
Aku belum pernah melihat **** sebesar ini.” Tauke Muda menginjak badan **** yang tergeletak mati,
“Mereka pastilah pejantan paling besar.”
Aku menyeka dahi, peluhku bercampur air hujan. Apa Yang harus kami lakukan sekarang? Kami tidak bisa melanjutkan perburuan. Rombongan kami justru butuh pertolongan segera.
Tauke Muda meraih ransel yang terserak,
mengeluarkan pistol suar, menembakkannya ke langit hutan. Selarik cahaya melesat tinggi, melewati
dahan-dahan pohon, kemudian meledak di atas sana,membuat terang. Seperti letusan kembang api.Siapapunyang mendongak ke atas lereng, pastilah melihat kilau cahaya.
tiba-tiba derik serangga terhenti.
Hutan mendadak hening, hewan-hewan seolah menyingkir, hanya menyisakan
suara hujan lebat.Instingku segera memberitahu ada sesuatu. Bahaya
yang sangat mengerikan. Aku mencengkeram erat tombak ku. Tauke
Muda menoleh, dia meletakkan
pistol suar, mengambil senapannya. Langit-langit hutan terasa pengap oleh suasana tegang.
Saat itulah, saat kami bertanya-tanya apa yang terjadi,dari balik belukar rimba, muncullah seekor **** jantan
berukuran raksasa. Beratnya tidak kurang dari lima ratus kilogram, tubuhnya dua kali lebih besar dibanding empat **** jantan sebelumnya, tingginya hampir seperti seekor sapi dewasa. **** itu tidak menguik atau mendengus, tapi menggerung seperti
seekor serigala buas.
Matanya merah saat ditimpa
cahaya petir, taringnya panjang, bulunya berdiri seperti surai harimau.
Tauke Muda menelan ludah, senapannya terangkat, bersiap. Malam itu, di tengah
hujan deras, di tengah rimba
__ADS_1
lebat lereng bukit barisan, hanya aku yang tersisa dan masih sehat berdiri, menghalangi pimpinan kawanan **** menghabisi semuanya.Aku mencengkeram tombak pemberian Bapak, berdiri dengan kaki kokoh, menatap ke depan, bersi tatap dengan monster itu.
Malam itu, usiaku memang baru lima belas, tapi fisikku tinggi besar seperti seorang pemuda. Usiaku Memang masih anak-anak, tapi di darahku mengalir pekat keturunan seorang jagal paling mahsyur seluruh pulau Sumatera. Bapakku belum bercerita, tapi besoklusa aku akhirnya tahu legenda hebat itu. Adalah Kakekku jagal mahsyur itu.
Bisikkan nama kakekku
satu kali di lepau tuak, maka satu kota akan
memadamkan lampu karena gentar. Sebutkan nama kakekku satu kali di balai bambu, maka satu kota bergegas mengunci jendela dan pintu, meringkuk takut di dalam kamar.
Malam itu, dadaku telah dibelah, rasa takut telah dikeluarkan dari sana.
Aku tidak takut.
Aku bersiap melakukan pertarungan hebat yang akan dikenang. Hari saat aku menyadari warisan leluhurku
yang menakjubkan, bahwa aku tidak mengenal lagi definisi rasa takut.
"Tidak mengapa semua
kebencian itu, aku bisa mengunyahnya. Tidak
“Biarkan Bujang ikut Tauke Muda, Midah. Aku
mohon.” Bapak memegang lutut Mamak, menatapnya dengan tatapan memohon, “Biarkan anak kita melihat
dunia luar. Dia tidak akan jadi siapa-siapa di kampung ini. Tidak sekolah. Tidak berpengetahuan. Dia sudah lima belas, entah mau jadi apa dia sini?petani?"kata bapakku.
Bapak menggenggam jemari Mamak, kali ini berkata lirih, “Aku juga tidak ingin berpisah dengan anak kita,Midah. Tapi kau seharusnya tahu persis, ini adalah. perjanjian masa lalu. Aku pernah bilang dengan kau,cepat atau lambat kau akan melihatnya,menyaksikannya. Cepat atau lambat kita akan kehilangan anak laki-laki kita. Biarkan dia pergi dengan restu mu. Agar langkah kakinya ringan.” mohon bapakku.
"jika Tuhan memang sayang, maka
anakmu akan menemukan jalan terbaiknya. Sejauh apapun dia pergi, sejauh apapun dia menghilang, Tuhan akan menemukannya. Biarkan Bujang ikut Tauke Muda, Midah,
aku mohon. Setidaknya tanyakan pada
Bujang, apakah dia memang ingin pergi.”
__ADS_1
Mamak tertunduk, air mata mengalir di pipinya. Menoleh padaku.
“Apakah kau ingin pergi, Bujang?” Suara tanya Mamak. Aku menatap mamak perlahan dan mengangguk.
“Mamak akan menginjinkan kau pergi, Bujang. Meski itu sama saja dengan merobek separuh hati Mamak. Pergilah, anakku, temukan masa depanmu. Sungguh besok lusa kau akan pulang. Jika tidak kepangkuan Mamak, kau akan pulang pada hakikat sejati yang ada
di dalam dirimu. Pulang….”
Aku diam, menunduk.
“Berjanjilah, Bujang, berjanjilah satu hal ini.”
Aku mendongak menatap wajah Mamak yang sembab.
“Kau boleh melupakan Mamak, kau boleh melupakan
seluruh kampung ini. Melupakan seluruh didikan yang Mamak berikan. Melupakan agama yang Mamak ajarkan diam-diam jika Bapak kau tidak ada di rumah….” Mamak diam sejenak, menyeka hidung,
“Mamak tahu kau akan jadi apa di kota sana…. Mamak tahu…. Tapi, tapi apapun yang akan kau lakukan di sana, berjanjilah Bujang, kau tidak akan makan daging ****, daging anjing. Kau akan menjaga perutmu dari makanan haram dan kotor. Kau juga tidak akan
menyentuh tuak, segala minuman haram dan semoga itu berguna.Memanggilmu pulang.”
Aku terdiam. Aku tidak sepenuhnya mengerti pesan itu.
“Jagalah anakku, Tauke Muda.” Bapak dengan kaki lumpuh memeluk tubuh pendek gempal dengan mata sipit itu. Momen perpisahan.
“Kau keliru, Syahdan. Bujang-lah yang akan
menjagaku.” Tauke Muda tersenyum.
"Dia akan tumbuh dengan reputasi hebat. Semua orang akan gemetar mendengar
namanya disebut. Aku bersumpah akan mengurus anak kau, Syahdan. Anak dari saudara angkat ku.”Bapak tersenyum getir.
“Selamat tinggal, Syahdan.”
Tauke Muda naik ke mobil. Melambaikan tangan untuk yang terakhir kalinya.
__ADS_1
Jangan lupa dukung novel ini
ya. Like dan komen🙏