
Banyak yang mengatakan laut itu mematikan. Karena banyak kasus yang menyebabkan kematian terjadi di laut. Entah itu di karenakan kapal yang tenggelam, pesawat yang jatuh di laut, bahkan orang-orang yang asik bermain air pun dapat terbawa ombak dan berujung kematian juga.
Mungkin itu pula yang di rasakan gadis berusia dua puluh lima tahun itu. Ia seperti terseret ke tengah lautan, terombang-ambing di bawa gulungan ombak yang mematikan. Seakan murka terhadap dirinya yang masih mengenang peristiwa beberapa tahun lalu.
Mata biru laut itu, mata yang sudah lama menjadi kenangan yang tersimpan rapat di dalam lubuk hatinya yang terdalam. Mata yang selalu di carinya secara diam-diam. Mata yang membuatnya terhanyut hanya dalam obrolan ringan.
"Nona!"
Panggilan itu menyadarkan Allystia dari kilasan singkat masa lalunya. Ia berusaha menormalkan mimik wajahnya yang mungkin sudah berubah saat mata coklat terangnya bertubrukan dengan mata biru laut yang kini sedang memandang dengan bingung ke arahnya.
"Maaf tuan. Hmm boleh di ulangi?"
Kening lelaki itu mengerut. Tak lama kemudian ia mengangguk. Mungkin baru mengerti maksud dari gadis di depannya.
"Apa anda pemilik butik ini?"
"Oh, ya. Saya pemiliknya tuan. Ada yang bisa saya bantu?"
"Saya tertarik dengan desain-desain gaun disini. Apa anda yang merancangnya langsung?"
__ADS_1
Allystia mengangguk. Menutupi kegugupan yang timbul akibat kilasan kilat kenangan masa lalu yang mungkin tak akan ada harapan sedikitpun. "Iya tuan."
"Saya ingin memesan beberapa gaun yang memiliki motif dan warna yang sama. Untuk gaun saat ada acara keluarga."
"Ya tuan, akan saya buatkan. Anda hanya tinggal pilih gaun seperti apa yang anda inginkan. Silahkan tuan!" Allystia meletakkan sebuah fashion ilustration di hadapan Azka.
Azka menaikkan sebelah alisnya melihat fashion ilustration yang sudah terletak di atas meja yang ada di depannya. "Saya ingin rancangan baru. Bukan rancangan lama yang sudah pernah ada di butik ini. Dan saya ingin anda sendiri yang merancangnya."
Allystia terdiam sejenak. "Baik. Akan saya buat secepatnya. Ukurannya tuan?"
"Nanti saya kirimkan." Azka menyodorkan handphone-nya. "Tulis nomor ponsel mu!"
Ia mengetikkan beberapa angka di handphone Azka. Setelah menyimpan nomornya, ia mengembalikan handphone itu pada empunya.
Azka menerimanya. Setelah memasukkan handphone-nya ke kantong celana bahan yang ia pakai, ia berpamitan pada Allystia yang dibalas dengan anggukan patah-patah.
Allystia menghembuskan nafas kasar setelah Azka menghilang dari pandangannya. Apa benar itu lelaki kecil yang ada di masa lalunya? Atau hanya perasaannya saja?
Allystia duduk di sofa yang di duduki oleh Azka tadi. Manyandarkan punggungnya mencari kenyamanan. Pikirannya masih berkelana pada lelaki yang baru saja berbicara singkat ia dengannya. Bahkan namanya saja ia tak tau.
__ADS_1
Apa Allystia terlalu berharap pada lelaki kecil masa lalunya sehingga ia menyangka lelaki bermata biru laut tadi adalah lelaki yang di tunggunya? Apa Allystia se frustasi itu?
"Mbak Al!"
Panggilan itu membuatnya terkejut. Ia melamun lagi. Dua kali sudah ia di kejutkan oleh orang yang mungkin tak memiliki niat sedikitpun untuk mengejutkannya.
"Ada apa Lia?"
"Mbak Keysha sedang menunggu di ruangannya mbak. Katanya tadi sudah janjian sama mbak." ucap gadis yang menjabat sebagai asistennya itu.
Ahh bahkan ia sampai melupakan janjinya dengan sahabat dari masa kuliahnya itu.
Masa lalu sialan.
...*****...
...Yok yok yok!!! ...
...Baca baca baca!!!...
__ADS_1