
"Selamat atas keberhasilan mu untuk yang kesekian kalinya Mr. Azka."
Azka menjabat tangan lelaki paruh baya di depannya. Setelah pemotongan pita sebagai tanda di bukanya cabang hotel dengan gaya klasik itu banyak para pejabat dan para kolega bisnisnya yang mengucapkan selamat atas keberhasilannya.
"Terimakasih."
"Ahh kau masih saja kaku." Lelaki paruh baya itu mengeluh.
Azka hanya tersenyum tipis. Ia tidak tau harus berekspresi seperti apa. Meski lelaki paruh baya di depannya ini kolega bisnis yang lumayan dekat dengannya karena lelaki paruh baya itu sering membeli beberapa property pada perusahaannya.
"Bagaimana kalau kau ku undang makan malam di rumah ku. Anggap saja makan malam untuk mengakrabkan hubungan kerja sama kita yang lumayan lama ini." Lelaki paruh itu memberi usulan setelah berpikir beberapa saat.
"Tidak perlu Mr. Deriawan. Saya akan langsung ke hotel saja untuk istirahat, lusa saya akan terbang langsung ke Kanada untuk mengunjungi orang tua saya." Tolak Azka dengan sopan. Mengakrabkan hubungan kerja sama? Alasan macam apa itu? Azka yakin makan malam untuk 'mengakrabkan hubungan kerja sama' itu akan berakhir negosiasi penurunan harga property dari perusahaannya. Azka bahkan sudah katam dengan usaha-usaha para investornya untuk penurunan harga dengan berbagai dalih para pengusaha.
"Baiklah, mungkin lain kali."
__ADS_1
"Selamat atas hotel barunya Mr. Azka." Seorang lelaki paruh baya yang juga merupakan investor perusahaan Azka datang dengan segelas wine di tangan kirinya. Sedangkan tangan kanannya terulur untuk berjabat tangan dengan sang pemilik pesta.
"Terimakasih Mr. Maurer."
Lelaki yang di panggil Mr. Maurer itu mengangguk singkat. "Apa Mr. Mario tidak hadir di pesta menakjubkan ini?"
"Tidak, Daddy ada urusan di Dubai."
"Ahh, sayang sekali. Kalau Mr. Mario disini, pasti ia sudah bangga punya anak yang sukses seperti mu." Ucap Mr. Mario dengan kekehannya.
"Terimakasih. Daddy selalu bangga pada saya meski ia tak disini." Azka terdiam sebentar. "Sepertinya saya harus menyapa tamu yang lain, selamat menikmati pesta Mr. Deriawan dan Mr. Maurer."
Azka melangkahkan kakinya setelah mendapat anggukan dari kedua paruh baya itu. Ia tidak bisa berbasa-basi tidak berguna seperti itu. Baginya, semua orang yang mencoba untuk berbasa-basi dengannya disini hanya untuk pencitraan saja.
Ia duduk di sofa dengan meja bundar di depannya.
__ADS_1
"Anda membutuhkan minuman Sir?" Rudy datang dengan beberapa jenis minuman di atas nampan yang ada di tangannya.
"Yeah sepertinya. Aku mau red wine saja Rud, aku sudah mual mendengar basa-basi para pecinta jabatan dan uang disini."
Rudy memberikan red wine pada Azka. Ia menghambat pelayan yang berlalu lalang untuk menawarkan minuman pada para tamu. Ia memberikan nampan yang di pegangnya tadi setelah mengambil segelas wine yang sama dengan Azka.
"Kau juga ingin minum?" Tanya Azka melihat wine yang di pegang asistennya itu.
"Yeah.. Saya juga sedikit mual mendengar perkataan manis yang keluar dari mulut busuk mereka Sir." Jawab Rudy.
"Kau memang asisten ku Rudy. Aku tidak salah memilih mu untuk menjadi orang kepercayaan ku."
Azka tersenyum lebar.
...***...
__ADS_1
...Tinggalkan jejak!!!...