santai.
Adi menggerutu tanpa suara, dia menerima uang 500 ribut dari Doni dan 1 buku paket untuk di fotocopi.
"Jangan lupa beli batagor ya kalau ada." celetuk Xeno seraya memberikan uang 50 ribu pada Adi.
Adi mengangguk saja. "Je, nanti ajari gue ngaji lagi ya." celetuknya saat mengambil kunci motor Doni.
Jeje mengulas senyum manis, dia mengacungkan jempolnya pada Adi, jadi Adi dan Vino ikut ngaji sama Jeje.
Jeje seneng aja sih, temennya mau berubah.
"Jangan lupa baca doa ya." pesan Jeje sebelum mereka keluar kelas.
Adi dan Vino mengangguk, Jeje sedikit tenang akhir-akhir ini, tak ada penglihatan buruk dan dia gak lihat setan lagi.
Karena setengah dari mata batinnya udah ketutup, jadi hanya roh jahat saja yang bisa dia lihat, kalau lagi sial sih.
"Gue rasa, Adi emang serius mau berubah ya." celetuk Doni tiba-tiba.
"Ya bagus dong." sahut Arsa yang lagi mainin pulpennya dengan tatapan yang terus tertuju pada Diara di lapangan sekolah.
Doni diam. "Dia bukan mau mati kan?." senyap, tak ada yang menyahut.
Terlebih Jeje, dia rasa beberapa hari ini terlalu tenang baginya.
Di koridor, Adi dan Vino lagi berdebat soal mengajari Vino cara menyebutkan huruf Tsa.
"Lidah lo digigit Vinooooo, tsaaaaa bukan saaaa, ah sebel gue!." keluh Adi lelah.
Vino mengerucutkan bibirnya sedikit.
"Gue gabisa.." cicitnya.
"Ayo coba lagi."
"Sraaaa..saaaa..iihhh Adi gabisaaaa gue tau gaaaak!!."
Adi tergelak, komuk Vino lucu dimatanya. "Udah, nanti belajar lagi sama Jeje." hiburnya sembari menepuk bahu Vino.
__ADS_1
Vino mengangguk, seulas senyum tipis terlihat diwajahnya, dia suka saat teman-temannya tertawa karena ulahnya.
Mereka sampai di parkiran sekolah, Adi berjalan mendekati motor Nmax Doni, dia terhenti sejenak.
"Vin, ada yang mau gue ceritain." ujarnya sembari bersender dimotor Doni.
Vino menaikan sebelah alisnya heran.
"Cerita lah, sini gue denger."
Adi mengangguk. "Jadi, sebenarnya gue ini anak haram." ujarnya getir.
Mata Vino melotot tak percaya, dia reflek membekap mulutnya karena shock yang melandanya.
"Kok..lo bisa tau itu?." setau Vino hal kayak gitu itu rahasia.
Adi mengedik tak perduli. "Ibu sama Ayah gue nikah karena gue ada, ibu gue hamidun karena ayah gue merkosa ibu gue, dan itu alasan gue diabaikan terus dari dulu." ceritanya.
Vino terdiam, masih tak percaya.
"Selama ini, gue kerja sambilan di Bengkel, uangnya buat ongkos, untungnya sekolah gak ngeluarin gue saat gue berulah, dan untungnya beasiswa gue gak dicabut."
Vino yang notabene adalah anak orang kaya dan dia tunggal, tak pernah merasakan bekerja diluar rumah.
Dia memang dimanja tapi dia pandai pekerjaan rumah, setidaknya orang tuanya masih menyayangi dan menuruti semua keinginan Vino.
"Gue nih, selalu tidur di kandang ayam kalau ayah gue mabuk, gue selalu dipukuli ibu kalau ibu gue mabuk dan stress, dulu gue punya kakek yang sayang sama gue, tapi sekarang Tuhan udah ambil dia."
"A..hiks..di.." isaknya sesenggukan.
Adi terkekeh pelan, dia memeluk Vino pelan. "Gue sangat berterima kasih sama kalian karena mau temenan sama anak haram kek gue." bisik Adi.
Bukannya tenang, Vino makin kejer.
Vino jadi merasa gak bersyukur, selama ini dia selalu mengeluhkan betapa cerewetnya mami saat di rumah, tanpa tau kalau sahabatnya sendiri ingin di cereweti ibunya.
Vino emang kurang bersyukur.
Adi, dia menyayangi teman-temannya dan juga Gita.
Adi sangat sayang Vino, dia menganggap Vino sebagai adiknya karena Vino itu yang paling manja.
Sementara Gita, dia anggap sebagai sosok ibu, yang memberikannya nasihat dan arahan yang sebagaimana seorang ibu berikan.
Adi mau berubah untuk dirinya sendiri.
Maut tak menunggu tua untuk menjemputnya.
"Udah ih, jangan nangis njir! Heh udalah aduh." Adi kelimpungan buat nenangin Vino yang masih nangis.
"L-lo sih..hiks..sedih gue tau gak!..hiks..huaaaaaa mamiiiii huaaaaa...hiks.."
__ADS_1
"Udah ih, masa gitu doang lo nangis njir. Kayak gue mati aja lo tangisin." celetuk Adi bercanda.
Tapi Vino malah makin kejer.
Selesai acara tangis-tangisan Vino, mereka melaju keluar sekolah dengan nmax Doni.
Fotocopinya gak jauh, cuma mereka malas jalan kaki.
"Baru kali ini, gue naik motor bagus." bisik Adi terpukau.
Dia selalu naik angkot atau lebih parahnya kalau dia gak ada uang, dia akan berpuasa setengah hari dan jalan kaki ke sekolah.
Dia akan buka kalau ada temennya yang nawarin makan siang.
Motor melaju dengan kecepatan sedang dijalan raya, fotocopi sudah dekat dan Adi dengan sigap menyalakan lampu sen kanan.
Saat tak ada kendaraan yang mendekat, Adi melajukan motornya.
"Di-"
TIIIIINN!!!
Adi dan Vino sama-sama shock, Avanza dari kiri melaju dengan cepat kearah mereka.
"Vino gue minta maaf!!." seru Adi saat dia merasa cengkraman Vino diseragam Adi mengerat.
Setitik air mata turun dari mata Vino.
"Mami maaf.." lirihnya gemetar.
BRAK!!
Prang!.
Jeje terdiam, ponselnya baru saja jatuh ke lantai begitu saja. Tangannya bergetar hebat dengan wajah Jeje yang amat pucat.
Layar ponselnya sampai retak.
"Je? Lo kenapa?." tanya Doni khawatir, tiba-tiba hp Jeje jatuh dan siempunya hanya terpaku ditempat.
Matanya berkaca-kaca, bibirnya bergetar hebat. "D-don.." lirihnya.
"Je, lo kenapa?." tanya Arsa heran.
Jeje lemas, matanya berkunang-kunang. "V-vino..s-sama A-adi..hiks..mereka..hiks.." lirihnya.
"Mereka kenapa!? Heh!!." seru Xeno panik tiba-tiba, kenapa sama teman-temannya itu.
Jeje menunduk dalam, bahunya bergetar hebat. "MEREKA KECELAKAAN BODOH!!." histeris Jeje kalut.
...Dan yah, mereka semua ikutan kalut mendengarnya....
__ADS_1
...Bersambungš¾...