Pulang.

Pulang.
Bab 1


__ADS_3

Aku tidak takut.


setiap manusia dikenali dengan lima emosi, yaitu bahagia, sedih, takut, kecewa dan kemarahan, aku hanya memiliki empat emosi. Aku tidak punya rasa takut.Kalian kira itu omong-kosong? Gurauan? Tidak.


Malam itu, di tengah hujan lebat, di dasar rimba Sumatera yang berselimut lumut nan gelap, sesosok monster mengerikan telah mengambil rasa takutku. Tatapan matanya yang merah, dengus nafasnya yang memburu, taringnya yang kemilau saat ditimpa cahaya petir, telah membelah dadaku, mengeluarkan rasa gentar. Sejak saat itu, dua puluh tahun berlalu, aku tidak mengenal lagi definisi rasa takut.


Akan ku ceritakan semuanya agar kalian mengerti.


Inilah hidupku, dan aku tidak peduli apapun penilaian kalian. Toh, aku hidup bukan untuk membahagiakan


orang lain, apalagi menghabiskan waktu mendengar komentar orang lain.


***


Kisah ini dimulai dua puluh tahun silam. Usiaku lima Sejak pagi, kampung tanah kelahiran ku ramai.


Dua bulan lagi ladang padi tadah hujan akan panen,pucuk padi menghijau terlihat di lereng-lereng bukit.Hutan lebat menghadang di atasnya, berselimutkan kabut. Dedaunan masih basah, embun menghias tepitepinya. Udara terasa dingin.

__ADS_1


Tiga mobil dengan roda empat


berkemul lumpur merapat di depan rumah Bapak. Hanya mobil tertentu yang bisa melewati jalanan terjal bukit barisan, lepas hujan deras tadi malam.beberapa orang lompat dari mobil-mobil itu, mereka memakai sepatu bot, celana tebal, jaket, topi, terlihat


gagah, serta yang paling menyita perhatianku, mereka membawa senapan. Itu bukan tombak,mereka membawa senjata api milik pasukan militer.


aku mengusap wajah yang terkena jaring laba-laba.Bapakku, beringsut turun dari anak tangga, berpegangan, menyeret kakinya yang lumpuh satu, tertawa lebar mendekati rombongan.Aku jarang sekali melihat Bapakku, yang sakitsakitan, tertawa selepas itu. Biasanya dia lebih banyak mengomel, marah-marah. Salah-satu dari rombongan Itu mendekat, sepertinya pimpinan mereka, juga ikut tertawa lebar. Mereka berpelukan, menepuk bahu. Seperti sahabat lama.


“Syahdan, lama sekali kita tidak bertemu.” ujar orang itu.


“Buruk, Syahdan. Tadi malam, kami hampir tersesat,satu mobilku juga hampir terguling ditelan lembahngelap.atau


rencana kami jadi tertunda. "mobil itu membawa tiga ekor anjing pemburu. "Astaga! Bagaimana ceritanya kau bisa tinggal di sini, Syahdan? Jauh dari manapun, seperti di ujung bumi. Susah sekali kami menemukannya. Dan menjadi petani? Sejak kapan


orang yang hanya mengenal berkelahi bisa menanam padi, hah? Kau pukul padinya?”


“Panjang ceritanya, Tauke Muda.” Bapak tertawa lagi.

__ADS_1


Aku tahu siapa rombongan ini, aku sudah diberitahu Bapak sejak sebulan lalu. Akan ada pemburu dari kota yang datang, mereka akan berburu **** hutan. Kampung kami ini sebenarnya tidaklah seperti desa


yang kalian kenal. Kami menyebutnya talang. Hanya ada dua atau tiga puluh rumah panggung dari kayu,


letaknya berjauhan dipisahkan kebun atau halaman.


Tahun ini, **** hutan menyulitkan kami,


mereka banyak sekali, dan menyerbu ladang. Jika tidak


diatasi, ladang padi yang susah payah dirawat bisa rusak binasa. Meski tiap malam ladang padi dijaga,dipasangi kaleng pengusir, juga dilingkari pagar


kokoh, hasilnya percuma. ****-**** itu selalu punya cara masuk, dan mereka tidak takut suara kaleng, jumlah mereka puluhan atau mungkin ratusan. Tetua kampung sudah menyerah.


Ayo dukung novel pertama


ini. Like dan komen🙏

__ADS_1


__ADS_2