Pulang.

Pulang.
Bab 7


__ADS_3

Belum habis kalimat Tauke, dua orang tukang pukul loncat masuk kedalam lingkaran, buas memburuku.Mereka menyerangku dengan tangan kosong. Aku sudah siap.


Bergerak cepat menepis salah-satu tinju


mereka, menghindar berkelit ke kanan untuk tinju lainnya, lantas balas memukul, telak menghantam dadanya, satu orang terjatuh.


Tukang pukul di sekitar api unggun berseru-seru melihatnya.


Suasana malam semakin ramai.


Aku lompat menghindar lagi saat lawan mencoba menebas kakiku, kemudian masih dalam posisi di udara, aku menendang punggungnya.


Gerakan yang cepat dan mantap. Satu lagi terjatuh. Nafasku menderu, dua orang berhasil kukalahkan, tapi sial,


belum sempat memasang kuda-kuda mantap, dari lingkaran maju lagi dua orang, berteriak menyerang ku.


Satu tinju menghantam perutku. Lingkaran bersoraksorai melihatnya. Aku mengaduh, bukan karena sakit tapi karena terkejut, menyusul bahuku terkena


pukulan kedua, telak.


Tapi aku tidak terjatuh, badan


ku hanya goyang, mundur dua langkah ke belakang,untuk balas menyerang dengan cepat. Mengirim dua pukulan yang membuat penyerang ku tersungkur.


Peraturan Amok ini sederhana. Bagi penyerang, sekali dia jatuh di atas pasir, selesai.


Tidak boleh menyerang


lagi. Dan lebih sederhana lagi bagiku, sekali aku terjatuh, selesai sudah semuanya.


Lima menit berlalu cepat. Aku terus bertahan dari gelombang serbuan tukang pukul. Keringat deras mengucur di pelipis, leher. Bajuku basah kuyup.


Wajahku memar di banyak tempat. Sudah sebelas orang tukang pukul yang berhasil kujatuhkan, tapi mereka juga berhasil memukulku di banyak tempat.


Semakin lama, tukang pukul yang maju semakin tangguh, semakin sulit dikalahkan.


Kali berikutnya, empat orang buas mengejar ku, aku terdesak lagi, mengangkat kedua tangan, berusaha melindungi tubuhku dari pukulan. Mereka tidak


mengenal ampun, berseru-seru, terus melancarkan serangan.


Lingkaran arena perkelahian ini


menyebalkan sekali, membuatku tidak leluasa. Jika ini perkelahian di ruangan terbuka, aku bisa mencuri

__ADS_1


waktu dengan berlari kesana-kemari, kemudian menyerang balik.


Sebaliknya, dengan lingkaran tukang


pukul, setiap kali aku tiba di tepi, tukang


pukul lain bergegas mendorongku agar kembali ke tengah sambil berteriak-teriak membentak ku.


Aku semakin terdesak. Satu tinju menghantam perutku, lolos dari tangkisan. Ayolah, aku mengeluh menahan sakit sambil mengutuk dalam hati, aku hanya


butuh celah satu-dua detik, sekali mendapatkannya,


aku bisa menyerang balik.


Aku harus bertahan dari


empat orang ini. Sudah berapa lama aku bertahan? Delapan menit? Sepuluh menit? Tidak ada jam. Ini mungkin bahkan


belum separuhnya dari syarat yang diminta Tauke Besar, empat orang ini menyulitkan ku.


Aku terus berpikir cepat, mencari cara mengalahkan tukang


pukul yang juga terus menyerang.


aku akan memanfaatkannya,


membuat tubuhku seolah akan jatuh, tanganku meraih segenggam pasir, dengan cepat melemparkan pasir itu


ke wajah para penyerang ku, kemudian menghentakkan kaki, berdiri, agar aku tidak jatuh sungguhan.


“Curang!!” Seketika terdengar teriakan.


“Curang!!” Tukang pukul yang berdiri di lingkaran berseru-seru, tidak terima


Aku tidak mendengarkan mereka.


Aku sudah ganas menyerang empat tukang pukul yang sejenak menyeka


wajah mereka, kaget terkena butiran pasir. Celah satudua detik yang kubutuhkan. Tinjuku bergerak cepat, dua orang tersungkur jatuh. Dua detik kemudian


menyusul sisanya, terbanting di atas pantai.


“CURANG!”

__ADS_1


Apanya yang curang? Aku melotot tidak terima,


membalas galak tatapan lingkaran.


Wajahku merah padam. Nafasku tersengal, berdiri menyeka peluh di wajah. Tauke Besar sendiri yang bilang, ini perkelahian


tangan kosong, dan apapun yang ada di sekitar arena diijinkan untuk digunakan.


Aku memanfaatkan pasir, itu strategi yang tiba-tiba kudapatkan. Justeru amok


ini adalah kecurangan luar biasa. Mana ada empat lawan satu pantas disebut pertarungan terhormat.


Kopong mengangkat tangannya, menyuruh lingkaran diam. Kopong menggeleng, itu bukan curang,


menyuruh yang lain berhenti protes, segera


menyerang. Setelah kejadian lemparan pasir itu, amok benar-benar berubah menjadi ajang perkelahian massal.


Entah siapa yang mengomando, belasan orang segera memburuku dengan marah. Mereka datang dari depan, belakang, kanan, kiri, seperti air bah yang


menjebol bendungan. Aku sudah lupa berapa banyak pukulan yang mengenai tubuhku.


Berapa banyak tukang pukul yang tersungkur oleh tangan dan kakiku. Aku berlari kesana-kemari, bertahan habis-habisan,


berteriak kencang, mengamuk seperti benteng terluka.


Aku bahkan lompat meraih potongan kayu bakar api unggun, menggunakannya sebagai senjata. Nyala api menyambar-nyambar, membuat mereka mundur. Aku


mengejarnya, membuat lingkaran tercerai-berai. Itu membuatku bertahan


lima menit lagi.


“Anak ini menakutkan, Tauke.” Kopong berbisik, dia menonton di sebelah Tauke.


“Aku tahu. Tapi anak buahmu harus bisa


menjatuhkannya sebelum dua puluh menit, Kopong.”


Tauke menggeram, “Atau aku terpaksa memenuhi janjiku"


Jangan lupa dukung novel ini


ya. Like dan komen🙏

__ADS_1


__ADS_2