
“Mamak mengijinkanmu untuk pergi bujang. Tapi berjanjilah pada mamak, kau
hanya menonton di hutan sana, tidak boleh melakukan apapun. "Aku mengangguk.
“Jangan lakukan hal bodoh di rimba sana, bujang."
Aku memegang kokoh tombak yang Dipinjamkan bapak. Kakiku tidak mengenakan alas apapun, aku tidak punya. Lagipula, anak kampung lebih suka masuk hutan dengan telanjang kaki.
“Jaga anakku, Tauke Muda. Atau Mamaknya akan marah nanti jika melihatnya pulang terluka walau secenti.” kata bapakku.
Bapak menepuk bahu orang bermata sipit.
Orang itu menggeleng, “Kau keliru, Syahdan. Dialah Yang akan menjagaku. Seperti yang pernah kau lakukan untuk Ayahku dulu." Bapak tersenyum, lalu mengangguk.Aku berdiri di belakang mereka, mendengarkan. Aku mengikuti rombongan. Mulai mendaki lereng,melewati jalanan setapak, menuju jantung rimba Sumatera.
Penciuman mereka yang tajam langsung tahu di mana **** itu berada. Rombongan dipecah menjadi tiga,Sesuai jumlah anjing. Aku ikut teman lama Bapak,bersama dua pemburu bersenjata api, dan tiga pemuda kampung.
Atmosfer perburuan segera terasa. Langit-langit rimba Sumatera terasa lembab.
Kami berlarian mengikuti gerakan anjing, menyibak semak, melompati sungai kecil,meniti tubir lembah, mendaki, meluncur.
Kemanapun Anjing' itu berlari, kami ikut berlari di belakangnya.Bapakku bergurau saat bilang aku tidak pernah sendirian masuk ke hutan, aku mengenal hutan ini. Jika Mamak Ku tidak tahu, aku sering sembunyisembunyi pergi berkelana di dalam rimba.
anjing kami mulai menyalak berbeda, tanda dia telah menemukan mangsa. Benar saja, satu menit kemudian, dua ekor **** terlihat di atas lereng, masih empat puluh meter lagi dari kami. ****-**** itu menguik, menyadari bahaya mengancam, segera lari lintang-pukang.
“Dua orang bergerak ke kanan! Sisanya ikut denganku ke kiri.” Orang bermata sipit menyuruh dua pemburu dan tiga pemuda talang berpencar, “Kepung ****-**** itu. Jangan biarkan lolos.” Kami segera mengejar. Mendaki lereng bukit.dengan nafas tersengal kami berhasil membuat **** itu tersudut.
Suara senapan meletus, susulmenyusul, dua **** itu akhirnya terkapar di lantai
hutan. dua **** itu tidak besar, paling seberat delapan puluh kilogram.
“Selamat, Bujang. Ini **** buruan pertama kita.”Tauke Muda menepuk pundak ku.
Aku mengangguk.
“Kita bergerak lagi!” Tauke Muda berseru ke pemburu dan pemuda talang.
kami meninggalkan begitu saja dua **** itu,
__ADS_1
segera mencari buruan berikutnya.
Anjing menyalak tidak sabaran, rantainya
kembali dilepas, kaki-kakinya melesat berlarian diantara rapatnya pepohonan.
Kami terus bergerak, efisien dan tidak ampun.
****-**** ini tidak punya
kesempatan untuk menghindar, apalagi melawan.Pemburu ini menghabisi
apapun **** yang terlihat,termasuk yang masih kecil, menguik tidak berdaya.
Menjelang petang, hujan turun. Rombongan berhenti,pemburu membuka ransel.
“Kau kenakan jaket hujan ini, Bujang.” Tauke Muda melemparkan jaket gelap kepadaku.
Aku mengangguk.
“Kau sepertinya pendiam sekali, Bujang.
Kami segera melanjutkan perburuan. Empat **** hutan berikutnya menyusul terkapar, ukurannya semakin besar.
Matahari akhirnya terbenam di kaki
langit sana, hutan gelap. Para pemburu mengeluarkan senter, memasangnya di kepala, cahaya menyambar
kesana-kemari di antara pepohonan.
Hujan turun semakin deras, meski dengan jaket hujan sekalipun aku tetap basah kuyup. “Apakah Bapak kau pernah cerita tentangku, Bujang?”Tauke Muda bertanya.
Aku menggeleng,
“Ah, tidak tahu diuntungkan Syahdan itu.” Tauke Muda menyeringai, “Aku pernah menyelamatkannya, dia berhutang nyawa.
Dan sebagai balasannya? Bahkan ke anaknya sendiri dia tidak pernah bercerita tentang aku,
__ADS_1
saudara angkatnya.”
Aku diam. Saudara angkat? Aku baru tahu Bapak Punya saudara angkat.
“Tapi apa yang kulakukan untuk Bapakmu tidak seberapa, Bujang. Karena apa Yang Bapak kau lakukan untukku jauh lebih besar. Dia menyelamatkan keluargaku berkali-kali.Dia sangat diandalkan Tauke Besar, ayahku. Tidak ada pekerjaan
yang tidak tuntas jika diberikan kepada Syahdan.
Anak Buah kesayangannya. Orang tua itu meneteskan air mata saat Bapak kau memutuskan berhenti lima belas tahun Lalu. "
“Itu hari yang sangat sulit. Tidak ada yang pernah diijinkan pergi dari keluarga. Hanya ada satu pilihan jika kau ingin keluar, mati. Tapi Bapak kau pengecualian. Dia diijinkan pergi oleh Tauke Besar,untuk memulai hidup baru.
"Bertahun-tahun kami
tidak mendengar kabarnya, bahkan
saat Tauke Besar Meninggal, Bapak kau
tidak kelihatan batang hidungnya, sungguh terlalu, Syahdan tidak melayat.Hingga sebulan lalu sepucuk surat tiba, tidak percaya
aku membacanya.”
Aku mendengarkan cerita tanpa menyela.
“Baiklah, makanan kita sudah habis.
Kita akan kembali berburu. "
“Habisi ****-**** itu!” Tauke Muda berteriak, tidakpeduli.Senapan menyalak, memuntahkan peluru.
“Babi sialan.” Tauke Muda mendengus, menendang salah-satu di antaranya.
Tauke Muda menoleh padaku, “Kau baik-baik saja,Bujang?”
Aku mengangguk. Nafasku sudah kembali normal.
Ayo dukung novel pertama ini
__ADS_1
Ya. Like dan komen🙏