Preman Manja

Preman Manja
37-Selesai


__ADS_3

...Kelar juga ni cerita penuh emosi hahahah....


.......


.......


GITA mengerang pelan merasa kan pusing di kepalanya, dengan berat dia membuka matanya perlahan. Yang terdengar hanya isakan saja.


"Ah..Doni.." lirihan yang pertama kali mereka dengar saat Gita terbangun dari pingsannya.


"Kak Gita-"


"Dimana Doni!?" Gita langsung bangun seketika.


Jeje meringis pelan melihat infus yang dicabut paksa dari tangan Gita. "Kak tenang-"


"DIMANA DONI!?" bentak Gita emosi.


Jeje gemetar, dia takut melihat Gita emosi seperti ini. Perlahan dia menunjuk ke kiri Gita.


Gita mengikuti arah yang Jeje tunjuk, disana Doni berdiri dengan tegap sambil memegang kue, mereka semua gemetaran.


Mereka takut saat Gita seemosi itu.


Doni sampai menunduk tak berani memandang tatapan tajam Gita padanya, perlahan Gita turun dari kasur dengan tangan yang terayun.


"MAMI MAAF KAMI SEMUA CUMA KASIH KEJUTAN SELAMAT ULANG TAHUN UNTUK MAMIIIIII." Doni menjerit sekeras-kerasnya dengan mata yang tertutup.


Dia takut kena tampar lagi, tapi yang dia rasa hanya elusan pelan dirambut coklat gelapnya. "Kamu masih hidup.." lirihan penuh syukur itu terdengar.


Doni membuka matanya perlahan dan mengerjab, melihat Gita menangis membuat Doni ikut menangis.


Tadi saja dia hampir menangis dibalik selimut itu, menahan napas agar Gita tak curiga.


Tadi dia mau membatalkan rencana ulang tahun ini saat mendengar jeritan Gita, tapi kepalang udah setengah jalan.


Ini kejutan mendadak, Doni hanya pura-pura tertembak, mereka semua pakai rompi anti peluru dan kebetulan hari ini Gita ulang tahun.


Jadi sekalian aja buat kejutan.


"A-aku kira..hiks..kamu pergi Don.." lirihnya pilu.


Doni tremor, baru kali ini dia melihat Gita sesedih dan menangis seperti ini.


Tangannya hampir menjatuhkan kue jika saja Arsa tak memukulnya kepalanya. "Goblok! Nanti kuenya jatuh! Kemarikan!!." Arsa merampas kue tadi.


Doni membiarkan hal itu dan memilih untuk memeluk Gita erat dan menangis diceruk lehernya.


Semua sudah selesai, Erdo dinyatakan mati karena terlindas truk yang lewat dijalanan pegunungan itu.


Tubuhnya hancur jadi bubur daging disana, ditertawakan ratusan roh korban yang sudah dia bunuh.


"Hueeeeeee mamiii Doni mau mumuuu huaaaaaaaaaa.."


"Nanti..hiks..di rumah.."


"Mau main juga-"


Bugh!


"Mesum lo setan!" sarkas Vino emosi.


Disini cuma dia yang jomblo dan gapunya pacar sama sekali, ah dia dan Xeno masih jomblo deng.


Doni tak perduli dan masih asik mendusel dileher Gita, betapa tenangnya dia saat semua masalah sudah selesai.


..........


Gita tak mau dirawat di rumah sakit, dia memilih pulang ke rumah bersama Doni dan menikmati waktu berdua mereka.


Doni memeluk Gita erat dan mendusel dilehernya.


"Sayang banget sama mami.." gumam Doni tulus, Gita tersenyum tipis dan mengelus punggung Doni.


Dia juga sangat menyayangi pria manja ini, bahkan amat sangat mencintainya.


"Terus sama Doni ya mami..jangan tinggalin Doni.."


"Iya sayangku."

__ADS_1


"Janji?"


"Iya janji."


"Awas aja kalau pergi tinggalin Doni, Doni ikut pergi buat nyusul Mami."


"Uu, kalau aku mati?."


"Ya Doni ikut mati!!"


"Serem ih."


"Serius!"


"Iya-iya, sekarang bobok aja yuk."


Doni mengangguk pelan, dia sedang menikmati betapa lembutnya sentuhan dan elusan yang Gita berikan, bisa saja suatu saat dia kehilangan elusan dan sentuhan ini.


"Doni."


"Kenapa Mami?"


"Bulan depan aku mau ke Amerika, ada pembukaan cabang Restoran baru."


Doni hanya bergumam mengiyakan, yah, apa salahnya mengiyakan?.


...Toh itu hanya ke Amerika....


.........


Beberapa tahun kemudian.


GITA menghela napas pelan, melihat rumah berantakan seperti ini kadang membuatnya capek sendiri.


"Gibraaaaaaaaaaaan!!" seru Gita dengan nada panjang andalannya.


Tak lama terdengar langkah kecil dari arah belakang sofa, sesosok bayi berusia 2 tahun yang lucu dan imut, manis menggemaskan nampak muncul.


Bibirnya melengkung kebawah saat melihat wajah sang Mami yang sudah siap untuk marah.


"Gibran, apa mami bilang soal mainan?" tanya Gita tenang, masih tenang dia nih belum mengamuk dan keluar setannya.


Bayi bernama Gibran Arlangka itu tampak menunduk, sedih dia.


Biasanya Mami sabar sama tingkah dia, sekarang mami marah teru.


"Gibran?"


"Maap..mami..Giblan calah..Giblan ndak belecin mainan cetelah celecai main.." jawab bocah itu bergetar, mau nangis.


"Oke, terus dimana mumu, dan empeng Papi?"


"Giblan nda tau..mami..Gadi cama Dio yam cembunyikan..hiks..mami janan malahin Giblaaan huaaaaaaaaaaa." dari kehamilan pertama yang ternyata kembar 3 itu, Gibran menuruni sifat Doni 100%.


Cengeng dan manja.


Gita segera menggendong Gibran dan mengelus bahunya pelan. "Dimana Dio dan Gadi sembunyi?." tanya Gita lebih lembut.


Gibran menunjuk ke belakang sofa tempat dia sembunyi. "Gadi, Dio." panggilan maut itu terdengar lagi, dua bayi itu langsung keluar dengan takut.


Walau mereka nakal, tetap saja kalau udah Mami yang bertindak maka semua akan tunduk.


"Dimana kalian sembunyikan barang papi?." tanya Gita datar.


Gadi, Dio, memandang Gita dengan tatapan sedih yang amat sangat, mereka benar-benar menunjukan tatapan memelasnya.


"Jangan berakting. Kalian menurunkan sifat tukang akting papi kalian apa gimana sih, jago bener aktingnya." cibir Gita seketika.


Gadi dan Dio merengut mendengar cibiran mami mereka. "Tadi Gadi taluh di dalam lubang wece mami." jawab Gadi santai sembari memeluk kaki kanan Gita.


Sementara Dio memeluk kaki kiri Gita.


"Ya Allah Ya Tuhanku, Kenapa kamu taruh disana Gadiiiiiiiiiii."


"Itu udah kotor mami, jadi kami cuci saja..hehe." sahut Dio polos.


Gita mengurut pangkal hidungnya pelan.


"GITAAAAAAA HUAAAAAAA EMPENG AKU ADA DI WC GITAAAAAAAAA HUAAAAAAAAA GITAAAAAAAAAAAAAAAAA!!"

__ADS_1


Gita mendesah pelan, dia menurunkan Gibran dulu ke bawah.


"Ingat, kalian bakalan mami hukum! Gak ada nen selama 2 jam!" ucap Gita sebelum berlari ke kamar mereka, Doni ini memang gaberubah padahal udah 24 tahun.


Tetep aja kayak anak-anak.


Gibran sudah menangis jejeritan, dia memukuli kembarannya yang lain.


"Aduuuhh, aduuuhhh, cakit tai Giblan! GIBLAN NAKAL!" seru Dio yang gak terima dipukuli kembarannya.


Alhasil kembaran itu saling pukul-pukulan sementara Gadi hanya santai saja menonton perkelahian saudaranya.


..........


Gita mengelus bahu bergetar Doni pelan, kasihan, Empeng legend yang selalu Doni pakai sudah mati alias dibuang.


Sudah kotor, mana bisa dipakai lagi.


"Sudah, jangan nangis lagi ah. Malu sama anak udah 3." bujuk Gita lembut.


Doni malah mendusel didada Gita dan masih menangis, sakit hatinya, dosa apa dia sampai anak-anaknya segitu dendam padanya.


Bahkan empeng yang gak bersalah pun dimasukan ke wc, sungguh kurang ajar.


"Mau mumuu..hiks.." rengek Doni.


Gita terdiam sejenak "Mumu nya dari punyaku aja ya." bujuk Gita lagi.


"Y-yang..hiks..lama mana?" tanda-tanda nih, kalau suaranya makin berat dan gemetar tandanya dia mau nangis lagi.


Gita menggaruk pelipisnya pelan.


"Dibuang Dio ke parit depan rumah."


"HUAAAAAAAAAA MUMU KESAYANGAN DONIIIIII HUAAAAAAAAAAAAAA."


Bicara soal Do, bocah itu tak pernah lagi keluar semenjak Gita melahirkan, nampaknya sindrom Little Space Doni sudah sembuh saat itu.


Tapi ya, kayaknya malah menyatu dalam diri sih, makin-makin manjanya Doni semakin hari.


Semakin parah.


Gita terus menenangkan Doni yang makin kejer nangisnya, sementara 3 anak mereka lagi nontonin dari luar kamar.


"Kacih mumu Giblan aja.." usul Gadi.


Gibran mendelik dengan bibir yang mengerucut sebal, alisnya menukik tajam tak setuju dengan usulan Gadi.


"Enak aja, ntal mumu Giblan dibuang Papi ke palit!."


"Giblan peliiiit."


"Enggak! Giblan ndak peliiit!"


"Peliiit woooo Giblan peliiiit."


Gibran yang diejek kedua kembarannya sontak menahan tangis yang mau pecah saat itu juga.


"Giblan nda pelit huaaaaaaaaaaa mamiiiiii Giblan nda pelit mamiiiii huaaaaaaa mamiiii abang nakal mamiiiiiiii!!"


Gibran langsung berlari masuk ke kamar dan melapor pada Gita.


Dan Gita, harap-harap bersabar atas apa yang sedang terjadi, tak apa.


Nanti kalau mereka udah besar, Gita balalan rindu dengan tangisan ini atau mungkin saja tangisan ini bakalan berlanjut sampai dewasa.


Sama seperti Papi mereka, cengeng dan manja sampai dewasa.


Dan kandidat terkuat yang akan menuruni kebiasaan itu adalah Gibran.


...Tak apalah, dia ganteng plus imut but kampretlah bocil....


...Preman Manja...


...Selesai😾...


...Makasih untuk semuanya, gila sih cerita ini kenceng banget view nya nambah😭...


...Sekian terima kasiiih, gak ada extra part ya....

__ADS_1


...Nantinya ini jadi sad end pula hahahah...


__ADS_2