
"Rudy, jam berapa sekarang?" Azka bertanya pada Rudy yang dengan setia mengikuti setiap langkahnya menuruni setiap tangga pesawat di belakang.
Pria yang di panggil 'Rudy' itu melirik jam tangan hitam di pergelangan kirinya. "Jam 17.25, Sir." Rudy mengalihkan atensinya pada jam tangan hitam keluaran terbaru yang melingkar indah di pergelangan tangan Bosnya. Sebenarnya fungsi jam itu buat apa?
Azka mengangguk. "Acaranya di mulai jam berapa?" Azka melangkahkan kakinya pada tangga terakhir. Ia memandang Bandara Soekarno-Hatta yang tampak ramai seperti biasa jika ia berkunjung ke Indonesia.
"Jam delapan malam, Sir."
"Antarkan saya ke butik terdekat!"
Rudy mengangguk patuh.
"Baik Sir."
Rudy menuntun Bosnya ke arah mobil hitam yang sudah terparkir di parkiran khusus. Menjalankan besi mengkilat beroda empat itu pada jalanan kota Jakarta yang lagi-lagi macet.
Tak lama, mobil itu berhenti di depan sebuah butik yang tidak terlalu besar. Rudy membuka pintu penumpang bagian belakang mempersilahkan untuk Bosnya keluar.
__ADS_1
Setelah mematikan Tab dan ponselnya, Azka berjalan memasuki butik itu dengan Rudy yang masih mengekor di belakangnya.
"Selamat sore tuan. Ada yang bisa kami bantu?" Seorang gadis dengan rambut yang di potong sebahu menyapanya begitu memasuki butik. Azka yakin gadis itu adalah resepsionis di butik ini.
"Saya ingin kemeja putih dan jas hitam." Gadis itu mengangguk. Ia memanggil temannya untuk melayani pria itu.
"Silahkan ikuti saya tuan!" Ucap gadis yang di panggil oleh resepsionis tadi. Gadis ini juga memiliki rambut sebahu. Bukan, tapi sepertinya seluruh karyawan di butik ini memiliki rambut sebahu.
Azka mengikuti gadis itu.
"Disini ada beberapa model jas tuan, tuan bisa memilihnya sesuai yang tuan inginkan. Ini ada beberapa jas rekomendasi dari butik kami." Gadis itu menunjukkan beberapa jas yang berada di dalam lemari kaca.
"Anda memang tidak salah dalam memilih tuan, jas ini rancangan khusus dari pemilik langsung butik ini. Mari, saya akan membungkus pesanan tuan. Tuan bisa menunggu di sofa yang ada di dekat kasir."
Azka mengangguk. Ia berjalan ke arah sofa putih yang ada di dekat kasir dan resepsionis tadi. Rudy berdiri di belakang Azka setelah melakukan pembayaran.
"Setelah ini kita kemana Sir?" Rudy membuka suara.
__ADS_1
"Ke hotel sebentar untuk mengganti baju."
Rudy mengangguk mengerti.
"Ini pesanannya tuan. Semoga berkesan setelah mengunjungi butik kami." Gadis itu menunduk sopan.
Azka mengangguk singkat. Ia berjalan keluar butik itu di ikuti Rudy yang menenteng paperbag berlogo nama butik yang baru saja di kunjunginya.
"Ahhh..Sumpah, ganteng banget ****." Gadis resepsionis tadi menjerit setelah Azka dan Rudy keluar dari butik.
Rere, yang berda di sebelahnya mengangguk cepat. "Kalo nggak inget kata-kata mba Al, kayaknya tadi gue udah loncat-loncat ke atas meja kasir ini sampai roboh saking terpesonanya."
"Sayang banget kita nggak di bolehin pecicilan sama mba Al. Harus sopan sama pengunjung." Rena, gadis yang menemani Azka memilih jas tadi ikut nimbrung.
"Iya, sayang banget. Mana orang luar lagi, keliatan banget nggak sering ngomong pake bahasa Indonesia. Ahh.. Bahkan asistennya juga ganteng cuy." Dini, sang resepsionis kembali memekik.
"Dah lah, mending kerja, kerja!!" Suara Lia yang baru saja keluar dari ruangan membuat mereka nyengir lebar.
__ADS_1
...***...
...VOTENYA MANA SAHABAT??...